
Ibra masih ternganga di depan kamar Zodi. Ia masih tidak percaya kalau Zodi baru saja menyatakan perasaan padanya.
Jadi yang kemarin Zodi bilang kalau gadis itu salah faham dengan sikap hangatnya itu, ini? Sikap yang membuat Zodi salah faham dan akhirnya menumbuhkan rasa suka untuknya.
Ibra sedang asyik berfikir dan hendak pergi ke kamarnya. Ketika ia mendengar suara mengobrol dari ruang tamu, ia mengurungkan niatnya. Ia malah kemudian turun dan ikut bergabung bersama ayah dan ibunya dan juga Igo yang sedang mengobrol ringan di ruang tamu.
“Kenapa belum pada tidur?” tanyanya sambil mendudukkan diri di sebelah ayahnya.
“Kamu sendiri kenapa belum tidur?” Mia balik bertanya.
“Belum ngantuk, Ma.”
“Sama berarti. Hahahahaha.” Wanita paruh baya itu terkekeh.
Tidak ada yang menyadari kalau Igo sedang mempersiapkan sebuah kalimat yang akan membuat semua orang tercengang.
“Ma, Pa. Aku mau ngomong sesuatu,” ujar Igo pada akhirnya. Wajahnya berubah serius. menatap ayah dan ibunya bergantian. “Aku mau jadikan Zodi menantu kalian.”
Hening.
Semua orang kini tengah menatap tidak percaya kepada Igo. Terutama Ibra. Keningnya sampai mengkerut.
“Kamu suka sama Zodi?” tanya Mia. Ia menatap putra sulungnya itu kemudian beralih kepada Ibra.
“Iya, Ma. Tadi aku udah sempet nembak dia.”
“Terus di terima?” Ranu ikut menimpali.
“Sayangnya belum, Pa. Kayaknya Zodi butuh waktu. Dia terlalu kaget karna tiba-tiba aku nembak dia. Jadi aku mau kasih dia waktu sampai terbiasa sama perasaanku,” jelas Igo.
“Itu berarti kamu di tolak.” Ranu menimpali lagi.
“Bukan di tolak, Pa. Zodi bilang sekarang dia masih mau fokus kuliah dulu. Gak tau nanti. Mungkin dia bakalan nerima aku. Ya kan?”
Ada yang hatinya sedang berkecanuk luar biasa. Tiba-tiba ada perasaan marah di hati Ibra mendengar pengakuan Igo. Bukan ia marah kepada Igo. Tapi ia marah kepada Zodi. Bisa-bisanya gadis itu berkata menyukainya setelah Igo menembaknya. Apa ini? Apa Zodi mau membuat hubungan kelaurga ini menjadi canggung? Itulah yang sedang berkelebat di fikiran Ibra saat ini.
Tanpa tau, gadis yang sedang di fikirkannya sedang memaki dirinya sendiri di dalam kamar.
Zodi asyik memukul-mukul pelan kepalanya. Membodoh-bodohkan dirinya sendiri karna berani mengucapkan kalimat yang bahkan selama ini sudah ia tahan mati-matian. Ada rasa lega dan rasa gila yang sedang menyerangnya saat ini.
Lega karna sudah berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam sendiri. dan gila karna ia sendiri bahkan tidak tau darimana keberaniannya itu muncul. Setelah mengatakan itu, ada perasaan menyesal juga yang Zodi rasakan.
“Ya ampun, Zo. Kamu bener-bener gila! Kenapa bisa kamu senekat itu, Zodi?!” marahnya pada dirinya sendiri. Sumpah, saat ini Zodi sedang merasa sangat malu sekali. Entah bagaimana besok dia akan menghadapi Ibra kalau bertemu dengan pria itu.
Zodi menutup dirinya dengan selimut kemudian menendang-nendangnya dari dalam. Rasanya ia ingin di telan tembok saja sekarang.
Setelah lama berkutat dengan memaki diri sendiri, akhirnya Zodi pasrah. Toh biar dia menghilang sekalipun, Ibra sudah terlanjur mendengarnya. Dia tidak bisa mengubah kenyataan itu. dia hanya bisa berharap kalau semoga Ibra benar-benar tidak mengacuhkan ucapannya tadi. Sungguh ia tidak ingin menjadi perusak hubungan antara Ibra dan nilam.
Ya ampun, ia ingin kembali memutar waktu.
Sementara di ruang tamu, obrolan perihal Igo dan Zodi masih terjadi.
“Nak, kalau menurut Mama sih, kamu jangan terlalu menekan Zodi. Kasihan dia. Nanti dia ngerasa di paksa. Mama gak mau dia gak nyaman tinggal disini. Biarkan semua mengalir dengan sendirinya, ya?” ujar Mia sarat akan makna.
“Aku tau, Ma. Aku juga gak mau maksain perasaannya. Tadi aja dia udah canggung sama aku. Untungnya udah mulai mencair.
“Setau aku Zodi gak punya, Pa. Aku udah cari tau dulu dari lama.”
Ranu dan Mia mengangguk kompak. “Pokoknya jangan sampai buat dia jadi gak nyaman tinggal disini.” Mia memperingatkan.
Igo mengangguk saja. Lega rasanya karna sekarang keluarganya sudah tau tentang perasaannya.
Maksud Igo menceritakan ini adalah, untuk menunjukkan keseriusannya kepada Zodi. Setidaknya kalau Zodi tau ia sudah serius membicarakan ini dengan orang tuanya, gadis itu akan luluh nantinya. Ia ingin Zodi melihat betapa ia bersungguh-sungguh dengan perasaannya.
Ibra tidak menunggu sampai pembahasan selesai. Ia berdiri dan pamit untuk pergi istirahat di dalam kamarnya.
Ia melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Menutup matanya dengan lengan. Seketika ia merasa tidak nyaman tinggal di rumah ini.
Bagaimana tidak, ia terlibat cinta segitiga di dalam satu rumah. Igo menyukai Zodi, sementara Zodi menyukainya. Dan dia sendiri menyukai......
Ah, entahlah. Ibra merasa sepertinya keadaan ke depannya akan sulit untuk mereka. Pasti hubungan mereka akan dipenuhi oleh rasa tidak nyaman dan canggung setelah ini.
Igo juga sudah kembali ke dalam kamarnya. Saat melewati kamar Zodi, ia berhenti dan menatap lama pintu kamar itu. Kemudian ia menyunggingkan senyuman dan kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Sementara di dalam kamar utama, Mia dan Ranu sudah bersiap untuk tidur juga. Tapi wajah Mia menunjukkan sebuah kekhawatiran.
“Gimana ini, Mas?” Mia membuka suara.
“Gimana apanya?”
“Igo dan Zodi....”
“Biarin mereka nyelesaiin masalah mereka sendiri, sayang. Kita sebagai orangtua cuma bisa mengawasi dan ngasih arahan kalau mereka salah jalan.”
“Tapi, Mas..”
“Kita lihat dulu ke depannya gimana. Soalnya yang kamu kira selama ini kan belum bener-bener terjadi. Bisa jadi kamu salah menafsirkan, sayang.”
“Kalau memang aku salah menafsirkan, kayaknya itu lebih baik deh, Mas. Aku gak nyangka kalau ternyata Igo punya rasa sama Zodi. Aku hampir lupa kalau anak kita itu kembar. Ya ampun.”
“Kita lihat aja dulu kedepannya, ya? Gak usah panik. Mereka udah dewasa. Mereka semua tau jalan mana yang harus mereka lalui. Kita percaya aja sama mereka,” ujar Ranu yang masih berusaha menenangkan istrinya. Ia merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya untuk mengajaknya pergi ke alam mimpi bersama.
Tidak berapa lama, Mia sudah terlelap di dekapan sang suami.
Kemesraan mereka tidak pernah pudar sedikitpun. Walaupun mereka sudah paruh baya, tapi Ranu tetap memperlakukan istrinya seperti mereka masih muda dulu. Memperlakukannya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang juga kemesraan yang selalu ia tunjukkan. Perasaan Ranu tidak pernah memudar sedikitpun. Bahkan seiring berjalannya waktu, perasaan pasangan itu semakin kuat saja.
*
TBC...
warga,. maaf sebelumnya. untuk beberapa hari ini up satu episode dulu yaaa. lagi sibuk bolak-balik rumah sakit ini... nanti kalau urusan ini udah selesai up kayak biasa... wokeee..
salam sayang buat kalian semua para warga kebun labu.