Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 24. Tidak Ada Getaran.



Zodi dan Igo duduk saling berhadapan. Diatas meja sudah tersaji makanan pesanan mereka. Suasana tiba-tiba menjadi canggung untuk sesaat. Terlebih netra Igo yang tidak mau lepas dari menatap Zodi.


“Kak, kenapa ngelihatin begitu, sih? Jadi takut.” Zodi memulai pembicaraan.


“Risih ya di lihatin begitu?” tanya Igo tanpa mengalihkan pandangan.


“Agak risih.” Zodi mengembangkan senyuman. “Kakak mau ngomong apa? tadi katanya ada yang mau di bahas?”


“Zo, kamu mau gak jadi menantunya mamaku?” tanya Igo tiba-tiba. Hampir saja Zodi memuncratkan air minum yang baru saja di tenggaknya.


“Maksudnya?”


“Maksudnya, aku siap buat kamu jadi menantunya mamaku.”


Hening. Zodi hanya ternganga dengan menatap tidak percaya kepada Igo.


“Maksud Kakak......”


“Iya. Aku suka sama kamu, Zo. Kalau kamu mau nerima tawaran Mamaku buat jadi menantunya, aku siap jadi suamimu.”


Apa ini?


Tidak ada getaran di hati Zodi bahkan setelah mendengar pengakuan dari Igo. Pria yang mempunyai wajah yang sama dengan Ibra yang selalu membuat hatinya jumpalitan tidak karuan.


“Kok bisa Kakak suka sama aku?”


“Kok pertanyaannya begitu? Ya bisa, dong. Namanya perasaan kan gak terduga datangnya.”


“Enggak, maksudku, Kak Igo gak pernah nunjukin gestur kalau suka sama aku. Tapi tiba-tiba Kakak bilang kalau Kakak suka sama aku,” sepertinya Zodi masih tidak percaya dengan ucapan Igo.


“Sengaja. Soalnya aku malu kalau nunjukinnya.” Igo menjawab dengan jujur. Ia memang malu menunjukkan tentang perasaannya. Ini saja, ia harus mengumpulkan keneranian lebih dulu. Berbanding terbalik dengan sikapnya yang suka blak-blakkan. Soalnya ini masalah perasaan.


“Kak,, aku,, aku belum pernah berfikir kesana. Sekarang aku masih mau fokus sama kuliah dulu.”


Hening.


Perlahan Igo mulai menundukkan wajahnya. Nampak jelas raut kekecewaan di wajahnya.


“Jadi aku di tolak, nih?”


“Maaf, Kak. Jujur, aku makasih banget karna Kakak udah suka sama aku. Aku seneng ternyata aku punya tempat spesial di hati Kakak. Dan aku juga makasih banget Kakak udah berfikir jauh sama aku. Buat sekarang, aku memang belum berfikir ke arah sana. Tapi gak tau nanti.”


“Nanti? Berarti masih ada kesempatan?”


“Yang jelas, aku gak mau memberi harapan palsu buat Kak Igo. Kakak orang baik. Aku gak bisa nyakitin Kakak. Jadi tolong jangan berharap sama aku. Karna akupun gak tau akan seperti apa ke depannya nanti. Tapi kalau untuk sekarang, aku belum bisa nerima perasaan Kakak. Maaf, Kak,” lirih Zodi.


Jujur ia merasa tidak enak hati dengan Igo. Selama ini pria itu memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin menerimanya karna tidak punya perasaan untuk Igo.


Berbeda halnya dengan Ibra. Walaupun pria itu dingin dan terkesan cuek kepada Zodi, malah membuat hati Zodi memilihnya.


Dasar hati.


“Iya, gak apa-apa. Aku faham mungkin kamu kaget. Semoga aku bisa nunggu sampai kamu bisa buka hati buat aku ya, Zo.” Ada harapan besar yang tersirat dari ucapan Igo.


Sungguh, Zodi sangat merasa tidak enak hati kepada pria itu. Tapi lagi, ia tidak punya kuasa bahkan kepada hatinya sendiri.


“Kak, udah malem. Kita pulang, yuk,” ajak Zodi. Rasa canggung yang menyergap membuatnya tidak nyaman.


“Gak jadi mampir ke rumah Pakde?”


“Gak usah. Kapan-kapan aja. Soalnya udah malem juga.”


Igo seperti memahami kenapa Zodi tiba-tiba merubah rencananya dan meminta pulang. Ia hanya menuruti saja karna ia juga jadi tidak nyaman.


“Makasih ya, Kak. Udah di ajak jalan-jalan.” Akhirnya Zodi membuka suara ketika mereka sudah sampai di rumah.


Igo hanya mengangguk saja. Pria itu melebarkan senyumannya. Mendekat kepada Zodi lantas mengacak puncak kepala Zodi dengan sangat manis. Zodi sampai kaget di buatnya. Tapi ini tidak semengagetkan ketika ia tiba-tiba di peluk tadi saat di kampus.


Sepasang mata menjadi saksi adegan manis itu dari balkon lantai dua. Ibra sedang bertelfon dengan Nilam ketika Igo dan Zodi pulang. ada gelenyar aneh yang diam-diam menyusup di hatinya. Ia ingin Zodi akrab dengannya seperti Zodi akrab dengan Igo. Tapi ia menyadari kalau masalahnya ada di sikapnya sendiri.


“Kalian udah pulang? gimana sidangnya?” tanya Ranu ketika melihat Igo dan Zodi melewati ruang tamu. Ia sedang duduk santai di sana.


“Alhamdulillah lancar, Pa,” jawab Igo.


“Alhamdulillah. Ibra juga lancar sidangnya,” jawab ranu.


Dan yang sedang di bicarakanpun muncul. Ibra sedang berjalan menuruni tangga.


“Ayo kita makan malam di luar. Buat ngerayain hari ini.” Ajak Mia yang kemudian muncul dari dapur.


“Tapi kami baru aja makan, Ma,” jawab Igo.


“Yaaahhh. Gak apa-apa. makan lagi. Mau ya, Zo?” tawar Mia kepada Zodi.


Tak kuasa menolak, akhirnya Zodi mengangguk. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga ini.


“Biar Ibra reservasi dulu. Di restoran biasa kan, Ma?” tanya Ibra.


“Boleh.”


Kemudian Ibra nampak menelfon. Setelah memastikan reservasi mereka di terima pihak restoran, mereka semua kemudian pergi. Mereka juga mengajak Mbak Yani dan dua sopir mereka.


Mereka pergi menggunakan dua mobil. Satu mobil berisi dua supir beserta Mia dan Ranu. Satu mobil lagi di isi dengan Ibra, Igo, Zodi dan Mbak Yani.


Begitulah keluarga Ranu. Ketika pergi bersenang-senang, mereka tidak melupakan supir dan asisten rumah tangganya. Mereka akan mengajak serta semua yang tinggal di rumah itu. tidak membeda-bedakan.


Di mobil, Zodi asyik bercerita dengan Mbak Yani. Mengulik sedikit tentang daerah asal Mbak Yani yang ternyata tidak terlalu jauh dari kota gudeg.


“Nanti kalau libur ajak aku main kesana dong, Mbak,” pinta Zodi. Ia tergiur membayangkan keindahan kampung halaman Mbak Yani ketika mendengar ceritanya.


“Siap. Nanti kita atur waktunya. Nanti saya minta libur sama Ibuk pas Mbak Zodi libur kuliah. Jadi bisa ikut saya mudik.”


“Wahhh. Pasti seru banget tuh disana.” Zodi semakin antusias saja.


“Nanti kita cari ikan di sungai belakang rumah, Mbak. seru lho.”


Mendengar itu membuat Zodi semakin antusias. Tidak sabar ingin segera mengunjungi kampung halaman Mbak Yani.


Sementara dua pasang telinga yang duduk di depan hanya diam mendengarkan. Dalam hati mereka juga ingin pergi kesana lagi. Ya walaupun mereka sudah beberapa kali datang ke kampung halaman Mbak Yani. Tapi kalau ada Zodi sepertinya akan lebih seru.


Sepasang mata milik Ibra seringkali melirik ke belakang. Hanya sekedar melihat ekspresi gadis itu. atau sekedar ingin tau sedang apa Zodi di belakang sana ketika gadis itu tidak bersuara. Dan ketika pandangan mereka bertemu di cermin, maka ia serta merta mengalihkan pandangannya. Kembali fokus ke jalan raya.


Sebenarnya saat ini Zodi sedang merasa canggung dan sangat tidak nyaman. Itu semua karna Igo. Karna ungkapan perasaan pria itu yang membuatnya menjadi canggung dan kurang nyaman. Walaupun ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja, tapi itu sangat sulit.




*


TBC...


sampai disini semoga kalian masih suka ya sama ceritanya.... makasih banyak yang udah meluangkan waktu buat like dan komentar, vote bahkan kasih hadiah buat karya ini. jangan lupa bintang 5 nya juga yaaaa....


sehat-sehat selalu buat kalian para warga kebun labu...