
Senin pagi yang membuat semangat Zodi acak-acakan. Entah apa masalahnya pagi ini, ibu dosen terus-terusan uring-uringan tidak jelas. Satu kelas kena damprat hanya karna masalah sepele, memakan permen di kelas. Padahal biasanya di perbolehkan.
Dan sialnya, Zodi jadi kena getahnya juga. Perkara ia permisi hendak ke kamar mandi, kok jadi di marah-marah juga.
Zodi, Dea, dan Mala sedang duduk lemas di taman fakultas setelah jam pelajaran pertama selesai. Mereka jadi tidak semangat lagi.
“Kayaknya Bu Lusi lagi ada masalah sama suaminya,” ujar Dea dengan nada lemas.
“Yang masalah suaminya kok kita yang kena,” dengus Mala yang masih merasa kesal.
“Iya, gak pernah-pernahnya Bu Lusi kayak gini. Biasanya lemah lembut. Lha ini, udah kayak singa,” Zodi ikut menimpali.
Mendengar kata ‘singa’, ketiganya jadi tertawa terbahak-bahak karna membayangkan singa dengan wajah Bu Lusi.
“Abis ini mau kemana, Zo?” tanya Mala.
“Gak ada. Mau rebahan aja di kos. Lemes banget ini badan. Kepalaku juga agak pusing,” jawab Zodi.
“Kamu sakit? Kita anter ke rumah sakit, yuk,” tawar Dea.
“Gak. Mungkin karna kecapekan aja. kemarin aku bersih-bersih kos.”
“Ya udah sana, pulang. langsung istirahat. Bisa bawa motor sendiri? apa perlu di anterin?” tanya Dea lagi.
“Gak usah. Aku masih bisa bawa motor kok. Aku pulang sendiri aja,” tolak Zodi.
“Ya udah kalau gitu. Hati-hati ya, Zo!” pesan Mala.
Zodi hanya mengangguki kedua sahabatnya itu.
Zodi sudah siap melajukan sepeda motornya keluar dari area fakultas. Ia sedang berhenti untuk melihat laju pengendara dari sebelah kanannya ketika tanpa sengaja pandangan matanya menumbuk ke arah sepasang kekasih yang sedang berbicara di pinggir jalan di depan rumah sakit.
Entah kenapa, melihat pemandangan itu membuat hati Zodi terasa panas. Ia sadar sepenuhnya kalau perasaan itu adalah sebuah kecemburuan. Astaga, mengapa begitu sulit mengendalikan sebuah perasaan jatuh cinta?
Bukankah ia sudah mengunci perasaan itu jauh ke dalam sudut hatinya? Tapi kenapa masih saja sering muncul tiba-tiba seperti ini? Apakah dia tidak berhasil menguncinya selama ini? Apa hanya prasangkanya saja kalau ia sudah berhasil menguncinya?
Semakin memikirkan itu semakin membuat dada Zodi semakin panas. Ia tahu ia tidak punya hak untuk merasa seperti itu. Tapi lagi, ia tidak punya kuasa bahkan kepada hatinya sendiri. dia harus bagaimana untuk menghadapi hatinya yang tidak pernah mau patuh kepadanya?
Tanpa di sadari, Zodi mere mas pedal gasnya dengan sangat kuat. Untung saja motor itu tidak melaju dengan sendirinya. Entah kenapa hari ini dia sangat sensitif. Mungkin karna kelakuan Bu Lusi tadi. Di tambah memang kondisi tubuhnya memang sedang kurang fit. Hari ini benar-benar menguras tenaga, fikiran, serta semangatnya.
Zodi segera mengalihkan pandangannya ketika Nilam tanpa sengaja mengalihkan wajah ke arahnya. Ia pura-pura tidak melihat mereka dan segera melajukan motornya bergabung dengan pengendara lain di jalan raya.
“Oh? Itu kan Zodi?” tunjuk Nilam ke arah Zodi yang sudah menghilang di kerumunan kendaraan.
Ibra juga menoleh dan melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nilam, tapi sudah tidak menemukan sosok Zodi.
Zodi langsung melemparkan diri ke atas kasur begitu ia sampai di kamarnya. Perutnya lapar tapi ia terlalu malas untuk bangun dan memasak makanan. Pun untuk sekedar memesan makanan online, ia enggan. Ia hanya ingin tidur dan beristirahat di sisa hari ini. Dan tanpa menunggu waktu lama lagi, ia segera terlelap menuju alam mimpi.
Zodi benar-benar terlelap dan terbuai dalam mimpi. Ia terkejut ketika mendengar ponselnya berbunyi. Dengan malas ia meraba ponselnya dari sampingnya, memicingkan matanya untuk melihat siapa yang sedang menelfonnya.
‘Kak Ibra’
Begitu membaca nama Ibra yang sedang memanggil, mata Zodi tetap tidak mau di ajak kompromi. Ia justru menjadi malas dan tidak mengacuhkan panggilan itu. Ternyata sudah 3 kali Ibra menelfonnya.
‘Aku di depan. Keluar.’
“Ini beneran Kak Ibra disini?” gumamnya tidak percaya.
Untuk memastikan, Zodi segera melompat dari kasur, keluar kamar dan berjalan turun ke bawah.
Dan benar saja, di ruang tamu, sudah duduk sosok Ibra yang sedang menundukkan wajahnya. Pria itu baru mendongak setelah menyadari kehadiran Zodi di depannya. Pelahan, Ibra mengangkat wajahnya ke atas.
“Ya ampun, Kak Ibra kenapa?!” panik Zodi ketika melihat wajah Ibra yang lebam serta bibir yang sedikit sobek. Masih terlihat ada bekas darah disana.
Zodi langsung berjongkok di hadapan Ibra untuk melihat wajah itu dengan lebih seksama.
“Kakak abis ngapain?” selidik Zodi. Menatap khawatir kepada Ibra.
“Berantem,” jawab Ibra singkat. Ia masih tidak berani membalas tatapan Zodi. Ada rasa bersalah sekaligus marah yang sedang menumpuk di dadanya saat ini.
“Sama?”
“Ada. Orang kurang ajar,” jawab Ibra lagi.
Terdengar helaan nafas dari Zodi. Gadis itu berdiri. Tatapan khawatirnya berubah menjadi tatapan kesal.
“Emangnya Kakak anak kecil? Kenapa pakai berantem segala, sih? Kalau udah kayak gini siapa yang repot? Siapa yang sakit? Kakak sendiri, kan?” kesal Zodi.
Kali ini, baru Ibra berani menatap Zodi. Tatapan yang entah. Zodi bisa melihat kalau pria itu juga sedang marah.
“Udah sakit, malah di marahin,” gumam Ibra. Wajahnya berubah memelas.
Jujur, sebenarnya Zodi masih kesal jika mengingat kebersamaan Ibra dan Nilam tadi. Tapi ia juga jadi tidak tega ketika melihat wajah pria itu yang babak belur entah bertengkar dengan siapa.
“Tunggu sebentar di sini,” ujar Zodi sebelum ia menghilang pergi ke dapur.
Tidak lama kemudian, Zodi sudah kembali dengan membawa air mineral kemasan gelas yang sudah menjadi es dengan sebungkus tisu. Ia membungkus es itu dengan beberapa lembar tisu kemudian memberikannya kepada Ibra untuk mengompres wajahnya.
“Nah, kompres muka Kakak itu. Udah bengkak begitu pipinya. Ada-ada aja. udah tua pakai acara berantem segala. Biar apa sih?” Zodi tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomeli pria itu. kesal sekali rasanya.
“Biar.......” Ibra tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
“Hhhhh,” hela Zodi.
Zodi tidak lagi memarahi Ibra yang sedang sibuk mengompres pipi dan bibirnya. Gadis itu mengambil duduk di kursi sebelah Ibra dan terus memperhatikan. Masih berfikir kenapa sampai Ibra berbuat seperti ini. Masalah apa yang melatar belakanginya? Dengan siapa dia berkelahi? Kenapa tadi Ibra nampak sangat marah padanya?
Ingin rasanya Zodi menanyakan semua itu kepada Ibra. Namun tidak jadi karna dia masih kesal. Rasa cemburu tidak mau cepat pergi dari hatinya. Menyebalkan sekali.
“Udah mau maghrib mending Kakak pulang aja,” usir Zodi secara terang-terangan. Bukan apa, jantungnya terus berdegub kencang karna berada di dekat Ibra.
*
TBC...
kalian yang mau bacaan yang lebih berat bisa mampir di akun temenku Mak Ee yaaa. jangan lupa tinggalkan jejak di sana.