
Zodi baru saja keluar dari dalam kelasnya. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat ada Ibra yang sedang berdiri di depannya. Menatapnya dengan tatapan yang entah, ia tidak bisa menerkanya.
Ibra melangkah mendekati Zodi yang masih mematung di tempatnya. Zodi gugup, tentu saja. Apalagi di tambah ekspresi Ibra seperti sedang serius. seperti ada sesuatu yang sudah dilakukan Zodi dan membuat pria itu marah.
“kita harus bicara, Zo. Jangan menghindar lagi,” tegas suara Ibra berkata.
“Aku gak menghindari Kakak, kok. Kakak mau bicara apa?”
“Kita cari tempat yang nyaman.”
“Disini aja, Kak.”
Terdengar Ibra menghela nafas berat. Ia maju satu langkah lagi ke hadapan Zodi.
Gadis itu sudah mati kutu. Memutar otak untuk mencari jalan keluar agar tidak perlu bicara berdua dengan Ibra. Ia malas. Sialnya kali ini tidak ada Dea dan Mala karna mereka lain kelas. Jadi jelas, tidak ada yang akan menolongnya.
“Zo? Kok malah bengong disini? Ayo. Katanya mau ke kantin?” suara Zayn membuat Zodi merasa di selamatkan.
“Maaf, Kak. Kalau gak ada yang penting, aku pergi dulu.” Zodi segera melarikan diri dari hadapan Ibra. Pria itu baru saja hendak membuka mulutnya namun lagi-lagi, Zodi menghindarinya.
Nampak jelas raut kecewa dari wajah Ibra. Ia frustasi memikirkan cara apa lagi untuk ia bisa bicara empat
mata dengan Zodi. Gadis itu terus saja menghindarinya. Apa kesalahannya terlalu besar? Apa tidak lagi ada ruang maaf dari Zodi?
Lamunan Ibra buyar ketika ponselnya berbunyi. Telfon dari Nilam. Ia segera mengangkatnya.
“Ibra, kamu dimana? Ini dokter mau visit. Buruan,” jelas Nilam dari seberang.
“Oke. Aku kesana sekarang,” jawab Ibra kemudian mematikan ponselnya dan segera pergi ke rumah sakit.
Sementara itu di kantin, Zodi sedang duduk bersama dengan Zayn. Pria itu memesankan bakso untuk mereka. Zayn tidak tau betapa Zodi merasa sangat berterimakasih padanya karna sudah menyelamatkannya dari situasi canggung tadi. Ia fikir tadi ketika di kelas Zayn hanya main-main ketika mengajaknya makan di kantin. Dan ia hanya menyanggupinya asal.
“Itu tadi, sepupumu yang kemarin itu kan, Zo?” tanya Zayn membuka percakapan.
Zodi mengangguk. Ia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Kenapa dia kesini?
“Gak tau. Dia gak bilang,” elak Zodi. Ia tidak ingin memberitahu Zayn bahwa Ibra datang untuk menemuinya.
“Zo, besok jalan, yuk. Kemana, gitu,” ajak Zayn.
“Kemana?” tanya Zodi. Ia sama sekali tidak sumringah mendapat ajakan itu.
“Kamu pengennya kemana?” Zayn membalikkan pertanyaan.
“Belum pengen kemana-mana, sih. Lagi gak mood jalan-jalan,” tolak Zodi secara halus. Ia memang sedang malas untuk pergi.
Zayn mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti dengan situasinya. Dan ia tidak ingin memaksa Zodi. Ia harus menunjukkan kesan yang baik kalau mau mendapatkan perhatian Zodi.
“Ya udah, kapan-kapan kalau kamu pengen kemana, kasih tau aku ya. Aku siap jadi supirmu kemanapun kamu mau.”
Zodi tersenyum. “Makasih banyak, Zayn. Nanti aku kasih tau kalau pas lagi pengen jalan.”
Zodi sepenuhnya faham dengan apa yang sedang di lakukan oleh Zayn ini. Ia juga menangkap maksud Zayn bersikap baik padanya. Tapi entahlah, ia tidak bisa serta merta membuka hati kepada teman satu kelasnya itu sementara hatinya belum benar-benar bersih dari nama Ibra. Pun, dia seperti tidak merasakan ketulusan dari netra Zayn.
Ting!
Konsentrasi Zodi buyar ketika mendapat pesan di ponselnya.
‘Aku bener-bener minta maaf, Zo. Tolong maafin aku.’ Dari Ibra.
“Siapa, Zo? Serius amat?” tanya Zayn membuyarkan lamunan Zodi.
“Oh, saudara,” jawab Zodi asal.
‘Kak, udah lah. Aku udah bilang kalau aku udah mafin Kakak. Jadi sekarang udah jelas ya, Kak. Aku gak marah sama Kakak,’ balas Zodi.
Sementara itu di rumah sakit,
“Ibra! Sini!” pekik Nilam dengan suara tertahan. Ia menatap Ibra dengan tatapan heran.
Ibra yang baru tersadar segera mengalihkan fokusnya dari ponsel. Ia menoleh ke belakang dan mendapati hanya Nilam di sana. Kemana rombongannya pergi? Menyadari kesalahannya, ia segera kembali dan bergabung dengan rombongan dokter yang sudah berbelok ke dalam ruangan.
“Kamu kenapa, sih? Kayak banyak banget yang lagi di fikirin sampai gak fokus gitu.” Bisik Nilam.
“Gak apa-apa,” jawab Ibra sekenanya. Padahal fikirannya masih tersita di pesan balasan dari Zodi tadi.
Benarkah gadis itu sudah memaafkannya? Sebelum bertemu dan berbicara langsung, Ibra masih belum yakin. Ia belum puas.
Dan kacaunya, kali ini Ibra benar-benar tidak bisa fokus. Seluruh perhatiannya tertinggal dalam pemikiran yang tidak jelas. Menjalar kemana-mana. Mencari-cari kesalahan. Mencari-cari kalimat yang mungkin tidak akan menyinggung Zodi ketika ia betemu nanti.
Dan hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian Nilam. Gadis itu terus memandangi Ibra yang sejak tadi hanya melamun saja. Tidak seperti biasanya.
“Ibra, nanti malam ke cafeku, ya. Aku ada menu baru jadi harus kamu yang pertama nyobain,” ujar Nilam ketika mereka sedang istirahat di makan siang di kantin rumah sakit.
Ibra hanya mengangguk saja kemudian menyeruput habis minumannya. Setelah itu langsung beranjak pergi dari sana.
Nilam tidak mau ketinggalan, ia juga ikut bangun dan mengikuti Ibra keluar dari kantin.
Kembali ke Zodi, gadis itu baru saja sampai di kosnya. Ia dan Zayn menghabiskan banyak waktu di kantin tadi. Mengobrolkan banyak hal. Dari mulai pelajaran, hingga kehidupan sehari-hari. Mereka saling bertukar cerita. Ternyata Zayn lumayan juga.
Baru saja Zodi hendak memejamkan matanya, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini adalah telfon dari Ocha. Kenapa lagi adik tirinya itu menelfonnya.
“Halo?”
“Mbak? jemput aku dong di asrama,” rengek Ocha tiba-tiba di seberang telfon.
“Kenapa minta jemput?” Zodi malas. Karna ia harus mencari alasan kepada penjaga asrama ketika hendak membawa Ocha keluar dari sana.
“Aku gak betah di sini, Mbak. Mbak-Mbak kosnya galak-galak. Selalu nyuruh kerja ini itu,” adu Ocha langsung. “Jemput ya, Mbak. Aku mau nginep di kos Mbak Zodi malam ini. Soalnya nanti aku mau ketemuan sama pacarku.”
‘Pacar? Baru beberapa hari disini, sudah punya pacar saja.’ Bathin Zodi.
“Mau di jemput jam berapa?”
“Sekarang juga boleh.”
“Ya udah, siap-siap terus. Bentar lagi aku jemput,”
Terdengar sorak senang dari Ocha di seberang. Sebenarnya Zodi malas sekali meladeni anak itu. Ocha, gadis itu benar-benar seperti burung yang baru saja di lepaskan dari sangkarnya. Ia mencoba segala hal yang bisa di cobanya tanpa memikirkan akibat ke depannya. Tapi Zodi bisa apa? ia tidak ingin menambah masalah kalau sampai Ocha mengadukannya kepada ayah mereka.
*
TBC...