Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 36. Bersiap Untuk Pergi.



Pagi hari yang terasa berbeda dari pagi-pagi biasanya yang selalu di lalui Zodi selama setahun ini.


Pagi ini, ia berdiri di sebelah koper dan menjangkat tas ranselnya. Menatap keseluruh kamar yang sudah memberinya kenyamanan selama ini. Ada sedikit rasa berat hati ketika memikirkan hal-hal yang sudah di laluinya di kamar ini.


Menangis, tertawa, bahkan sampai menggila. Sudah di laluinya di kamar ini.


Zodi menghela nafas berat kemudian keluar dari kamar itu. Berjalan menuruni tangga, meletakkan koper dan tasnya di dekat pintu keluar, kemudian ikut bergabung bersama dengan Mia dan yang lainnya yang sudah menunggunya di meja makan.


“Sebelum berangkat, sarapan dulu ya, Zo,” tawar Mia sambil tersenyum. Ia menyodorkan mangkuk lauk ke hadapan Zodi agar gadis itu lebih mudah untuk meraihnya.


Ranu diam saja. Mia sudah memberitahunya tadi malam.


“Makasih, Tan.”


“Barang-barang kamu, mana?” tanya Mia lagi.


“Itu, udah di depan, Tan.”


“Barang-barang apa?” Igo mulai penasaran.


Zodi dan Mia saling melemparkan pandangan.


“Zodi  mau ngekos,” Ranu yang menjawab.


“Mau ngekos? Beneran? Kok tiba-tiba? Kenapa?” Igo nampak sangat terkejut dengan kabar itu. ia menatap Zodi menuntut jawaban.


“Gak kenapa-napa, pengen belajar mandiri aja, Kak,” jawab Zodi.


Igo terdiam. Menatap Zodi tidak percaya. Nampak sekali raut kekecewaan dari wajahnya.


Kelanjutan sarapan pagi itu kemudian hanya di isi dengan keheningan sampai mereka selesai.


“Sayang, Tante sama Om berangkat ke kantor dulu, ya? Maklum, ini hari senin, jadi gak bisa nganter kamu ke kos baru kamu,” sesal Mia.


“Gak apa-apa, Tan. Tante sama Om berangkat dulu aja. Kita masih bisa ketemuan kok, Tan. Kan aku ngekosnya juga sekitaran kampus.”


Mia membelai kepala Zodi dengan sangat lembut. Nampak sekali kalau wanita paruh baya itu sedih di tinggalkan oleh Zodi.


“Iya, Tante tau. Terus barang-barang kamu, gimana?”


“Aku udah mesen taksi kok, Tan. Bentar lagi datang.”


“Aturan bisa di antar sama Igo atau Ibra aja. Gak perlu pesen taksi,” Ranu menimpali.


“Gak apa-apa, Om. Biar sekalian. Kak Igo sama Kak Ibra pasti sibuk.”


Zodi menyalami Mia dan Ranu sebelum mereka pergi ke kantor. Sementara ia mendorong kopernya keluar sambil menunggu taksi. Igo menenteng tas ranselnya. Mengantarkan Zodi keluar. Sementara Ibra, sepertinya masih di meja makan.


“lho, Mbak Zodi mau kemana? Kok bawa koper segala?” tanya Mbak Yani yang barusaja pulang dari pasar.


“Mulai hari ini aku mau ngekos, Mbak,” jawab Zodi tersenyum.


“Lho? Kok ngekos?”


“Pengen belajar mandiri. Biar ada pengalaman buat ngurusin diri sendiri. Hehehehe.”


“Ya ampun. Mendadak gini,” suara Mbak Yani bergetar. Dia sedang menahn tangisnya.


Zodi mendekat lalu memeluknya erat. “Aku janji bakalan sering ngubungin Mbak Yani. Lagian aku kan cuma pindah kos, bukan pindah kota. Hehehehe. Kita masih bisa ketemuan, Mbak.”


“ya udah. Hati-hati kalau kos sendiri ya, Mbak. Jaga diri baik-baik,” pesan Mbak Yani sambil melepaskan pelukannya. Dan benar, ia sudah menangis. Air matanya sudah meleleh.


“Makasih, Mbak. Kemarin udah ngajak aku liburan. Seneng banget disana (kecuali bagian ada Ibra),” ujar Zodi lagi.


“Nanti kapan-kapan kita main kesana lagi.”


“Ya udah, saya mau naruh ini dulu ke dalam.”


Zodi mengangguk. Membiarkan Mbak Yani membawa kantung belanjaannya masuk ke dalam rumah.


“Karna aku, ya?”


Ucapan Igo membuat Zodi langsung menoleh. “Maksud Kak Igo?”


“Pasti kamu pergi gara-gara aku nembak kamu. Karna kamu jadi gak nyaman setelah aku nembak kamu, iya, kan?”


“Enggak, Kak. Bukan itu.”


“Jujur aja, Zo. Kalau memang itu masalahnya, aku bener-bener minta maaf. Aku gak bermaksud buat kamu jadi gak nyaman tinggal disini.”


Zodi terdiam. Menatap Igo dalam kemudian menghela nafasnya


dalam.


“Kak, percaya sama aku, bukan itu masalahnya.”


“Jadi apa?”


“Karna ada yang gak suka aku tinggal disini.” akhirnya Zodi mengakui juga alasannya memilih untuk ngekos.


“Maksud kamu?” Igo mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti. Setahunya, semua orang menyukainya.


“Malam itu, aku denger semuanya, Kak. Malam pas Kakak di kamar Kak Ibra. Disana aku sadar, kalau Kak Ibra gak suka aku tinggal di rumah ini. Aku pasti jadi pengganggu buat dia. Hebat banget dia udah bisa bertahan serumah sama aku selama setahun. Bodohnya aku yang gak menyadari dari awal.”


“Zo.... kok kamu menyimpulkannya begitu? Ibra gak begitu, Zo,” Igo berusaha memberikan penjelasan. Inilah yang Igo khawatirkan. Kembarannya itu selalu saja membuat orang salah faham dan marah. Padahal tidak seperti itu.


“Aku tau dia baik sama aku cuman karna di suruh sama Tante. Dia gak enak. Untungnya aku tau sekarang. Sebelum masalah melebar kemana-mana. Aku bukannya nyalahin siapapun disini. Karna memang yang salah itu aku. Dari awal yang bodoh itu aku. Dengan gak tau dirinya aku tinggal disini. Aku bodoh terlambat sadar kalau ada yang gak nyaman aku tinggal di sini.”


“Zo.....” Igo seperti sudah kehabisan kata-kata untuk membela saudaranya. Di tambah airmata Zodi sudah meleleh di kedua pipinya. Membuat Igo semakin tidak tega.


Ketika Zodi mengusap pipinya, ia melihat Ibra yang ternyata sudah berdiri di delakang Igo. Entah sejak kapan pria itu ada disana. Apa dia mendengar semuanya? Masa bodoh.


Zodi melangkah perlahan mendekati Ibra. Menatap pria itu dalam dan penuh makna. Marah dan penyesalan.


“Aku minta maaf ya, Kak. Kalau selama ini aku udah buat Kak Ibra gak nyaman. Aku gak tau apa salahku sampai Kakak gak suka sama aku, tapi aku bakalan tetep minta maaf sama Kakak. Kalau aja aku gak tinggal disini sejak awal, mungkin keadaannya gak akan begini. Maaf udah jadi pengganggu di keluarga kalian.”


Ibra hanya diam mematung. Ia ingin menjawab tadi entah kenapa lidahnya terasa kelu. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menyangkal ucapan Zodi. Ia tidak menyangka kalau Zodi akan mendengarnya malam itu. Tiba-tiba ia merasa bersalah kepada gadis itu.


Taksi yang di pesan oleh Zodi sudah tiba. Igo segera membantu Zodi memasukkan barang-barangnya ke dalam taksi. Koper, tas, dan beberapa kardus berisi buku-buku Zodi. Hatinya berkecamuk. Ia ikut merasa bersalah kepada Zodi. Seharusnya ia bisa mencegah hal ini terjadi. Seharusnya ia lebih tegas kepada Ibra. Dia hanya tidak menyangka saja kalau Zodi mendengar mereka. Karna malam itu, ketika ia bertemu Zodi di depan kamarnya, gadis itu nampak biasa saja.


“Aku antar kamu, ya? Biar tau kos kamu dimana,” paksa Igo.


“Nanti Kakak pulangnya gimana?”


“Bisa naik taksi.”


Zodi hanya mengangguk saja. Membiarkan pria itu menunggangi sepeda motornya. Setelah itu ia naik di belakang.


Ada perasaan sedih ketika motor sudah melaju meninggalkan rumah itu. Tapi, ia tidak boleh terbawa suasana. Ini jalan yang terbaik bagi semua orang. Terlebih bagi hatinya. Ia tidak ingin terus menyukai orang yang membencinya. Ia tidak ingin terus membuat ketidak nyamanan di rumah itu.




*


TBC...