
Satu bulan sejak pertunangan ala kadarnya itu, hubungan Zodi dan Ibra semakin lengket saja. Tidak banyak yang mengetahui tentang pertunangan mereka selain keluarga dekat dan juga kedua sahabat Zodi. Bahkan Nilam juga tidak tau kalau Ibra sudah bertunangan. Ibra sengaja tidak memberitahunya.
Siang ini, Zodi sedang berada di sebuah cafe bersama dengan beberapa orang teman kelasnya. Mereka sedang mengerjakan kerja kelompok yang akan di presentasikan minggu depan. Semua orang sibuk dan fokus dalam mengerjakan tugas. Kecuali Zodi.
Ya, gadis itu sibuk membalas spam chat yang masuk ke dalam ponselnya. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Ibra. Pria itu gemas ketika Zodi tidak membalas pesannya.
‘Kak, aku lagi ngumpul sama anak-anak buat kerkom.’ – Zodi.
‘Udah selesai belum? Kalau udah aku jemput, ya?’ – Ibra.
‘Udah selesai sih. Baru aja. emang Kakak gak capek? emangnya gak ngerepotin kalau jemput aku?’ – Zodi.
‘Ya gak dong. Ketemu kamu malah capekku hilang semua.’ –Ibra.
‘Dasar gombal.’ –Zodi.
‘Hehehe. Sharelok buruan.’ – Ibra.
Dan Zodipun mengirimkan lokasinya kepada tunangannya itu. Setelahnya ponselnya sepi tanpa notif masuk.
Sekitar setengah jam kemudian, Zodi dan teman-temannya masih asyik bercerita kesana kemari. Sambil menunggu kedatangan Ibra yang ternyata lumayan lama juga.
“Wihh,, siapa tuh? Kece parah.” Celetuk salah satu teman Zodi melihat ke arah luar jendela.
Sontak semua orang melihat keluar. Disana, ada seorang pria yang berhenti di depan cafe. Pria itu mengendarai sepeda motor lengkap dengan jaket hitam dan helm full face yang menyembunyikan wajahnya. Siapapun bisa melihat aura keren yang terpancar dari sosok pria itu. Bahkan Zodi ikut penasaran ketika melihatnya.
“Wiih. Gila. Keren bangetttt... udah punya cewek belum ya?”
“Itu boncengan nganggur gak ya? Jadi pengen di bonceng.”
Sementara para pria hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja melihat para gadis yang terpesona oleh pria asing itu.
Zodi terus saja melihat ke luar. Ia seperti familiar dengan bentuk tubuh itu.
“Lho? Bukannya itu Kak Ibra? Gila, keren parah sih kalau ini.” Celetuk salah satunya setelah Ibra melepas helemnya.
Bagaimana dengan jantung Zodi? Apakah aman? Tentu saja tidak. Ia tidak menyangka kalau Ibra akan menjemputnya dengan sepeda motor. Mana keren banget lagi.
“Ngapain Kak Ibra kesini, ya?”
“Mau jemput ceweknya kali.”
“Ceweknya bukannya Mbak Nilam, ya? Tapi kan Mbak Nilam gak ada disini.”
Mereka asyik menduga-duga tujuan kedatangan Ibra. Sementara Zodi sedang membalas pesan masuk yang di kirimkan oleh Ibra ke ponselnya.
‘Udah selesai, kan? Sini keluar.’ –Ibra.
‘Oke. Sebentar, Kak.’ –Zodi.
“Temen-temen aku balik duluan, ya.” pamit Zodi kepada teman-temannya.
“Lho? Kok buru-buru, Zo?”
“Iya, masih ada urusan lagi. Daaahh..” Zodi tersenyum sumringah kepada teman-temannya kemudian berjalan keluar dari dalam cafe. Ia terus berjalan menghampiri Ibra yang tentu saja sedang tersenyum menyambuut kekasih hatinya.
Melihat Zodi yang menghampiri Ibra, sontak membuat teman-teman Zodi langsung ternganga saja. Tidak menyangka kalau ternyata Ibra datang untuk menjemput Zodi.
“Kenapa lihatinnya begitu?” tanya Ibra sambil memasangkan helm ke kepala Zodi.
“Lain kali jangan begini.” Wajah Zodi terlihat sangat serius.
“Lho, kenapa?”
“Jangan terlalu keren. Di lihatin cewek-cewek tuh. Mereka sampai terpesona sama Kakak.” Dengus Zodi.
Ibra hanya terkekeh saja. Lucu melihat wajah cemburu tunangannya. Ia tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mencubit mesra pipi Zodi.
“Kalau kamu, terpesona gak?”
“Pakai nanya? Ya jelas, lah.”
“Hahahahahha. Ya ampun. Lucu banget sih calon istri aku. Udah yuk, naik. Udah mau ujan, tuh.”
Zodi segera naik ke belakang Ibra. Dan motor Ibra segera melaju menembus jalan raya.
“Kok tumben pakai motor, kak? Mobil Kakak kemana?” tanya Zodi sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Ibra.
“Bukan gitu. jantungku gak aman kalau Kakak ajak naik motor.” Jujur Zodi. Karna memang detak jantungnya sedang meningkat saat ini.
“Hahahahahha. Udah dong lucunya. Aku nikahin juga kamu sekarang.”
“Eit. Mohon bersabar.”
“Mau kemana dulu, gak?”
“Gak deh, Kak. Ke kos aja. lagian udah mau ujan ini.”
“Hujan-hujan enaknya makan mie buatanmu, sayang.”
“Idihhh, modus.”
Seketika motor Ibra menepi di sebuah minimarket.
“Kenapa berhenti di sini, Kak?” tanya Zodi heran.
“Mau beli mie biar dimasakin kamu.” Jawab Ibra.
“Ya ampun. Di rumah juga masih ada dua bungkus.”
“Gak apa-apa. sekalian beli camilan buat nemenin kamu nugas kalau malam.”
“Aduh, perhatian banget ini calon suami.” Kekeh Zodi.
“Harus dong.”
Tidak lama mereka sudah keluar dari dalam minimarket sambil memabwa satu plastik sedang berisi makanan ringan dan juga mi instan. Setelah itu Ibra kembali melajukan sepeda motornya menuju ke kos Zodi.
Tepat setelah Ibra memarkirkan sepeda motornya, hujan lebatpun turun seketika.
“Wah, untung kita udah sampai. Kalau gak pasti udah kehujanan.” Celetuk Ibra. Ia mendudukkan diri di atas kursi ruang tamu.
“Kakak tunggu disini bentar ya. Aku masakin mienya dulu.” Pamit Zodi yang kemudian masuk ke dalam kos.
Mungkin sekitar 15 menit saja Zodi sudah kembali dengan membawa 2 mangkuk mie di tangannya. Ia segera menghidangkannya di atas meja.
“Waahh. Harumnya bikin laper.” Puji Ibra.
“Ya yang namanya mi instan dimana-mana juga wangi, Kak.”
“Tapi ini beda, sayang. buatanmu ini spesial pokoknya.” Seloroh Ibra.
“Kok sekarang jadi pinter ngegombal sih? Siapa yang ngajarin?” tanya Zodi.
“Gak ada yang ngjarin. Otodidak aja.” Ibra melihat ke arah kekasihnya yang nampak sedikit murung.
“Dari tadi aku perhatiin kamunya kayak murung gitu? ada masalah?” selidik Ibra.
Zodi menggeleng tanpa menatap wajah Ibra.
“Kenapa? Bilang aja kalau aku ada salah, biar aku perbaiki. Aku paling gak bisa lihat wajahmu sedih begitu.” Desak Ibra.
“Gak ada yang salah kok, Kak. Cuma agak sedikit cemburu aja.” jujur Zodi.
Ibra mengernyitkan keningnya. “Cemburu? Sama siapa? Apa karna yang kamu bilang tadi? Kalau banyak yang ngelihatin aku pas di cafe?”
Zodi kembali menggeleng. “Bukan itu. entahlah, Kak. Aku sendiri juga bingung harus cerita darimana.”
“Sayang, lihat aku.” Ibra berkata dengan intonasi yang dalam. Membuat Zodi mau tidak mau menatap pria yang duduk di hadapannya itu. “Cerita aja. aku bakalan dengerin semua ceritamu.”
Zodi menarik nafas dalam. Benar ada kekalutan yang memang sedang ia rasakan.
“Aku rada gimana gitu waktu temen-temenku tadi ngiranya kamu jemput mbak Nilam di cafe. Mereka semua ngira kamu pacaran sama mbak Nilam. Aku kesel, wajar gak sih?” akhirnya Zodi mengeluarkan apa yang mengganggu hatinya.
Mendengar keluhan gadis yang sangat di cintainya itu, membuat Ibra justru tersenyum simpul. Ia meraih tangan Zodi dan langsung menggenggamnya erat.
TBC