Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 53. Tidak Boleh Iri.



Akhirnya Zodi menginjakkan kakinya lagi di rumah besar itu. Rasanya lumayan canggung setelah beberapa waktu. Ambil baiknya saja.


Mia segera mengantarkan Zodi ke kamarnya dulu. Sementara Ibra membawakan tas yang berisi pakaiannya. Ia meletakannya di samping lemari.


“Udah malem, kamu istirahat aja. Biar Tante ambilin makan dulu buat kamu, ya?” Mia mengelus kepala Zodi yang sudah duduk di tempat tidur. Kemudian keluar setelah mendapat anggukan dari gadis itu.


Ibra mengikuti ibunya keluar dari kamar Zodi. Tidak lama kemudian, pria itu kembali dengan membawa nampan berisi makanan untuk Zodi.


Zodi masih diam saja. Ia enggan bicara dengan Ibra setelah meluapkan emosinya tadi siang.


“Makan dulu,” tawar Ibra. Menyendokkan nasi hendak menyuapi Zodi.


“Aku bisa sendiri.” Zodi langsung mengambil alih sendok dengan tangan kirinya. Kemudian berusaha makan walaupun susah.


“Sini aku suapin.” Ibra masih merayu. Tidak tega melihat Zodi yang kesusahan makan dengan tangan kiri.


Saat hendak mengambil alih sendok, Zodi memundurkan tubuhnya. Terdengar helaan nafas dari Ibra. Tatapannya juga, sedih bercampur lega. Ada khawatir juga disana.


Selebihnya mereka hanya terdiam saja. Zodi fokus menghabiskan makanannya sementara Ibra tidak berani mengusiknya. Ia masih teringat dengan jelas ucapan Zodi tadi siang. Sepertinya dia harus memperjelas posisinya agar gadis itu menerima dengan baik perhatiannya.


Sudah dua hari sejak Zodi tinggal di rumah itu. Sore itu, ia dan Miaa mengobrol di meja makan sambil memakan buah kiwi. Zodi banyak menceritakan tentang kuliahnya yang semakin sibuk. Sesekali mereka membahas tentang Igo juga.


“Assalamu’alaikum!” suara dari depan rumah. Itu adalah suara Ibra.


“Wa’alaikum salam.” Mia segera menjawabnya.


Tidak lama kemudian muncullah Ibra di ruang makan setelah mendengar suara ibunya disana. Tapi dia tidak sendiri. Ada Nilam yang datang bersamanya. Zodi sempat terkejut dengan kedatangan Nilam itu. Ia tidak menduganya.


Ibra dan Nilam langsung menyalami Mia.


“Tante apa kabar?” tanya Nilam ramah.


“Baik, baik. Kamu sendiri gimana? kayaknya makin cantik aja.” seloroh Mia memuji.


“Iya kah, Tan? Jadi malu.” Nilam tersipu. “Hai, Zo. Gimana keadaan kamu?” tanya Nilam beralih kepada Zodi.


“Udah lebih baik, Mbak,” jawab Zodi.


“Ini buat kamu.” Nilam memberikan sekotak martabak dan sebungkus buah-buahan untuk Zodi. “Cepet sembuh ya.”


“Makasih banyak, Mbak Nilam,” tulus Zodi. Ia tersenyum menerima pemberian Nilam.


Mereka melanjutkan mengobrol setelah itu. Nampak sekali kalau Nilam sudah akrab dengan Mia. Mau iri, tapi dia siapa?


“Zodi pernah tinggal disini? Kapan? Kok aku gak tau?” tanya Nilam ketika pembahasan sudah sampai disana. Entah siapa yang memulai Zodi tidak begitu memperhatikan.


“Ada setahun ya, Zo, kamu tinggal disini?” ujar Mia kepada Zodi.


“Iya sekitar segitu, Tan.”


“Ya ampun. Kok aku gak tau, ya? Jadi kamu tinggal disini?” entah kenapa Zodi merasa nada suara Nilam berubah tidak enak.


“Emangnya Ibra gak pernah ngasih tau kamu?” selidik Mia lagi.


Nilam langsung menggelengkan kepala. Ibra memang tidak pernah memberitahu kalau Zodi tinggal di rumahnya. Gadis itu menatap tajam kepada Ibra. Smentara pria itu sedang fokus mengupas apel dan tidak peduli.


“Nah.” Tiba-tiba Ibra menyodorkan potongan apel yang sudah di tusuk garpu kepada Zodi. Nampak Nilam sedikit terkejut dengan perhatian Ibra itu. Gadis itu nampak tidak suka.


Bukan Zodi tidak merasakan atmosfer yang sudah berubah dingin dan canggung. Namun ia tetap menerima buah itu dan segera mengunyahnya.


“Aku permisi dulu ya, mau istirahat.” Pamitnya lagi dan langsung meninggalkan ruang makan.


“Lho? Zodi kemana?” tanya Mia yang baru saja kembali dari ruang kerjanya. Tadi ada yang menelfon perihal pekerjaan.


“Ke kamarnya, Ma. Mau istirahat katanya.” Ibra yang menjawab.


“Ooh.” Mia hanya mengangguk saja kemudian ikut bergabung kembali dengan Ibra dan Nilam.


Zodi merebahkan diri di atas kasur. Hatinya semakin tidak nyaman melihat kedekatan Nilam dengan Mia. Apa ini? Kenapa dia merasa seperti itu?


Untuk mengusir fikiran buruknya, ia memilih menelfon ibunya untuk melepas rindu.


Benar saja, Lasmi langsung khawatir ketika Zodi berkata tentang keadaannya.


“Pulang aja ya, Zo?” pinta ibunya dari seberang.


“Tapi belum libur, Mak.”


“Kapan liburnya?”


“Bulan depan, mungkin. Abis ujian.”


“Abis ujian, pulang, ya?” terdengar Lasmi sangat berharap. Ia sudah sangat rindu dengan putri semata wayangnya itu.


“Iya, Mak. Zodi janji. Nanti Zodi pulang.”


“Iya. Biar Mamak kirimkan ongkosmu buat pulang.”


“Iya.”


Setelah itu mereka menghabiskan waktu lama untuk mengobrol. Zodi sangat merindukan ibunya. Hatinya sakit ketika teringat tentang kebejatan ayahnya. Selamanya, ia tidak akan menceritakan tentang hal menyakitkan itu kepada ibunya. Tentang ayahnya yang menyembunyikan status dirinya sebagai anak. Ia tidak mau melihat ibunya bersedih lagi.


Hanya seminggu Zodi tinggal di rumah Mia. Setelah sembuh ia kembali tinggal di kos. Padahal Mia sudah benar-benar memintanya untuk tinggal di rumahnya, tapi Zodi tetap bersikeras tidak mau.


Siang ini, Ibra mengantarkan Zodi kembali ke kosnya.


“Makasih, Kak.” Hanya itu yang di ucapkan Zodi. Kemudian ia membuka pintu belakang untuk mengambil tasnya. Dan tanpa berpamitan kepada Ibra, gadis itu berlalu begitu saja masuk ke area kosnya. tidak mempersilahkan Ibra masuk atau apa. Dia hanya pergi begitu saja.


Ibra yang merasa kini mereka semakin berjarak, hanya bisa menghela nafas saja. Sedih hatinya melihat sikap Zodi yang dingin seperti itu. Ia harus mulai darimana untuk membuat hubungan mereka kembali membaik? Memikirkan saja membuat Ibra frustasi sendiri.


Sekali lagi Ibra menghela nafas kemudian kembali melajukan mobilnya pulang ke rumah.


Zodi merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sebenarnya hatinya juga sakit harus bersikap sedingin ini kepada Ibra. Tapi ia masih kesal tentang kejadian Ibra dengan Zayn waktu itu. Ia masih kesal karna Ibra mencampuri urusannya padahal dia bukan siapa-siapa.


Gips yang di tangan Zodi a di lepas. Kondisinya juga sudah semakin baik. Ia mulai membuka buku pelajaran karna besok sudah mulai ujian akhir semester. Mengingat janjinya untuk pulang membuat Zodi semangat. Membayangkan wajah ibu dan nenek yang sangat dia rindukan membuatnya tidak sabar untuk segera pulang.


3 tahun sudah terhitung sejak Zodi pergi dari rumah. Dan sejak itu dia belum pernah pulang sekalipun. Rasa rindu itu semakin menumpuk saja setiap harinya.


Padahal ayahnya bilang bulan depan dia hendak ke Jogja. Tapi Zodi tidak lagi peduli tentang hal itu. toh sudah ada Ocha, anaknya yang akan mengurusinya selama di Jogja. Jadi Zodi tidak akan di butuhkan lagi. Sekecewa itu Zodi kepada sang ayah. Hatinya sudah terlanjur terluka.




*


TBC...