
Zodi mengambil duduk tepat di hadapan Ibra. Pria itu nampak menyunggingkan sebelah sudut bibirnya dan melihat kepada Zodi.
Ibra memang yakin kalau Zodi akan mengikutinya. Jadi ia sudah memesan 2 porsi bubur susu dingin untuk mereka.
Setelah pesana tersaji, pria itu langsung saja menyantapnya. Begitu juga dengan Zodi. Gadis itu sudah tidak sempat bingung kenapa Ibra sudah memesankan untuk dirinya juga.
Sepanjang makan, Ibra lebih banyak memperhatikan wajah Zodi. Bukan Zodi tidak merasa walaupun wajahnya menunduk dan fokus pada mangkuk buburnya. Sebenarnya ia hanya takut mengangkat wajahnya. Takut untuk bersitatap dengan Ibra. Takut kalau tebakannya benar, jika Ibra sedang menatapnya.
Namun itu tak berlangsung lama. Karna Zodi sudah menyelesaikan makanannya, jadi mau tidak mau ia harus mengangkat wajahnya. Dan benar, pria di hadapannya itu sedang menatapnya dalam. Entah apa maksudnya, Zodi tidak bisa menemukan alasannya.
Itu bukan tatapan kebencian. Di bilang tatapan datar juga, seperti ada yang tersirat disana.
“Kenapa kakak ngelihatinnya begitu?" Akhirnya Zodi bertanya juga.
Tidak ada perubahan pada raut wajah Ibra. "Kenapa? Gak boleh?"
"Gak boleh. Karna bikin aku gak nyaman. Kayak ada yang aneh aja di wajahku sampai segitunya di lihatinnya."
Zodi hampir tidak percaya ketika melihat sebuah seringai senyuman dari wajah Ibra. Ya walaupun senyuman itu sangat tipis tapi netranya sempat melihat momen langka itu.
"Kak, jangan lama-lama. Udah malem ini. Nanti tante Mia marah." Zodi memilih mengalihkan pembicaraan.
Ibra tidak lagi menanggapi. Ia langsung menyantap habis makanan yang ada di hadapannya tanpa sisa.
Kalau Ibra sudah bersikap hangat begini, Zodi hampir tidak bisa menahan debaran di hatinya. Gadis itu masih terus menampik tentang perasaan yang tanpa malu sudah muncul di hatinya.
Sayangnya keramahan Ibra itu tidak berlangsung lama. Ketika keduanya sudah berada di dalam mobil di perjalanan pulang, lagi-lagi Ibra tak mengeluarkan sepatah katapun. Zodi jadi bosan setengah mati.
Sampai di rumah, rumah sudah sepi. Sepertinya semua orang sudah tidur. Zodi langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri ke atas kasur. Fikirannya melayang dan tangannya menyentuh serta mengusap-usap dadanya.
Rasa debaran itu masih ada. Dan Zodi paham sepenuhnya kalau rasa itu tertuju kepada seorang Ibra. Entah apa yang menarik dari pria itu Zodi bahkan tidak mengerti. Ia merasa menjadi gadis kurang ajar karna memiliki perasaan kepada pria yang sudah memiliki kekasih.
Tidak ada niat sedikitpun untuk merebut Ibra dari Nilam. Untuk sekedar mengganggu hubungan mereka saja tidak pernah ada di dalam fikiran Zodi. Ia hanya menyimpan rapat-rapat perasaan itu untuk dirinya sendiri. Bersikap normal seperti biasa walaupun detak jantungnya selalu saja meningkat ketika berada di dekat Ibra.
Perasaan ini benar-benar tidak nyaman. Kadang membuat sesak, kadang membuat melambung. Terlebih ketika saat Ibra bersikap hangat padanya.
Siapa yang bisa menahan akan datangnya sebuah rasa? Tidak ada. Rasa itu tidak punya pengendali. Ia datang sesuka hati, ketika hendak pergi, ia harus di paksa setengah mati.
Kurang ajar memang. Tapi itulah hati. Ia yang memilih sendiri kepada siapa ia akan berlabuh.
Begitu juga dengan Zodi. Ia tak kuasa untuk membendung perasaan yang perlahan mulai tumbuh untuk Ibra. Semakin dia menyangkal, maka rasa itu semakin jelas menunjukkan dirinya. Semakin yakin tertuju untuk siapa.
“Huuffhhh.”
Kadang, ada rasa sakit ketika harus memendam perasaannya seorang diri. Zodi, gadis itu sedang menahan diri untuk tidak terlalu jauh jatuh pada pesona Ibra. Yang jelas-jelas sudah punya pemiliknya. Akan tidak tau diri sekali rasanya jika Zodi tetap tidak bisa menahan diri.
Kalau di fikir-fikir, padahal Igo dan Ibra punya wajah yang sama. Kenapa Zodi tidak jatuh cinta saja kepada Igo jika memang wajah yang menjadi patokan perasaannya? Tapi tidak. Rasa itu tidak melihat wajah, tapi pemiliknya. Sikapnya.
Sikapnya?
Apa yang menarik dari sikap Ibra sampai Zodi berani sekali jatuh cinta pada pria itu? sudahlah dingin, di tambah tidak bisa menerima kehadirannya di rumah itu. Tapi kenapa ia malah jatuh cinta kepada pria semacam itu?
Entahlah, Zodi sendiri bingung juga memikirkan alasannya. Ia juga sedang mencari apa yang membuatnya jatuh cinta kepada Ibra.
Memikirkan Ibra dan rasa yang ada di hatinya, membuat Zodi perlahan memejamkan mata dan tertidur.
Ketukan di pintu membangunkan Zodi. Ia mengerlingkan matanya ketika merasakan sakit di belakang lehernya. Ia tertidur dengan posisi tidak nyaman semalaman.
“Zo? Sayang? Udah bangun belum?” terdengar suara Mia memanggilnya.
“Mau jogging ke JEC?”
“Tante mau jogging?”
Mia mengangguk. Namun kemudian ia mengernyit ketika melihat wajah Zodi yang tidak segar dan seperti menahan sakit. “Kamu kenapa? Sakit?”
“Leherku sakit, Tan. Kayaknya salah tidur semalam,” jelas Zodi.
“Ya ampun. Kok bisa? Coba sini Tante lihat.”
Zodi mengarahkan lehernya kepada Mia. Wanita itu menyentuh tengkuknya dan merasakan kalau leher Zodi benar-benar kaku.
“Kaku banget ini, Zo. Ya udah, kamu istirahat aja. Biar Tante suruh Mbak Yani buat anter sarapanmu ke sini.”
“Gak usah, Tan. Aku turun aja.”
“Yakin gak apa-apa?”
Zodi mengangguk meyakinkan.
“Ya udah kalau gitu. Tante tunggu di bawah, ya.”
“Iya, Tan.”
Setelah Mia pergi dari kamarnya, Zodi segera membersihkan wajah dan kemudian turun untuk ikut sarapan bersama.
Di meja makan, hanya ada Mia dan Ranu yang sedang menyantap sarapan mereka. Sementara tidak nampak Igo maupun Ibra di sana.
“Igo sama Ibra udah pergi ke kampus. Katanya ada bimbingan pagi,” seperti tau apa yang sedang di fikirkan oleh Zodi, Mia langsung saja menjawab.
Zodi hanya tersenyum simpul saja mendengarnya.
“Tante gak jadi jogging?”
“Enggak jadi. Gak ada temennya. Males.”
“Maaf, Tan.” Zodi merasa bersalah karna tidak bisa menemani Mia.
“Gak apa-apa. Kita pergi lain kali kalau lehermu udah sembuh,” ujar Mia berbesar hati.
Dan seharian ini, Zodi menghabiskan waktunya hanya berdiam diri di kamar. Bukan tidur, tapi ia membaca buku sebagai persiapan untuk ujian besok. Walaupun lehernya terasa pegal dan kaku, ia tetap memaksa diri.
Dengan sesekali berkirim pesan dengan teman-temannya untuk sekedar mengusir rasa jenuh.
Sebuah rindu tiba-tiba hinggap di hatinya. Ia ingin pulang. Sebuah keinginan yang terlintas begitu saja. Ia merindukan ibunya.
Zodi meraih ponselnya dan mencari nomor ponsel ibunya. Sesaat ia hendak menghubungi namun ia urungkan. Sepertinya ia tidak akan bisa menahan airmatanya jika menelfonnya sekarang. Jadi ia hanya menatapi nomor itu lama.
Zodi menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar. Seolah ingin mengusir rasa rindu itu dari dalam dadanya. Kemudian, ia kembali melanjutkan belajarnya walaupun dengan setengah memaksakan diri.
*
TBC...