Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 41. Titik Terlemah.



“Kalau mau beli sesuatu, bilang,” ujar Ibra. Ia menoleh sebentar kepada Zodi. Mereka sedang dalam perjalaan pulang ke kos Zodi.


Zodi, gadis itu hanya diam saja. Namun ia mengangguk juga. Masih jelas kesedihan yang terpancar dari raut wajah Zodi.


Sebenarnya, Zodi merasa sangat malu kepada Ibra. Saat ini, ia merasa sedang berada di titik terlemahnya, dan Ibra melihat semua itu. Entah kenapa ia tidak suka. Ia merasa seolah Ibra sedang menelanjanginya dengan mengetahui semua kelemahannya.


Sejak mengenal Zodi, baru kali ini Ibra melihat gadis yang biasa periang itu terlihat sangat rapuh. Terlihat butuh sandaran. Telihat butuh penghiburan. Ia seolah baru tau tentang sisi lemah dari seorang Zodi Akira. Yang selama ini selalu nampak kuat dan baik-baik saja meskipun di rundung banyak masalah.


Saking peliknya permasalahan yang ia terima, Zodi sampai lupa kalau ia tidak bertemu Igo di rumah tadi. Baru sekarang ia teringat. Ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Ibra.


“Oh iya, Kak. Kak Igo kok gak kelihatan tadi di rumah?” suara Zodi membuat Ibra menolehkan wajah padanya.


“Dia kan di Singapura. Emangnya kamu gak tau?”


“Singapura?”


“Apa dia gak ngasih tau kamu kalau mau lanjut S2 disana? Udah sebulanan dia pergi,” jelas Ibra.


Ada rasa kecewa yang menulusupi relung hati Zodi. Kenapa Igo tidak memebritahunya soal ini?


“Kak Igo gak ada ngasih tau aku. Jadi dia di Singapura ya, sekarang?” ada nada kecewa yang keluar dari suara Zodi. Dia memang tidak mengharapkan kalau Igo akan memberinya kabar. Tapi setidaknya, pria itu bisa berpamitan ketika akan pergi. Entah kenapa ia merasa di abaikan.


Zodi mengernyit heran ketika tiba-tiba Ibra menghentikan mobilnya di bahu jalan begitu saja. Ia menatap pria itu penuh tanya.


“Makan dulu,” ujar Ibra sambil melepas sabuk pengamannya.


“Tapi aku udah makan, Kak,” jawab Zodi.


“Kapan? Pulang ngampus langsung ke bandara. Kapan kamu makan. Kalau gak laper ya udah, temenin aku makan aja,” kata Ibra panjang lebar. Dia langsung turun dari mobil begitu saja.


Sambil menghela nafas, Zodi menurut. Ia ikut turun dan mengikuti Ibra di belakang pria itu. menuju ke sebuah tenda pecel lele yang tidak jauh dari mobilnya. Sebenarnya dia juga lapar karna dia memang belum makan malam. Fikirannya yang sedang kalut membuat rasa lapar itu tidak jadi datang.


“Mau pesen apa?” tanya ibra. Ia menoleh kepada Zodi yang berdiri di belakangnya.


“Lele penyet aja, Kak. Sama jeruk hangat.”


“Mas, lele penyetnya dua, ya. Minumnya jeruk hangat, dua,” Ibra memesankan makan mereka.


Mereka kemudian duduk sambil menunggu pesanan datang. Zodi menyantap makanannya dalam diam. Tidak bicara sepatah katapun. Ia asyik memikirkan kenapa Igo tidak berpamitan kepadanya? Apa pria itu marah karna ia menolaknya? Tapi rasanya tidak mungkin. Igo bukan tipe pria yang kekanak-kanakan yang akan marah karna ditolak cintanya.


Selesai makan mereka kembali menuju ke mobil. Kali ini mereka berjalan bersisian walaupun dalam diam. Keadaan masih canggung antara mereka. Ibra yang bingung mau membahas apa, dan Zodi yang tidak ingin lagi jadi cerewet karna takut menganggu Ibra.


Beberapa meter lagi mereka sampai di mobil, ketika tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang melaju kencang melewati genangan air di dekat mereka. Refleks, tubuh Ibra menyamping sambil membentangkan jaket yang ia kenakan untuk menghalangi cipratan air agar tidak mengenai Zodi.


Kini, dada bidang Ibra yang berbalut kaus hitam ketat itu sudah sempurna menempel di wajah Zodi. Ia tidak sempat memperhitungkan jarak tadi.


Zodi tidak sempat menghindar. Karna terkejut ia justru menoleh ke arah jalan. Siapa yang mengira kalau yang ia dapatkan justru dada bidang Ibra yang kini sedang menempel di wajahnya. Atau, wajahnya yang menempel di dada Ibra? Entahlah.


Debaran yang susah payah di kunci itu memberontak minta keluar. Dan pertahanan yang telah di bangun oleh Zodi ternyata belum cukup kuat untuk menghentikan debaran itu. Dadanya kembali bergetar sehingga membuatnya mematung untuk beberapa detik.


“Kamu gak apa-apa, Zo?” pertanyaan itu belum cukup mampu menyadarkan Zodi.


“Zo?” panggil Ibra lagi. Kali ini, Zodi tersadar. Ia buru-buru menjauhkan wajahnya dari dada Ibra.


“Aku gak apa-apa. Tapi jaket Kak Ibra jadi basah gitu.”


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang sisa perjalanan, jantung Zodi tidak mau berhenti berdebar keras. Susah-susah buat melupakan Ibra, tapi ada saja kejadian yang di luar rencananya. Kalau seperti ini, ia takut akan goyah lagi. Padahal ia sudah berusaha sangat keras untuk mengunci nama Ibra di hatinya. Ia tidak ingin usahanya sia-sia.


Bagaimana ia tidak hampir goyah sementara kini Ibra hanya mengenakan kaus hitam yang pas di badan, menonjolkan semua otot biseb dan dada bidangnya yang mematikan. Apalagi beberapa saat yang lalu, wajahnya sudah mendarat manis di dada itu.


Mobil sudah sampai di depan kos Zodi. Keduanya lantas segera turun.


“Makasih banyak Kak, udah nganterin aku. Di traktir makan lagi,” ujar Zodi.


“Sama-sama.”


“Ya udah, aku masuk dulu,” pamit Zodi kemudian. Ia kemudian berbalik dan meninggalkan Ibra di tempatnya berdiri.


“Zo!” panggil Ibra


“Hm?” Zodi kembali menoleh setelah mendengar Ibra memnaggilnya.


“Maaf.”


“Ha??”


“Aku mau minta maaf,” ulang Ibra.


“Soal?”


“Soal waktu itu. Aku minta maaf udah nyakitin perasaan kamu. Kata-kataku terlalu kejam, ya? Aku minta maaf,” kata-kata Ibra itu jelas menunjukkan ketulusan. Apalagi tatapannya yang teduh.”


“Setelah semuanya?”


“Aku tau, mungkin ini terlalu terlambat buat aku minta maaf. Tapi aku bener-bener gak bermaksud kayak gitu, Zo,” Ibra berusaha menjelaskan situasinya.


Ibra merasa kalau sekaranglah waktu yang tepat untuk meminta maaf kepada Zodi. Ucapan Miko terus terngiang di benaknya. Malam itu, ketika Zodi mendengarnya bicara dengan Ibra, gadis itu pasti juga bicara dengan ayahnya. Maka dari itu rasa bersalah Ibra semakin besar saja.


“Kakak gak salah, kok. Aku yang salah karna udah lancang tinggal di rumah kalian. Seharusnya aku keluar lebih cepat. Mungkin kalau malam itu aku gak denger kata-kata kak Ibra, sampai sekarang aku  masih belum sadar diri.”


“Zo,, bukan gitu.”


“Kak Ibra tenang aja. Aku udah maafin Kakak. Lagian ini bukan salah Kak Ibra juga. Jadi sebenernya gak ada yang perlu minta maaf dan di maafin.”


“Kalau gitu, mau ya, pulang ke rumah lagi?”


“Itu bukan rumahku, Kak. Aku gak mau ngerasain hal yang sama lagi. Lagian aku udah nyaman tinggal di kos. Gak ada yang sakit hati, gak ada yang gak suka sama aku disini. Sekarang mending Kak Ibra cepet pulang. jangan buat Tante khawatir.”


Setelah bicara begitu Zodi langsung meninggalkan Ibra begitu saja.




*


TBC...


temen-temen maaf baru up yaaa...biasa lah, urusan real life yang tak memberikan banyak waktu buat nulis...semoga kalian masih suka sama cerita ini...