Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 45. Memangnya Dia Siapa?



Sepagian ini Zodi di buat berang bukan kepalang. Pasalnya sejak semalam Ocha tidak pulang ke kosnya. Ketika ia menelfonnya, gadis itu dengan entengnya menjawab kalau ia sedang menginap di kontrakan kekasihnya. Bagaimana ia tidak marah?


Tapi lagi, Zodi tidak berani mengadukan kelakuan Ocha kepada ayah mereka. Ia tidak ingin terlalu ikut campur urusan keluarga mereka. Toh ia hanya anak yang tidak boleh di ketahui keberadaannya. Jadi untuk apa ikut campur?


Hatinya sedikit lega ketika ia menceritakan kelakuan Ocha kepada kedua sahabatnya itu setelah selesai kelas kedua siang ini. Sama seperti dirinya, Dea dan Mala juga nampak kesal setelah mendengar ceritanya.


“Gak bahaya ta dia begitu?” Dea bertanya.


“Biarin aja lah, orang maunya dia. Kalaupun kenapa-napa juga dia yang nanggung ini. Udah dewasa seharusnya tau mana yang baik mana yang gak baik. Gak usah terlalu ikut capur urusan orang. Aku masih ilfeel sama mereka,” dengus Mala kesal.


Zodi hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat ekspresi Mala.


“Masalahnya dia bawa motornya Zodi. Gimana sih? Mana belum pulang sampai jam segini, pula.” Mala masih saja mengomel.


“Biarin aja lah. Nanti juga balik. Udah kalian buruan pulang sana. Aku juga mau pulang.”


“Oke deh. Sampai ketemu besok, Zodi sayang!!” teriak Mala sambil melambaikan tangannya. Dan merekapun berpisah.


Zodi memilih untuk berjalan kaki saja ke halte bis. Lumayan jauh sih memang, tapi hitung-hitung olahraga. Sudah lama juga ia tidak jalan kaki.


Sambil berjalan, ia mencoba menghubungi Ocha kembali, namun panggilannya kali ini juga tidak di jawab. Membuat Zodi menggerutu dalam hati. Ia bahkan tidak memperhatikan ketika ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Ia baru terkejut setelah melihat Ibra keluar dari dalam mobil itu. pria itu nampak berlari kecil menghampirinya,


“Kok jalan, Zo?” tanya Ibra langsung.


“Eh, iya, Kak. Motorku si bawa sama Ocha,” jawab Zodi gelagapan. Ia tidak mengira akan bertemu dengan Ibra di sini.


“Naik, biar aku antar,” tawar Ibra.


Ingin menolak, tapi Zodi berfikir lagi. Apalagi setelah melihat tatapan penuh harap dari Ibra, ia jadi tidak tega untuk menolaknya.


Bukan berarti dia luluh terhadap pria itu, tidak. Ia hanya tidak ingin melihat Ibra memohon-mohon padanya. Ia merasa tidak enak ketika Ibra merasa ia marah padanya. Sungkan, canggung. Memangnya siapa dia sampai di mohon-mohon maafnya begitu? Ia hanya ingin menegaskan kalau ia sudah memaafkan pria itu.


Benarkah? Padahal kemarahannya itu tidak jelas untuk siapa.


“Ayo,” ajak Ibra dengan sedikit memaksa.


Zodi menganggukkan kepala tanda setuju dengan ajakan Ibra. Pria itu nampak tersenyum senang kemudian berjalan lebih dulu sementara Zodi mengikutinya di belakang.


Zodi sudah tiba di sebelah mobil Ibra. Ia membuka pintu depan dan terkejut.


“Oh, maaf Mbak Nilam. Aku kira gak ada orang,” sungguh, Zodi malu setengah mati. Ingin rasanya ia membatalkan tapi sudah terlanjur.


”Gak apa-apa, Zo. Cepetan masuk,” perintah Nilam sambil tersenyum.


Zodi kembali menutup pintu itu dan membuka pintu belakang, kemudian masuk dan duduk manis disana. Kecanggungan kembali menyergap suasana. Kalau tau Ibra dengan Nilam, ia tidak mungkin meng-iyakan ajakan Ibra tadi. Sudah terlanjur, mau bagaimana?


Perasaan kesal tiba-tiba menyergap hati Zodi. Terlebih ketika Nilam mengobrol dengan Ibra dengan suara yang menurut Zodi terlalu manja. Ia jadi kesal setengah mati harus menyaksikan keromantisan pasangan itu.


Memangnya dia siapa? Kok marah segala. Zodi bukan apa-apa. bukan siapa-siapa. Dia tidak punya hak untuk merasa terganggu dengan kemesraan Nilam dan Ibra itu.


Dia hanya iri, ternyata Ibra bisa sehangat ini dengan Nilam. Sepertinya pria itu sangat mencintai kekasihnya.


Astaga, Zodi ingin sekali melarikan diri dari dalam mobil ini. Hatinya semakin panas ketika melihat Nilam tertawa terbahak-bahak sambil memukul mesra pundah Ibra. ‘Kalau lama-lama seperti ini, namanya menyiksa diri sendiri,’ bathin Zodi.


“Halo?”


“Zo.. dimana? Ini buku catatanmu kebawa di tasku,” ujar Dea dari seberang.


“Oh, ya ampun, Dea! Sorry. Aku beneran lupa kalau ada janji sama kamu.... iya, iya. Aku kesana sekarang.  Kamu tunggu di sana, ya. Jangan kemana-mana,” tegas Zodi.


“Apa sih? Aku cuma mau bilang kalau buku kamu kebawa aku. Janji? Janji apa?” Dea bingung. Jawaban Zodi tidak nyambung sama sekali.


“Iya, sorry. Jangan marah-marah dong. Aku udah di jalan ini. Gak jauh dari Amplaz. Kamu tunggu disana pokoknya jangan kemana-mana.”


“Zo? Kamu ngomong apa, sih?”


Tut.


Sambungan telfon tiba-tiba di putuskan sepihak oleh Zodi. Dea menatapi ponselnya dengan ekspresi bingung. Apa maksud Zodi?


“Kenapa, Zo?” tanya Nilam yang memang sengaja mendengar Zodi menelfon.


“Ehm, Kak, minta tolong turunin aku di depan Amplaz, bisa? Aku lupa ada janji sama temenku,” jawab Zodi hampir terbata. Sungguh ia tidak pandai berbohong sebenarnya.


Ibra hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepala saja. Melirik Zodi dari kaca spion dengan ekspresi yang aneh.


Mobil Ibra berhenti di depan Ambarukmo Plaza. Zodi segera menarik tasnya kemudian segera turun dari sana.


“Makasih banyak Kak, Ibra. Kak Nilam,” Zodi tidak lupa berterimakasih setelah turun.


“Sama-sama,” Nilam yang menjawab.


Untuk sesaat, pandangan Zodi dan Ibra bertemu. Sial, hatinya kembali berdesir. Entah karna ia sedang berbohong, atau karna ia menangkap sesuatu yang aneh dari tatapan pria itu.


Ibra kembali melajukan mobilnya. Sementara Zodi duduk di kursi yang ada di depan mall itu untuk sekedar menangkan hatinya. Sial, ia deg-degan karna takut ketahuan sedang berbohong. Berkali-kali ia menarik nafas dalam dan membuangnya.


Sebenarnya ia sedang melarikan diri. Ia tidak kuat melihat kemesraan itu. Kalau bukan dia yang melindungi hatinya sendiri, siapa lagi? Berada lama di dalam mobil itu hanya akan menambah rasa sakitnya. Entah kenapa Ibra harus mengantarkan Nilam dulu padahal kos Zodi lebih dekat dari kampus. Masalahnya dia tidak berani membantah tadi.


Tidak jauh dari mall, Ibra kembali menghentikan mobilnya. Ia menatap kaca spion untuk melihat ke belakang. Disana, ia masih bisa melihat Zodi yang sedang duduk. Sebelah ujung bibirnya tertarik ke atas.


“Kenapa berhenti, Ibra?” tanya Nilam bingung.


Ibra bahkan tidak menjawab. Pria itu hanya kembali melajukan mobilnya kencang agar segera sampai di rumah Nilam.


Dan Zodi, masih duduk di bangku itu. Bingung harus bagaimana. Ia menoleh ke arah belakangnya, ia bisa melihat orang-orang berlalu lalang keluar masuk ke dalam mall. Karna sudah disini, tidak ada salahnya ia berkeliling sebentar untuk mencari buku novel. Sesuka itu ia dengan novel.


Sendiri tidak masalah. Hitung-hitung menghilangkan sakit hatinya setelah melihat crush-nya bermesraan di depan matanya sendiri. Poor Zodi.




*


TBC...