Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 42. Bertaruh Pada Waktu.



Pagi hari, wajah Zodi jadi sembab akibat menangis semalam. Matanya juga jadi sedikit bengkak juga. Aduh, padahal dia ada kelas pagi ini. Kalau Dea dan Mala melihatnya nanti, kedua sahabatnya itu sudah pasti akan menyidangnya.


Benar saja, ketika ia sampai di kelas, Dea dan Mala yang sudah lebih dulu ada di kelas langsung melotot kepadanya. Manuntut jawaban walaupun mereka tidak bertanya apapun.


“Nanti aja ceritanya. Itu dosen udah datang.”


Sesuai janji Zodi, setelah dosen selesai mengajar, ia segera menceritakan kejadian semalam kepada Dea dan Mala. Hanya cerita tentang ayahnya. Dia tidak menceritakan apa yang sudah terjadi antara ia dan Ibra semalam setelah makan malam.


“Sabar ya, Zo. Biar aja Allah yang bales. Anak sebaik kamu di sia-siain. Aku jadi ilfeel sama papamu.” Mala mendengus. Seolah ikut merasakan kesesakan yang sedang sahabatnya itu rasakan saat ini.


“Eh, Zo, kamu ikut jenguk Buk Riska gak?” tanya Dea.


Bu Riska, salah satu dosen mereka yang sedang merayakan pembukaan toko roti miliknya dan mengundang mahasiswanya untuk ikut hadir untuk meramaikan kegiatan tersebut.


“Jauh, aku gak berani naik motor kalau sejauh itu.” Zodi ingin ikut. Tapi masalahnya toko yang baru di buka itu berada di kota Solo. Itu terlalu jauh untuk Zodi. Masalahnya Dea akan berboncengan dengan Mala.


“Kan ada mobil,” ujar Dea kembali. “Banyak kok temen-temen yang punya  mobil.”


“Tapi tadi kata ketua kelas udah full mobilnya. Yang mau ikut di minta bawa motor aja, gitu.” Mala menimpali.


“Itulah makanya. Kayaknya aku gak ikut aja deh,” nampak raut kecewa dari wajah Zodi. “Lagian aku juga gak punya SIM. Takut kena tilang nanti.”


“Sama aku aja, Zo.” Sebuah suara bariton berasal dari arah samping membuat ketiga gadis itu langsung menoleh.


Zayn, entah sejak kapan pria itu ada di dekat mereka. Yang jelas, sepertinya pria itu mendengar semua pembicaraan mereka.


“Sama kamu?” Zodi mengernyit tidak yakin.


“Kebetulan aku gak ada yang di bonceng. Kalau kamu mau, sama aku aja.” Zayn tersenyum.


Zodi, Dea dan Mala saling melempar tatapan.


“Pas banget, Zo. Kamu sama Zayn aja. Mumpung nganggur tuh.” Dari tatapannya, sepertinya Dea punya maksud tersembunyi. Ucapan Dea itu segera di angguki oleh Mala dengan sangat antusias.


Zodi sedang menimbang-nimbang. Sepertinya boleh juga. Ia menatap Zayn yang masih setia memberikan senyuman manisnya. Perlahan Zodi menganggukkan kepalanya. Ia setuju untuk pergi dengan Zayn.


Nampak senyuman Zayn semakin merekah saja. Raut wajahnya juga nampak senang sekali.


“Oke kalau gitu. Aku mau ke parkiran dulu ya, ambil motor. Kamu langsung gabung sama yang lain aja. Yang lain udah kumpul di depan itu.”


Zodi hanya mengangguk saja. Melihat punggung Zayn yang nampak berlari kecil pergi dari hadapannya.


“Wuiih. Mulai terang-terangan nih kayaknya,” gumam Mala.


“Terang-terangan apa?” tanya Zodi tidak mengerti. Kini mereka bertiga sudah berjalan turun ke bawah.


“Kamu sih, di bilangin gak percaya. Zayn itu suka sama kamu, Zo.” Dea ikut berkomentar.


“Ngaco kalian. Mana ada. Aku gak merasa, kok,” elak Zodi. Memang benar, ia tidak pernah merasakan gelagat kalau Zayn menyukainya.


“Ya gimana kamu mau ngerasa kalau yang kamu lihat itu cuma Kak Ibra terus?” ucapan Mala membuat Zodi menoleh padanya dengan tatapan tajam.


“Jadi, gimana keputusanmu soal Kak Ibra, Zo?” tanya Dea.


“Kayaknya aku harus mulai mundur. Aku udah bertekad dari sekarang kalau aku harus jaga jarak dari dia.”


Zodi mengangguk. Mendapat suport dari kedua sahabatnya seperti ini membuat hatinya mantab untuk menjauh dari Ibra.


Mungkin benar kata mereka. Ketika ia sudah menetapkan jarak dengan Ibra, hatinya akan mudah untuk menghilangkan nama itu dari sana. Saat ini ia memang hanya bisa berupaya mengunci nama Ibra jauh di sudut hatinya. Ia akan bertaruh pada waktu. Semoga waktu akan berbaik hati untuk membantunya melupakan cinta sepihak ini.


Lamunan Zodi terganggu ketika mendengar suara ponselnya berbunyi. Ia segera merogoh ponsel itu dari dalam tasnya. Kedua alisnya terpaut ketika melihat identitas yang muncul di layar ponselnya.


“Siapa, Zo? Kok malah cuman di lihatin doang?” tanya Mala. Gadis itu menyondongkan wajahnya demi bisa melihat ponsel Zodi.


“Kak Ibra,” ujar Zodi sambil menunjukkan ponselnya kepada Mala.


“Ngapain dia nelfon kamu? Gak usah di angkat, Zo. Katanya mau move-on.” Dea ikut buka suara.


“Siapa juga yang mau ngangkat,” ujar Zodi. Ia mematikan suara ponselnya dan kembali memasukkan ponsel itu ke


 tasnya.


Zodi dan Mala berpisah dengan Dea karna Dea harus pergi ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Sementara Zodi dan Mala berjalan menuju ke tempat berkumpul.


“Zodi!” suara panggilan itu membuat Zodi langsung menoleh ke arah suara. Kelopak mata Zodi melebar demi melihat Ibra yang sudah berada di belakangnya.


“Kak Ibra? Kok disini?” tanya Zodi.


“Bisa ngobrol sebentar?”


“Ngobrol apa, Kak?” tanya Zodi. Ia melirik kepada Mala dan Dea yang sudah siap di atas motor mereka. Ia juga bisa melihat Zayn disana.


“Kita ke tempat yang tenang aja, yuk. Biar enak ngobrolnya,” ajak Ibra.


Wajah itu, entah kenapa Zodi merasa wajah Ibra jauh lebih ramah daripada biasanya. Apa pria itu sedang mengasihani dirinya karna kejadian semalam?


“Ayo, Zo.” Zayn seperti tau situasinya.


“Ehm, gimana ya, Kak. Lain kali aja ya. Soalnya lagi buru-buru ini.” Setelah mengatakan itu Zodi langsung meninggalkan Ibra begitu saja. Ia naik ke atas motor Zayn dan duduk manis disana.


Ibra hanya bisa menghela nafas dalam dan membuangnya. Melihat punggung Zodi yang mulai menjauh darinya. Entah kenapa ia kesal sekali melihat kedekatan Zodi dengan Zayn. Ia bahkan hampir mere mas botol minuman yang sedang ia pegang.


Dengan ekspresi kecewa bercampur kesal, Ibra kembali melangkahkan kakinya menuju ke rumah sakit. Ia bukan tidak merasa kalau Zodi seperti sengaja menghindarinya. Tadi juga telfonnya tidak di angkat. Padahal banyak sekali yang ingin ia bicarakan dengan gadis itu.


“Siapa tadi, Zo? Pacarmu?” tanya Zayn ketika mereka di jalan.


“Enak aja pacar. Bukan siapa-siapa. Kakak sepupu,” jawab Zodi sekenanya.


“Ya gak, takut aja kalau ternyata kamu punya pacar. Kan gak enak ngajak jalan pacar orang. Takut salah faham nanti.”


Zodi mengerti apa yang di maksud oleh Zayn. Ia hanya diam saja membiarkan Zayn fokus dengan jalan raya.




*


TBC...