
Mia terhenyak mendapati Zodi yang tengah berdiri di meja dapur. Gadis itu sedang mengaduk dua gelas teh dan dua gelas kopi di atas nampan. Nampak serius membelakangi Mia. Dan di sebelah meja makan, Ibra juga sedang berdiri menatap pias punggung Zodi.
“Zo? Kamu ngapain?” panggilan Mia membuat Ibra tersadar dari lamunannya.
Zodi menoleh. “Eh, Tan. Ini, buat minuman buat Pak Miko sama Ocha. Soalnya tadi kata Kak Ibra Mbak Yani lagi mudik.”
Pak Miko.
“Oh, iya. Besok mungkin udah balik ke sini. Katanya Nek Siti sakit. Tapi udah sembuh.”
“Oh....” Zodi mengangguk kemudian kembali melanjutkan mengaduk minuman.
“Ibra, kamu ngapain di situ, Nak?”
Zodi kembali menoleh. Dia tidak menyadari kalau ada Ibra juga disana. Entah sejak kapan pria itu ada di sana.
“Oh, enggak apa-apa, Ma,” Ibra menjawab namun tidak langsung pergi. Ia malah duduk di kursi meja makan sambil mengeluarkan ponselnya.
Mia mengalihkan pandangannya kepada Zodi yang kembali sibuk dengan minuman. Ia mendekat kemudian mengelus lembut belakang kepala Zodi.
“Zodi sayang, jangan di pendam. Nanti kamu malah sakit. Keluarin aja. Kamu boleh bangis di depan Tante. Tante tau gimana perasaan kamu sekarang,” ujar Mia. Karna dia yakin Zodi mendengar semuanya. Bukan cuma Zodi, Ibra juga pasti mendengar pembicaraan mereka tadi karna Zodi dan Ibra berada di dapur. Dari raut wajah Zodi juga nampak sekali kalau dia sedang menahan tangis.
Tes...
Tes...
Butiran airmata itu luluh lantak menerobos pertahanannya. Zodi menangis. Tangannya sudah berhenti mengaduk minuman. Wajahnya menunduk sehingga membuat air mata itu semakin deras mengalir.
Bohong jika ia berkata ia baik-baik saja setelah mendenagr ucapan ayahnya. Dia memang sudah di beritahu jauh-jauh hari oleh Miko. Saat itu sakitnya hanya sebentar dan segera berlalu. Tapi sekarang, mendengar ayahnya secara langsung yang bahkan memohon kepada Mia dan Ranu untuk merahasiakan hubungan mereka, sungguh, Zodi tidak kuasa menahannya. Bongkahan batu di dadanya semakin terasa berat dan berat.
Zodi semakin terisak. Ia berbalik dan Mia langsung memeluknya. Mendekap gadis rapuh yang berpura-pura kuat itu ke dalam pelukannya. Mengelus kepala dan punggungnya berharap itu dapat sedikit membantu meringankan kesedihan Zodi.
“Gak apa-apa, sayang. Luapin aja semuanya. Gak usah di pendam. Gak apa-apa,” Mia terus memberi dukungannya kepada Zodi.
Zodi tidak berkata apa-apa karna Mia sudah sangat mengerti apa yang sedang dia rasakan sekarang ini. Wanita itu tidak butuh penjelasannya.
Ibra menghentikan fokusnya ke ponsel. Ia melihat kepada dua wanita yang sednag berpelukan tersebut. Rasa penyesalan itu semakin tumbuh di hati Ibra. Teringat perkataan Miko tadi yang berkata sudah memberitahu Zodi dua bulan yang lalu. Kalau dia mencocokkan waktunya, itu tepat ketika ia berselisih dengan Zodi setelah ia mengatakan kalau saja gadis itu tidak tinggal di rumah ini...
Astaga, jadi waktu itu Zodi mendapatkan masalah dua kali lipat? Sekarang ia baru mengerti.
Mia membiarkan Zodi menumpahkan segala kesedihannya di pelukannya. Ia tidak ingin menginterupsi gadis itu. Baru setelah beberapa saat Zodi mulai tenang walaupun masih terisak.
Zodi melepaskan pelukannya. Mia segera menghapus pipi Zodi dan tersenyum kepada gadis itu.
“Tante anter minumannya dulu, ya? Kamu di sini aja,” pesan Mia yang di angguk oleh Zodi. “Nak, temenin Zodi dulu disini,” pintanya kemudian kepada Ibra.
Ibra diam saja. Ia hanya menoleh kepada Zodi yang masih menunduk dan sibuk menghapus airmatanya.
Mia membawa nampan berisi minuman ke ruang tamu. Ia langsung menghidangkan kepada masing-masing tamunya.
Zodi memilih keluar untuk melanjutkan tangisannya. Hatinya belum benar-benar lega. Ia duduk di gajebo belakang. Disana, ia kembali menumpahkan kesedihannya. Rasanya sesakit ini ketika ayah kandung sendiri tidak mau mengakui hubungan mereka. Sebahagia itu kehidupan ayahnya dengan keluarganya sekarang sampai tidak mau di ganggu dengan kehadiran Zodi.
Padahal selama ini Zodi mengira kalau ayahnya sangat baik. Ternyata itu tidak lebih karna rasa tanggung jawab karna menelantarkannya selama 19 tahun.
Ia fikir, semuanya akan berjalan lancar setelah ia bertemu dengan ayahnya. Toh selama satu tahun ini semua baik-baik saja. Siapa sangka kalau sekarang malah jadi rumit seperti ini? Tak dianggap sebagai anak, ternyata jauh lebih menyakitkan daripada cinta bertepuk sebelah tangan.
Perihal ayah, Zodi rapuh. Pertahanannnya runtuh. Dia tidak bisa berpura-pura kuat. Terlalu sesak.
Zodi mendongak ketika merasakan ada yang memperhatikannya di depan. Benar saja, Ibra meyusulnya dan berdiri beberapa meter di depannya.
“Gak apa-apa. Jagain kamu. Kan Mama tadi pesen,” jawab Ibra santai sekali.
“Gak usah. Sana, Kak Ibra masuk aja,” usir Zodi.
“Gak. Tadi Mama suruh aku jagain kamu.”
“Ya tapi aku malu nangisnya di lihatin sama Kakak,” dengus Zodi yang mulai kesal. Plus malu.
“Oh. Ya udah, aku balik badan. Lanjutin aja nangisnya,” kok santai sekali Ibra berkata begitu.
Kesedihan Zodi perlahan menghilang. Di gantikan oleh rasa sebal kepada pria yang sedang memunggunginya di depan sana. Bayangkan saja, bagaimana dia bisa menangis sementara ada manusia lain yang menunggguinya begitu? Ada-ada saja.
“Ish,” dengus Zodi kesal. Tapi ia sudah tidak menangis lagi. Ia menghapus bekas airmatanya dengan telapak tangan.
“Nak? Zodi mana?” terdengar suara Mia panik mencari.
“Itu, di belakang,” tunjuk Ibra tanpa memutar tubuhnya.
Mia segera menghampiri Zodi. Ia melihat gadis itu sudah tidak menangis lagi.
“Gimana? udah tenang?” tanya Mia lembut. Dia benar-benar khawatir.
Zodi mengangguk. “udah, Tan. Makasih banyak, Tan.”
“Sama-sama. Kapanpun kamu butuh, ada Tante disini. Kamu bisa telfon Tante kapanpun kamu mau. Atau kamu bisa datang sesuka hati kesini. Ya?”
Zodi kembali mengangguk. Ia mengakui kebaikan hati Mia padanya.
“Mendingan kamu pulang aja. nanti biar Tante yang kasih alasan sama Papa kamu,” ujar Mia kembali. “Nak, anterin Zodi pulang, ya?” pintanya kembali kepada sang putra.
“Iya, Ma,” jawab Ibra singkat.
Mia mengantarkan Zodi sampai di depan rumah. Sampai gadis itu masuk ke dalam mobil Ibra dan mobil itu meninggalkan rumah. Kemudian ia kembali masuk untuk bergabung dengan para tamunya.
“Darimana, Ma?” tanya Ranu ketika Mia muncul di ruang tamu.
“Abis nganterin Zodi.”
“Lha emang Zodi kemana?” Miko yang bertanya.
“Barusan di antar pulang sama Ibra. Katanya kepalanya pusing jadi aku suruh pulang aja.”
Semua heran kenapa Zodi pulang tanpa berpamitan. Tapi untungnya tidak ada yang bertanya. Mereka kembali
melanjutkan obrolan. Setelah merasa lelah, Mia mengantarkan Ocha untuk pergi ke kamarnya. Kamar yang dulu di tempati oleh Zodi. Sementara Miko tidur di kamar tamu.
Baru setelah kembali ke kamarnya bersama Ranu, Mia menceritakan semuanya. Dan itu berujung dengan pembasahan betapa teganya Miko memperlakukan Zodi seperti itu. Pasangan itu kasihan kepada Zodi. Gadis yang baik dan menyenangkan itu ternyata punya masalah yang sedemikian peliknya.
*
TBC...