Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 52. Mencelos Sakit.



Zodi masih menatap marah kepada Ibra. Ia benar-benar sedang meledak saat ini. Ia benar-benar telah meluapkan emosinya kepada pria yang masih menatapnya tidak percaya itu.


“Kakak bukan siapa-siapaku. Gak perlu sampai segitunya belain aku. Kakak punya orang yang harus Kakak jaga perasaannya,” ujar Zodi. ‘juga perasaanku,’ bathin Zodi lagi.


“Zo, kita ngomong sebentar, ya?” pinta Ibra meraih tangan Zodi dan hendak mengajaknya pergi dari sana.


Zodi segera menepis tangan Ibra. Nafasnya masih menderu. “Maaf, Kak. Tapi aku mau pulang.”


“Aku anter kamu pulang, ya? Atau, pulang ke rumah aja.”


“Gak perlu. Aku bisa sama temenku. Aku mau pulang ke kos aja.”


Setelah mengatakan itu Zodi segera berlari kecil menghampiri Dea dan Mala yang sudah berdiri sejak tadi di depan lobi.


“Zo! Tunggu!” Ibra mengejar Zodi. “Biar aku anter kamu pulang. Kamu lagi kayak gitu keadaannya.”


“Gak usah, Kak. Sama kami aja. Mending Kak Ibra gak usah deh ganggu-ganggu Zodi lagi. Kasian dia sakit hati terus tiap hari karna kakak.” Celetuk Mala dengan tiba-tiba.


Dan Ibra semakin di buat diam oleh ucapan Mala itu. Ia tidak mengerti maksud teman Zodi itu.


“Ayo, Zo. Bisa bonceng, kan?” tanya Dea. Zodi mengangguk. Dea segera merangkul pundak Zodi dan menuntunnya ke sepeda motornya.


Zodi segera naik ke atas sepeda motor Dea dan ketiga gadis itu langsung pergi meninggalkan area rumah sakit.


Ibra masih terdiam di tempatnya berdiri. Ia masih mencerna kalimat Mala. Zodi sakit hati setiap hari karna dirinya? Kenapa? Apa sikap cueknya sudah menyakiti gadis itu? tapi bukankah Zodi sudah memaafkannya tempo hari? Setau Ibra mereka sudah baikan.


Ibra mengusap kepalanya kasar kemudian berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah sakit.


“Zo, kamu gak apa-apa?” tanya Mala ketika mereka sudah sampai di kos Zodi.


“Aku gak apa-apa. Cuman lecet dikit doang. Sama terkilir. Nanti juga sembuh,” jawab Zodi. Ia di bantu oleh Mala membukakan pintu kamarnya.


“Bukan itu. Maksudku, Kak Ibra. Kalian abis berantem kayak gitu tadi.”


“Tadi itu aku beneran udah meledak, De,” jawab Zodi sambil mendudukkan diri di atas kasur.


“Kenapa?” tanya Mala.


“Rupanya yang berantem sama Zayn itu Kak Ibra.”


“Hah? Serius? kok bisa? Masalahnya apa?!” Mala dan Dea kompak bertanya. Mereka sangat terkejut dengan fakta itu.


“Aku ketemu sama Mas Kis dan dia cerita semuanya. Katanya mereka berantem pas di cafenya Mbak Nilam. Katanya Kak Ibra denger pas Zayn bilang kalau dia deketin aku cuma karna penasaran aja. Kak Ibra marah terus mereka berantem,” jelas Zodi panjang lebar.


Mala dan Dea saling tatap.


“Jadi mereka berantem karna kamu?”


Zodi mengangguk.


“Ya ampun, Zo. Rumit banget sih hidupmu. Masalah ortu, masalah cinta sepihak, belum lagi masalah Zayn. Yang sabar ya besti...” Mala memeluk Zodi hangat. Di ikuti oleh Dea yang juga ikut memeluknya. Kini mereka saling memeluk untuk memberi Zodi kekuatan.


“Aku gak nyangka sih kalau ternyata Zayn kayak gitu. Rupanya dia gak tulus deketin kamu. Aku jadi sebel sama dia. Mukanya aja yang ganteng,” dengus Mala kesal.


“Makanya kita gak bisa menilai seseorang itu dari luarnya. Ganteng belum tentu baik. Ya walaupun ada beberapa yang ganteng, terus baik juga.” Dea ikut menimpali.


“Udah, kamu istirahat aja, Zo. Biar cepet sembuh. Tenang aja, ada kita-kita disini buat jagain kamu,” ujar Dea.


“Maaf ya ngerepotin kalian. Tapi aku gak apa-apa, kok. Masih bisa jalan ini. Kalian kalau mau pulang, pulang aja, gak apa-apa.” Zodi benar-benar merasa tidak enak dengan kedua temannya itu.


“Apaan sih! Kamu itu cuman punya kita. Gak usah sok ngusir-ngusir,” dengus Mala. Memperlihatkan tatapan tajamnya kepada Zodi.


“Tapi ya, kita gak bisa 24 jam ada di sini, Zo. Soalnya kan kita juga harus kuliah.”


“Itulah maksudku,” ujar Zodi.


“Terus motormu gimana, Zo?” tanya Mala.


“Udah di bawakan ke bengkel sama orang yang nolongin aku tadi. Di bengkel dekat rumah sakit,” jelas Zodi.


“Ooh. Ya udah.”


Mereka melanjutkan mengobrol hingga sore tiba. Keberadaan kedua sahabatnya itu benar-benar membuat Zodi teralihkan dari rasa sakit yang mendera tangannya. Juga hatinya.


Teringat dengan pertengkarannya dengan Ibra tadi ketika di rumah sakit. Tatapan pias dan khawatir pria itu terus terbayang di benaknya.


Keseruan obrolan mereka terhenti ketika terdengar ketukan di pintu kamar Zodi yang memang di biarkan terbuka.


“Assalamu’alaikum,,,”


“Wa’alaikum salam, Tante?” Zodi terkejut karna Mia tiba-tiba muncul di depan kamarnya.


“Ya ampun, gimana keadaan kamu sayang? kok bisa jatuh?” tanya Mia yang langsung menghambur ke arah kasur dan duduk di sebelah Zodi.


“Gak parah kok, Tan. Cuma keseleo dikit. Sama lecet ini.” Zodi menunjukkan telapak tangan kanannya yang di perban.


“Kok bisa sih? Ya ampun, Zo,” Mia masih mengkhawatirkan Zodi. Memperhatikan gips di tangan kanan Zodi. “Tau, gak? Waktu Ibra bilang kamu kecelakaan, Tante langsung pulang dari kantor, terus langsung kesini.”


“Tante sama siapa?”


“Sama Ibra. Tuh anaknya di luar.”


Ibra bersandar di luar dinding kamar Zodi. Telinganya tidak pernah teralihkan dari suara yang ada di dalam kamar Zodi. Ia benar-benar mengkhawatirkan gadis itu.


Zodi melihat ke arah pintu. Ia tidak bisa melihat keberadaan Ibra. Namun hatinya kembali mencelos sakit.


“Zo, sementara, pulang ke rumah aja dulu, ya? Kalau disana kan Tante bisa jagain kamu, ngerawat kamu di rumah. Kalau disini kan kamu cuman sendirian. Mau, ya?” tawar Mia. Suaranya lembut dan hangat penuh kasih sayang.


“Gak usah, Tan. Aku gak apa-apa, kok. Beneran.” Sungguh, Zodi tidak ingin merepotkan Mia lagi. Dia benar-benar tidak apa-apa. Tidak butuh perawatan khusus juga.


“Gak boleh gitu, ih. Tante khawatir lho sama kamu. Tante gak tenang kalau kamu di sini sendirian.” Mia masih mencoba merayu Zodi untuk tinggal di rumahnya sementara waktu.


“Gak apa-apa, Tan. Beneran. Lagian ada temen-temen aku juga.”


“Itu kan beda, Zo. Emangnya mereka ini gak kuliah? Mau, ya?”


Tatapan Mia sangat mengharap kepada Zodi. Gadis itu menatap kedua sahabatnya untuk meminta pendapat. Mala dan Dea hanya bisa mengangkat bahu saja. Menyerahkan semua keputusan ke tangan Zodi sendiri.


Zodi menatap Mia. Tidak enak menolak karna wanita itu tulus memintanya. Tapi banyak pertimbangan yang harus Zodi fikirkan. Apalagi kalau bukan Ibra. Kalau begini terus, bagaimana ia bisa sembuh dan melupakan perasaannya untuk Ibra?


“Zo? Mau, ya?” Mia masih mencoba untuk merayu.


Dan pada akhirnya Zodi luluh juga. Bukan apa, dia tidak enak menolak permintaan Mia yang sudah sangat baik padanya itu. Masalah hatinya dan Ibra, tidak usah di fikirkan lah.




*


TBC...