
“Kok Kak Igo yang jemput aku?”
“Tadi Ibra nelfon katanya dia ada urusan mendadak. Jadi minta aku buat jemput kamu.”
“Oh.” Jawab Zodi singkat.
“Zo, kamu hutang cerita sama kami.” Bisik Dea di telinga Zodi.
Zodi mengerti. Maksud Dea mungkin cerita bagaimana Zodi bisa kenal dengan Ibra dan Igo.
“Nanti aku ceritain sama kalian,” janji Zodi. Kedua temannya itu membuat tanda ‘ok’ dengan tangannya.
“Ayo.”
“Tapi aku udah terlanjur pesen ojek, Kak. Kasihan kalau di cancel. Itu ojeknya udah datang.”
“Ga apa-apa, biar aku yang bayar ojeknya.” Igo menghampiri tukang ojek dan menjelaskan situasinya. Tapi tukang ojek itu tidak marah karna Igo memberinya uang 100 ribu sebagai gantinya.
“Udah beres. Ayo. Keburu malam.”
“Aku duluan yaa,” pamit Zodi kepada kedua temannya.
Memang, Zodi lebih nyaman semobil dengan Igo daripada Ibra. Selama seminggu berangkat dan pulang bersama Ibra, tak pernah sekalipun Ibra memulai pembicaraan atau sekedar basa-basi. Hanya Zodi yang sesekali bertanya perihal kegiatan ospek. Benar-benar membosankan.
Sedangkan jika bersama dengan Igo, keadaan akan meriah karna Igo akan bercerita tentang apa saja. Kadang pria itu membuat lelucon hingga Zodi tertawa terpingkal-pingkal karnanya.
“Gimana kegiatan ospeknya?” tanya Igo.
“Lumayan, Kak.”
“Kapan kalian MAKRAB (malam keakraban)?”
Makrab biasa di lakukan sebagai penutupan kegiatan ospek. Panitia dan para mahasiswa baru akan pergi ke suatu tempat untuk mengakrabkan diri dan menghilangkan lelah selama seminggu ini. Biasanya di lakukan per fakultas, atau per jurusan. Kali ini, makrab di lakukan per fakultas.
“Selasa.”
“Oh. Dimana?”
“Katanya di Pantai Baron. Kalau fakultas Kakak?”
“Entah. Aku kurang tau. Soalnya aku kan gak ikut jadi panitia. Aku bukan anggota BEM ( badan eksekutif mahasiswa).”
“oh, iya. Aku lupa. Hehehe.”
Obrolan itu sungguh membunuh rasa bosan dan lelah Zodi. Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah.
Keadaan rumah masih sangat sepi. Ranu masih di kantor karna kini ia yang memegang kendali bisnis laundry milik ibunya dan juga beberapa unit kos-kosan milik sang ayah. Sementara Mia, sepertinya belakangan ini banyak kasus yang harus ia tangani di kejaksaan. Ya, Mia merupakan seorang jaksa yang sebentar lagi akan pensiun.
Zodi langsung mandi begitu sampai di kamarnya. Kemudian ia merebahkan diri di atas ranjang untuk mengusir rasa lelahnya. Ia bahkan sampai lupa untuk makan malam.
Tok! Tok! Tok!
“Zo! Makan dulu, yuk!” teriak Igo dari luar kamarnya.
Zodi memaksa membuka kelopak matanya dan melirik jam tangan. Sudah lewat pukul delapan malam rupanya. Lama juga dia tertidur.
“Iya, Kak!” jawabnya dengan suara parau.
Keadaan rumah ternyata sudah ramai. Mia dan Ranu sedang bercengkerama di ruang keluarga. Sedangkan Ibra nampak sedang bermain ponsel di ruangan yang sama. Mereka semua sudah pulang.
Ah, lihatlah, kehangatan yang terjalin antara Mia dan Ranu. Entah kenapa Zodi iri sekali melihatnya. Ia tidak pernah melihat kehangatan itu ada di rumahnya. Jangankan melihat ayah dan ibunya bercengkerama, melihat wajah ayahnya saja baru beberapa waktu yang lalu ia alami.
Tapi tidak apa, mungkin saja ayahnya akan menebus waktu-waktu yang terbuang itu. iya kan?
Kedua sudut bibir Zodi tertarik ke atas membayangkan apa yang sedang terlintas di kepalanya. Namun senyuman itu seketika menghilang saat Ibra memutus pandangannya. Mereka saling tatap untuk beberapa detik sebelum Ibra kembali mengalihkan perhatiannya pada ponsel.
Makan malam itu berlangsung serius. Memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga mereka. Saat sedang makan, tidak ada yang boleh bicara sampai selesai makan. Ya walaupun itu kadang sesekali masih di langgar oleh Ibra maupun Igo.
“Zo, tadi Papamu telfon Tante, katanya besok mau beli motor, ya? Papamu minta tolong sama Tante buat nganterin kamu,” jelas Mia.
“Iya, Tante. Tadi juga Papa udah telfon Zodi, kok.”
“Aduh, gimana ya, besok Tante ada kerjaan yang gak bisa di tinggal.” Sesal Mia. “kalian besok siapa yang punya waktu luang?” tanya Mia kepada kedua putranya.
“Besok aku ada acara, Ma. Sorry, zo.” Igo berkata dengan raut wajah menyesal.
“Gak apa-apa, Kak.”
“Biar sama Ibra aja, Ma.”
Wah, Zodi sama sekali tidak menyangka kalau Ibra akan bersedia mengantarkannya besok.
“Oke, kalau gitu. Besok Zodi biar diantar Ibra, ya.”
Zodi hanya mengangguk setuju. Sama siapapun dia tidak masalah. Selama mereka tidak keberatan mengantarkannya.
Selesai makan malam, Zodi dan Mia memilih untuk bercengkerama di teras samping rumah sambil melihati kolam ikan. Mia banyak cerita tentang pertemanannya dengan Jatmiko. Dan Zodi, sangat suka mendengarnya walaupun Mia sering sekali mengulang cerita itu. baginya, mendengar cerita seperti itu membuat ia membayangkan kenangan bersama sang ayah.
Bagi Zodi, itu menyenangkan. Mendengar kisah tentang sosok Jatmiko yang tidak ada dalam kisah dan ingatannya. Ia berterimakasih kepada Mia karna masih menyimpan tentang kisah ayahnya dan bersedia menceritakan padanya.
“Dulu, Papamu itu termasuk *the most*wanted di fakultas. Banyak banget cewek-cewek yang ngantri buat jadi pacarnya.”
“Tante juga?” seloroh Zodi. Dan Mia hanya tertawa saja.
Keakraban yang terjalin menyisihkan jarak antara dua wanita beda generasi itu. Itu semua tidak lepas karna Mia pandai membawa suasana. Jadi, Zodi tidak merasa canggung kepadanya.
“Hehehehe. Enggak, dong. Dulu Tante udah punya crush sendiri. Tapi sayangnya bukan jodoh. Malah jodoh sama Om Ranu. Hehehehe.” Mia mengenang masa mudanya.
Percakapan itu berlanjut sampai mereka membahas perihal kelahiran Ibra dan Igo. Ternyata Ibra adalah adiknya. Sementara Igo adalah yang lahir pertama.
“Mereka itu cuma beda lima menit doang. Igo yang lahir pertama. Abis itu Ibra. Tapi waktu lima menit itu membuat jarak umur mereka beda satu hari. Hahahahahahaha. Karna waktu itu pas tengah malam gitu lahirnya.”
“Tan?”
“Hem?”
“Gimana cara Tante buat bedain Kak Igo sama Kak Ibra?” tanya Zodi. Karna jujur dia penasaran karna sepertinya Mia sama sekali tidak kesulitan mengenali keduanya.
Sedangkan Mia, mendapat pertanyaan yang sudah sering di lontarkan orang padanya itu membuatnya tersenyum. Iapun menjawab persis seperti yang ia jawab pada orang-orang.
“Ya, karna tante yang ngelahirin mungkin ya. Di lihat sekilas aja, tante udah tau yang mana Ibra dan yang mana Igo.”
“Keren, Tan. Zodi aja sampai sekarang masih belum faham betul. Cuma kadang kalau di perhatikan betul-betul, baru mikir, ooh, yang cerewet Kak Igo. Yang pendiem, Kak Ibra. Gitu.”
“Hahahahaha. Mereka itu memang begitu. Cuma sifatnya aja yang beda. Yang lain, sama. Dari makanan kesukaan, dan lain-lain, mereka sama. Igo memang lebih asyik di ajak ngomong ketimbang Ibra. Tante juga gak tau tuh, kenapa Ibra lebih banyak diemnya begitu. Tante aja kadang sampe bosen gitu ajak dia bicara.”
“Iya, Tan, bener banget. Masak kalau berangkat ke kampus bareng Kak Ibra, Zodi tuh jadi bosan karna Kak Ibra jarang ngomong. Palingan jawab singkat kalau Zodi tanya sesuatu. Zodi sampai malu sendiri kadang-kadang.”
Tanpa kedua wanita itu sadari, telinga Ibra terasa panas mendengar mereka membicarakan dirinya seperti itu. Ia tadi hendak keluar, tapi tidak jadi setelah mendengar mereka membicarakannya.
*
TBC...