Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 25.



Suasana makan malam itu begitu meriah. Benar-benar tidak ada batasan antara majikan dan bawahan. Membuat suasana semakin terasa hangat.


“Ehm, Kak. Selamat ya udah sidang,” lirih sekali Zodi mengucapkannya. Mungkin hanya Ibra saja yang mendengarnya karna pria itu duduk di sebelahnya.


Padahal Zodi sudah menahan diri untuk tidak mengajak Ibra bicara. Tapi ternyata ia tidak tahan juga untuk tidak mengucapkan selamat kepada pria itu.


“Em. Makasih” jawab Ibra dingin. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Ia ingin mengobrol banyak tapi tidak menemukan bahan pembicaraan yang tepat.


Dan Zodi jadi kembali terdiam. Sungguh, berada di antara dua pria itu membuat ia semakin merasa tidak nyaman. Padahal sebelum Igo mengungkapkan perasaannya, mereka tidak pernah merasa secanggung ini. Sekarang, seolah ada yang berubah.


“Zo, bulan depan atanya papamu mau ke sini, ya?” pertanyaan Mia menyelamatkan Zodi yang sedang di landa kecanggungan.


“Gak tau, Tan. Papa belum ada bilang apa-apa sama aku.”


“Oooh, gitu. Soalnya kemarin sempet ngerumpi di grup alumni dan katanya dia mau kesini. Mungkin belum ngasih tau kamu.”


“Iya, Tan. Nanti aku tanya sama Papa.”


Entahlah, sebenarnya Zodi jarang berhubungan dengan ayahnya. Bukan karna dia tidak mau. Tapi karna setiap Zodi menelfon, tidak pernah di angkat. Mengirim pesanpun, jarang di balas. Kecuali saat Zodi meminta uang, baru akan di balas oleh miko. Itupun membalasnya hanya sebatas ‘iya’ saja.


Jadi Zodi berfikir mungkin ayahnya tidak ingin di ganggu. Ia memaklumi karna ayahnya juga sudah mempunyai keluarga sendiri. jadi ia tidak protes dan hanya diam saja.


Memikirkan tentang ayahnya membuat fokus Zodi menjadi teralihkan. Ia jadi melamun memikirkan banyak hal. Fikriannya merembet kemana-mana.


“Tadi main kemana?”


Pertanyaan Ibra itu ternyata cukup mampu mengembalikan fokusnya. Ia langsung menoleh kepada pria itu.


“Main ke Tebing Breksi, Kak," jawab Zodi kemudian kembali melanjutkan makannya.


“Buk, kata Mbak Zodi, nanti kalau saya pulang kampung, dia mau ikut,” kata Mbak Yani.


Entah bagaimana tiba-tiba pembicaraan sudah sampai di sana. Zodi tidak terlalu memperhatikan karna fikirannya teralihkan kepada ayahnya.


“Ooo, boleh.”


“Makasih, Tan.”


“Kamu harus ngerasain di sana bagus banget pemandangannya. Ada sungai juga di belakang rumah Mbak Yani. Kamu bisa main air sepuasnya nanti.” Mia menceritakan sedikit pengetahuannya.


“Makasih, Tan. Tadi juga udah di ceritain sama Mbak Yani. Makanya aku jadi kepengen banget kesana.”


“Tapi nanti aja ya, abis Igo sama Ibra wisuda. Soalnya nanti gak ada yang bantuin Tante. Kan pas repot-repotnya tuh.”


“Iya, Tan.” Zodi menyunggingkan senyuman lebar setelah mendapat ijin dari Mia. “wisudanya kapan, Kak?” Zodi bertanya kepada Igo. Sungguh ia ingin membuat suasana kembali membaik lagi seperti sebelum hari ini.


“Ehm, kalau gak salah tanggal 27 bulan depan. Harus datang ya," jawab Igo. Ia tersenyum karna merasa suasana sedikit mencair antara dirinya dan Zodi.


Zodi mengangguk setuju. “Pasti aku dateng, Kak. Abis selesai s1, Kakak mau lanjut kemana?” Zodi ingin memperpanjang tema obrolan mereka.


“Ehm, rencananya mau langsung lanjut s2-nya,” jawab Igo yang kini semakin mengembangkan senyuman lebarnya.


“Lanjut kemana?”


“Belum tau. Lagi mikir-mikir.”


Sementara Ibra, hanya diam dan memilih mendengarkan obrolan yang terjadi di sekitarnya. Sebelum kemudian ponselnya berbunyi dan ia segera mengangkatnya dan berbicara sebentar dengan si penelfon.


Sesampainya di rumah, Zodi segera masuk ke dalam kamarnya dan mandi. Karna sejak tadi siang dia belum mandi.


Baru saja ia selesai berpakaian dan bersiap untuk tidur. Ia sudah setengah berbaring ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Ia bangun dan berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


“Kak Ibra?” tanya Zodi dengan mata terbelalak. Ibra berdiri di depan pintu kamarnya dengan raut wajah yang aneh.


“Udah tidur, ya? Ganggu?”


Perlahan Zodi menggeleng dengan tatapan heran kepada Ibra. “kak Ibra ngapain kesini?”


“Bisa ngomong sebentar?”


Pertanyaan Ibra itu membuat jantung Zodi berdetak lebih cepat. Antara gugup berhadapan dengan Ibra, dan takut dengan apa yang ingin pria itu katakan. Ia menebak kalau Ibra akan menanyakan perihal ucapannya malam itu. semoga dia saja yang terlalu overthinking. Harapnya.


“Mau ngomong apa, Kak?”


Ibra tidak langsung menjawab, ia justru mengusap tengkuknya. “Soal, omonganmu waktu itu.”


Nah, kan. Bener.... jantung Zodi semakin berdetak kencang. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan raut wajahnya agar tidak berubah. Jadi selama ini Ibra benar-benar memikirkan ucapannya? Yang benar saja.


“Omongan yang mana ya, Kak?” Zodi gugup. Benar-benar gugup.


“Yang malam itu. kamu bilang kalau sikapku bikin kamu salah faham?”


Deg.


Desiran itu selalu saja muncul di saat-saat seperti ini. Tidak tau kondisi.


“Ehm, yang mana ya, Kak? Aku lupa. Hehehhehe. Maaf.” Zodi berekspresi seolah ia sedang berfikir kerasa untuk mengingat-ingat.


Ibra diam sejenak sambil terus memperhatikan raut wajah Zodi sementara gadis itu tertawa canggung.


Baru saja Ibra membuka mulut untuk melanjutkan kalimatnya, namun Zodi segera menyela.


“Maaf, Kak. Aku mau istirahat dulu. Capek banget soalnya.” Zodi menutup pintu dengan tersenyum terlebih dahulu. Meninggalkan Ibra yang masih ternganga heran dengan sikap Zodi padanya. Gadis semakin menunjukkan batasan dengan dirinya.


Melihat sikap Zodi yang selalu menghindarinya, Ibra jadi berfikir, apa selama ini ia memang terlalu dingin dengan Zodi? Terlalu sulit untuk menilai sikapnya sendiri. padahal, ia sudah mau berusaha untuk bersikap hangat kepada gadis itu. tapi di saat ia ingin bersikap hangat, justru Zodi yang secara terang-terangan menjauhinya.


Setelah menutup pintu, Zodi langsung menyusupkan dirinya ke dalam selimut. Berusaha untuk tidur walaupun fikiran tentang Ibra masing mengganggu otaknya.


Tapi tidak, ada sesuatu yang mendesaknya. Sesuatu yang rasanya ingin meledak dari dalam hatinya. Kalau seperti ini terus, ini sangat tidak baik untuk dirinya. Ia harus melakukan sesuatu.


Entah keberanian dari mana datangnya, Zodi menyingkap kembali selimutnya dan berlari untuk kembali membuka pintu. Ibra baru saja hendak berbalik ketika ia mendengar suara pintu Zodi terbuka. Pria itu menoleh kepada Zodi yang sedang menatapnya penuh arti.


“Aku suka sama Kak Ibra.”


Hening.


Hanya kening Ibra yang perlahan mengerut. Seolah tidak memahami apa yang baru saja ia dengar dari Zodi.


“Aku bilang kalau aku suka sama Kak Ibra. Aku tau kalau aku jahat. Gak seharusnya aku punya rasa sama Kakak sedangkan Kakak udah punya Mbak Nilam. Aku cuman butuh pelepasan aja, Kak. Jadi tolong gak usah di gubris apa yang baru aja Kak Ibra dengar. Aku bilang gini cuman biar aku ngerasa lega aja. hehehehhe. Sekali lagi aku mohon sama Kakak, anggap aja gak denger apa-apa dari aku. Ya?”


Dan setelah berkata begitu, Zodi kembali menutup pintu kamarnya dan menguncinya rapat.