Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 6. Wajah Sama, Sifat Berbeda.



Sarapan pagi itu telah selesai. Zodi menyelesaikannya dengan susah payah. Rasanya canggung luar biasa. Bagaimana tidak, mereka adalah orang-orang yang baru di kenalnya. Yang membuatnya lebih canggung lagi adalah, raut wajah Ibra yang tak pernah menunjukkan keramahan sama sekali.


Wajah pria itu selalu datar selama sarapan. Tak banyak bicara walaupun Igo, Mia maupun Ranu bertanya banyak hal kepada Zodi.


“Jadi ambil jurusan apa, Zo?” tanya Igo.


“Kesehatan masyarakat, Kak.”


“Wah, berarti satu fakultas dong sama Ibra?” wajah Igo selalu nampak sumringah saat bicara. Ia menghargai lawan bicaranya.


Zodi melihat Ibra. Pria itu, tetap diam dan hanya melihat ponselnya saja. Sepertinya ia sedang berkirim pesan dengan seseorang.


“Memangnya, kak Ibra jurusan apa?” Zodi memberanikan diri untuk bertanya.


“Pendidikan Dokter,” Mia yang menjawab.


“Ooh. Kalau kak Igo?”


“Kalau aku di Fakultas Ekonomi Bisnis. Jurusan Manajemen,” jelas Igo kembali.


“Ooh.” Zodi mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.


“Udah selesai belum?” barulah suara Ibra keluar. Itupun dengan intonasi yang sangat tak ramah terdengar di telinga Zodi. Sangat dingin.


“Iya, Kak. Udah.” Zodi sampai tak berani untuk menghabiskan sarapannya.


“Ibra, biar Zodi habisin sarapanya dulu dong.” Ranu memprotes kelakuan putranya itu. Ia melihat piring Zodi masih ada makanannya.


“Udah mau telat, Pa.” Ibra beralasan. Ia langsung berdiri dan pergi begitu saja.


Zodi tergesa-gersa merapikan dirinya. Menyambar tasnya dan perlengkapan dari kursi.


“Tante, Om, kak Igo, aku bernagkat dulu ya...” pamit Zodi terburu-buru menyalami Mia dan Ranu kemudian berlari kecil untuk mengejar Ibra yang sudah berada di luar rumah.


“Kak Ibra, tunggu!” teriaknya kemudian. Ia melihat Ibra yang sudah dudu manis di balik kemudi.


Zodi membuka pintu depan dengan ragu. Ia mengintip kepada Ibra. Takut jika pria itu tak berkenan ia duduk di sebelahnya. Karna sepertinya, Ibra tak menyukai keberadaannya.


“Aku boleh duduk di depan, Kak?” ujar Zodi lagi.


“Em.” Jawab Ibra singkat.


‘Em? Jadi boleh apa enggak, sih?’ Batin Zodi.


“Cepetan. Udah mau telat.”


“Oh. Iya.” Zodi segera masuk dan duduk di samping kemudi. Memangku tas dan perlengkapannya.


Sepanjang perjalanan di lalui mereka dalam diam. Tak ada yang bicara. Baik Zodi maupun Ibra. Suasana memang sudah canggung sejak awal. Jadi Zodi bahkan tak berani untuk membuka mulut. Takut Ibra semakin tak menyukainya.


‘Hhh. Kalau begini, lebih baik ngekos sendiri aja,’ kesal Zodi dalam hati. Sepertinya Ibra benar-benar tak menyukainya.


20 menit berlalu dan mobil sudah memasuki kawasan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.


“Makasih, Kak.” Ujar Zodi berterimakasih. Biar bagaimanapun, Ibra sudah berbaik hati membolehkannya menumpang.


Zodi membuka pintu mobil dan keluar. Di luar, ia mengenakan jaket almamaternya beserta atribut. Memasang tag nama di lehernya. Kemudian pita warna-warni di kedua pergelangan tangannya.


Suara pintu di tutup membuat Zodi otomatis menoleh. Di belakangnya, ia melihat Ibra juga sudah mengenakan jaket almamaternya. Pria itu kemudian pergi begitu saja tanpa bicara sepatah katapun pada Zodi. Gadis itu jadi semakin merasa kurang di terima oleh Ibra. Sikapnya terlalu dingin.


“Hei! Mahasiswa baru! Cepetan!” teriak seorang kepada Zodi.


“I-iya, Kak!” Zodi segera berlari untuk berkumpul dengan para mahasiswa yang lain.


Ia berbaris menurut dengan instruksi sesuai jurusan. Ada banyak juga teman-teman sejurusannya.


Mereka sedang berbaris dan mendengarkan pidato sambutan dari seseorang yang sepertinya adalah dosen disana. Entahlah, Zodi tak begitu memperhatikan tadi ketika pria tua itu memperkenalkan diri. Pandangannya terfokus pada seorang pria yang berdiri di belakang podium bersama para panitia ospek yang lain. Pria yang mengenakan jaket almamater dengan ekspresi wajah datarnya.


Ya, ternyata Ibra juga merupakan salah satu panitia ospek di sana.


“Hei, kenalan dong. Aku Dea. Kamu siapa?” bisik teman yang duduk di sebelah Zodi.


“Oh, hai. Aku Zodi Akira. Salam kenal, Dea.” Jawab Zodi ramah. Menyambut uluran tangan gadis bernama Dea itu.


“Aku Mala.”


Mereka bertiga saling bersalaman dan memperkenalkan diri.


Masa ospek di laksanakan selama 6 hari berturut-turut. Di isi dengan berbagai kegiatan pengenalan kampus dan fakultas masing-masing kepada para mahasiswa baru.


Zodi, Dea, dan Mala, yang sudah mulai berteman baikpun berhasil melewati semua rentetan kegiatan itu dengan sangat baik.


Dan tentang Ibra, pria itu sudah berhasil merebut perhatian para gadis dengan ketampanannya. Sikap dinginnya membuat para gadis semakin tergila-gila dengannya.


“Kak Ibra itu gantengnya gak ketulungan. Mamanya ngidam apa ya waktu hamil dia. Ya ampun..” desis Dea pada suatu ketika. Mereka sedang makan siang di kantin dan ada Ibra dan teman-temannya juga disana.


“Menang di muka doang,” jawab Zodi asal.


Hari ini adalah hari ospek berakhir. Sudah pukul 5 sore dan Zodi baru saja selesai membereskan barang-barangnya. Sementara Dea dan Mala sudah selesai dan sedang menunggunya.


“Kamu pulang sama siapa, Zo?” tanya Mala.


“Naik ojek, mungkin.” Jawab Zodi. Soalnya, ia sudah tak melihat mobil Ibra di tempat parkir.


“Bareng aku aja, Zo.” Tawar Mala.


“Ya kali kamu harus muter dulu ke Blok O nganterin aku?”


“Hehehehehe.” Mala hanya cengengesan saja. Memang, rumahnya berada di daerah Kaliurang.


“Gak usah aja, La. Makasih tawarannya.” Tolak Zodi halus. Ia tidak enak merepotkan temannya itu.


“Aku mau nawarin, aku aja pulang ke kos jalan kaki. Hahahhaha.” Dea ikut menimpali.


“Sebelum kamu nawarin, aku udah nolak duluan, De.” Ujar Zodi. Kos Dea berada tak jauh dari kampus.


“Udah pesen ojek, Zo?”


“Belum. Bentar lagi.”


Selesai merapikan barang, ketiganya lantas berjalan menuju ke depan untuk menunggu ojek yang baru saja di pesan oleh Zodi. Kedua temannya itu setia menemani Zodi menunggu ojeknya datang.


Belum juga ojeknya datang, sebuah mobil sedan sudah berhenti di dekat mereka. Seorang pria turun dan langsung menghampiri Zodi.


“Zo! Sorry ya, telat jemput.” Ajak Igo.


Dea dan Mala kompak ternganga melihat pria tampan itu. Pria yang mereka kira adalah Ibra.


“Zo, kamu kenal sama Kak Ibra? Kok gak ngasih tau kita?” desak Mala.


“Dia bukan Kak Ibra. Tapi Kak Igo. Kembarannya Kak Ibra.”


“Ooooh.”


“Kenalin, Kak. Ini Dea, dan Mala. Temenku.” Zodi memperkenalkan mereka kepada Igo.


“Igo.” Dengan ramah Igo memperkenalkan diri kepada kedua teman Zodi.


Kalian bertanya bagaimana Zodi bisa membedakan Ibra dengan Igo? Cara mereka memperlakukan Zodi. Kalau Igo selalu menyambut Zodi dengan senyuman lebarnya. Sedangkan Ibra, Zodi bahkan tak pernah melihat pria itu tersenyum padanya.


“Rupanya Kak Ibra kembar. Mirip banget.” Dea ikut berceletuk.


Zodi hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat kedua temannya itu sempurna melongo. Terkesiap dengan ketampanan Igo.


“Kalau gini, gak dapet Kak Ibra, Kak Igo juga gak apa-apa,” celetuk Mala yang sudah mesam-mesem kepada Igo.




*


TBC...