
Zodi dan Igo berputar-putar sampai beberapa kali di jalanan komplek. Sementara di rumah, Ibra sedang sibuk bermain game di ponselnya di ruang keluarga.
Tidak lama kemudian mobil Mia nampak memasuki halaman.
“Kok sepi? Pada kemana?” tanya Mia yang ikut mendudukkan diri di seberang Ibra.
“Igo lagi motoran sama Zodi.” Jawab Ibra yang kemudian mematikan ponselnya dan menyalami mamanya.
“Motornya udah dateng?”
Ibra mengangguk.
“Ya udah. Mama mau mandi dulu. Sambil nunggu mereka pulang. Abis itu kita makan.”
Seiring Mia yang berjalan masuk ke kamarnya, Ibrapun pergi ke taman samping untuk menelfon seseorang. Nampak serius sekali. Dan lama. Bahkan ketika Igo dan Zodi kembali, Ibra masih betah bertelfonan entah dengan siapa.
“Jadi, besok mau langsung bawa motor ke kampus?” tanya Igo ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah.
“Gak dulu, Kak. Aku masih belum berani bawa di jalan besar. Soalnya kan banyak kendaraan lain. Takut.”
“Pelan-pelan aja. belajar dulu. Nanti kalau udah bener-bener bisa, baru deh. Kakak juga gak tega biarin kamu bawa motor sendiri. soalnya masih kaku.”
“Hehehehhee.”
“Hai sayang? Gimana? Udah bisa naik motornya?” sapa Mia ketika baru keluar dari kamarnya.
“Udah lumayan bisa, Tan. Soalnya di ajari juga sama Kak Igo.”
“Pelan-pelan aja belajarnya.”
“Iya, Tan.”
“Ibra mana? Panggil gih, biar kita makan Malam,” pinta Mia.
“Biar Zodi yang panggilin, Tan. Kayaknya tadi ada di taman.” Zodi menawarkan diri. Mumpung ia sedang merasa senang kali ini. Ia akan mengabaikan sikap dingin Ibra.
Sebenarnya tadi Zodi sempat mengira kalau yang membantu menurunkan motornya adalah Ibra. Tapi kemudian ia di sadarkan dengan pakaian rapi yang di kenakan oleh Igo. Dan ia segera menyadari kalau itu adalah Igo. Karna tadi Ibra hanya mengenakan celana pendek dan kaus saja.
Ah, benar-benar. Zodi membutuhkan sesuatu untuk bisa membedakan mereka berdua. Bahkan sampai sekarangpun, Zodi masih kesulitan membedakan keduanya. Sampai detik ini, baru bagain suara saja yang berhasil di bedakan oleh Zodi. Suara Ibra tedengar lebih berat ketimbang suara Igo.
“Sorry. Tapi besok aku sibuk. Lusa udah makrab jadi banyak yang harus di siapin. Kapan-kapan aja, ya?”
Zodi menghentikan langkahnya setelah ia mendengar suara Ibra. Pria itu, nampak sedang serius menelfon sampai Zodi tidak berani mengganggunya. Bahkan, ini adalah kalimat terpanjang Ibra yang pernah Zodi dengar.
Ibra nampak menutup sambungan telfon kemudian menoleh tanpa sengaja karna ia merasakan ada seseorang di dekatnya. Dan ketika itu, netra keduanya bertemu sepersekian detik sebelum Zodi mengalihkan pandangannya. Sementara Ibra masih terus melihat kepada Zodi.
“Kak, di suruh Tante makan,” akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Zodi.
“em. Makasih,” jawab Ibra kemudian ia bangun dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Zodi hanya memandangi punggung Ibra yang sudah melewatinya. Teringat dengan suara lembut pria itu ketika bertelfon tadi. Dan ia menduga, itu adalah Nilam. Kekasih Ibra.
“Papa mana, Ma?” tanya Ibra begitu ia ikut bergabung di meja makan.
Zodi yang muncul di belakang Ibra langusng membantu Mbak Yani menyiapkan makan Malam.
“Papa lembur Malam ini. Kita makan duluan aja.”
bahkan mencuci piring. Seperti merasa kalau itu sudah menjadi tugasnya, sejak kedatangan Zodi di rumah itu, ia selalu mencuci piring setelah makan. Pokoknya, ia membantu pekerjaan apa saja yang bisa di kerjakan.
Begitulah caranya berterimakasih kepada keluarga Mia yang sudah mengijinkannya tinggal di sana. Setidaknya ia harus tahu diri.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Zodi menonton tv sendirian. Awalnya ia ingin bercengkerama dengan Mia, tapi wanita paruh baya itu sedang banyak pekerjaan dan fokus di ruang kerjanya.
“Zo? Mau ikut, gak?” suara Igo membuat Zodi langsung menoleh kepada pria itu. Igo nampak sudah siap dengan setelan olahraganya. Ia mengira itu Igo karna Ibra tidak mungkin mengajaknya seperti itu.
“Kak Igo mau kemana?”
“Tanding volly. Ikut, yuk. Jadi suporter tim Kakak.”
Dan tawaran itu terdengar sangat menarik. Kebetulan, olahraga volly merupakan olahraga yang Zodi sukai. Ia segera mengangguk dan bangkit dari duduknya.
“Bentar ya, Kak. Aku ambil tas dulu,” pamit Zodi yang langsung melesat naik ke kamarnya. Tidak lama kemudian ia sudah turun kembali dan siap untuk pergi.
Zodi dan Igo pergi bersama menuju ke tempat pertandingan. Hal yang tidak pernah di duga oleh Zodi adalah, ternyata Ibra juga ada disana. Ikut bertanding di tim yang sama dengan Igo. Ia baru ingat, kalau Mia pernah mengatakan, segala tentang mereka itu, sama. Cuma sifat yang berbeda. Hanya saja Zodi tidak menyangka kalau ternyata Ibra juga menyukai volly sama seperti Igo. Benar-benar pinang di belah dua.
“Kamu duduk di sana aja. itu semua temen-temen kami.” Igo menunjuk ke arah tribun penonton dimana sudah ada banyak orang di sana. Termasuk para gadis yang dengan semangat meneriaki Igo dan Ibra juga tim mereka yang lain.
Zodi duduk di tribun bersama dengan teman-teman Igo dan Ibra. Banyak yang tidak ia kenal. Hanya beberapa saja yang wajahnya familiar baginya karna sempat menjadi panitia ospek.
Pertandinganpun sudah di mulai. Riuh dukungan dari suporter kedua tim memenuhi stadion kecil itu. dan Zodi mulai terbawa suasana sekitarnya. Ia juga ikut riuh memberikan sorakan dan dukungan untuk tim Igo dan Ibra.
“Ayo Kak Igo!!! Ayo Kak Ibra!!!!” begitulah teriakan Zodi.
Sesekali, Igo nampak melambaikan tangan dan tersenyum lebar kepadanya. Membuat beberapa pandangan tak suka terhujam padanya. Sedangkan Ibra, hanya sesekali melirik tanpa ekspresi yang berarti kepada gadis itu.
Pertandingan itu berakhir dengan skor 2:1 yang di menangkan oleh tim Igo dan Ibra. Sontak saja sorak-sorai pendukungnya kembali bergema. Beberapa bahkan sampai turun ke lapangan untuk memberikan selamat. Begitu juga dengan Zodi. Ia segera menghampiri Igo yang berada lebih dekat dengannya. Sedangkan Ibra nampak sedang membersihkan keringatnya di seberang lapangan.
“Zo!” teriak Igo tiba-tiba sambil melempar pelan bola volly ke arah Zodi. Reflek Zodi langsung menangkisnya dan mengopernya kempali kepada Igo. Pria itu nampak tercengang setelah menangkap bola. “Kamu bisa main volly?” tanyanya kemudian.
Dengan wajah malu-malu Zodi menganggukkan kepalanya. “Bisa, Kak.”
“Wah, gak nyangka. Pernah main?”
“Dulu waktu SMA sempet jadi pemain juga yang wakilin sekolah.”
Mendengar itu Igo bertambah menatap kagum kepada gadis itu.
Dulu, Zodi memang merupakan atlet volly ketika di SMA. Ia sering bertanding untuk mewakili sekolahnya. Dia juga termasuk pemain inti di timnya.
“Keren. Kapan-kapan kita main bareng, ya?”
“Boleh,” Zodi mengangguk setuju.
*
TBC...