
Zodi sedang asyik memilah-milah buku novel yang ingin dia beli. Membaca sinopsisnya untuk mengetahui buku itu bagus atau tidak. Ia segera merogoh tasnya ketika mendengar ponselnya berbunyi. Telfon dari Dea. Sepertinya sahabatnya itu akan membombardirnya dengan pertanyaan.
“Apa, De?”
“Zo? Kamu dimana?” tanya Dea.
“Di Gramed Amplaz, kenapa?”
“Udah ku duga kamu disana. Ya udah kalau gitu.”
Tut.
Apa ini? Zodi memandangi ponselnya yang telah mati itu dengan kening yang berkerut. Ia fikir Dea akan memarahinya dan bertanya banyak hal tentang tadi. Tapi kok tidak? Temannya itu hanya bertanya keberadaannya saat ini. Aneh sekali.
“Kenapa nih anak?” gumam Zodi pada ponselnya.
Tak mau berfikir panjang, ia segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Melanjutkan mencari buku-buku yang bagus. Tangannya menjelajahi meja pameran yang di atasnya banyak buku-buku menarik.
Ketika ia hendak mengambil buku, secara bersamaan ada sebuah tangan juga yang sudah memegang buku itu lebih dulu. Ketika tangannya menyentuh tangan orang itu, sontak Zodi kaget dan langsung menarik tangannya. Ia menoleh dan kembali mematung.
“Kak Ibra?”
“Bener, kan. Kamu ada disini,” ujar pria itu kembali meletakkan buku yang tadi sempat ia ambil.
“Kok Kakak bisa ada disini?” Zodi masih terkejut dengan kedatangan Ibra yang tiba-tiba.
“Kenapa tadi bohong? Bilangnya ada janji, ternyata gak ada.”
Zodi mati kutu. Ia ketahuan.
“Si-siapa yang bohong? Aku gak bohong, kok.” Jelas sekali kalau ia memang sedang berbohong. Sial.
“Mana temenmu tadi? Katanya janjian ketemu temen?”
“Kak Ibra kenapa, sih? Kok jadi cerewet gini?”
“Senengan aku cerewet, apa aku diem?”
“Senengan cerewet, tapi gak berlebihan juga. Nanti kesannya jadi kayak emak-emak julid,” cibir Zodi menahan tawa.
“Kurang asam,” dengus Ibra yang ikut tertawa kecil.
Senyuman itu. Hampir saja membuat jantung Zodi kembali porak poranda. Kalau saja ia tidak segera mengalihkan wajahnya ke arah lain, mungkin ia sudah terpesona lagi kepada Ibra. Kenapa sulit sekali menghilangkan pria itu dari dalam hatinya? Setulus itukah perasaannya untuk Ibra? Membuatnya semakin kesal saja. Kesal pada dirinya sendiri.
“Udah selesai belum?” tanya Ibra. Melirik ke tumpukan buku yang di dekap oleh Zodi.
“Kenapa?”
“Aku antar pulang.”
Zodi terdiam sesaat kemudian mengangguk.
“Tunggu sebentar, Kak. Aku bayar ini dulu ke kasir.”
Ibra tidak menjawab. Ia hanya mengikuti gadis itu di belakangnya. Senyumnya terus mengembang. Sepertinya hatinya sedang senang.
“Pakai ini aja, Mbak,” Ibra menyodorkan kartu debitnya ke kasir. Hal itu berhasil membuat Zodi melotot kearahnya.
“Gak usah, Kak. Aku bayar sendiri aja,” Zodi berusaha untuk menolak. Pasalnya, harga buku yang ia beli lumayan mahal.
“Gak apa-apa, sesekali.”
Zodi mengalah. Bingung. Kenapa tiba-tiba Ibra bersikap perhatian seperti ini? Apa Ibra sedang kesambet?
“Mumpung suasana hatiku lagi bagus, aku traktir bukumu.”
‘Ah, Kak Ibra abis ngapain sama Mbak Nilam sampai seseneng itu?’ bathin Zodi. Hatinya yang tadi sempat menghangat kembali membeku. Tapi itu bagus, ia tidak perlu repot memaksa dirinya untuk kembali mengunci nama Ibra. Kalimat Ibra barusan seperti sebuah tamparan untuk langsung menyadarkan dirinya.
“Makasih, Kak,” lirih Zodi setelah mereka keluar dari toko buku.
Di perjalanan, Zodi memilih diam dan hanya menjawab sesekali ketika Ibra berkata sesuatu. Seharusnya ‘tamparan’ tadi sudah cukup membuatnya sadar. Berani sekali hatinya tadi berdebar?
“Udah makan belum, Zo? Mau mampir makan dulu, gak?” tanya Ibra. Kali ini pria itu lebih cerewet dari biasanya.
“Gak usah, Kak. Tadi aku udah makan di kampus,” tolak Zodi.
“Oow. Oh, iya. Mama nanyain kamu terus. Katanya kapan mampir? Udah lama gak mampir.”
“Nanti kapan-kapan kalau aku sempet, aku main ke rumah, Kak.”
Igo?
Ah, sudah lama Zodi dan Igo tidak saling bertukar kabar.
“Salam aja sama Kak Igo.”
“Apa dia gak pernah nelfon kamu?”
Zodi menggeleng. “Enggak, Kak. Mungkin Kak Igo lagi sibuk. Jadi gak punya waktu.”
Dan hening. Topik obrolan itu mati. Lagipula mereka sudah sampai di kos Zodi.
“Makasih, Kak. Udah nganterin. Makasih juga udah bayarin bukunya,” ujar Zodi.
“Sama-sama. Udah sana masuk.”
Zodi hanya mengangguk kemudian meninggalkan mobil Ibra yang masih berada di depan kos. Ibra baru melajukan mobilnya ketika punggung Zodi sudah menghilang dari pandangannya.
Zodi berhenti memandangi sepeda motornya yang telah terparkir rapi di depan kos. Sepertinya Ocha sudah pulang. Ia lantas bergegas untuk naik ke kamarnya. Benar saja, pintu kosnya sudah dalam keadaan terbuka. Kemarin dia memang memberikan satu kuncinya kepada Ocha agar tidak perlu membangunkannya ketika sudah pulang.
“Mbak, baru pulang?” tanya Ocha dengan wajah lelahnya. Sepertinya gadis itu tidak tidur semalaman.
Zodi tidak bisa mengontrol air mukanya. Ia jelas kesal sekali.
“Mbak marah ya karna motornya aku bawa lama?”
‘Dia fikir ini masalah motor?’ bathin Zodi.
“Lain kali jangan begitu, Ca. Gak baik anak cewek nginep di tempat cowok.”
“Mbak Zodi apa-apaan sih? Ayah aja gak pernah ngelarang-ngelarang aku. Mbak gak usah sok begitu sama aku, Mbak. Mbak Zodi itu bukan siapa-siapaku. Jadi gak usah ngatur-ngatur,” dengus Ocha kesal.
“Aku cuma bilang yang menurutku gak baik. Kenapa kamu malah marah-marah?” Zodi jadi ikut terpancing emosinya.
“Alah, udah lah, Mbak. aku tuh capek, mau tidur. Bukan mau dengerin Mbak Zodi ngomel,” Ocha langsung tengkurap di kasur sambil memeluk bantal guling.
Zodi menghela nafas kasar. Berusaha menurunkan emosinya. Kalau tidak memikirkan akibatnya, ia pasti sudah memaki gadis tengil ini atau bahkan mengusirnya sekarang juga.
Hidup lagi caek-capeknya, malah kedatangan bocah tengil. Zodi jadi semakin kesal di buatnya.
Demi menghindari peperangan, Zodi memilih untuk mandi saja. Menyegarkan tubuhnya sepertinya akan membuat fikirannya lebih baik. Setelah mandi, ia membuat mi instan di dapur. Memasak untuk dirinya sendiri.
Padahal dia tadi sudah makan. Tapi setelah melihat kelakuan Ocha, ia jadi lapar lagi. Ternyata emosi sungguh menguras tenaga walaupun kita tidak melakukan apapun.
Sambil makan, fikirannya melalang buana kemana-mana. Mencari solusi untuk kembali merapikan rencana-rencana hidupnya. Terlebih perasaannya. Karna sekarangpun, ia masih berantakan.
“Makan gak boleh sambil melamun, Zo,” suara Sofi mengejutkan Zodi.
“Eh, Mbak Sofi. Hehehe.”
“Untung gak kesambet, kamu. Kalau lagi banyak masalah, di selesain. Bukan cuma di fikirin.”
“Ini juga lagi mikir buat nyari solusinya, Mbak. Mbak Sofi mau masak apa?”
“Ini mau bikin kentang goreng krispi. Mau?” tawar Sofi.
“Mau dong. Hehehehe.”
“Tunggu bentar, ya. Oh, iya, Zo. Itu yang di kamarmu siapa? Aku tanyain cuma diem aja. sombong banget,” adu Sofi.
“Saudara, Mbak. Kapan Mbak Sofi ketemu?”
“Tadi. Pas mau masuk ke kamarmu. Jutek banget anaknya. Percuma cantik kalau judes.”
“Darimana Mbak Sofi tau kalau dia judes?”
“Dari mukanya udah kelihatan, Zo.”
Keduanya lantas terkekeh bersama-sama. Sofi membawa piring berisi kentang goreng hasil karyanya dan membawanya ke meja untuk di makan bersama Zodi.
*
TBC...