Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 12. Selalu Saja Kebetulan.



Sekitar satu jam setengah kemudian, rombongan bis sudah tiba di Pantai Baron. Semua langsung turun dari bis masing-masing dan berbaris.


Cuaca hari ini sangat terik. Padahal masih termasuk pagi hari. Tapi sinar matahari sudah menyengat sedemikian panasnya.


Setelah turun dari bis, para mahasiswa baru di beri waktu untuk memilih kelompok yang akan menempati tenda yang sudah di persiapkan. Satu kelompok 3 orang. Langsung saja Zodi, Mala dan Dea segera bergabung di kelompok yang sama.


Setelah mendapatkan tenda milik mereka dan menaruh barang-barang di dalam tenda, ketiganya langsung bergabung kembali dengan barisan kelompok bis. Dimana Zodi tidak bersama dengan kedua temannya, melainkan dengan teman-teman satu bisnya. Dan dalam satu bis itu, di bagi kembali menjadi kelompok A, dan kelompok B.


Jadi, Zodi ada di kelompok 3A. Maksudnya, bis nomor tiga, kelompok A. Dengan Kis yang menjadi salah satu pembimbing. Juga Ibra dan Nilam. Sementara pemandu mereka adalah Adrian dan Yuli serta beberapa kakak kelas yang lain.


Entahlah, selalu saja kebetulan yang membuat Zodi dan Ibra berada di satu situasi. Bukan apa, sikap dingin Ibra masih membuat Zodi merasa canggung. Kecanggungan itu membuatnya merasa seolah harus menjaga sikapnya. Dan itu membuatnya tidak nyaman.


Rangkaian kegiatan yang di siapkan oleh panitia dalam acara makrab kali ini adalah, pertama, out bond. Dimana mereka akan menjelajah jalur yang telah di siapkan di sepanjang area Pantai Baron. Yang kemudian akan di selingi dengan brainstorming, ataupun diskusi-diskusi tentang apa saja yang menyangkut dengan kehidupan perkampusan yang akan datang atau hal yang lainnya. Kecuali masalah pribadi tentu saja.


Kegiatan itu sudah mulai dan satu persatu kelompok mulai meninggalkan area berkumpul untuk memulai menjelajahi trek. Dan kini giliran kelompok 3A dengan pemandu Ardian, Yuli dan teman-temannya.


Kis, Adrian dan Yuli berada di depan untuk membimbing kelompok mereka, sementara Ibra dan Nilam serta beberapa teman yang lain ada di belakang untuk mengawasi. Mereka membagi tugas dengan sangat baik.


Di sepanjang jalur trek, terdapat beberapa titik pos pemberhentian untuk beristirahat minum sekaligus untuk berdiskusi.


“Uh, capek banget,” celetuk Anisa dengan wajah yang sudah memerah. Gadis berhijab itu terus mengipasi wajahnya dengan dedaunan yang ia temukan. “Kamu gak capek, Zo?”


“Capek. Laper juga. Hehehe.”


“Emangnya tadi pagi gak sarapan?”


“Gak sempet. Soalnya buru-buru.”


“Ya ampun. Jangan di biasain. Nanti sakit magh baru tau. Soalnya aku udah kena. Hahahhaha. Jadi sekarang gak bisa telat makan dikit aja langsung sakit.”


Dan sepertinya itulah yang sedang di rasakan oleh Zodi. Sudah sejak beberapa saat yang lalu perutnya terasa di lilit. Ia bahkan lupa untuk memakan roti yang ia bawa. Alhasil, saat ini perutnya benar-benar kosong. Sungguh bukan situasi yang baik apalagi di tengah cuaca yang sangat terik begini.


Mereka sudah sampai di pos kedua dan langsung membentuk lingkaran sambil lesehan di atas rerumputan. Setelah di pos pertama tadi mereka berdiskusi mengenai kehidupan seorang mahasiswa kedokteran, kali ini, Yuli yang menjadi pembicara dan akan membahas tentang pengalaman pribadinya selama berkutat dengan jurusan kesehatan masyarakat.


Zodi terus memperhatikan dan mendengarnya dengan baik. Walaupun konsentrasinya terpecah ketika sakit di perutnya itu semakin menjadi.


Untunglah, keadaan itu tidak berlangsung lama. Karna setelah itu istirahat siang tiba. ISHOMA (istirahat, sholat, makan) berlangsung selama 1 jam saja.


Zodi memilih makan bersama dengan Anisa dan beberapa teman mereka yang lain. Ia fikir, setelah makan, rasa sakit di perutnya akan berkurang. Tapi ternyata tidak. Perutnya tetap terasa melilit hingga ia kesulitan untuk makan.


“Kamu kenapa, Zo? Mukanya jadi pucet begitu?”


“Perutku gak sembuh nih, Nis. Padahal udah makan,” Zodi meletakkan nasi kotaknya. Sudah tidak berselera untuk menghabiskannya padahal ia baru memakan setengahnya.


“Ya ampun. Mau aku temenin ambil obat?” tawar Anisa.


“Boleh. Makasih, Nis,” Zodi dan Anisa segera bangun untuk menuju ke mobil ambulance yang sudah di sediakan.


Di sana, Zodi segera mengadukan keluhannya kepada dokter yang berjaga dan segera di beri obat.


“Istirahat dulu satu jam di tenda kamu ya. Kalau udah baikan, baru boleh ikut acara lagi,” pesan dokter itu kepada Zodi.


Anisa mengantarkan Zodi untuk istirahat di tendanya. Sementara ia harus kembali melanjutkan rangkaian kegiatan. Jadilah Zodi sendirian di dalam tenda. Ia mencoba untuk beristirahat agar segera pulih. Keadaan di sekitarnya sepi karna tidak banyak orang di sana. Sebagian besar orang sedang mengikuti kegiatan outbond.


Sekembalinya Anisa di kelompoknya, ia segera memberitahu kepada Adrian tantang kondisi Zodi. Dan mereka melanjutkan kegiatan tanpa Zodi.


Sudah berkali-kali netra Ibra mencari sosok Zodi tapi tidak menemukannya. Walaupun penasaran, ia tetap tidak bertanya kepada siapapun. Sampai Nilam sendiri yang memberitahunya.


“Ibra, katanya Zodi lagi sakit. Dan sekarang lagi ada di tendanya. Kamu mau kesana? Aku khawatir kalau keadaannya parah. Aku mau kesana tapi jauh, kakiku gak sanggup bolak-balik,” ujar Nilam.


“Biar aku aja yang lihat.”


Ibra kemudian memisahkan diri dengan rombongan. Ia kembali ke perkemahan untuk melihat kondisi Zodi. Tidak bisa di pungkiri, ia juga mengkhawatirkan gadis itu. Karna ibunya sudah menitipkan Zodi dan mewanti-wantinya untuk menjaganya.


Sesampainya di perkemahan, Ibra mengedarkan pandangannya. Satu hal yang membuatnya kesal sendiri adalah, ia tidak tau yang mana tenda milik Zodi. Akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya sendiri saja.


Hingga ia tiba di sebuah tenda dengan sepasang kaki yang mencuat dari dalam. Ia mendekat dan melongokkan kepalanya. Keadaan tenda yang tertutup membuat Ibra tidak bisa mengetahui siapa itu.


“Zodi?!” panggilnya kemudian. Tidak ada tanggapan. Ia berfikir kalau ia sudah salah tenda dan bersiap untuk pergi. Sampai akhirnya perlahan, ia mendengar kancing tenda di buka dari dalam.


“Kak Ibra kok di sini?” tanya Zodi yang sudah mulai membaik keadaannya. Ia mendongak menatap Ibra yang berdiri di depannya.


“Sakit apa?”


“Sakit perut, Kak.”


“Udah di obatin?” lanjut Ibra. Terdengar seperti wartawan.


“Udah, tadi. Udah baikan juga,” Zodi yang kembali merasa senang dengan perhatian Ibra. Kalau seperti ini, sangat berbanding terbalik dengan ketika pria itu bersikap dingin padanya. Sikap Ibra plin plan. Kadang dingin seperti es, kadang hangat. Tapi lebih banyak dinginnya sih.


“Kamu istirahat aja disini. Gak usah ikut acara lagi.”


“Nanti kalau aku gak dapat sertifikatnya gimana, Kak?”


“Nanti aku mintakan sertifikatnya.”


“Kalau soal sertifikat sih, bisa Kak Ibra ambilin. Tapi gimana dengan pengalaman aku? Aku gak mau disini aja dan gak dapat apa-apa dari kegiatan ini,” Zodi sedikit melawan rupanya.


Nampak sekali kalau Ibra malas berdebat dengan gadis itu. “Ya udah. Terserah kamu,” dan Ibra memilih untuk meninggalkan Zodi begitu saja.


Sementara Zodi merasa tubuhnya sudah lebih baik. Jadi ia segera ikut menyusul Ibra di belakang pria itu.




*


TBC...