
Sejak perjalanan ke Solo seminggu yang lalu, Zodi dan Zayn semakin dekat saja. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Ya walaupun tidak hanya berdua saja melainkan ada Mala dan juga Dea.
Dan sudah satu minggu ini, Zodi terang-terangan menghindari Ibra. Ia bahkan tidak pernah membalas pesan yang dikirimkan oleh Ibra ke ponselnya. Apalagi sampai mengangkat telfon dari pria itu.
Zodi telah bertekad untuk memaksa dirinya menjauh dari Ibra. Ia tidak ingin terus merasakan sakitnya cinta sepihak. Sialnya, ketika ia sudah bertekad dengan batasannya, Ibra justru lebih aktif menghubunginya. Setiap hari mengiriminya pesan meminta untuk bertemu. Bilang kalau mereka perlu bicara.
Sejak pulang kuliah tadi siang, Zodi hanya tiduran saja di dalam kamar kosnya. Padahal sore ini ia ada janji dengan ayahnya dan juga Ocha untuk makan malam bersama. Memikirkan berada di antara mereka sudah membuat hati Zodi terasa seperti di tusuk-tusuk.
Setelah malam itu, malam dimana Miko dengan tegas meminta kepada Ranu dan Mia untuk menyembunyikan status dirinya, hati Zodi sudah terluka. Kasih sayang yang perlahan tumbuh untuk sang ayah kini mulai memudar. Mengambang dan menghilang entah kemana. Apa yang labih sakit daripada menjadi anak yang tidak ingin di akui? Seluruh harga diri Zodi seolah hancur berkeping-keping. Bukan oleh Ibra atau orang lain, melainkan oleh ayahnya sendiri.
Ayah yang selama ini ia rindukan. Ayah yang selama satu tahun ini ia hormati. Ayah yang ia kira bisa menjadi rumah keduanya setelah ibu, ternyata rumah itu tidak menginginkannya.
Zodi hancur. Di tambah dengan Ibra yang terus menerus menerornya tanpa henti minta bertemu. Entah apa yang ingin pria itu bicarakan. Padahal mereka sudah tidak punya urusan penting satu sama lain. Jadi tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.
Tok, tok, tok!
Terdengar pintu kamar Zodi di ketuk. Dengan malas ia bangun dan membukanya.
“Mbak Sofi? Kenapa, Mbak?” tanya Zodi ketika mendapati kakak kosnya itu berdiri di depan kamarnya.
“Itu ada yang nyariin kamu, Zo. Di depan.” Sofi memberitahu.
“Siapa, Mbak?” tanya Zodi kembali.
“Kurang tau. Tadi pas aku pulang kerja dia pesen buat nyuruh kamu turun nemuin dia.”
Zodi nampak menghela nafas sebentar. Entah kenapa ia merasa itu adalah Ibra. Ada rasa malas untuk menemui
pria itu. Tapi melihat Ibra yang bahkan sampai datang ke kosnya, sepertinya ada suatu hal yang benar-benar penting untuk di bicarakan. Memikirkan itu, ia jadi penasaran juga.
“Iya, makasih ya, Mbak.”
Sofi hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Zodi segera keluar dan mengunci pintu. Ia akan menemui Ibra kali ini saja karna merasa itu sangat penting. Ia
berjalan keluar area kos. Ia bisa melihat mobil Ibra yang terparkir di depan kos. Melihat kedatangan Zodi, Ibra langsung turun dari mobil. Nampak wajah leganya ketika melihat Zodi.
“Zo? Susah banget mau ketemu kamu aja,” ujar Ibra sambil tersenyum.
“Lagi sibuk, Kak. Belakangan banyak tugas,” tentu saja itu hanya alasan Zodi saja. Dia tidak sesibuk itu. Bahkan beberapa hari ini tidak ada tugas dari dosen pengampu mata kuliah. Itu hanya alasannya saja untuk menghindari Ibra.
Sungguh, ia tidak ingin lagi terluka.
‘Lepaskan yang membuatmu sakit.’
Zodi berpegang pada kalimat yang pernah di ucapkan oleh Dea itu beberapa waktu yang lalu. Entah sejak kapan semua menjadi kacau begini.
Sejak malam itu. Sejak igo mengungkapkan perasaan padanya. Sejak ia mendengar kebencian Ibra yang lantang di telinganya. Dan sejak ia mengungkapkan perasaan pada Ibra. Sejak saat itu semua menjadi kacau. Rencana rencana yang sudah ia susun rapi pun ikut berantakan.
“Kakak ngapain kesini?” tanya Zodi memecah keheningan yang sempat menghampiri. Ia sudah berusaha bersikap secuek mungkin. Bahkan ia tidak berani menatap Ibra lama-lama.
“Balik, yuk.”
Kalimat itu membuat Zodi mendongak dan menatap Ibra. Keningnya berkerut. Mencari sesuatu di dalam netra pria itu.
“Pulang ke rumah,” lanjut Ibra. Wajahnya serius dengan ujung bibir yang tertarik ke atas. Berusaha menunjukkan keramahannya.
Zodi terdiam. Ia hanya menatap Ibra dalam. Ia mengeratkan giginya untuk menetralkan air mukanya.
“Kak Ibra ngapain repot-repot kesini kalau cuman mau bilang itu? aku udah nyaman tinggal di sini, Kak. Jadi maaf, aku gak bisa ikut Kakak pulang,” tegas Zodi.
“Zo, tolong jangan gini. Kamu kayak lagi marah sama aku. Aku ada salah apa sama kamu? Beberapa hari ini kamu terus ngehindarin aku. Aku tau kamu marah karna perkataanku tempo hari. Aku udah minta maaf. Aku sama sekali gak benci sama kamu,” terang Ibra dengan raut wajah bersungguh-sungguh.
Marah? Benarkah Zodi marah karna ucapan Ibra waktu itu? bukan karna hal lain?
Zodi tetap tidak bisa membohongi hati kecilnya sendiri. Ia memang sakit hati mendengar itu, tapi ia jauh lebih sakit ketika mencintai tanpa mendapat balasan.
Sebenarnya ia hanya terlalu malu, sampai rasa malu itu berubah menjadi marah.
Bagaimana ia tidak malu, ia sudah mengesampingkan harga dirinya sebagai seorang wanita, tapi justru penolakan yang malah ia terima. Jadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan harga dirinya adalah dengan marah. Sebenarnya juga ia tidak faham rasa marahnya itu tertuju kepada siapa. Apa benar tertuju kepada Ibra? Atau justru kepada dirinya sendiri untuk menutupi rasa malunya itu.
“Aku udah gak permasalahin itu, kak. Aku cuman udah nyaman aja tinggal sendiri,” Zodi berusaha untuk cari alasan
lagi. Ia benar-benar tidak mau tinggal di rumah itu lagi. Sudah cukup perasaan tidak nyaman yang ia rasakan akibat saudara kembar itu.
“Mama juga pengen kamu balik lagi tinggal di rumah, Zo.” Ibra masih terus mencoba membujuk Zodi.
“Nanti biar aku yang jelasin sendiri sama Tante. Mending sekarang Kak Ibra balik aja. Aku masih banyak tugas yang belum aku selesaiin. Takut gak kekejer nanti. Maaf ya, Kak.” Zodi langsung balik badan dan meninggalkan Ibra begitu saja.
Ibra hanya bisa menatap punggung Zodi yang menjauh darinya masuk ke dalam area kos. Ini bukan seperti yang Ibra harapkan. Ia merasa kalau Zodi benar-benar marah padanya. Ia tidak suka melihat Zodi menghindarinya.
Ibra menghela nafas berat kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Termenung menatap kosong ke depan. Masih banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Zodi. Tapi sepertinya gadis itu masih belum mau memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.
Ibra mengusap wajahnya prustasi. Berfikir, sejak kapan semua menjadi kacau begini. Memang ini salahnya. Kalau saja sejak awal ia bisa bersikap sedikit lebih hangat kepada Zodi, gadis itu tidak mungkin salah faham seperti ini.
Tidak bisa serta merta menyalahkan sifat dingin yang Ibra miliki. Karna itu memang sudah bawaan, mau bagaimana lagi. Ia tidak nyaman bersikap hangat kepada semua orang.
*
TBC...