Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 59. Dilamar Lagi.



Satu minggu setelah itu, Zodi juga harus kembali ke kota Jogja karna perkuliahan semester baru akan segera di mulai. Deraian airmata dari Lasmi dan juga Nenek mengantarkan kepergiannya. Rasanya belum tuntas kerinduan Lasmi dan Nenek kepada Zodi. Rasanya baru kemarin Zodi pulang. Rasanya baru sebentar Zodi di rumah.


Waktu satu bulan benar-benar tidak terasa karna di isi oleh kebahagiaan dan kerinduan.


Pukul 14.30 Zodi sudah sampai di bandara YIA. Ia sedang menunggu koper bagasinya. Setelah mendapatkannya, ia segera menarik koper itu menuju ke arah pintu keluar.


Netranya menyapu ke segala penjuru demi mencari sosok Ibra. Pria itu bilang dia akan menjemputnya. Tapi kenapa batang hidungnya belum terlihat juga?


Zodi celingukan mencari kebaradaan Ibra. Ia mencoba menghubungi pria itu namun tidak tersambung. Perasaan Zodi jadi kesal sendiri. Ia merasa di bohongi. Sepertinya Ibra sedang sibuk di rumah sakit dan tidak jadi menjemputnya.


Dengan wajah kecewanya, Zodi kembali melangkahkan kaki menuju ke stasiun kereta api. Sampai tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ada yang menghalangi di hadapannya.


Seseorang sedang berdiri diam di hadapannya. Wajahnya tertutup sebuket bunga sampai tidak terlihat. Buket bunga mawar merah itu begitu besar hingga tidak nampak siapa yang memegangnya.


Zodi  mengernyit ketika buket bunga mawar merah yang indah itu terjulur ke arahnya. Pemilik buket itu seperti sengaja memaksa Zodi untuk menerimanya. Dan dalam sekejap mata, buket bunga mawar itu sudah berpindah tangan kepada Zodi.


Zodi yang terkejutpun segera mengalihkan buket besar itu hingga ia dapat kembali melihat ke depan. Dan betapa terkejutnya dia ketika pandangannya bebas, ia melihat Ibra yang sedang tersenyum sambil berlutut di hadapannya dengan satu kaki. Pria itu mempersembahkan sebuah cincin permata ke hadapan Zodi.


“Kak Ibra?” desis Zodi hampir tidak keluar suaranya.


“Zodi Akira, mau ya, temani aku seumur hidupku? Aku bakalan jadi suami yang baik buat kamu. Janji.” Dengan senyuman manisnya Ibra melamar Zodi. Lagi.


Jangan di tanya bagaimana keadaan jantung Zodi saat ini. Yang jelas ia sangat, sangat terkejut bukan main. Rasanya ingin meleleh saja mendapat perlakuan romantis itu. Apalagi kini mereka sedang menjadi tontonan publik di sana. Menambah kegugupan yang dirasakan oleh gadis itu.


“Terima! Terima!” entah siapa yang mulai sorakan itu. yang jelas semakin ramai. Ada juga yang mengabadikan lewat kamera ponsel.


Mata Zodi mengembun. Antara terharu dan gugup karna menjadi pusat perhatian. Tubuhnya jadi panas dingin tidak karuan. Menyadari Ibra yang sedang menunggu jawabannya, iapun segera menyodorkan tangannya agar Ibra segera memasangkan cincin itu di jari manisnya.


Sorak sorai menggema ketika cincin berhasil terpasang di jari manis Zodi. Dengan segera Ibra menarik Zodi ke dalam pelukannya. Saking groginya, Zodi bahkan tidak kuasa untuk menolaknya.


“Aku sayang kamu, Zo,” bisik Ibra di telinga Zodi.


Beberapa saat kemudian, Ibra dan Zodi sudah duduk manis di dalam mobil. Meninggalkan euforia yang sempat mereka buat. Zodi memangku buket bunga pemberian Ibra dan terus tersenyum memandanginya. Bergantian dengan jari manisnya.


“Kak, kalau Tante tau Kakak main peluk-peluk aku kayak tadi, jamin Kakak bakalan di jewer sama Tante sama Om.”


“Makanya jangan bilang-bilang. Nanti aku kena jewer.”


“Udah tau bakalan di marahin kok masih di lakuin?”


“Kelepasan, Zo. Karna saking bahagianya. Please ya, jangan di aduin...” mohon Ibra bersungguh-sungguh.


“Ya ampun, lucunya.” Kekeh Zodi lagi.


“Mau ke rumah dulu apa langsung ke kos?” tawar Ibra lagi.


“Ke kos dulu. Naruh barang-barang dulu terus mandi. Baru nanti ke rumah Kakak.”


“Ya udah. Kalau gitu aku tinggal ke rumah sakit bentar. Nanti pulang dari rumah sakit aku sekalian jemput kamu, kita ke rumah.” Ibra memberi solusi.


“Siap, pak dokter.”


Setelah membantu membawakan barang-barang Zodi, sementara kekasihnya itu hanya memegangi buket bunga, Ibra kemudian pamit untuk kembali ke rumah sakit. Masih ada sedikit urusan yang harus ia selesaikan.


Zodi segera mandi dan membereskan pakaiannya kembali ke dalam lemari. Ia merebahkan diri untuk beristirahat sebentar. Kepalanya menoleh melihat buket bunga yang ia pajang di meja belajarnya. Indah, sangat indah. Mengingat kelakuan Ibra waktu di bandara tadi membuat senyum Zodi terbit. Hatinya semakin berdebar.


‘Gengs! Aku udah balik Jogja.’ – Zodi. Ia mengirim pesan di grup yang berisikan ia, Dea, dan Mala.


Setelah beberapa saat, ponselnya kembali berbunyi menandakan ada pesan masuk.


‘Serius? kok gak minta jemput?’ – Mala.


‘Em, enggak. Tadi ada yang jemput.’ – Zodi.


‘Siapa?’ – Dea.


‘Adalah pokoknya. Besok aku kasih tau. Kalian udah disini belum?’ – Zodi.


‘Udah dong.’ – Mala.


‘Aku dari kemaren malah.’ – Dea.


‘Nanti malam ngumpul, yuk! Kangen,’ – Dea.


‘Hayuk, hayuk.’ – Mala.


‘Sorry, nanti malam gak bisa. Soalnya ada janji.’ – Zodi.


‘Yaaaah. Kok gitu?’ – Dea nampak kecewa.


‘Mau ke rumah tante Mia. Udah janji mau kesana. Sekalian nganter oleh-oleh dari Mamak buat Tante Mia.’ – Zodi.


‘Yaudah deh. Besok aja.’ – Mala.


Obrolan itu terputus ketika perlahan mata Zodi terpejam. Ponselnya sampai terjatuh di samping bantal.


Cukup lama juga Zodi tertidur. Ia baru melenguh ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia terkejut hingga membuat dadanya berdetak dengan sangat cepat.


“Zo?!” panggil seseorang dari luar kamarnya.


“Iya, Mbak. sebentar!” Zodi menyeret kakinya dan memaksa kesadarannya kembali. Kemudian ia membuka pintu untuk Sofi. “Kenapa, Mbak?” tanya Zodi dengan kelopak mata yang masih menyipit.


“Itu ada yang nyariin kamu. Udah nungguin dari tadi di bawah. Katanya nelfonin kamu tapi gak di angkat-angkat,” jelas Zodi kembali.


Ah, Zodi lupa. Ia melirik jam dinding. Sudah jam 18.15. Ia baru menyadari kalau hari sudah beranjak gelap.


“Oh, iya. Makasih ya, Mbak.”


Sofi hanya menganggukkan kepala saja kemudian kembali masuk ke kamarnya. Zodi menguap sekali kemudian menutup pintu kamar. Ia segera turun setelah melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Ibra.


“Kak?!” panggil Zodi ketika sampai di ruang tamu khusus pengunjung kos.


Wajah Ibra mendongak lega menatap kekasihnya. Hampir saja ia merengkuh tubuh Zodi ke dalam pelukannya. Untung saja ia masih bisa menahan diri. Ia khawatir luar biasa ketika Zodi tidak menjawab telfonnya.


“Kamu kemana aja kok gak angkat telfonku?” desak Ibra langsung.


“Maaf. Aku ketiduran. Gak denger ada telfon dari Kakak.” Zodi nyengir merasa bersalah. Sedikit takut melihat ekspresi Ibra saat ini. Keningnya bahkan sampai berkerut.


“Hemph.” Ibra mencairkan suasana dengan senyuman manisnya. Ia membelai belakang kepala Zodi dengan lembut. “Aku khawatir.” Terangnya kemudian.


“Maaf....” ulang Zodi.


“Ya udah, gak apa-apa. Berangkat sekarang, yuk.” Ajak Ibra lagi.


“Bentar. Aku ganti baju dulu. Kakak tunggu bentar, ya?” pinta Zodi. Ia belalu setelah mendapat anggukan kepala dari Ibra.




TBC...