
“Yesss!!!!” pekik Ibra yang sedang senang luar biasa karna mlamarannya di terima. Lega sudah hatinya. Kini ia seolah sedang di kelilingi oleh kupu-kupu yang terus menari di sekelilingnya.
“Kak, duduk.” Zodi menarik ujung kaus Ibra hingga pria itu menurut dan kembali duduk di tempat semula.
Dengan senyuman yang merekah lebar Ibra kembali duduk di sebelah Zodi. Menatap gadis itu dengan wajah yang lega dan bahagia. Dan sepersekian detik kemudian, tangan Zodi sudah di genggam erat oleh Ibra.
“Makasih, Zo. Makasih banget.” Sepertinya Ibra tidak sadar kalau ia sedang menggenggam tangan Zodi erat sekali. Zodi sampai meringis di buatnya.
“Iya, iya. Udah. Lepasin dulu ini tangannya.” Zodi meringis.
“Oh, eh. Maaf. Sakit yaa? Maaf. Aku gak sadar.” Ibra jadi panik dan langsung melepas genggaman tangannya.
“Seseneng itu, ya?”
“Ya jelas dong. Ya kali aku gak seneng lamaranku di terima. Ini yang aku harepin. Bener-bener makasih. Padahal kalau andai aja kamu gak nerima aku tadi, aku udah niat bakalan ngejar kamu secara ugal-ugalan.”
“Oooh jadi tadinya pengen gak di terima, nih?” goda Zodi.
“Enggak, bukan gitu. Ya kan cuman antipasi aja lho, sayang...”
Uhuk!
Sayang?
Wadduh. Sepertinya jantung Zodi sudah menggelinding ke bawah pohon di depan sana. Bisa-bisanya Ibra begitu santai mengucapkan kata keramat itu.
“Kenapa? Kok mukanya merah gitu? Sakit banget ya tangannya?” Dasar Ibra si paling tidak peka. Ia sontak hendak kembali meraih tangan Zodi namun gadis itu segera menggeser tangannya. Keadaan jantungnya sedang tidak baik saat ini. Kalau di biarkan Ibra memegang kembali tangannya, ia takut akan pingsan nanti.
“Kakak jangan pegang-pegang,” tegas Zodi.
“Lha? Kenapa? Kok gak boleh pegang?”
“Nanti aku bisa pingsan.”
Sesaat Ibra mengernyitkan keningnya sebelum ia tertawa terbahak-bahak. Kenapa Zodi semakin menggemaskan begini sih?
“Ya ampun, gemesnya. Jadi pengen cium, deh.”
“Ih. Ko kak Ibra jadi mes um gini, sih? Perasaan kemarin-kemarin gak kayak gini, deh.”
“Godain calon istri gak apa-apa, kali.”
Lagi-lagi. Jantung Zodi jumpalitan tidak karuan.
“Aku belum mau jadi istri, Kak. Aku masih mau kuliah. Yang penting kita udah tau perasaan masing-masing. Kakak juga udah lamar aku. Kata mamak, tunangan alakadarnya aja dulu. Soalnya aku masih pengen kuliah. Setelah wisuda nanti baru kita nikah.” Pembahasan itu berubah menjadi serius.
“Iya, aku ngerti. Aku juga gak buru-buruin kamu, kok. Kita pelan-pelan aja. aku ngelamar kamu cuma mau negasin kalau aku memang seserius itu sayang sama kamu. Aku lega ternyata aku gak terlambat lagi. Aku lega kamu yakin sama aku. Kita bahas pernikahan nanti kalau kamu udah wisuda.” Ibra membelai lembut belakang kepala Zodi. Kehangatannya membuat hati Zodi geli bertabur kupu-kupu. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
Dua hati itu kini saling terpaut setelah menyingkirkan kesalah fahaman yang terjadi selama ini. Keduanya bahagia, dan lega. Hati Zodi terasa ringan seolah berton-ton beban telah di angkat dari sana.
Setelah saling menceritakan rencana, keduanya lantas masuk ke dalam rumah. Ibra segera memberitahu Lasmi dan Nenek. Kedua wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk. Zodi sudah memberitahu mereka tadi pagi.
“Kakak berapa lama disini?” tanya Zodi. Sore ini, mereka berdua sedang berjalan-jalan keliling kampung untuk menghilangkan kebosanan. Haris juga ikut, supir Ibra itu berjalan berdua bersama dengan sepupu Zodi di depan sana.
“Ehm, mungkin lusa udah harus balik. Soalnya gak bisa libur lama-lama. Kamu?”
“Kenapa? Kamu bisa pulang kapanpun kamu mau,” ujar Ibra.
“Bagi Kakak mungkin biasa. Tapi bagiku, enggak bisa segampang itu. Soalnya harga tiket pesawat mahal.”
“Kalau mau pulang kamu tinggal bilang. Aku bisa belikan tiketnya buat kamu.”
“Gak perlu, Kak. Aku belum jadi istri Kakak. Jadi aku belum jadi kewajiban Kakak. Aku cukup tau diri soal ini,” jawab Zodi. Ia tidak suka merepotkan.
Ibra tersenyum bangga. “Ya udah kalau itu mau kamu. Gimana baiknya aja. Tapi please, jangan sungkan-sungkan minta bantuan sama aku, ya, kalau kamu kesulitan.”
“Iya. Tapi, apa Tante tau soal ini?”
“Soal apa?” tanya Ibra.
“Tujuan Kakak datang kesini.”
“Ya tau, dong. Sebelum pergi aku udah minta ijin dulu sama Mama sama Papa. Kan pas aku nembung kamu sama Om Miko, juga ada Mama sama Papa. Bahkan Ocha juga tau karna waktu itu ada di rumah juga.”
“Oo.” Zodi mengangguk-anggukkan kepala. Ia menatap jalanan kerikil yang ada di hadapannya.
“Cuman aku belum ngasih tau Mama kalau kamu nerima lamaran aku. Mama pasti seneng banget kalau tau kamu bakalan jadi menantunya.”
“Calon.” Sanggah Zodi.
“Sama aja, lah. Cincinnya nanti beli di Jogja aja, ya? Soalnya sekarang aku gak bawa cincin.”
Zodi mengangguk. “Iya. Gak apa-apa.”
“Nanti kalau pulang kasih kabar. Biar aku jemput di bandara.”
“Siap, Pak Dokter. Hehehehe.” Zodi terkekeh kecil sehingga membuat Ibra semakin merasa gemas saja.
“Kalau di inget-inget, baru kali ini ya aku bikin kamu ketawa kayak gini...” lirih Ibra. Ada sebuah rasa sesal di nada kalimatnya jika mengingat semua perlakuan buruknya kepada gadis yang di cintainya itu.
Zodi menoleh karna mendengar Ibra bergumam. Menatap pria itu dengan serius. “Kedepannya, terus bikin aku ketawa ya, Kak. Soalnya aku udah cukup nangis karna Kakak. Aku mau kedepannya, cuman ada senyum dan tawa dari Kakak.”
Ibra tersenyum lalu kembali mengusap kepala Zodi dengan lembut. Ia mengangguk seolah berjanji dengan apa yang di ucapkan oleh Zodi barusan.
“Jangan takut. Aku cuman mau kamu percaya sama aku gimanapun kondisinya.”
Kalimat Ibra itu di tanggapi oleh senyuman manis dari Zodi. “Tapi Kak, aku penasaran, deh. Sejak kapan Kakak mulai sadar kalau Kakak suka sama aku?” tanya Zodi. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
“Ehm, entah. Aku juga gak tau kapan pastinya. Yang jelas, waktu Igo bilang dia suka sama kamu, waktu itu dadaku rasanya panas. Aku baru sadar kalau itu cemburu. Apalagi waktu lihat kamu deket sama bocah cunguk temen sekelasmu itu. Semakin kesini, aku semakin sadar kalau aku udah jatuh cinta sama kamu. Pas aku tau kamu kecelakaan, rasanya aku hampir gila lihat kamu marah waktu itu. Aku khawatir sama kamu sampai gak fokus di rumah sakit. Makanya aku minta tolong sama Mama karna aku tau kamu gak bisa nolak permintaan Mama,” jelas Ibra panjang lebar.
Kalau di fikir-fikir, baru kali ini Ibra bicara sedemikian panjangnya dengan Zodi. Sikap dingin yang terkesan melekat di diri Ibra dulu seolah menghilang sekaligus. Kini Zodi bisa merasakan kehangatannya.
*
TBC...