Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 55. Prasangka Sendiri.



Zodi baru saja membersihkan kamarnya agar bisa di tempati oleh Ibra dan Haris. Malam ini, ia akan tidur dengan ibu dan Neneknya di kamar belakang. Selesai membereskan kamarnya, ia ikut bergabung di runag tamu.


Entah kapan ibunya menggoreng pisang. Sudah tersaji saja dua piring pisang goreng di atas meja. Menemani gelas-gelas kopi yang juga bertengger disana.


Sejak bergabungnya Zodi di ruang tamu, obrolan perlahan berubah menjadi serius. Ibra sedang membahas hubungannya yang sedang tidak baik-baik saja dengan Zodi. Hal itu tentu saja membuat Lasmi dan Nenek terkejut dan merasa tidak enak.


“Sebenernya saya punya niat tulus datang kemari, Buk, Nek.” Nada suara Ibra berubah drastis. Sangat serius. Membuat bulu kuduk Zodi meremang.


Ibra mengalihkan tatapannya dari Lasmi dan Nenek kepada Zodi yang sedang mengernyitkan keningnya.


“Saya mau melamar Zodi.”


Deg.


Hah?


Apa?


Bukan hanya Zodi. Lasmi dan Nenek ikut terkejut dengan ucapan Ibra yang tidak mereka duga itu. melamar?


“Zo, Kakak juga sayang sama kamu. Maaf baru bisa bilang sekarang. Jadi mau ya, nikah sama Kakak?”


Jiwa Zodi seperti sedang terbang entah kemana. Ke awan? Tidak, bukan. Saking terkejutnya ia hanya bisa ternganga saja. Lidahnya tercekat tidak tau harus berkata apa. Menatap kosong kepada Ibra. Otaknya sedang mencerna kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Ibra.


Ibra melamarnya? Yang benar? Ini mimpi. Pasti ini mimpi. Pasti. Bahkan Ibra membahasakan dirinya dengan sebutan ‘Kakak’. Sama sekali bukan seperti Ibra. Jangan-jangan ini Igo? Fikiran Zodi jadi tidak karuan di buatnya.


“Kok malah diem aja. Zo?” Ibra sedang menunggu jawaban gadis yang di lamarnya itu. Sementara Haris, Lasmi dan Nenek kompak melihat kepadanya juga.


Zodi merasa seperti sedang di sidang karna semua mata kini melihat kepadanya. Ia memaksa kesadarannya kembali.


“Kak, ikut aku sebentar.” Ajak Zodi yang langsung berdiri dan keluar dari rumah. Ibra yang merasa di minta mengikuti gadis itu di belakangnya.


Zodi berhenti di samping rumah. Keadaan yang remang-remang karna cahaya lampu tidak sempurna mengenai tempat itu. ia memilih tempat itu agar Ibra tidak bisa melihat wajahnya yang memerah.


Merasa Ibra sudah berdiri di belakangnya, Zodi berbalik. Menatap pria itu dengan tatapan tajam.


“Maksud kak Ibra apa? ngelamar?” Zodi sengaja menekankan intonasi suaranya.


“Iya. Aku lagi ngelamar kamu lho ini. Kenapa?”


Kening Zodi kembali berkerut kesal bukan main. Bisa-bisanya wajah Ibra terlihat santai begitu.


Bagaimana bisa Ibra melamarnya sementara pria itu sudah punya kekasih? Apa Ibra berniat menghianati Nilam demi dirinya? Apa Ibra tidak tau kalau hal ini justru membuat Zodi semakin merasa buruk?


“Kakak gak lagi ngimpi, kan? Apa Kak Ibra lagi kesambet? Tiba-tiba datang ngelamar aku.”


“Ya enggak, dong. Aku ini sadar sesadar-sadarnya. Jadi mau, ya, jadi istriku?”


“Kok Kak Ibra tega sih nyakitin perasaannya Mbak Nilam kayak gini? Apa memang Kakak orang yang brengsek kayak gini?”


Ibra mengerutkan keningnya demi mendengar ucapan Zodi. Ia tidak mengerti. Apa hubungannya dengan Nilam? Kenapa Zodi membawa-bawa Nilam disini?


“Maksud kamu apa, Zo?”


“Bahkan sekarang Kakak pura-pura gak ngerti maksud aku apa.”


“Ya karna memang aku bener-bener gak ngerti.” Ibra masih berusaha menebak maksud ucapan Zodi.


“Mbak Nilam itu kan pacarnya Kak Ibra. Kok bisa-bisanya Kakak malah datang kesini ngelamar aku?”


“Hah? Pacar?”


Jawaban dan ekspresi Ibra membuat Zodi semakin kesal saja.


“Jadi kamu fikir, aku sama Nilam itu pacaran, gitu?” ada sesungging senyum yang muncul di bibir Ibra.


“Kalau enggak?”


Jreng.


“Serius?” tanya Zodi tidak serta merta percaya begitu saja.


“Seribu rius malah. Dulu memang aku sempet suka sama Nilam. Aku nembak dia tapi gak pernah di jawab. Jadi lama-kelamaan perasaanku ngambang dan hilang. Sekarang aku gak ada perasaan apa-apa sama dia. Udah? Jelas?”


“Bohong. Kalau gak pacaran kenapa kalian sedeket itu?” Zodi masih tidak mau mengalah. Ia malu dengan prasangkanya sendiri.


“Ya karna memang kami temen satu jurusan. Kebetulan koas juga bareng. Jadi ya gitu.”


“Tapi orang-orang ngiranya kalian tuh pacaran. Semua orang kampus tau itu. Mana ada asap kalau gak ada api.” Lama-lama suara Zodi jadi mendengus kesal.


“Kami beneran gak ada hubungan apa-apa. Murni temenan. Kalau gak percaya coba aja tanya sama Nilam.” Ibra merasa gemas sendiri melihat kekesalan Zodi. Jadi selama ini gadis itu salah faham terhadap dirinya? Ya ampun.


“Kenapa Kakak diam aja di bilang pacaran sama mbak Nilam?”


“Ya karna itu gak menguntungkan aku. Mau aku jelasin sama mereka juga gak ada untungnya, gak ada ruginya buat aku. Hubungan pribadiku bukan buat nyenengin orang lain, kok. Jadi menurutku, gak ada gunanya juga di jelasin sama mereka.”


“itulah yang buat orang selalu salah faham sama Kakak. Sikap Kakak yang gak peduli tentang apa yang orang fikirin tentang Kakak. Kakak fikir sikap Kakak begitu itu biasa. Tapi gak bagi orang lain. Sikap diam Kakak itu buat orang salah faham.” Dengus Zodi kembali.


“Jadi selama ini kamu ngira aku pacaran sama Nilam? Jadi karna itu kamu selalu jaga jarak dari aku? Kamu keliatan kesel setiap aku deket sama Nilam. Kamu cemburu sama Nilam?”


Heh! Enak saja.


“Enak aja cemburu. Ngapain juga aku cemburu?!” elak Zodi.


“Kan kamu suka sama aku.”


Jleb.


Zodi terbungkam.


“Itu dulu.”


“Jadi sekarang udah gak suka, nih?”


Zodi semakin kesal saja melihat senyuman di bibir Ibra. Ingin ia menyangkal tapi kalimat itu tidak mau keluar dari mulutnya.


Saat Zodi sudah sembuh dari cinta sepihaknya, justru Ibra datang membalas perasaannya. Bagaimana ia tidak kesal?


“Jangan salah faham lagi. Kalau cemburu, boleh.”


“Kakak, ih! Ngeselin.” Hanya itu yang bisa Zodi keluarkan dari mulutnya. Jujur dia sedang salah tingkah sekarang. Mungkin kalau cahaya lampu menerangi wajahnya, Ibra bisa melihat kalau sekarang wajahnya sudah semerah buah tomat.


“Hehehehehe. Jadi gimana, nih? Di terima gak lamaranku?”


“Emboh!” dengus Zodi yang kemudian meninggalkan Ibra begitu saja.


Ada rasa lega di hati Zodi. Ternyata selama ini dia salah faham tentang hubungan Ibra dengan Nilam. Salah Ibra tidak pernah bicara jujur atau menyangkal berita yang beredar. Di tambah lagi dengan kedekatan mereka setiap hari, wajar saja semua orang mengira mereka menjalin hubungan.


Ibra mengikuti Zodi masuk ke dalam rumah dengan senyuman lebar. Lucu sekali melihat wajah Zodi yang salah tingkah itu. Ia menjadi gemas sendiri.


Zodi dan Ibra kembali duduk di ruang tamu. Lasmi yang melihat wajah putrinya merona hanya bisa  tersenyum simpul saja.




*


TBC...


cieeeeee yang langsung di lamar. sat set sat set ya ibra...