
Hari masih gelap ketika Zodi menggeliat di atas kasur. Sudah beberapa malam ia tidak nyaman tidur di kasurnya karna ada Ocha. Gadis itu, setelah di ancam baru mau kembali ke asrama. Zodi tidak mau tau dengan siapa Ocha kembali, yang jelas ia senang sudah mendapatkan kamarnya kembali. Sekarang ia sudah bebas, mau jumpalitan dan kayangpun di kamarnya tidak masalah lagi.
Zodi baru saja selesai mencuci muka di kamar mandi ketika ponselnya berdering. Ia menatap lama nama si pemanggil. Igo.
Baru setelah nada deringnya hampir habis, ia mengangkat telfon itu.
“Halo, Kak?” sapanya lebih dulu.
“Zo, di kos kan? Sunmor, yuk. Kakak tunggu di depan. Jangan lama ya..”
“Lho, Kak? Kakak udah di depan?” tanya Zodi bingung.
“Iya. Makanya cepetan.”
“I-iya, kak. Tunggu sebentar,” ujar Zodi. Ia jadi kalang kabut mencari pakaian setelah telfon di matikan.
Tidak butuh waktu lama, ia sudah siap mengganti pakaian. Merapikan sedikit rambutnya yang di ikat di belakang, kemudian menyambar tas dan memasukkan ponselnya ke dalam tas itu. lalu ia segera keluar untuk menemui Igo.
Benar saja, di luar gerbang kos, nampak mobil Igo yang sudah terparkir di sana. Pria itu tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Zodi. Sikapnya hangat seperti dulu. Tapi kenapa semalam sikapnya begitu dingin kepada Zodi?
“Kok Kakak gak bilang mau datang?”
“Kan udah bilang barusan,” elak Igo sambil tersenyum lebar.
“Kan barusan. Maksudnya kok gak dari semalam bilangnya, gitu.”
“Bukannya sama aja ya?”
“Ish. Kak Igo nyebelin,” dengus Zodi kesal.
“Sebelnya nanti lagi. Di simpan dulu. Sekarang ayo pergi,” ajak Igo yang langsung membuka pintu mobilnya.
Zodi segera berlari memutari mobil dan duduk di samping kemudi. Setelah itu Igo segera melajukan mobilnya menuju ke Sunmor yang ada di kawasan kampus mereka.
Seperti biasa, walaupun masih sangat pagi, tapi mereka sudah kesulitan menemukan tempat parkir. Untungnya setelah susah payah, akhirnya Igo menemukannya juga.
“Ayo, turun,” ajak Igo kemudian.
Keadaan sekitar sudah ramai oleh pengunjung. Untuk pembuka, Zodi membeli bakso bakar sebagai teman berkeliling.
“Beli apa lagi? Biar Kakak yang bayar,” ujar Igo dengan bangganya.
“Idih, sombongnya. Mentang-mentang banyak duit ya, sekarang?”
“Hehehehe. Karna mungkin ini terakhir kita bisa kayak gini, Zo,” tiba-tiba suara Igo berubah pias.
“Maksud Kak Igo, apa?”
“nanti siang aku balik ke Singapura,” terang Igo.
“Terus? Kenapa ini jadi yang terakhir? Emangnya kak Igo mau menetap di sana?”
“Ya enggak. Aku bakalan tetep sering pulang juga.”
“Terus kenapa jadi yang terakhir?”
“Kita makan dulu, yuk. Sambil ngobrol. Kakak mau ngomong sesuatu sama kamu. Makan lontong opor, mau?” tawar Igo kemudian.
Walaupun sambil menatap Igo dengan ekspresi bingung, Zodi tetap mengangukkan kepalanya.
Keduanya lantas melipir di sebuah warung lontong opor. Setelah memesan dua porsi untuk mereka, Igo mengajak Zodi untuk duduk di tempat paling pojok. Menurutnya disana nyaman untuk mengobrol.
“Kak Igo kenapa? Kok kayak lain?” tanya Zodi begitu mereka duduk.
“Lain gimana?”
“Yang Kakak bilang tadi. Terus juga waktu pergi Kak Igo bahkan gak bilang sama aku. Kak Igo marah? Apa karna aku nolak Kakak waktu itu?” Zodi mengutarakan dugaannya.
“Terus sekarang masalahnya apa? kenapa Kakak bilang ini yang terakhir buat kita?” Zodi masih terus mendesak penjelasan dari Igo.
“Karna sekarang Kakak sadar, kalau Kakak itu cuma sayang sama kamu sebatas Kakak sama adiknya. Gak lebih.” Igo mulai menjelaskan.
Zodi mengernyitkan keningnya. Berusaha mencerna apa maksud dari ucapan Igo itu.
“Maaf kalau udah buat kamu bingung, Zo. Mulai sekarang dengerin Kakak. Kakak gak akan lagi nunggu kamu. Kamu bebas buat jatuh cinta sama siapapun, pacaran sama siapapun, bahkan menikah sama siapapun, termasuk Ibra.”
Zodi semakin mengernyitkan keningnya. Semakin tidak mengerti arah pembicaraan Igo.
“Kan kamu suka sama Ibra?”
“Aku masih gak ngerti sebenernya Kak Igo ini ngomongin apa, sih?”
Igo terkekeh kecil melihat raut kebingungan dari wajah Zodi.
“Maksud Kakak, sekarang kan Kakak udah jelasin nih, kalau Kakak udah gak akan mengharap sama kamu lagi karna kamu Kakak anggap adik Kakak. Jadi, kedepannya, jangan lagi berat fikiran karna mikirin perasaan Kakak,” terang Igo panjang lebar. Berharap Zodi mengerti maksudnya.
“Terus apa hubungannya sama ini yang terakhir?” Zodi masih belum puas dengan jawaban Igo. Ya walaupun dalam hati ia merasa lega untuk satu hal.
“Ya kita harus jaga jarak, lah. Nanti cowok yang naksir kamu salah faham kalau kita terlalu deket.”
“Apa sih Kak Igo? Gak jelas banget alesannya,” ujar Zodi.
“Nanti juga kamu bakalan tau sendiri lama-lama.”
“Kalau bisa di jelasin sekarang kenapa harus nunggu nanti, Kak?”
“Ih, cerewetnyaaaa.. udah yuk makan.” Igo memutuskan untuk memaksa mengakhiri obrolan itu. dia tidak ingin menjelaskan lebih jauh lagi walaupun Zodi terus mendesaknya. Biarkan nanti waktu saja yang menunjukkan kepada Zodi.
“Kak Igo gak jelas,” dengus Zodi yang kemudian menarik piring lontong mendekat dan menyantapnya. Wajahnya di tekuk karna merasa belum puas dengan jawaban Igo yang menurutnya masih mengambang.
Tapi ya sudah lah. Ia tidak ingin memaksa kalau memang Igo tidak mau. Daripada pusing sendiri, lebih baik fokus mengisi perut saja.
Sepagi itu Zodi dan Ibra bersenang-senang. Mereka melanjutkan menjelajah. Membeli beberapa barang dan makanan ringan. Baru setelah pukul 10 mereka memutuskan untuk menyudahi saja karna siang ini Igo harus sudah kembali ke Singapura.
“Jangan lupa kabarin aku ya, Kak. Awas aja kalau gak. Aku ngambek seumur hidup sama Kak Igo,” ancam Zodi sambil membuat wajahnya seserius mungkin.
“Hehehehehhe. Gak takut. Aku malah takut di ngambekin seseorang kalau deket-deket sama kamu nanti,” seloroh Igo.
“Tuh, kan. Mulai lagi.”
“Hehehe. Udah sana, masuk. Katanya banyak cucian. Nanti Kakak kabarin lagi,” janji Igo.
Zodi mengangguk. “Oke. Makasih buat hari ini. Dan makasih juga karna Kak Igo udah ngelepas perasaan Kakak dari aku. Jujur, aku sekarang jauh lebih lega.”
Igo hanya mengangguk sambil melemparkan senyuman.
“Ya udah, aku mau masuk dulu. Kakak hati-hati di jalan,” pesan Zodi.
“Iya. Sana masuk.”
Zodi mengakhiri pertemuan mereka itu dan membalikkan badannya masuk ke dalam area kos. Igo baru melajukan mobilnya setelah Zodi menghilang di balik pintu gerbang kos. Ia menyunggingkan senyum. Hatinya merasa lega karna kini permasalahan yang mengganjal itu sudah terselesaikan.
Sementara Zodi sebenarnya masih merasa penasaran dengan sikap Igo yang tiba-tiba. Memang dia lega karna Igo sudah melepaskan perasaannya. Tapi entah kenapa ia merasa seperti masih ada yang mengganjal di hatinya yang ia tidak tau apa itu.
*
TBC...