Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 38. Lama Tidak Bertemu.



Sudah hampir dua bulan berlalu sejak Zodi memutuskan untuk tinggal sendiri. Ternyata tidak seburuk itu. Ia Malah jadi punya banyak waktu untuk bersama dengan teman-temannya. Melakukan apapun yang ia suka yang tidak bisa ia lakukan selama tinggal di rumah Mia. Kadang, teman-temannya akan menginap di kosnya, atau ia yang menginap di kos mereka. Kalau sudah begitu, mereka akan mengobrol sepanjang Malam. Mengobrolkan apapun. Dari tugas, mata kuliah, dosen killer, bahkan sampai kepada Irba dan Nilam.


Oh iya, sudah dua bulan juga ia tidak bertemu dengan Ibra maupun Igo. Dari kabar yang beredar, Ibra sedang sibuk koas di rumah sakit Dr. Sardjito. tentu saja kabar itu berasal dari Dea dan Mala. Dua sahabatnya itu selalu up-date kalau ada berita tentang Ibra, apalagi Nilam.


“Bisa gak sih, gak usah bahas dia lagi? Kalau kalian selalu bahas dia, gimana aku bisa move-on? Dasar.” Dengus Zodi kesal.


“Ya abisnya, Kak Ibra itu kayak magnet tau gak, Zo. Ya sorry. Iya deh, iya. Kita gak bakal ngebahas dia lagi. Kesel juga sih kalau di inget-inget kata-kata dia dulu.”


“Udah ah. Ayuk tidur. Besok pagi aku harus jemput Papa di bandara.”


“Oke...”


Malam itu, mereka tidak tidur terlalu larut. Karna besok jadwal kuliah mereka full hingga sore. Lagipula, besok sore, ayah Zodi akan datang ke Jogja untuk mengantarkan anaknya kuliah di sana.


Anaknya?


Ah, sakit sekali hati Zodi ketika teringat peringatan ayahnya sendiri. Kalau dia harus menyembunyikan diri karna tidak ada yang mengetahui kalau ia anak Miko. Mungkin kalau bisa di lihat secara kasat mata, hati Zodi sudah berlubang disana sini. Luka yang kemarin saja belum sembuh, sudah bertambah lagi luka yang baru. Tapi untungnya, Zodi memilih untuk tidak terlalu ambil pusing. Ia masih punya ibu yang selalu ada di sampingnya. Tidak di anggap anak, itu bukan masalah besar. Toh selama ini memang ia tidak pernah mengenal sosok seorang ayah kandung.


Zodi menyandarkan dirinya di tembok. Ia sedang duduk di kursi depan ruang kuliahnya. Sudah sore dan ia sudah lelah. Tadi adalah kuliah terakhir untuk hari ini. Ia sedang memejamkan mata ketika mendengar ponselnya berdering. Sedangkan kedua sahabatnya sudah pulang lebih dulu.


Ia merogoh ponselnya dari dalam tasnya. Telfon dari Mia. Tumben Mia menelfonnya.


“Iya, halo, Tan?”


“Zodi, sayang? Kamu dimana? Di kos?”


“Enggak, Tan. Lagi di kampus. Baru aja selesai kuliah. Kenapa, Tan?”


“Anu, Tante tadi di telfon Ayahmu. Katanya udah sampe bandara. Tante suruh Ibra buat nemenin kamu jemput mereka di bandara. Sekarang Ibra udah nunggu di kos kamu.”


Deg.


Ibra menunggunya?


“Ehm, gak perlu repot-repot, Tan. Aku bisa pesen taksi aja buat jemput mereka,” sungguh, rasanya sangat tidak


nyaman untuk menolak permintaan Mia.


“Tapi Ibranya udah di kos kamu,


tuh. Buruan pulang ya. Ya udah tante tutup dulu, tante lagi kerja ini.”


Belum sempat Zodi meng-iyakan,


Mia sudah memutus sambungan telfonnya terlebih dahulu.


Zodi menatap ponselnya nanar. Di


kepalanya terus terngiang-ngiang. ‘Ibra udah nunggu di kos kamu’. Sudah sekian


lama ia tidak bertemu dengan Ibra. Dan sepertinya hari ini ia terpaksa bertemu


dengan pria itu. Mau bagaimana lagi?


Dengan malas Zodi memacu sepeda


sedan berwarna hitam milik Ibra. Pria itu nampak keluar dari dalam mobil ketika


melihat kedatangan Zodi.


Zodi segera memarkirkan sepeda motornya. Kemudian ia berjalan menghampiri Ibra. Ia sudah memikirkan ini di sepanjang perjalanan. Ia harus bersikap biasa saja kepada Ibra. Ini sudah lama dan ia tidak ingin rasa tidak nyaman itu menganggunya.


Apa kabar tentang perasaannya? Tentu saja masih sama. Hanya saja Zodi sudah menguncinya jauh di pojokan hati. Ia menguncinya serapat mungkin. Ia merasa pasti bisa menghadapi Ibra seperti sebelum ia mengutarakan perasaannya. Ia yakin itu. Walaupun ia tau itu tidak mudah.


“Hai, Kak Ibra?” sapa Zodi ramah sambil menyunggingkan senyuman. Ia melirik pergelangan tangan Ibra. Pria itu masih mengenakan gelang pemberiannya.


Ibra mengangguk. Terasa sekali kecanggungan di antara mereka. Terlebih sudah lama tidak bertemu.


“Apa kabar, Zo?”


Zodi mengangguk. “Baik, Kak. Kabar Kak Ibra sendiri gimana?”


“Baik juga.”


“Maaf ya, Kak. Udah ngerepotin. Padahal rencananya aku mau pesen taksi aja tadi.”


“Gak apa-apa. Mumpung aku senggang juga.”


Dua manusia itu, masing-masing sedang mencoba untuk ramah satu sama lain. Itu mungkin biasa bagi Zodi. Tapi untuk Ibra, itu terlihat ganjil.


Ada yang berbeda dari Ibra. Wajah pria itu nampak lebih ramah dari biasanya. Dia juga sempat tersenyum walaupun samar. Ibra memang belum sempat meminta maaf kepada Zodi. Ia sedang menunggu waktu yang tepat. Karna sejak Zodi pergi dari rumahnya, ia benar-benar tidak punya waktu luang.


“Yuk, Kak. Langsung pergi aja,” ajak Zodi kemudian.


Sungguh, tidak ada yang tau bagaimana berkecamuknya perasaan Zodi saat ini. Tapi sekarang ia sudah mahir mengatur ekspresinya. Rasa sakit memberinya banyak pelajaran.


Jatuh cinta sendirian adalah kata lain dari rasa sakit. Mencintai sedirian adalah bentuk lain dari menyakiti diri sendiri. dan rasa sakit yang di rasakan oleh Zodi menjadi berkali-kali lipat karna pria yang di cintainya sudah punya kekasih. Kurang jahat apa dia?


Karna itu, ia memaksa mengunci perasaan itu jauh di dalam hatinya. Ia mungkin bisa akrab dengan Ibra karna


pria itu sudah berubah. Tapi tidak untuk jarak yang lebih dekat. Ia tetap harus membatasi interaksi dengan Ibra bagaimanapun ceritanya. Berbicara ketika butuh bicara. Berdekatan ketika keadaan memaksa mereka berdekatan. Dan tersenyum sebagai tanda dari keramahan semata.


Tidak lebih karna yang berlebihan itu tidak baik. Hehehehe.


Mobil yang di kemudikan Ibra melaju menuju ke bandara. Tidak ada yang berbicara selama perjalanan. Keadaan masih jelas terasa canggung setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Dan sekarang semakin canggung setelah Ibra mencoba bersikap ramah padanya.


Sudah berkali-kali Ibra menoleh kepada Zodi yang duduk di sampingnya. Gadis itu nampak sibuk sekali berkirim pesan dengan seseorang. Terkadang dia tertawa kecil demi membaca hal lucu yang entah apa itu, Ibra tidak tau.


Sebenarnya ia ingin mengobrol dengan Zodi. Tapi ia masih belum menemukan topik untuk di bicarakan. Ia khawatir kalau salah-salah, Malah akan membuat keadaan semakin canggung antara mereka. Padahal ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Zodi, bukan Malah memperburuk suasana.


Dasarnya Ibra belum terbiasa untuk bersikap ramah. Jadilah ia tidak bisa menemukan bahan obrolan yang tepat untuk di bicarakan saat ini. Pada akhirnya ia menyerah dan mereka terus saling diam sepanjang perjalanan.




*


TBC...