
Sudah dua hari berlalu tapi fikiran Zodi masih di sibukkan tentang Ibra. Bagaiamana pria itu bisa menyusulnya di mall kemarin? Bagaimana pria itu tau kalau dia ada disana? Dan bagaimana dia tau kalau ia berbohong?
Zodi tidak tau kalau Dea campur tangan. Gadis itu bekerja sama dengan Ibra di belakang Zodi.
Saat itu, ketika Ibra melihat wajah bingung Zodi di kaca spion, setelah ia mengantarkan Nilam ke rumahnya, ia menelfon Dea. Menanyakan tentang janji Dea dan Zodi. Dari situ Ibra tau kalau Zodi sedang berbohong.
Dan tentu saja, Zodi tidak akan pernah tau tentang semua itu karna Dea tidak akan pernah menceritakannya.
“Ca? Kapan kamu pulang ke asrama? Udah berapa hari ini kamu bolos. Aku gak enak sama ibu asrama kalau kamu kelamaan libur,” jengkel Zodi. Ia kesal setengah mati dengan kelakuan adik tirinya itu.
Bagaimana dia tidak kesal? Ocha bersikap semaunya. Pergi sesuka hatinya, dan pulang ke kos Zodi juga seperti itu. Tidak menghormati Zodi sama sekali. Bukan Zodi gila hormat, tapi setidaknya adiknya itu tau dirilah sedikit. Bukan malah merepotkannya seperti ini.
Sudah berkali-kali ibu asrama Ocha menelfonnya. Hari ini Zodi bahkan tidak berani untuk mengangkat karna sudah tidak tau lagi alasan apa yang akan dia utarakan. Sementara Ocha sendiri, gadis itu nampak tidak peduli sama sekali dan hanya memikirkan bersenang-senang saja dengan kekasihnya.
“Udahlah, Mbak. Aku bosan di asrama terus. Aku main dulu. Pinjam motornya lagi ya, Mbak. Masak aku minta di beliin motor sama ayah, malah gak di kasih,” bukannya mendengarkan nasihat Zodi, Ocha malah tidak peduli.
“Gak boleh. Hari ini aku butuh motor,” tegas Zodi. Ia benar-benar sudah kesal.
“Yaaaaahhhhh, Mbak. Kok gitu, sih.” Ocha nampak kecewa.
“Aku gak mau tau, nanti sore kamu harus balik ke asrama. Kalau enggak, aku laporin sama ayahmu,” ancam Zodi dengan wajah yang super serius. Menatap tajam kepada Ocha untuk menunjukkan ketegasannya.
Ocha meringsut walauput bibirnya maju beberapa centi. Dia tidak lagi membantah. Takut jika Zodi benar-benar akan mengadukannya kepada ayahnya. Melihat wajah Zodi yang sangat serius, ia yakin akan benar-benar di adukan.
Dengan wajah masam, Zodi menyambar kontak sepeda motornya dari atas meja. Terkesan kasar hingga menimbulkan bunyi. Zodi tidak peduli kalau sikapnya itu akan menyinggung Ocha atau tidak. Ia benar-benar sudah kesal setengah mati.
Zodi memacu sepeda motornya menuju ke rumah Mia. Hari ini ia berjanji kepada wanita itu untuk datang. Bukan hanya Mia, Igo juga memintanya untuk datang. Kemarin pria itu menelfonnya.
Sebenarnya Igo ingin menjemput Zodi di kosnya, tapi Zodi menolak. Ia ingin datang sendiri saja. Tidak mau merepotkan pria itu. Apalagi sekarang hubungan mereka seperti berjarak sejak Igo tidak memberitahu Zodi tentang kepergiannya ke Singapura.
Kedatangan Zodi di sambut antusias oleh Mia dan Igo. Wanita itu bahkan sudah memasak banyak makanan hanya demi Zodi mau makan malam di sana.
“Tante apa kabar? Maaf aku jarang sempat main kemari, Tan,” sesal Zodi. Ia memeluk erat Mia mengutarakan kerinduannya.
Mia juga membalas pelukan Zodi dengan erat. Ia merindukan gadis itu. “Alhamdulillah Tante baik. Cuman rada kesepian aja soalnya kamu jarang main ke sini.”
“hehehe. Nanti aku usahakan buat sering-sering kesini, Tan,” janji Zodi.
“Harus gitu, dong.” Mia kemudian ikut terkekeh.
“Kak Igo apa kabar?” Zodi beralih bertanya kepada Igo.
“Baik.”
“Kak Igo sekarang sombong. Pergi gak bilang-bilang sama aku,” dengus Zodi berpura-pura kesal.
“Hehehehe, maaf,” hanya itu yang di ucapkan oleh Igo. Nampak sekali pria itu tidak ingin menjelaskan apapun saat ini. Sikap Igo juga terkesan canggung kepada Zodi yang notabenenya adalah gadis yang ia sukai.
Tentu saja Zodi merasa aneh dengan perubahan sikap Igo itu. Igo benar-benar sudah berubah drastis. Tidak lagi hangat seperti dulu.
Berbeda halnya dengan Igo, Ibra malah terus tersenyum kepada Zodi sampai membuat gadis itu bergidik ngeri. Ada apa dengan kedua saudara kembar ini? Kenapa sikap mereka aneh sekali?
“Ayo, masuk. Kita makan malam dulu,” ajak Mia kemudian. Mereka semua masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang makan.
“Mbak Yani apa kabar?” tanya Zodi juga tersenyum ramah.
“Baik, tapi gak sebaik pas Mbak Zodi disini,” jawab Mbak Yani.
“Tuh, kan. Semua orang kangen kamu tinggal disini. Gak usah ngekos, Zo. Tinggal di sini lagi aja,” celetuk Ibra tanpa permisi. Sontak semua orang melihat kearahnya. Sementara yang di lihat nampak tidak peduli dan terus menarik kursi untuk dirinya sendiri kemudian duduk disana.
Zodi hanya terdiam. Tidak tau harus menjawab apa. ibra aneh.
Makan malam itu berlangsung dengan ramai. Mia benar-benar senang Zodi datang. Dua perempuan itu menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol bahkan setelah makan malam. Melepas rindu, begitu Mia menyebutnya.
“Kuliahnya, lancar kan, Zo?” tanya Mia. Mereka sedang duduk di kursi samping rumah dekat dapur. Tempat favorit Zodi dulu ketika masih tinggal disini.
“Alhamdulillah lancar, Tan. Cuman sekarang lebih banyak tugas dari sebelum-sebelumnya,” jawab Zodi.
“Ya begitulah kalau kuliah. Yang penting jangan putus semangat aja. Biar cepet lulus.”
“Iya, Tan.”
“Malam ini nginep disini aja, ya? Kan udah lama gak pulang. Lagian besok minggu,” tawar Mia.
“Maaf, Tan. Ada tugas yang belum aku kerjain,” tolak Zodi secara halus.
Mendengar jawaban Zodi, Mia tidak lagi memaksa. Entah kalau itu hanya sebagai alasan Zodi untuk menolak permintaannya, tapi yang jelas Mia mengerti kalau gadis itu sedang tidak ingin menginap.
“Besok-besok aku janji bakalan nginap disini, Tan,” imbuh Zodi lagi.
“Ya udah kalau gitu, Tante tunggu. Awas kalau bohong.” Mia sedikit mengancam.
Zodi hanya terkekeh kecil saja.
“Udah malam, Tan. Kayaknya aku harus pulang,” pamit Zodi. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10.
“Yaaaah, kok cepet banget sih? Tante masih kangen, tau.” Mia cemberut. Ia masih ingin mengobrol lebih lama dengan Zodi. Gadis itu memang menyenangkan kalau di ajak mengobrol. Nyambung.
“Nanti kapan-kapan aku kesini lagi, Tan. Janji,” akhirnya Zodi memberikan janjinya lagi.
“Ya udah deh. Hati-hati di jalan ya, Zo...”
Mereka berdua kemudian masuk untuk pamit kepada yang lain. Setelah itu, Zodi memacu sepeda motornya menuju ke tempat kosnya.
Bahkan setelah sampai di kosnya, Zodi masih memikirkan perubahan sikap Igo padanya. Itu seperti bukan Igo yang ia kenal dulu. Pria itu seolah memberi sinyal agar ia menjauh dan tidak mau seakrab dulu lagi.
Entah apa yang sudah Igo alami di tempat barunya. Entah kenapa juga sikapnya jauh sekali berubah. Ia merasa asing.
*
TBC...