
Hari ini adalah hari pertama Zodi masuk kuliah. Sejak pagi ia sudah sibuk membersihkan sepeda motornya. Di halaman depan rumah Mia dan Ranu nampak ramai. Karna ada Igo yang juga sedang membantunya mencuci motor. Bukan membantu sih, lebih tepatnya mengganggu.
"Yakin udah bisa bawa motor sendiri, Zo?"
"Tenang aja, Kak, aku udah mahir kok. Udah bisa balap juga. Hehehehehe."
"Heh. Mana boleh balap-balap," Igo melotot memperingatkan.
"Hehehehe. Bercanda, Kak."
"Padahal kan bisa sama aku apa sama Ibra aja kalau mau berangkat ke kampus."
"Kan gak mungkin selamanya aku ngerepotin kalian. Udah di kasih tempat tinggal gratis aja aku udah bersyukur, Kak." Zodi bicara yang sebenarnya.
Sedang asyik bercanda dengan Igo, nampak Ibra yang kemudian lewat di dekat mereka. Pria itu kembali bersikap dingin seperti biasa. Hanya melirik sekilas kepada Zodi dan Igo. Setelah itu masuk ke dalam mobil dan lalu pergi.
Igo memperhatikan Zodi yang terus menatap mobil Ibra yang menjauh.
"Kamu pasti gak nyaman banget ya sama Ibra? Kakak gak bisa nyuruh kamu maklum sama sifat dia. Tapi ya mau gimana, kami yang keluarganya aja bingung sama dia. Kok bisa punya sifat kayak gitu. Ngalah-ngalahin kulkas."
Nampaknya Igo juga merasakan kalau Zodi merasa tidak enak dengan sikap Ibra.
Zodi tersenyum menanggapi ucapan Igo. Padahal kemarin Ibra sudah melunak padanya. Kenapa hari ini dingin lagi?
"Apa Kak Ibra memang gak suka kalau aku tinggal disini ya, Kak?" Zodi memberanikan diri untuk bertanya hal yang selalu mengganjal di hatinya.
"Kenapa mikirnya sampai begitu? Jangan kejauhan mikirnya. Dia itu memang dingin sifatnya. Tapi kalau udah kenal lama, dia gak seburuk itu kok," Biar saja Igo terkesan membaik-baiki adiknya.
"Hehehe. Gak enak aja kak. Aku jadi ngerasa kalau kak Ibra itu gak begitu sukak sama aku. Tapi ya udahlah. Kayak yang kakak bilang. Karna memang sifatnya yang begitu, jadi aku bakalan berusaha buat gak berkecil hati."
Igo tersenyum penuh arti. Ia kemudian mengacak puncak kepala Zodi sampai rambut Zodi berantakan.
"Kak Igo, ih! Jadi berantakan kan rambutku!" Kesal Zodi tapi sambil terkekeh. Di susul oleh Igo yang juga ikut terkekeh.
Selesai mencuci motornya, Zodi segera mandi kemudian sarapan. Hanya ada ia dan Igo saja. Sementara Mia dan Ranu sudah pergi bekerja.
Pertama kali Zodi pergi ke kampus dengan sepeda motornya sendiri. Dia sangat hati-hati. Sementara Igo setia mengekori di belakang dengan mobilnya. Terus memperhatikan gadis di depannya dengan teliti.
Igo bahkan tetap mengekori Zodi sampai gadis itu berbelok ke fakultasnya. Ia tidak tau kalau Igo terus mengikuti di belakangnya.
Dengan sangat hati-hati, dan susah payah tentu saja, akhirnya Zodi berhasil memarkirkan kendaraannya. Kedua sahabatnya telah menunggu di ujung parkiran dan melambai-lambaikan tangan padanya.
Begitulah rutinitas Zodi selama semester pertama. Dia begitu di sibukkan oleh aktifitas sebagai mahasiswa baru.
Untungnya Zodi adalah tipe anak yang gampang beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sehingga ia tidak begitu kesulitan selama prosesnya.
Dan, sikap Ibra masih sama seperti sebelumnya. Sesekali bersikap hangat jika sedang datang 'waras'nya. Tapi Zodi tetap tidak terbiasa dengan itu.
Akhir-akhir ini Ibra tengah di sibukkan dengan tugas akhir perkuliahannya. Sibuk mempersiapkan sidang skripsi yang banyak menyita waktunya.
Begitu juga dengan Igo. Hanya saja mereka beda jurusan dan fakultas.
Zodi sedang membaca materi di taman belakang rumah. Rumah besar itu selalu saja sepi. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hanya ada Mbak Yani yang selalu ada di rumah. Jadi Zodi tak terlalu kesepian.
Zodi sedang fokus sampai tak mengetahui ketika Mia sudah pulang dan menghampirinya di kursi taman.
"Lagi apa, Zo?" Suara Mia langsung membuat Zodi menoleh.
"Lho, Tan? Udah pulang?"
"Iya. baru aja. Kamunya terlalu fokus sih, sampe gak sadar Tante datang."
"Maaf, Tan. Soalnya senin udah ujian semester. Jadi lagi kejar tayang ini ceritanya. Jam segini kok Tante udah pulang? Biasanya sore apa malem."
"Alhamdulilah hari ini gak banyak kerjaan. Zo, mau nge date sama Tante, gak?" Ajak Mia kemudian.
"Jalan-jalan ke mall. Udah lama Tante gak cuci mata nih."
"Hehehehe. Boleh."
"Ganggu ya? Padahal kamunya lagi belajar," Mia merasa tidak enak hati.
"Gak apa-apa, Tan. Butuh refresh otak juga biar seger. Biar siap tempur nanti."
"Ya udah, yuk. Siap-siap."
Zodi mengangguk kemudian menutup bukunya. Setelahnya ia beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian ia sudah keluar dalam keadaan rapi. Ia menyusul Mia yang sedang menunggunya di ruang tamu.
"Wihh. Cantiknya. Ayo," Puji Mia.
Zodi terkekeh kecil dan kemudian menggandeng Mia dengan akrabnya. Sudah seperti ibu dan anak saja.
Memang dua wanita beda generasi itu sudah akrab. Tidak jarang mereka jalan berdua untuk sekedar menghabiskan waktu. Mia juga sering menelfon ibu Zodi hanya untuk sekedar mengabari keadaan Zodi.
Setelah beberapa saat mereka sudah sampai di mall Ambarukmo Plaza dengan di antar oleh supir Mia.
Dan begitu sampai, keduanya langsung berkeliling menjalajahi toko-toko yang ada disana. Jika Mia membeli tas, maka ia akan membelikannya juga untuk Zodi. Jika ia membeli baju, maka ia juga akan membelikannya untuk Zodi. Wanita paruh baya itu benar-benar senang ditemani.
Tanpa terasa sudah dua jam-an mereka berkeliling. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sambil menunggu waktu maghrib tiba, keduanya memutuskan untuk istirahat di foodcourt.
Dan betapa terkejutnya Zodi ketika di sebuah gerai makanan jepang sudah duduk manis dua orang pria yang mempunyai wajah yang sama. Duduk perdekatan pula. Keduanya menjadi pusat perhatian dari beberapa pengunjung. Bahkan ada yang sempat mengabadikan diam-diam.
"Lho? Kok Kak Igo sama Kak Ibra ada disini?" Tanya Zodi bingung.
"Iya, tadi Tante suruh mereka datang buat nemenin kita nonton," Jawab Mia santai saja.
"Kan udah di temenin Zodi, Ma. Kenapa masih manggil kita, sih?" Ibra langsung melayangkan protesnya begitu sang ibu duduk di hadapannya.
"Makanya jangan sok sibuk. Masak sampai gak punya waktu buat keluarga?" Mia mulai mengintimidasi.
"Bukan gitu, Ma. Igo bener-bener lagi sibuk. Ngejar waktu sidang." Kali ini Igo yang bersuara.
"Ibra juga," pria kulkas ini tak mau kalah rupanya.
"Makanya di buat fresh dulu itu otaknya. Biar nanti lancar pas sidang."
Dan Mia sudah menjelma menjadi salah satu ras terkuat di bumi. Jadi kedua putranya memilih mengalah saja. Daripada kena damprat nantinya.
"Memangnya kapan sidang, Kak?" Zodi bertanya untuk keduanya.
"Sabtu depan." Ibra.
"Kamis." Jawab Igo.
"Ooh. Semoga lancar-lancar ya semuanya. Aku doain semoga dapet nilai terbaik."
"Makasih, Zo. Kakak jadi tambah semangat kalau gini. Hehehehehe." Seperti biasa, Igo menanggapinya dengan manis.
*
TBC...