Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 27. Dia Bisa Apa?



“Zodi kamu udah gila?!!!!” pekik Mala tidak percaya. Keningnya berkerut menatap aneh kepada sahabatnya itu.


“Kok bisa punya keberanian segede itu dari mana, Zo?” Dea tak mau kalah. Ia juga heran setelah mendengar cerita Zodi kalau ia dengan bodohnya sudah menyatakan perasaannya kepada Ibra. Ini benar-benar di luar perkiraan.


“Tapi kamu bilang bisa nahan diri, Zo? Kok akhirnya gini, sih?”


“Aku juga gak tau, De. Aku juga hampir gila mikirinya. Aku aja gak tau kok bisa aku senekat itu. ya ampun. Aku harus gimana?”


“Sumpah, Zo. Kalau jadi kamu, aku bakalan malu banget pasti ketemu sama Kak Ibra.”


“Gak usah di bilang. Aku juga udah malu banget ketemu sama dia. Apalagi sikap dia berubah dingin lagi sama aku. Pasti karna aku nembak dia, kan? Gimana, dong?”


“Semoga Mbak Nilam gak pernah tau tentang ini.” Mala berdesis.


“Aku juga berharap begitu.”


“Tadi kamu bilang Kak Igo berubah lagi sikapnya? Bukannya menang begitu ya?” tanya Dea.


Zodi menceritakan kisah tadi pagi ketika ia hendak sarapan di rumah.


Tadi pagi, ketika ia sudah bergabung di meja makan seperti biasa, Ibra bahkan tidak mau meliriknya sama sekali. Nampak sekali kalau pria itu sedang membuat benteng di antara mereka. Dan Zodi beranggapan kalau itu pasti karna dirinya semalam.


Bahkan Zodi merasa, kalau Ibra sengaja buru-buru sarapan agar tidak terlalu lama berada di sana bersamanya.


“Kok buru-buru, Nak?” tanya Mia saat itu.


“Iya, Ma. Ada urusan sebentar sama....”


“Nilam?” Igo ikut menimpali. Dan anehnya, Ibra menganggukan kepalanya.


“Oh. Ya udah. Hati-hati, ya?” pesan Mia kemudian.


Sikap Ibra menjadi jauh lebih dingin kepada Zodi. Melirikpun tidak. Ada rasa tidak enak yang berkecamuk di dada Zodi. Apalagi ia sangat tau penyebabnya, membuatnya semakin merasa tidak enak saja.


“Waahhhh. Kak Ibra pasti marah banget sama kamu, Zo. Sampai segitunya sikapnya ke kamu.” Mala mengelus-elus punggung sahabatnya itu.


“Gak apa-apa, Zo. Anggap aja sebagai peluapan perasaan. Aku yakin kak Ibra bakalan ngerti, kok. Lagian biar gimanapun, aku yakin kalau hubungan Kak Ibra sama Mbak Nilam itu gak gampang goyah. Jadi kamu tenang aja.” Dea ikut menenankan.


“Makasih, kalian.” Zodi merangkul kedua sahabatnya itu. “Gramed, yuk. Stok novelku udah habis.”


“Hayuk, lah. Udah gak ada kerjaan ini.” Mala menanggapi antusias.


Lantas ketiganyapun pergi menuju ke toko buku yang terletak di salah satu mall di kota jogja itu dengan menggunakan sepeda motor masing-masing.


Sesampainya di toko buku, Zodi segera berburu beberapa buku yang sudah sejak lama ia incar. Beberapa di antaranya adalah buku novel-novel yang sedang naik daun saat ini. Hobinya memang membaca. Apa saja. Bukan hanya novel. Karna bagi Zodi, membaca bisa membuatnya kembali fokus dan melupakan masalah yang tidak penting.


“Keliling bentar, yuk. Udah lama gak cuci mata,” ajak Mala yang memang sangat hobi berbelanja.


“Boleh lah. Kali aja ada yang di taksir nanti. Hehehehe.” Dea ikut menimpali.


“Hayuk, hayuk. Aku juga mau cari-cari. Siapa tau nemu yang di cari.” Zodi berkata dengan santai.


“Mau cari apa, Zo?” tanya Dea.


Zodi mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Jujur dia sendiri tidak tau mau mencari apa. wajah konyol Zodi membuat kedua sahabatnya tergelak tertawa. Tidak ambil pusing, ketiganya kembali melanjutkan berkeliling.


Dea sudah membeli dua baju. Mala sudah membeli 1 tas yang menarik perhatiannya. Tapi Zodi? Dia belum membeli apapun. Ia hanya berkeliling sambil melihat-lihat. Sebenarnya uangnya sudah habis untuk membeli buku tadi. Ia belum meminta lagi kepada ayahnya.


Zodi sedang asyik melihat-lihat sekitarnya ketika Mala menyenggol-nyenggol lengannya.


“Apa sih, la?” tanya Zodi sewot.


“Itu Mbak Nilam sama Kak Ibra, kan? Mereka ngapain disini?” tanya Dea penasaran.


“Kamu nanya sama kita, terus kita nanya sama siapa?” celetuk Mala.


“Hehehe. Ya gak. Kok bisa ketemu disini sih. Kebetulan banget,” ujar Dea lagi.


Zodi hanya diam saja. Hatinya terasa seperti di iris melihat Ibra berjalan berdua bersama dengan Nilam. Padahal ia tau ia tidak berhak untuk itu, tapi dia bisa apa?


“Udah ah. Yuk buruan pergi. Malu kalau sampe kak Ibra lihat kita,” ajak Zodi yang langsung berbalik dan pergi dari tempat itu.


“Zodi!” Nilam berteriak memanggil Zodi.


Mau tidak mau, Zodi dan teman-temannya terpaksa berhenti. Mereka kompak menoleh sambil saling menyenggol satu sama lain.


Nilamlah yang memanggil Zodi barusan. Gadis itu berlari kecil menghampiri Zodi dan teman-temannya.


“Halo, Mbak Nilam,” sapa Zodi berusaha mengembangkan senyuman.


“Kalian disini juga?” Nilam nampak senang bertemu dengan mereka.


“Iya, Mbak. lagi cuci mata,” Dea yang menjawab.


“Oh, gitu...”


“Mbak Nilam ngapain disini?” kali ini Zodi ikut bersuara. Ia tidak ingin di pandang sombong. Sekali ia melirik kepada Ibra namun segera mengalihkan pandangannya begitu pandangan mereka bertemu.


“Lagi cari-cari aja. keperluan buat wisuda.”


“Oh, iya. Ngomong-ngomong selamat ya, Mbak,” kata Zodi.


“Makasih, Zo. Dateng kan nanti?”


“Dateng, Mbak. Kan Kak Igo sama Kak Ibra juga wisuda.”


“Siip, lah. Ini kalian mau pada kemana lagi?”


“Gak ada sih, Mbak. kami baru mau pulang,” Mala yang menjawab.


“Pas banget. Nonton yuk. Mau gak?” nampaknya Nilam benar-benar senang bertemu dengan mereka. “Rame-rame kan seru.”


Zodi, Mala, dan Dea saling melempar pandangan. Meminta pendapat lewat kode alis.


“Ehm, maaf, Mbak. Aku masih ada urusan.” Zodi memotong antusiasme teman-temannya. “Kalian kalau mau nonton pergi aja. aku pulang duluan gak apa-apa,” ia tau kalau kedua temannnya ingin menerima tawaran Nilam.


“Yaahhh, kalau kamu gak ikut, gak seru dong, Zo.” Nilam menampilkan raut wajah kecewa.


“Aku beneran minta maaf banget, Mbak. Mungkin lain kali aku bisa. Tapi kalau sekarang aku gak bisa.” Zodi mencoba menjelaskan agar Nilam mengerti.


Apa yang ingin dia jelaskan? Kalau ia cemburu dengan kedekatan Nilam dan Ibra, begitu? Kalau ia merasa malu sekaligus sakit ketika harus ada bersama mereka. Tapi tentu ia tidak mau mengatakan alasannya yang sebenarnya.


“Ya udah deh kalau gitu. Kalian jadi ikut, kan?” Nilam kembali menanyai Dea dan Mala.


Sementara keduanya beralih menatap Zodi.


“Gak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri,” ia mengerti kalau kedua sahabatnya merasa tidak enak dengannya. Sementara mereka ingin menerima tawaran Nilam. Kapan lagi menonton gratis, iya kan?


Tapi tidak, walaupun Zodi sudah bilang kalau ia tidak merasa keberatan, tapi Dea dan Mala akhirnya tetap tidak jadi pergi menonton.