Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 30. Menahan Sakit Sendirian.



Sejak semalam, Zodi tidak keluar dari kamarnya. Bahkan kemarin ia tidak makan malam juga. Pagi ini, setelah mandi dan berpakaian rapi, Zodi turun kemudian bergabung untuk sarapan dengan keluarga itu. formasinya


lengkap.


“Selamat pagi, Tante, Om,” sapanya ramah kepada Mia dan Ranu.


“Pagi juga, Zodi,” jawab Ranu.


“Pagi sayang. Ada kuliah pagi ya? Kok udah rapi?” tanya Mia.


“Iya, Tan. Jam 8.”


“Oh. Ya udah, ayo cepetan sarapan biar gak telat,” ujar Mia. “tunggu, mata kamu kenapa sembab gitu, Zo? Bengkak juga?”


Pertanyaan Mia itu membuat Igo dan Ibra yang tadinya fokus dengan sarapannya jadi menoleh melihat kepada Zodi. Kening Igo nampak berkerut khawatir.


“Gak apa-apa, Tan. Semalam ngebut nonton drama. Dramanya itu sedih jadinya ikutan nangis, deh,” bohong Zodi. Ia berkilah. Ia tidak ingin mengatakan alasan yang sebenarnya. Ini masalahnya dan tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Mia.


Mia masih menyelidik, menatap serius kepada Zodi. Ia tau Zodi sedang berbohong. Tapi ya sudah. Ia juga tidak punya hak untuk memaksa gadis itu bercerita. Ia yakin Zodi punya alasannya sendiri.


Sepanjang makan, Zodi hanya diam sambil menyantap sarapannya. Tidak bicara sedikitpun. Bahkan selesai sarapan, ia langsung pamit dan pergi begitu saja.


“Kayaknya Zodi lagi ada masalah ya?” gumam Mia kepada suaminya.


Ranu hanya melihat sekilas ke arah pintu keluar. Kemudian kembali sibuk dengan aktifitasnya.


“Biarin aja lah. Dia udah dewasa. Aku yakin dia bisa nyelesaiin masalahnya sendiri. kalaupun dia gak mau cerita sama kamu, dia pasti punya alasannya sendiri,” ujar Ranu. Di tanggapi oleh anggukan kepala oleh istrinya.


Sementara di perjalanan, Zodi terus memacu sepeda motornya agar segera sampai di kampus. Semalam ia dan teman-temannya sudah berjanji untuk datang ke kampus lebih awal. Zodi sudah menceritakan masalahnya kepada Dea dan Mala. Kedua sahabatnya itu sudah berjanji kalau hari ini mereka akan menemani Zodi untuk mencari kos-kosan.


Sesampainya di kampus, ternyata Dea dan Mala sudah menunggunya di tempat parkir. Ia segera bergabung dengan mereka.


Sebenarnya pagi ini tidak ada jadwal kuliah seperti yang ia sampaikan tadi kepada Mia. Hanya mengumpulkan tugas di ruang dosen, setelah itu kosong. Maka dari itu ia ingin segera pergi ke kampus untuk kemudian pergi mencari kos-kosan.


Setelah mengumpulkan tugas, ketiganya langsung tancap untuk mencari kos. Zodi membonceng Mala. Sementara Dea membawa motornya sendiri.


Semalam Zodi sempat bertanya kepada Dea dan Mala, apa di tempat mereka masih ada kos yang kosong, tapi sayangnya sudah terisi semua. Jadi mereka mencari di tempat lain saja.


Sudah hampir dua jam mereka berkeliling di sekitar kampus, tapi rata-rata sudah terisi penuh. Kalaupun masih ada yang kosong, tempatnya sangat tidak nyaman.


Mereka terus berkeliling bahkan ke tempat yang lumayan jauh dari kampus. Tidak masalah, karna Zodi punya kendaraan.


“Coba kita tanya yang ini. Kayaknya tempatnya bagus. Semoga harganya terjangkau,” ujar Mala menghentikan motornya tepat di depan sebuah gerbang bertuliskan ‘menerima kost putri’.


Zodi segera turun dan menemui pemilik kos itu yang terletak di bagian depan bangunan.


“Permisi, Mas, mau tanya, apa masih ada kamar kosong?” tanya Zodi.


Pria berumur sekitar 30 tahunan itu langsung berdiri dan mendekat kepada Zodi dan teman-temannya.


“Masih, Mbak. Mbaknya mau ngekos? Tapi tinggal satu kamar yang kosong,” ujar pemilik kos karna mengira mereka bertiga yang sedang mencari kos.


“Cuma 1 kok, Mas. Buat saya,” jelas Zodi kembali.


“Ooh. Ada di lantai dua. Kalau mau lihat-lihat dulu, boleh. Ayo saya antar,” tawar pemilik kos kemudian mengantarkan mereka pergi untuk melihat kamar.


Kamar itu ada di lantai dua. Kondisi kos yang rapi menuru Zodi. Bersih dan terawat. Pemilik kos menunjukkan kamar nomor 9. Mereka masuk ke dalamnya.


lain.”


“Berapa perbulan, Mas?” Zodi tertarik dengan kamar ini. Selain bersih, sepertinya nyaman untuk di tinggali.


“500 ribu, Mbak. tapi itu belum sama listrik sama air. Kalau tambah listrik sama air, 70 ribu sebulan. WiFi gratis.”


Zodi mengangguk-angguk mengerti. Sekali lagi ia mengedarkan matanya ke seluruh ruangan. Kemudian meminta pendapat kepada kedua sahabatnya.


“Ini aja, Zo. Nyaman tempatnya,” saran Mala. Yang segera di angguki oleh Dea.


“Ya udah, Mas. Saya ambil yang ini. Saya DP dulu bisa, Mas? Soalnya saya belum beres-beres barang di tempat yang lama.”


“Bisa, bisa, Mbak. Gampang itu. Catat aja nomor saya. Kalau mbaknya mau pindah tinggal konfirmasi ke saya. Biar saya bersihkan kamarnya dulu.”


“Siap, Mas.” Zodi memberikan uang 300 ribu kepada pemilik kos sebagai panjar. Setelah itu mereka bertukar nomor telfon.


“Mbak siapa ini saya buat namanya?”


“Zodi, Mas.”


“Oke, mbak Zodi. Nanti konfirmasi aja, ya?”


“Iya, Mas. Makasih banyak, Mas. Kalau gitu kami permisi dulu.”


Ketiga gadis itu beranjak meninggalkan kos-kosan. Mereka sepakat untuk mampir di cafe shop yang ada di seberang jalan. Tempatnya sepi tapi itu tidak masalah. Mereka butuh waktu untuk melepas penat setelah beberapa jam berkeliling.


“Kalian suka-suka pesen apapun. Kali ini aku yang traktir. Makasih ya kalian udah mau bantuin cari tempat kos,” ujar Zodi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mereka sudah duduk di dalam cafe itu.


“Zo, jangan sedih. Kita kan temen kamu. Jadi wajar kalau kita bantu kamu. Kamu juga selalu bantu kita kalau kita lagi kerepotan,” jawab Mala. Gadis itu mengelus punggung Zodi. Menunjukkan dukungannya.


“Ish, aku gak nyangka kalau ternyata Kak Ibra kayak gitu. Jadi ilfeel aku sama dia,” dengus Dea kesal.


“Udahlah, gak usah bahas itu. wajar kalau dia gak suka aku tinggal di sana. Mungkin aku ini pengganggu bagi dia.”


“Iya, bener. Bisa aja ini alasan biar kamu bisa move-on dari Kak Ibra, Zo. Fikir baiknya aja. masih banyak cowok baik di luar sana,” Dea memberikan semangat.


Zodi mengangguk. Entahlah, apa ini bisa membuatnya melupakan perasaannya kepada pria itu? kalaupun iya, dia akan sangat bersyukur nantinya. Tapi kalau tidak, bagaimana?


Lamunan Zodi buyar ketika pelayan membawakan pesanan mereka. Daripada memikirkan hal yang tidak jelas begitu, lebih baik mengisi perut saja dan membahas hal-hal yang menyenangkan lainnya.


“Iya, banyak cowok lain, Zo. Zayn salah satunya. Di lihat-lihat dia selalu caper sama kamu,” Mala mengalihkan pembicaraan.


“Apaan sih. Mana ada caper sama aku,” Zodi terkekeh yang segera di sambut oleh kedua sahabatnya. Sesore itu, ia menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Ia tidak ingin cepat pulang.




*


TBC


hai,, hai,, hai,, para warga sekalian. daku kembali..... maaf kemarin-kemarin gak sempet balesin komen kalian. sibuk ui. giman akabar kalian? masih sehat kan? masih bahagia, kan? jangan lupa makan. hahaha.