
“Kenapa gak jadi? Kapan lagi bisa nonton gratis?” tanya Zodi. Saat ini mereka sudah berada di tempat parkir sepeda motor. Bersiap hendak pulang.
“Kamu fikir kita gak punya hati apa? ya gak mungkin lah kita nonton sementara kamunya gak mau. Kita tetep ngertiin posisimu kok, Zo,” celetuk Dea.
“Gayamu ngertiin posisi. Tadi siapa yang berbinar pas dapet tawaran nonton? Hah?” protes Zodi.
“Hehehehehehe. Ya maap.”
“Udah buruan. Kita langsung pisah di sini aja ya. Sampai ketemu besok!” teriak Mala yang sudah keluar parkiran lebih dulu.
Zodi menjadi yang terakhir keluar dari tempat parkir. Ia segera melajukan motornya menuju ke jalan raya untuk kemudian kembali ke rumah.
hari-hari di lalui Zodi dengan penuh tekanan. Semakin hari, ia semakin merasa tidak nyaman tinggal di rumah itu. Igo dengan terang-terangan terus menunjukkan perhatian padanya. Sementara Ibra, terang-terangan pula menghindarinya. Sepertinya Ibra jadi tidak menyukainya.
Jadi apa arti kata Ibra ketika pria itu bilang tidak bermaksud bersikap demikian? Dia bilang ingin bersikap hangat kepada Zodi namun nyatanya tetap bersikap dingin. Bahkan lebih dingin dari sebelumya. Ibra seperti sedang memendam amarah kepada Zodi. Gadis itu bisa merasakannya.
Apa karna ia menyatakan perasaan waktu itu? belum cukupkah rasa malu yang di rasakan oleh Zodi selama beberapa hari terakhir ini?
Dari semua sikap Ibra, Zodi akhirnya menyimpulkan kalau pria itu memang sejak awal tidak menyukainya. Mungkin Ibra berkata tidak bermaksud membuat Zodi merasa tidak enak waktu itu karna desakan dari Mia. Bisa jadi. Begitu fikir Zodi.
“Zo? Udah siap belum?!” teriak Mia di depan pintu kamar Zodi.
“Iya, Tan. Udah siap.”
“Tante tunggu di bawah ya?”
“Iya, Tan.”
Zodi mematut dirinya di cermin sekali lagi. Gaun batik yang di belikan Mia sangat pas di tubuhnya. Membuat tubuhnya terlihat lebih ramping dan anggun. Ia menggerai sebagian rambutnya dan menyisakan sedikit di bagian belakang untuk di ikat pita. Sangat cantik. Bahkan ia sendiri mengakui itu. kalau bukan diri sendiri yang memuji, siapa lagi?
Hari ini adalah hari wisuda Igo dan Ibra. Mia sudah menyiapkan seragam untuk mereka semua termasuk Zodi. Mia benar-benar menganggap Zodi adalah bagian dari keluarganya. Zodi bahkan tidak tau kalau Mia sudah mempersiapkan gaun untuknya.
Zodi turun dan menghampiri Mia dan Ranu serta Igo di ruang tamu.
“Wuih, cantiknya, Zo...” puji Igo terang-terangan.
Wajah Zodi jadi memerah mendapat pujian itu. ia tersenyum simpul.
“Ayo kita berangkat. Nanti telat,” buru Mia.
Mereka akhirnya berangkat dengan menggunakan satu mobil.
Sebenarnya Zodi ingin bertanya kemana Ibra? Kok tidak kelihatan? Tapi ia tidak berani.“Kenapa sih Ibra tadi buru-buru banget perginya?” Mia memecah kesunyian di perjalanan. Pertanyaan itu sangat mewakili rasa penasaran Zodi tadi.
“Gak tau, Ma. Jemput Nilam dulu mungkin.” Igo menjawab asal.
Nilam. Ya, Nilam.
Sudah seharusnya Ibra menjemput kekasihnya lebih dulu. Apa yang Zodi harapkan?
Beberapa menit perjalanan, mereka sudah sampai di gedung wisuda. Sudah ramai sekali orang yang hilir mudik disana. Zodi ikut masuk ke dalam gedung menggunakan undangan dari Igo. Ia menyaksikan prosesi meriah itu dengan diam. Tapi matanya jelalatan mencari sosok Ibra.
Banyaknya mahasiswa yang di wisuda, membuat Zodi tidak dapat menemukan keberadaan pria itu dari tribun. Ia hanya bisa melihat sekilas ketika Ibra di panggil maju ke atas podium. Itu saja ia terganggu dengan wanita paruh baya yang tiba-tiba berdiri di depannya.
Selesai prosesi wisuda, Zodi beserta Mia dan Ranu keluar dari gedung. Di luar, mereka bertemu dengan Ibra dan Igo.
“Selamat ya, Kak.” Zodi segera memberikan satu buket bunga yang ia beli tadi untuk Igo.
“Kak Ibra juga selamat. Mbak Nilam juga.” Zodi juga memberikan buket masing-masing untuk Ibra dan Nilam.
Ya, Nilam ada di antara mereka. Gadis itu selalu menempel dengan Ibra. Membuat hati Zodi panas saja rasanya. Apalagi Nilam nampak sangat akrab denga Mia. Mereka mengobrol dengan sesekali tertawa riang. Entah kenapa Zodi merasa seperti terasingkan.
Tidak lama kemudian Nilam minta ijin untuk bergabung dengan keluarganya.
“Ayo kita ke studio.” Ajak Ranu.
Kemudian mereka segera berangkat menuju ke studio foto. Disana mereka menghabiskan banyak pose untuk berfoto bersama. Ini adalah ide Mia. Wanita itu berkata ingin mengabadikan momen membahagiakan itu. tidak ada yang berani membantah. Termasuk ketika Ibra, Igo, dan Zodi di minta berfoto bertiga dengan berbagai gaya. Belum lagi Zodi dengan Igo. Dan Zodi dengan Ibra.
Walaupun malas untuk berfoto dengan Ibra, tapi Zodi tidak bisa menolak permintaan dari Mia. Mereka sudah seperti satu keluarga sungguhan. Di tambah mengenakan pakaian batik yang sama.
Kehangatan itu kembali menyeruak memenuhi rongga dada Zodi. Ia jadi ikut merasakan kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh Mia. Kehangatan keluarga yang tidak pernah Zodi rasakan sebelumnya.
Sepintas, Zodi bisa melupakan permasalahannya dengan Ibra. Rasa tidak nyaman itu menyingkir untuk beberapa saat. Setidaknya itu sampai mereka tiba di rumah. Sebelum Ibra dan Igo terlibat adu mulut. Hal yang tidak pernah terbayangkan bahkan oleh Mia dan Ranu sekalipun.
Sore itu, sepulang dari studio dan makan bersama, Zodi tengah mengobrol berdua dengan Igo di samping rumah. Mereka terlibat obrolan serius.
“Zo, kamu masih belum bisa nerima aku?” Igo membuka percakapan.
“Kak, kita udah pernah bahas ini.”
“Iya, tapi kok aku gak tahan kayak gini lama-lama ya, Zo?”
“Maksud kak Igo apa?”
“Aku butuh kepastian dari kamu.”
“Kepastian yang gimana, Kak? Dari awal aku udah kasih Kakak kepastian kalau aku gak bisa nerima Kakak. Aku juga udah bilang sama Kakak, jangan nunggu aku.”
Hening. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Igo kembali bersuara.
“Apa, Kak?” Zodi menoleh. Menunggu hal apa yang akan di tanyakan oleh pria itu.
“Apa ada orang yang kamu suka, Zo?”
“Kok Kak Igo nanyanya gitu?” Zodi mengerutkan keningnya.
“Aku bisa ngerasain, Zo. Terserah kalau kamu bilang aku sok tau atau gimana. Tapi tatapan matamu gak bsia bohong. Kamu, suka sama Ibra, kan?”
Deg.
Manik mata Zodi melebar. Dan Igo menanggapinya sebagai jawaban.
Zodi mematung. Hal yang mati-matian ia sembunyikan dari semua orang. Bagaimana bisa Igo menyadari perasaannya sampai sejelas itu?
“Kak... aku....”
“Gak apa-apa. Aku gak bakalan sakit hati. Aku tau kalau perasaan itu gak bisa di tebak apalagi di paksa. Aku juga gak pernah nyalahin kamu atas perasaan yang kamu punya buat Ibra.”
Zodi hanya terdiam saja. tidak tau harus menanggapi seperti apa. ia ingin membantah tapi lidahnya menjadi kelu. Tidak mampu mengeluarkan suara untuk sekedar menyangkal tuduhan itu. Ia hanya bisa menundukkan wajah. Menatap lantai dengan pias.