
Sebelum makan malam, Zodi tiba di rumah. Ternyata para anggota keluarga itu tengah menyantap makan malam mereka. Padahal ia sudah sengaja untuk terlambat pulang.
“Kok baru pulang, Zo?” tanya Mia ketika ia melewati mereka.
“Iya, Tan. Maaf. Banyak tugas. Jadi tadi kerkom sama temen-temen. Mau ngabarin Tante juga lupa jadinya.” Zodi beralasan. Zodi tidak berani menatap Igo apalagi Ibra.
“Makan dulu sini,” ajak Ranu.
“Iya, Om. Udah makan tadi di luar. Om sama Tante lanjut aja. Aku mau naik dulu, mau mandi.”
Tidak menunggu balasan dari Mia, Zodi segera berlalu naik dan masuk ke dalam kamarnya.
“Kok hawanya beda, ya? Mama jadi penasaran kenapa sama Zodi?” gumam Mia.
“Mungkin lagi capek kali, Ma. Wajar anak kuliahan banyak tugas,” Igo yang menjawab.
Zodi meletakkan tasnya ke atas meja belajarnya. Ia duduk di kursi. Sedang memikirkan alasan untuk tiga hari ke depan. Jadwal kuliahnya kosong. Dua dosen pengampu mata kuliah tidak masuk. Ia mencari alasan untuk keluar.
Sebenarnya dalam hati kecilnya ia merasa bersalah kepada Mia. Wanita itu sudah sangat baik padanya. Ia juga memikirkan bagaimana akan mengatakan kepada Mia kalau ia sudah mencari kos. Tapi ia tidak mungkin diam saja. Setidaknya dia harus pamit dan berterimakasih kepada Mia karna sudah merawatnya selama setahun ini.
Setelah lama berada di dalam kamarnya, Zodi akhirnya keluar juga. Dia haus dan ingin mengambil minum di dapur.
Di dapur, ia melihat Mbak Yani yang sedang asyik bermain ponsel tanpa menyadari kedatangannya. Niat jahil Zodipun keluar. Ia menepuk bahu Mbak Yani sampai wanita itu terjingkat karna terkejut.
“Ya ampun, Mbak Zodi! Kaget saya, Mbak.” dengus Mbak Yani kesal. Bukannya minta maaf, Zodi malah terkekeh melihat ekspresi Mbak Yani.
“Ngapain Mbak di sini sendirian?” tanya Zodi. Ia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air minum dan mengambil duduk di dekat Mbak Yani.
“Pada kemana, Mbak? kok udah sepi?” tanya Zodi mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
“Ibuk di ruang kerja. Bapak juga. Kalau Mas Igo tadi keluar bawa mobil. Kalau Mas Ibra kayaknya dikamar deh,” jelas Mbak Yani lengkap.
Zodi hanya mengangguk saja. Ia menyeruput minumannya.
“Mbak kapan jadi pulang? 4 hari ke depan aku libur nih. Nganggur. Gak ada kerjaan.”
“Wah, beneran libur? Kalau mau berangkat besok juga bisa. Soalnya Ibuk juga udah bilang. Mbak Zodi udah bilang sama Ibuk?”
Zodi menggelengkan kepalanya.
“Yuk nemuin Ibuk minta ijin,” Mbak Yani antusias sekali. Ia langusng bangun dari duduknya.
“Nanti ganggu. Kan Tante lagi kerja, Mbak”
“Gak apa-apa. Ayo.”
Zodi menurut. Ia mengikuti Mbak Yani menuju ruang kerja Mia. Mbak Yani mengetuk pintu raungan itu. setelah di persilahkan masuk, keduanya lanats masuk bersama-sama.
“Maaf Buk, ganggu.”
“Kenapa?” tanya Mia. Ia menghentikan sementara pekerjaannya.
“Ehm, Tan, aku libur 4 hari. Rencananya mau liburan ke tempatnya Mbak Yani. Boleh?” tanya Zodi hati-hati.
“Kapan?”
“Kalau besok, gimana, Tan?”
“Boleh,” jawab Mia tersenyum.
Zodi tersenyum senang. “Makasih, Tan.”
“Sama-sama. Nikmati waktu liburanmu, Zo.”
Zodi kembali mengangguk. Setelah mendapatkan ijin, mereka kembali keluar.
“Oke. Gak usah bawa baju banyak-banyak, Mbak Zodi. Biar gak repot.”
“Siap, Mbak.”
Akhirnya, Zodi mendapat kesempatan untuk tidak berada di rumah. Kesempatan untuk menghindari Ibra. Yang sampai saat ini, mengingat ucapan Ibra masih membuat dadanya seperti di tusuk-tusuk.
Sebenci itu Ibra padanya. Sudahlah benci, di tambah dengan berani ia bilang menyukai pria itu, Zodi bisa membayangkan betapa kebencian Ibra semakin besar untuk dirinya. Keputusannya untuk ngekos sepertinya sudah tepat. Sebelum rasa tidak nyaman itu semakin besar.
Kenapa rasa yang tumbuh membuat semua orang tidak nyaman? Zodi, Ibra, Igo, bahkan mungkin Nilam. Andai ia bisa memilih untuk siapa hatinya berlabuh, ia tidak akan sepusing ini. Sudahlah jatuh cinta pada pria yang sudah jelas punya kekasih, di tambah kakak pria itu menyukai dirinya, Zodi merasa seperti gadis brengsek di beberapa waktu. Dan itu hanya segelintir permasalahan yang singgah beberapa hari ini.
Sejak pagi, Zodi sudah bersiap-siap. Ia menaruh tiga stel pakaian ke dalam tas ransel kecil miliknya. Setelah memastikan semua keperluannya tidak ada yang tertinggal, Zodi segera menjangkat tas itu kemudian keluar dari kamarnya.
Di meja makan, ia bergabung bersama dengan yang lainnya dan sarapan dalam diam. Bahkan ia hanya tersenyum ketika di ajak Mia bicara. Menjawab seperlunya saja. Perubahan sikapnya itu di sadari oleh Igo, dan juga Ibra.
Zodi tercengang ketika mendapati Ibra juga ikut dengannya keluar rumah dengan menenteng tasnya.
“Biar Ibra yang nganter kalian ya,” ucapan Mia menjelaskan semuanya.
Apa ini? Zodi sama sekali tidak ingin di antarkan oleh siapapun. Semalam ia dan Mbak Yani sudah membicarakan kalau mereka akan menggunakan bis umum, bukan di antar. Apalagi oleh Ibra.
“Mbak, bukannya kita naik bis, ya?” bisik Zodi kepada Mbak Yani yang berdiri di sampingnya.
“Gak di kasih sama Ibuk. Katanya harus di anter. Pertamanya Mas Igo yang mau di suruh nganter, tapi mas Igonya ada urusan penting, jadi Mas Ibra yang gantiin,” jelas Mbak Yani.
“Sorry aku gak bisa nganter kamu, Zo. Aku ada urusan penting.” Igo menjelaskan.
Zodi hanya mengangguk saja. “Gak apa-apa, Kak.”
“Daripada naik bis, Tante kefikiran nanti kalian di jalan gimana. Gak apa-apa, kan?” Mia seperti menangkap sinyal canggung dari Zodi. Gadis itu seperti tidak menyukai idenya.
“Oh, iya, Tan. Gak apa-apa.” Zodi sedang memaksakan senyumannya.
Ah, apalagi ini. Lagipula kenapa Ibra mau coba untuk mengantarkan mereka? Maksudnya apa? bukankah pria itu membencinya?
Ya, pasti Ibra tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah ibunya. Itulah yang terfikirkan oleh Zodi.
“Ya udah kalau gitu, sana buruan berangkat nanti keburu siang, macet.”
“Kami pamit ya, Tan, Om.”
“Iya, hati-hati di jalan ya,” pesan Mia.
Zodi dan Mbak Yani hanya mengangguk saja.
Ibra sudah siap di balik kemudinya. Setelah itu Mbak Yani juga masuk dan duduk di kursi belakang. Namun ketika Zodi membuka pintu belakang, ia ternganga. Tidak ada tempat duduk untuk dirinya karna terdapat satu kardus besar di kursi penumpang.
“Zo, kamu duduk di depan aja. Itu Tante kirim makanan buat keluarganya Mbak Yani. Kalau di taruh di bagasi nanti cepet basi.” Mia menjelaskan.
Ya ampun...
Tidak punya pilihan lain, Zodi terpaksa membuka pintu depan dan duduk disana. Di samping Ibra.
Pada dasarnya, manusia hanya bisa merencanakan. Sekeras apapun menghindari sesuatu, tapi jika yang di atas sudah merencanakan hal yang sebaliknya, ada banyak cara. Seperti Zodi saat ini. Yang tidak bisa menghindar ketika ia terpaksa duduk di samping pria yang membencinya.
*
TBC...