Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 21. Desiran Itu Semakin Nyata Saja.



Selesai ujian semester kini saatnya libur panjang. Zodi benar-benar bosan di rumah karna ia tidak punya kegiatan apapun. Apalagi sudah dua hari ini Mia dan Ranu pergi ke Jakarta untuk menjenguk orangtua mereka. Tinggallah Zodi di rumah bersama dengan Ibra dan juga Igo.


Dua pria itu, selalu sibuk mengurusi sidang skripsi yang akan di laksanakan akhir minggu ini. Baik Igo maupun Ibra, kedua pria itu benar-benar jarang ada di rumah.


Mau mengajak jalan Mala dan Dea juga percuma. Karna kedua sahabatnya itu pulang kampung. Memanfaatkan waktu libur satu minggu ini.


Zodi sedang membunuh rasa bosan dengan menonton tv di ruang keluarga. Sementara Mbak Yani sedang entah dimana. Jadilah ia sendirian di rumah yang sebesar itu.


Hari sudah beranjak gelap namun Mbak Yani belum juga pulang. Gerimis di luar membuat suasana bertambah mencekam bercampur mistis. Apalagi ketika ia teringat akan film horor yang beberapa waktu lalu ia tonton di bioskop. Jadilah bulu kuduk Zodi perlahan berdiri.


Untuk mengusir suasana yang mencekam itu, Zodi sengaja mengencangkan volume tv. Untungnya hal itu bisa membantu mengurangi rasa takutnya.


Zodi tidak tau ketika seseorang masuk ke dalam rumah dan memanggilnya. Gadis itu tetap fokus melihat tv sambil mendekap bantal sofa dan menggenggam remote.


Hingga sebuah tepukan di pundaknya membuat Zodi langsung berteriak dan berdiri karna terkejut.


“Aaaaaaa!!!!!”


“Ya ampun! Apa-apaan sih? Teriak-teriak?” ujar pria yang nampak mengernyitkan keningnya melihat kewaspadaan dari Zodi.


Untuk sesaat Zodi mematung. Bukan apa, ia hanya ingin memastikan siapa yang sedang berdiri di depannya saat ini. Apa Igo, ataukah Ibra. Ia melihat ke pergelangan tangan pria itu namun tidak memakai gelang.


“Kak,,,,, Igo?” tebak Zodi.


Pria itu hanya menggelengkan kepala sambil berlalu meninggalkan Zodi.


“Kak Ibra? Ya ampun? Kakak siapa?” Zodi benar-benar bingung. Masalahnya pria itu tidak mengenakan gelang yang selama ini menjadi penanda bagi Zodi agar lebih mudah mengenali mereka.


Pria itu menghentikan langkah ketika sudah sampai di depan tangga. Ia berbalik ketika mendengar Zodi yang mengikutinya.


“Udah lama di sini tapi belum bisa juga bedain.”


“Ya karna kalian itu mirip dari segala hal. Makanya aku susah bedainnya, Kak. Serius, memang sesulit itu bedain kalian.” Zodi membela diri. Padahal ia malu jika sampai salah mengenali.


“Coba di lihat lagi dengan seksama.”


Zodi mendekatkan wajahnya untuk meneliti wajah pria di hadapannya. Tanpa di duga, pria itu juga mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka hanya  berjarak beberapa centi saja.


“Perhatikan baik-baik. Kami ada pembedanya,” pria itu agak menyampingkan wajahnya hingga Zodi bisa dengan leluasa memandangi leher jenjangnya.


Zodi baru sadar, ada tahi lalat yang terletak di bawah telinga. Seketika ia teringat ucapan Mia yang pernah menyebutkan kalau salah satu dari putranya memiliki tahi lalat di bawah telinga kiri. Yaitu Ibra.


Deg.


Menyadari kalau yang sedang ada di hadapannya itu adalah Ibra, seketika jantung Zodi berpacu tidak terkendali. Refleks ia memundurkan langkahnya hingga hampir saja terjatuh. Untung saja Ibra segera menaha pinggangnya dan menariknya. Dan akibatnya adalah, kini tubuh Zodi menempel sepenuhnya dengan Ibra.


Astaga. Jantung Zodi sudah jumpalitan tidak karuan. Hal itu membuat otaknya berhenti bekerja sementara dan ia hanya mematung saja sambil menatapi wajah Ibra lekat-lekat.


“Udah ngelihatinnya?” tanya Ibra.


Suara itu membuat Zodi sadar dan segera menjauhkan diri dari Ibra. Wajahnya sudah semerah buah tomat masak. Walaupun ia sudah berusaha menyembunyikannya dengan menundukkan wajahnya, tetap saja Ibra bisa melihatnya. Pria itu menarik sebelah ujung bibirnya ke atas. Tersenyum melihat Zodi yang tersipu di depannya.


“Lagian Kakak kenapa gak pakai gelang, sih?” nampak sekali kalau Zodi sedang mengalihkan suasana canggung itu. Mencari-cari kesalahan Ibra. Itu hanyalah untuk mengalihkan rasa malunya saja.


“Lupa tadi. Ngapain nonton sendirian di rumah? Mbak Yani mana?”


Zodi menggeleng. “Gak tau. Tadi pamitnya mau keluar sebentar tapi sampai sekarang gak balik-balik.”


Zodi menggeleng. Ia memang belum makan. Niatnya menunggu Mbak Yani pulang sehingga ia ada teman makan.


“Cepat ganti bajumu, kita makan di luar.”


Setelah mengatakan itu, Ibra langsung berjalan naik meninggalkan Zodi yang sedang mencerna kalimatnya.


Sambil mengernyit heran memandangi punggung Ibra, Zodi juga melangkah menaiki tangga kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Ia bukan hanya bingung dengan ajakan makan malam dari Ibra. Jantungnya juga masih berdisko di dalam sana karna kejadian sesaat tadi. Desiran itu semakin nyata saja. Sepertinya ini tidak baik untuk jantungnya.


Lima menit kemudian Zodi sudah selesai mengganti baju. Setelah itu segera keluar setelah menyambar tas kecilnya dari gantungan.


“Udah?”


Lagi-lagi, Zodi di buat terkejut dengan keberadaan Ibra yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Entah sedang apa pria itu.


“Kak, Kakak bisa gak sih jangan ngagetin terus kayak gitu? Jantung aku hampir copot, Kak. Yang tadi aja belum reda,” dengus Zodi protes.


“Salah sendiri. Nonton tv suaranya udah kayak orang mau hajatan. Di panggilin udah gak denger. Giliran di tepuk, malah kaget.”


Bukan, bukan itu maksud Zodi. Dia sudah tidak mempermasalahkan keterkejutkannya ketika Ibra baru datang tadi. Tapi ketika mereka menempel tadi, jantung Zodi lebih parah dari ketika ia terkejut.


“Serem di rumah sendirian. Mana Mbak Yani gak balik-balik, lagi.”


Dan yang sedang di bicarakan muncul. Mbak Yani baru saja masuk ke dalam rumah dengan menenteng plastik belanjaan dari sebuah minimarket.


“Pada mau kemana, Mbak?” tanya Mbak Yani dengan wajah tanpa dosanya.


“Mau keluar, Mbak. lagian Mbak Yani sih, lama banget. Jantungan aku di rumah sendirian, Mbak.” Zodi segera memprotes asisten rumah tangga itu.


“Hehehehhe. Ya maaf, Mbak Zodi. Tadi ketemu temen jadinya ngobrol dulu, deh.”


Zodi melirik sekilas kepada Ibra yang sedang menunggunya. Takut Ibra marah, ia segera berlari menyusul pria itu.


Sesampainya di luar rumah, Ibra mengulurkan tangannya meminta sesuatu kepada Zodi. “Mana kunci motormu?”


“Mau pakai motorku, Kak?”


Ibra hanya mengangguk saja.


Tak banyak tanya, Zodi merogoh tasnya dan memberikan kontak motornya kepada Ibra. Walaupun dengan kening bekerut karna tidak mengerti kenapa Ibra memilih naik motor.


Motor segera melaju sesaat setelah Zodi duduk di belakang. Ibra yang mengemudikan motornya. Sungguh, jantung Zodi kembali di buat jumpalitan. Banyak andai-andai yang bermunculan di kepalanya.


Seandainya Ibra belum punya kekasih. Seandainya ia punya kesempatan untuk merasakan kebersamaan bersama dengan pria itu sebagai pasangan kekasih. Seandainya,,,,, seandainya,,,,


Hati kecil Zodi tetap menolak apapun yang muncul di fikirannya saat ini. Ia sedang berusaha keras untuk tidak jatuh lebih dalam kepada pesona Ibra. Tapi dia bisa apa sementara pria itu terus ada di dekatnya seperti ini.




*


TBC...