
Selama satu minggu penuh di habiskan Zodi untuk fokus pada ujian. Ia mengalihkan fikiran tentang Ibra dan apapun yang terkait dengan pria itu. Pokoknya fokus, ujian. Ia ingin mendapatkan nilai terbaik walau apasitas otaknya memang pas-pasan. Setidaknya ia ingin mencoba melampaui batasannya sendiri.
Hari ini adalah hari terakhir ujian. Zodi, Mala dan Dea sedang menghabiskan waktu dengan mengobrol di The Food Point sambil menikmati makanan ringan.
“Hahhhh. Kira-kira dapat nilai bagus gak ya aku?” seloroh Dea dengan wajah lesunya.
“Semoga. Katanya hasil gak pernah menghianati usaha. Kita kan udah belajar, jadi gak mungkin kalau nilai kita jelek” Zodi setengah menghibur diri. Sebenarnya dia juga penasaran dengan nilainya.,
“Udah lah. Baru abis ujian nih. Harusnya kita refresh-in otak kita dong. Bukannya malah mikirin hal-hal begituan. Jadi tambah pusing nanti. Masalah nilainya, kita serahkan sama bapak dan ibu dosen. Hehehehhe,” timpal Mala dengan wajah tanpa dosa.
“Ya kali di serahkan sama kating. Ngadi-ngadi kamu, la,” protes Dea kesal.
“Ngomong-ngomong kating, tuh lihat. Nempel terussss yang mau wisuda.” Mala menunjuk ke sebuah arah dengan wajahnya. Kompak kedua temannya mengikuti arah pandangannya.
Nampak disana, di kursi dekat jendela, dua sejoli sedang serius menyantap makanan mereka dengan sesekali mengobrol.
Deg.
Ada sesuatu yang menghujam ke ulu hati Zodi ketika melihat Nilam tertawa. Nampaknya gadis itu sedang bahagia sekali. Gestur tubuh Nilam menunjukkan keromantisan yang membuat iri.
Tidak mau menahan sakit terlalu lama, Zodi segera mengalihkan pandangan kemudian menyeruput es teh yang sebenarnya sudah habis dan tinggal menyisakan bongkahan es batunya saja.
“Zo, jujur deh. Kamu suka kan sama Kak Ibra?” pertanyaan dari Dea itu sontak membuat Zodi tersedak minumannya. Suara batuknya keras hingga membuat beberapa orang menoleh padanya. Termasuk Ibra.
“Kamu ini ngomong apa sih, De? Siang-siang udah ngelantur aja.” Zodi berusaha mengembalikan raut wajahnya yang sudah memerah. Sungguh, ia tidak ingin teman-temannya tau yang sebenarnya.
“Jadi kamu ngerasa juga ya, De? Kirain aku doang,” Mala ikut menimpali. Seolah ia setuju dengan pertanyaan Mala.
“Kalian ini kenapa, sih? Jangan ngadi-ngadi, deh.”
“Gak usah di sembunyiin kali, Zo. Tatapan kamu itu udah menjelaskan semuanya,” ujar Dea.
“Menjelaskan apa?” Zodi masih berusaha untuk menyangkal. Walaupun ia tau kalau sepertinya itu percuma.
“Menjelaskan kalau sebenernya kamu itu naksir sama Kak Ibra. Iya, kan?” kali ini Mala yang ambil bagian.
Zodi memandang kedua sahabatnya bergantian. Ia tau, percuma menyembunyikan hal ini dari mereka.
“Keliatan jelas banget ya?” lirih Zodi. Pertanyaan itu seperti sebuah deklarasi kalau ia mengakui tuduhan kedua sahabatnya. Dan keduanyapun langsung mengangguk mantap secara bersamaan.
“Hufh...” imbuh Zodi lagi. Ia kemudian menundukkan wajahnya malu.
“Kalau kamu mau jadi pelakor, kita siap dukung,” seloroh Mala tanpa rasa bersalah.
“Heh! Enak aja. Ngajarin temen bukannya yang baik, malah yang jahat. Aku gak dukung ya Zo kalau kamu mau jadi pelakor. Jangan dengerin omongan somplak satu ini,” dengus Dea tidak terima. Ia bahkan memukul pundak Mala karna saking kesalnya.
“Hehehehehe.” Mala hanya cengengesan saja.
“Kalian ini udah kejauhan mikirnya. Aku masih tau diri, kok. Kalau dia udah ada yang punya. Aku gak segila itu sampai berani macam-macam apalagi sampai ngerebut pacar orang.” Zodi menjelaskan situasinya.
Mala dan Dea mengangguk mengerti. Keduanya kompak mengusap punggung Zodi untuk memberikan dukungan.
“Kita bakalan selalu ada buat kamu, Zo. Jadi jangan sungkan kalau mau cerita,” ujar Mala.
“Iya. Kita bakalan bantuin kamu buat gak naksir lagi sama Kak Ibra.” Dea juga ikut bersuara.
Zodi merasa bersyukur mempunyai dua sahabat yang sangat mengerti dirinya. Setidaknya, ia tidak akan terlalu galau meratapi perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.
Sementara Ibra, awalnya ia tidak melihat ada Zodi disana. Baru setelah gadis itu batuk ia menoleh dan mendapati kalau ternyata Zodi juga ada disana.
Sudah beberapa hari ini ia jarang bertemu dengan Zodi. Padahal mereka tinggal di rumah yang sama. Zodi sibuk dengan ujiannya. Sementara ia sendiri sibuk mempersiapkan sidang skripsinya.
“Aku gak sabar pengen wisuda cepet-cepet. Abis itu koas, abis itu, nikah. Hehehehhe,” seloroh Nilam sambil tersenyum lebar kepada Ibra.
“Nikah?” tanya Ibra mengernyitkan keningnya.
“Gak kecepetan?”
“Kenapa? Kamu belum siap nikah?”
Pertanyaan Nilam itu justru semakin membungkam Ibra. Ia mengalihkan fokus dengan makanan yang ada di hadapannya. Sampai ia menyelesaikan makanannya, ia tidak lagi bersuara.
“Udah, yuk. Aku mau pulang. Capek.” Ajak Ibra yang langsung berdiri begitu saja meninggalkan Nilam. Ia berjalan menuju ke kasir untuk membayar makanan mereka.
Sementara tiga sahabat itu sempat melirik kepada Ibra dan Nilam yang berjalan keluar dari cafe.
“Bahagia banget ya jadi Mbak Nilam,” gumam Mala.
“Beruntung banget gak sih?” Dea menimpali.
“Beruntung.” Zodi juga ikut nimbrung.
Mendengar suara Zodi yang terdebgar sedih, Mala dan Dea langsung menatap kepada gadis itu dengan tatapan kasihan.
“Yang sabar ya, Zo. Nanti kamu pasti bakalan dapet yang lebih baik dari Kak Ibra.” Ujar Dea.
“Entahlah. Itu bukan prioritasku sekarang.”
“Iya, bener. Kita baru semester satu. Jadi jangan galau-galau dulu masalah percintaan. Ladies, perjalanan masih panjang. Masih banyak juga cowok ganteng yang belum kita kenal. Salah satunya Zayn. Hahahahahaha,” kekeh Mala.
“Nah, iya. Kenapa kita bisa lupa kalau di kelas kita juga ada si ganteng Zayn. Mana motornya keren lagi. Pinter juga. Sempurna buat di jadikan gebetan.” Zodi ikut menimpali. Ia ingin mengikuti topik agar mengalir. Agar fikirannya tidak melulu mengarah kepada Ibra.
“Udah yuk, ah. Cabut.”
Dan ketiga gadis itu segera membereskan barang-barang mereka kemudian berjalan menuju ke kasir.
“Mbak, meja nomor 9,” ujar Zodi hendak membayar.
“Udah di bayar, Mbak. Sama Mas yang tadi,” kata Mbak kasir.
“Di bayar? Mas yang mana, Mbak?” Dea juga ikut kaget.
“Yang tadi. Yang ganteng tadi.”
Zodi, Mala dan Dea saling pandang. Mereka memikirkan satu nama, yaitu Ibra.
“Oh, ya udah, Mbak. makasih banyak.” Zodi dan teman-temannya segera pergi dari sana.
Sesampainya di luar, mereka berhenti dan kembali saling melempar pandangan.
“Bener Kak Ibra yang bayarin kita?” tanya Dea yang masih tidak percaya.
“Kayaknya sih iya,” kata Zodi.
“Kenapa dia bayarin kita?” tanya Mala menatap kepada Zodi. Seolah Zodi tau jawabannya.
Zodi mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Ia juga tidak tau kenapa Ibra membayar makanan mereka. Tidak bilang pula. Tapi, dalam hati ia tetap berterimakasih karna sudah di bayari.
Ketiga sahabat itu lantas memutuskan untuk tidak mengambil pusing dan memilih untuk pulang saja.
*
TBC...