
Dan benar. Zodi benar-benar menjaga jarak dengan Ibra setelah malam itu ia berkata ngelantur tidak jelas. Ia hanya akan bertanya seperlunya. Menjawab seperlunya juga ketika Ibra bertanya atau sekedar mengajaknya mengobrol. Selalu menghindar ketika hendak berpapasan dengan pria itu.
Zodi kalah dengan perasaannya. Biar bagaimanapun ia tetap seorang wanita. Yang jika di hadapkan dengan situasi tidak terduga akan tetap mengedepankan perasaannya. Ia sadar kalau ia tidak punya hak untuk merasa kesal atau justru marah kepada Ibra dan kekasihnya. Tapi dia bisa apa? sekuat apapun mencoba mengusir rasa kesal itu, ia akan tetap reflek menghindar walaupun ia tidak ingin sekalipun.
Lucu sekali. Suka diam-diam. Sakit hatipun diam-diam. Tapi tetap melampiaskannya tanpa sadar. Mencari pembenaran kalau jarak menjadi satu-satunya alasan ia harus seperti ini. Kalau dengan bersikap begini maka akan menghapus rasa yang ada di dalam hatinya. Yang sebenarnya alasan itu hanyalah sebuah pelarian saja.
Perubahan sikapnya itu tidak hanya di sadari oleh Ibra, melainkan oleh seluruh anggota keluarganya. Termasuk Igo. Pria itu merasa heran dengan sikap Zodi yang tidak biasa. Ya walaupun dengannya masih bersikap seperti biasa saja.
“Hai, Zo?” sapa Igo ketika melihat Zodi yang sedang asyik di taman dekat kolam.
“Kak Igo? Udah pulang?”
“Iya. Baru aja. lagi ngapain?”
“Gak ada, Kak. Lagi santai aja.”
“Aku mau minta sesuatu, boleh?”
“Apa itu?” Zodi jadi penasaran ketika melihat wajah Igo yang berubah serius.
“Besok kan aku sidang skripsi. Kamu bisa ya dateng buat suport aku,” pinta Igo bersungguh-sungguh.
“Lho? Bukannya hari senin ya, Kak?”
“Jadwalnya di majuin. Kenapa? Gak bisa, ya?” raut wajah Igo nampak kecewa padahal Zodi belum menjawab permintaannya.
“Bisa kok, Kak. Lagian besok aku gak ada kegiatan. Jam berapa, Kak?”
“Jam 2 siang. Besok kita berangkat bareng aja.”
Zodi menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Semoga besok lancar ya, Kak.”
“Pasti lancar kalau ada kamu. Hahahahahaha.”
“Kak Igo bisa aja.”
Tanpa keduanya sadari, Ibra berdiri di tempat yang tidak jauh dari mereka. Niatnya juga ingin meminta Zodi untuk menghadiri sidang skripsinya. Tapi ternyata Igo sudah lebih dulu memintanya. Ia terlambat.
Sebenarnya Ibra ingin membahas sesuatu dengan Zodi. Tentang ucapan Zodi malam itu. banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak Ibra. Ia harus bertanya dan mendengarkan alasan Zodi berkata seperti itu. Dia tidak ingin salah faham nanti.
Dan seperti yang di janjikan oleh Zodi kepada Igo, siang ini mereka berangkat berdua menuju ke kampus dalam satu mobil.
Sepanjang perjalanan Igo nampak serius memperhatikan jalan. Sesekali Zodi mengajak Igo mengobrol karna dia tau kalau pria itu sedang gugup.
“Kak Igo sampe keringetan gitu, panik banget ya?” tebak Zodi.
Igo menyentuh keningnya yang memang berkeringat.
“Dibawa santai aja, Kak. Aku yakin nanti kak Igo bakalan lancar jawab pertanyaannya. Terus dapat nilai bagus, deh.”
“Amin. Makasih suportnya, Zo. Abis sidang skripsi, ada yang pengen aku obrolin sama kamu,” wajah Igo bertambah serius saja.
“Waduh, jadi deg-degan aku Kak. Hehehhee.”
Mobil Igo sudah sampai di tempat parkir fakultas. Pria itu segera turun dengan di ikuti oleh Zodi juga. Zodi bahkan membantu Igo menenteng berkas-berkas kelengkapan pria itu.
Selama Igo sidang, Zodi menunggu di luar ruangan. Di sana juga ada teman-teman Igo yang juga ikut menunggu.
Di fakultas lain, Ibra juga sedang duduk di hadapan dosen penguji. Di luar, ada Mas Kis dan juga Nilam tentu saja. Gadis itu nampak cemas memikirkan Ibra di dalam sana. Sementara ia sudah selesai sidang tadi pagi.
“Selamat ya, Kak. Akhirnya selesai juga.” Zodi memberikan selamat dengan tulus.
Seketika keadaan menjadi hening saat tiba-tiba Igo merengkuh tubuh Zodi ke dalam pelukannya. Pria itu sedang menyalurkan kelegaan yang di rasakan setelah berjuang dengan skripsinya.
Zodi mematung dan tidak berani bergerak. Hanya matanya saja yang mengedar melihat kepada beberapa teman Igo yang nampaknya juga ikut terkejut dengan sikap Igo yang tiba-tiba memeluknya.
Setelah beberapa saat, Igo melepaskan diri dari Zodi. Ia memegang kedua bahu Zodi dan menatapnya dalam. Kemudian, mempersembahkan senyuman penuh arti kepada gadis itu.
Sementara Zodi masih terdiam. Bingung mengartikan sikap Igo padanya.
“Wah, kita jadi nyamuk nih,” celetuk salah satu teman Igo. Yang di sindir hanya tersenyum saja.
Teman-teman Igo segera memberikan selamat. Yang di sambut sumringah dan ucapan terimakasih dari pria itu. setelah itu teman-teman Igo pergi dan hanya menyisakan Igo dan Zodi yang sedang duduk berdua saja. Zodi membantu Igo membereskan berkas-berkas skripsinya.
“Kita jalan yuk, Zo,” ajak Igo ketika mereka sudah selesai merapikan barang.
“Jalan kemana, Kak?”
“Kamu pengennya kemana?” tanya Igo.
“Kan kak Igo yang ngajak. Kok malah tanya aku?”
“Ya enggak. Kali aja kamu pengen kemana, gitu?”
“Ehm, beneran nih boleh kemana aja?”
Igo mengangguk antusias.
“Kalau gitu, ke Tebing Breksi aja yuk, Kak. Nanti pulangnya sekalian mampir ke rumah Pakde aku. Udah lama aku gak kesana.”
“Boleh. Ayo.”
Kemudian mereka berjalan menuju ke tempat parkir. Sesampainya di mobil, Igo mengambil kaus dari dalam bagasi kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Karna sebelumnya ia memakai setelah hitam-putih.
Tidak lama kemudian ia sudah siap dengan pakaian santainya dan nampak berlari ke arah mobil.
“Udah siap. Ayo,” ajak Igo kemudian. Lantas keduanyapun segera masuk ke dalam mobil.
Perjalanan menuju ke tebing breksi memakan waktu sekitar 30 menit. Setelah memarkirkan mobil, Igo mengajak Zodi untuk keluar.
Zodi memang bukan kali pertama ini ke sini. Entahlah, ia hanya bingung saat Igo bertanya dia ingin kemana. Mengingat kalau Igo baru saja menyelesaikan sidang skripsinya, ia tidak ingin membuat pria baik itu kecewa. Anggap saja ini sebagai perayaan untuk Igo setelah perjuangan panjangnya yang tentu tidak mudah.
Walaupun sudah punya banyak foto di tempat itu, Zodi tetap mengabadikan momen dengan ponselnya. Sesekali Igo akan meminta mereka untuk berfoto bersama menggunakan ponsel Igo. Keduanya benar-benar menikmati waktu dengan bersenang-senang.
Setelah di rasa lelah, barulah mereka memutuskan untuk bersantai di cafe yang terletak tak jauh dari sana.
Hari memang sudah lumayan sore. Tapi tidak membuat keduanya ingin segera pulang. Zodi sedang menunggu hal apa kiranya yang ingin di bicarakan Igo dengannya. Sementara Igo, sedang mengumpulkan keberanian untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting untuknya. Ia tidak ingin ada sedikit saja kesalahan nantinya.
*
TBC...