Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 50. Kenapa Dia begitu?



Sudah dua hari Ibra tidak mengabari Zodi apapun. Tidak mengirim pesan apalagi menelfonnya. Sedikit penasaran dengan keadaan Ibra, Zodi berharap akan bertemu dengan Nilam atau bahkan Ibra sendiri agar ia tau keadaannya. Sedangkan untuk menanyakan keadaan Ibra secara langsung, ia tidak punya keberanian. Tapi sialnya, ia bahkan tidak pernah bertemu dengan Nilam atau bahkan Ibra.


Zodi, Dea, dan Mala sedang mengobrol di dalam kelas setelah selesai kuliah siang ini. Ketiganya nampak serius membahas tugas yang baru saja di berikan oleh dosen.


“Jadi Kak Igo udah balik ke Singapura, Zo?” tanya Mala di sela pembahasan tugas.


Zodi mengangguk.


“Kapan lagi dia pulang?” Dea ikut bertanya.


“Entah. Gak tau aku. Katanya sih, biasanya sebulan sekali,” jawab Zodi akhirnya.


“Waahhhh. Sultan mah bebas ya, mau pulang sebulan sekali dari luar negeri juga gak masalah. Gak kayak kita mau mudik lebaran aja harus ngerengek dulu. Hehehehe.” Mala meluapkan perasaannya.


“Ahhh. Aku pusing gak ngerti sama ini tugas. Ya ampun,” desah Zodi frustasi. Ia merebahkan kepalanya ke atas meja.


“Kerjain besok aja lah, Zo. Aku juga ikut pusing. Kantin, yuk,” ajak Dea sambil membereskan buku-bukunya.


“Ayuk, lah.”


Ketiganya sudah berdiri dari kursi dan siap untuk keluar dari kelas. Namun langkah mereka seketika berhenti ketiga Zayn tiba-tiba berdiri di depan pintu.


“Zayn?” ujar Zodi yang terkejut dengan kedatangan Zayn yang tiba-tiba. Terlebih dengan wajah yang babak belur dengan beberapa luka di pelipis dan keningnya. Bahkan wajahnya jauh lebih parah ketimbang Ibra kemarin.


Apa ini? Perasaan Zodi jadi tidak enak.


“Ya ampun, mukamu kenapa, Zayn?” tanya Mala dengan tatapan terbelalak. Begitu juga dengan Dea.


“Zo, aku mau ngomong sama kamu,” ujar Zayn langsung. Wajahnya nampak sangat serius. sepertinya hal yang ingin di bicarakan itu adalah hal yang sangat serius. ia bahkan tidak mengindahkan pertanyaan dari Mala.


“Ngomong apa?” tanya Zodi.


“Aku mau minta maaf sama kamu.”


“Minta maaf? Buat?”


“Buat semuanya. Kali aja aku ada nyakitin atau nyinggung perasaanmu, aku minta maaf buat semuanya.”


Zodi dan kedua temannya saling melempar pandangan bingung. Entah apa yang di maksud oleh Zayn. Zodi tidak pernah merasa tersinggung apalagi sakit hati dengan Zayn. Jadi untuk apa pria itu meminta maaf seperti ini?


“Bilang sama sepupumu itu kalau aku udah minta maaf. Jadi jangan ganggu aku lagi. Bilang juga sama dia kalau aku gak bakalan ganggu kamu apalagi sampai mainin kamu lagi.”


setelah mendengar itu bukannya malah memberi penjelasan kepada ketiga gadis itu, justru malah membuat bingung. Zodi yang menjadi topik pembicaraan bahkan sama sekali tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh Zayn.


“Sepupu? Siapa maksud kamu, Zayn?” tanya Zodi lagi.


“Ya sepupumu yang dokter itu, siapa lagi,” nampak wajah kesal dari raut wajah Zayn saat ini.


“Maksudmu, Kak Ibra?”


Zayn diam sebagai jawabannya.


“Jangan bilang kamu abis berantem sama Kak Ibra?” tebak Zodi lagi. Kini dia mulai mengerti situasinya.


“Apa dia gak bilang sama kamu?” Zayn juga nampak bingung. Ia fikir Ibra sudah mengadu yang tidak-tidak kepada Zodi.


“Kenapa kalian berantem?” desak Zodi.


“Pokoknya bilang aja ke dia kayak gitu.” Nampaknya Zayn sama sekali tidak berniat untuk menjelaskan. Pria itu justru malah pergi begitu saja meninggalkan Zodi yang masih belum tahu alasan mereka berkelahi.


Zodi menatap kepergian Zayn dengan tatapan pias sekaligus marah dan penasaran. Kini jelas kalau ialah yang menjadi alasan duel antara Ibra dan Zayn. Tapi kenapa?


“Ini gimana sih, Zo, ceritanya? Kok aku jadi bingung?” tanya Mala mengernyit.


Zodi menggeleng. “Entahlah, aku juga bingung. Aku duluan ya. Aku harus nemuin Kak Ibra dan minta penjelasan,” ujar Zodi yang langsung berjalan cepat pergi. Sementara Mala dan Dea berusaha mengikuti dari belakang.


Langkah Zodi terlalu cepat untuk di susul oleh kedua temannya. Gadis itu bahkan segera menghilang entah kemana.


Zodi sedang memikirkan cara untuk menemui Ibra. Tapi pria itu tidak mau mengangkat telfonnya. Ia bingung hendak menemui siapa untuk bertanya.


Nilam. Apa pantas jika dia bertanya kepada Nilam? Bagaimana kalau justru Akanmembuat kesalahfahaman antara Nilam dan Ibra?


Ah, Zodi bimbang dan bingung. Mau menghubungi teman Ibra  yang lain tapi ia tidak punya nomor ponsel mereka.


“Zodi!” seseorang itu memanggil nama Zodi sambil melambaikan tangan.


“Mas Kis?”


“Kebetulan ketemu kamu disini,” ujar Kis. Pria itu nampak senang bertemu dengan Zodi.


“Mas Kis mau kemana?” tanya Zodi.


“Mau ketemu sama Prof. Ikbal,” jawab Kis.


“Ooh. Oh ya, mas. Tau dimana Kak Ibra, gak? Soalnya di telfon gak diangkat.” Zodi berharap Kis tau dimana Ibra berada.


“Ibra lagi di rumah sakit. Lagi sibuk dia jadi mungkin gak tau kamu nelfon.”


Zodi menarik nafas lega. Ia fikir terjadi sesuatu dengan Ibra.


“Kamu udah tau belum kalau Ibra berantem sama temen sekelas kamu?” tanya Kis kemudian.


Zodi mengangguk. “Tapi aku gak tau kenapa mereka bisa sampai berantem, Mas.”


“Ibra gak cerita?”


Zodi menggeleng. “Mas Kis tau gak kenapa mereka berantem?”


“Pas sore itu kami kan lagi kumpul di cafenya Nilam. Awalnya semuanya normal sampai Ibra denger obrolan temen sekelasmu itu. Katanya dia deketin kamu cuma buat bahan kegabutan doang. Karna dia penasaran sama kamu sekaligus di tantang sama temennya bisa gak buat kamu jatuh cinta sama dia. Intinya kamu cuman buat bahan taruhan mereka. Dari situ Ibra marah banget dan langsung nyamperin mereka. Awalnya mereka cuma adu mulut aja, sampai tiba-tiba temenmu itu dorong-dorong Ibra. Ya di bales lah sama Ibra. Ibra itu diem-diem ngeri lho kalau udah marah. Langsung lah di hajar itu si temenmu itu,” jelas Kis panjang lebar.


Pertanyaan yang kemudian muncul di benak Zodi adalah, kenapa? Kenapa Ibra sampai berbuat sejauh itu hanya karna mendengar Zayn mempermainkan dirinya? Kenapa dia sampai semarah itu? Zodi tidak habis fikir.


Mereka tidak punya hubungan khusus sampai membuat Ibra semarah itu dengan Zayn. Kalaupun memang Zayn berniat bermain-main dengannya, itu bukanlah urusan Ibra. Sama sekali bukan.


“Makasih Mas udah jelasin,” ujar Zodi. Kini perasaannya semakin tidak karuan.


“Kamu mau kemana ini?” tanya Kis lagi.


“Gak kemana-mana, mas. Mau pulang aja.”


“Oh yaudah kalau gitu. Aku juga mau lanjut ke sana dulu.”


Zodi hanya mengangguk kemudian membiarkan Kis pergi lebih dulu. Fikiran Zodi benar-benar berkecamuk.




*


TBC...