Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 58. Sentuhan Kepemilikan.



Berjalan menyusuri jalanan setapak yang di pinggirnya rindang oleh tanaman perkebunan warga, membuat Zodi dan Ibra hampir lupa waktu. Untung saja rasa haus menyadarkan mereka. Mereka berempat kemudian melipir ke sebuah warung bakso yang ada di dekat pertigaan.


Tentu saja kedatangan Ibra yang termasuk pria tampan itu menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana.


“Waaaah, Zo. Abangnya ganteng banget ya, Zo. Boleh dong di kenalin sama aku.” Seloroh pemilik bakso yang merupakan seorang janda satu anak itu.


“Enak aja. Gak boleh. Dia punyaku.” Tegas Zodi yang langsung di soraki oleh beberapa orang kenalannya. Latah Zodi menggandeng erat lengan atas Ibra. Ada rasa bahagia yang menjalari setiap inci kulit Ibra dengan sentuhan kepemilikan itu.


“Ya ampun. Mentang-mentang ganteng, mau buat sendiri aja.”


“Katanya abangnya ini dokter, ya?” tanya yang lain.


Ibra mengangguk. “Iya, Pak.”


“Wahh, boleh dong ya kita periksa gratis.”


Ibra tersenyum lebar. “Siap, Pak. Boleh. Nanti malam datang aja ke rumah, biar saya bantu periksakan tekanan darahnya. Soalnya kalau sekarang saya gak bawa alat-alatnya.”


“Oke. Siap. Nanti malam saya ajak istri sama ibu saya ke rumah Lasmi.” Pria paruh baya itu langsung sumringah karna akan mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis.


Zodi hanya tersenyum melihat antusias tetangganya. Tidak di pungkiri ia juga merasa bangga dengan Ibra.


**


**


Sejak jam 3 sore, Zodi sudah membantu Ibra dan Haris membereskan barang-barang mereka. Malam ini Ibra akan bertolak kembali ke kota Jogja. Perjalanan dari rumah Zodi ke kota yang terdapat bandara sekitar 9 jam


perjalanan darat. Karena itulah Ibra membutuhkan bantuan supir seperti Haris yang memang sengaja ia sewa.


Ada yang berbeda dengan suasana kamar itu. Terdengar riang dengan tawa bahagia dari Ibra dan juga Zodi yang sesekali bercanda.


“Jangan lupa kabarin aku ya kalau udah sampai Medan,” pinta Zodi.


“Iya, sayang. Pasti. Gak mungkin aku lupa ngabarin kamu.”


Di panggil sayang, Zodi latah memukul pelan lengan Ibra. Ia malu dengan Haris yang hanya terkekeh melihat keuwuan dua sejoli itu.


Sebelum berangkat, mereka semua menyempatkan diri untuk makan malam terlebih dahulu. Lasmi sengaja memasak mewah untuk malam ini.


Tepat pukul 8 malam, Ibra dan Haris bertolak. Ada rasa berat hati yang di rasakan Zodi untuk melepas kekasihnya itu. namun ia tidak bisa apa-apa. Ibra juga punya kewajiban dan pekerjaannya sendiri. Ia tidak bisa menahan pria itu untuk tinggal lebih lama lagi. Toh minggu depan dia juga sudah kembali ke kota gudeg.


Perasaan mereka yang sedang buncah-buncahnya. Jadi wajar saja kalau rasanya ingin dekat di setiap waktu.


“Mak, Nek, kami berangkat dulu, ya. Terimakasih udah di terima disini beberapa hari ini,” ujar Ibra sambil menyalami Lasmi dan Nenek.


“Sama-sama, Nak Ibra. Baik-baik di jalan. Kalau sudah sampai salam sama calon besan Mamak, ya?” seloroh Lasmi.


“Iya, Mak. Nanti saya sampaikan,” jawab Ibra.


Di antara mereka ada Zodi yang wajahnya sudah merona sejak tadi.


“Aku berangkat dulu, ya. Nanti aku kabari lagi.” Pamit Ibra kepada Zodi. Belum berpisah saja, dia sudah merasakan rindu yang teramat sangat.


Zodi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan ya, Kak. Bang Haris juga.”


Dan setelah itu mobil yang di kemudikan oleh Haris benar-benar melaju. Membawa Ibra beserta kerinduannya.


Udara malam semakin lama semakin terasa menusuk ke kulit. Setelah memastikan mobil Ibra benar-benar menghilang dari pandangannya, barulah Zodi masuk ke dalam rumah.


Malam ini, Zodi kembali tidur di kamarnya sendiri. Aroma parfum maskulin Ibra masih memenuhi kamarnya. Membangkitkan kerinduannya kepada pria itu. padahal belum ada satu jam yang lalu Ibra pergi, tapi dia sudah merindukannya lagi.


Setelah membersihkan wajah dan mencuci kaki, Zodi mulai membaringkan dirinya di bawah selimut. Mengingat-ingat, kalau semua ini bukanlah mimpi. Ia tidak mau kalau mimpinya seindah ini. Tapi ia yakin, kalau ini semua bukanlah mimpi. Ini kenyataan. Kenyataan bahwa perasaannya dan Ibra kini saling terpaut satu sama lain. Kenyataan kalau perasaannya telah terbalas. Dan rasanya sangat luar biasa.


Zodi gemas sendiri sampai menutupi wajahnya dengan selimut. Ia tidak sabar untuk menceritakannya kepada kedua sahabatnya. Dea dan Mala pasti akan histeris mendengar ceritanya.


Baru saja Zodi bersiap menutup mata untuk menjemput mimpi, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ada sebuah pesan masuk dari Ibra.


Sebelum membalas, Zodi cengengesan dulu. Hatinya berbunga-bunga. Seolah kelopak bunga itu kini sedang memenuhi kamarnya.


‘Belum. Kakak udah sampai mana?’ – Zodi.


‘Sampai mana ya ini, aku gak tau namanya.’ – Ibra.


‘Ya ampun. Istirahat aja. Nanti malah kecapekan.’ – Zodi.


‘Gak bisa tidur.’ – Ibra.


‘Lha kenapa?’ – Zodi.


‘Kangen sama kamu.’ – Ibra.


Membaca pesan terakhir itu membuat Zodi menggigit bibir bawahnya karna saking saltingnya. Dadanya terus berdebar merasakan kerinduan yang sama. Ia jadi gemas sendiri dan hanya bisa melampiaskannya kepada bantal gulingnya.


‘Ya ampun. Baru berapa jam yang lalu, masak udah kangen lagi?’ – Zodi. Ia berpura-pura santai padahal hatinya juga sedang bergemuruh.


‘Emangnya kamu gak kangen sama aku?’ – Ibra.


‘Enggak. Kan baru ketemu.’ – Zodi.


Zodi terkikik sendiri di dalam kamarnya. Tidak peduli kalau tetangganya mendengarkan tawa itu dan mengira sebagai hantu.


‘Kok gitu? Ih. Aku telfon, ya?’ – Ibra.


‘Gak usah, Kak. Mending Kakak istirahat aja. Kan perjalanannya masih jauh juga. Nanti Kakak kecapekan malah sakit lagi.’ – Zodi.


Ia menolak padahal dalam hatinya sangat berharap Ibra langsung menelfonnya saat itu juga. Zodi sedang menjaga gengsinya.


Sepertinya Ibra tidak mengindahkan pesan Zodi. Bebeapa saat kemudian pria itu justru menelfon Zodi. Yang tentu saja, Zodi jadi semakin blingsatan ketika melihat nama Ibra tertera di layar pemanggilnya. Dengan menahan tawa bahagia, ia mengangkat telfon itu.


“Kok malah nelfon. Bukannya istirahat.” Zodi berpura-pura kesal.


“Denger suara kamu aja capekku jadi hilang. Kamu tidur gih, biar aku temenin dari sini.”


“Sleep call nih ceritanya?” tanya Zodi.


“Iya. Tidur ya...”


“Tapi aku belum ngantuk. Tadinya udah ngantuk sih, tapi karna Kakak telfon jadi ngantuknya udah pergi lagi.” Zodi beralasan.


Dan setelah itu mereka mengobrol tentang banyak hal. Ibra benar-benar menjelma menjadi sosok yang sangat berbeda. Entah dari mana pria itu mendapat bahan obrolan yang begitu banyak, yang jelas, obrolan mereka tidak pernah mati ataupun terputus. Selalu nyambung dari satu topik ke topik yang lain.


Bahkan ketika Zodi sudah tidak sanggup menahan kelopak matanya dan tertidur, Ibra masih saja terus mengoceh menceritakan ini-itu.


“Sayang? udah tidur?” tanya Ibra ketika ia mendengar dengkuran halus dari seberang ponselnya.


Tidak ada jawaban. Berarti Zodi benar-benar sudah tertidur. Iapun tersenyum membayangkan wajah lelap sang kekasih hati.


“Ya udah, selamat mimpi indah calon istri.” Ujar Ibra sebelum benar-benar menutup sambungan telfonnya.




halo warga kebun labu yang tersayang...


maaf banget baru bisa up hari ini.


jadi ceritanya tuh, aku abis jatuh gitu, terus siku kananku dislokasi, kegeser dikit sampe gak bisa di tekuk. jadi otomatis aku gak bisa nulis. jangankan nulis, makan aja harus pake tangan kiri. dan ternyata perlu waktu lama buat pemulhan... maaf ya warga. makasih udah setia nungguin cerita ini...


love yu ol.....