
Sepeda motor itu sudah mulai melaju di jalan raya yang padat kendaraan.
“Kita ke ring-road aja,” saran Ibra. Ia bermaksud membawa Zodi ke jalan yang tidak terlalu padat dan punya jalur sendiri untuk sepeda motor.
Zodi menuruti. Ia membelokkan sepeda motornya masuk ke jalur ring-road.
Sitttttt!!!
Seketika sepeda motor Zodi berhenti. Hampir saja Zodi di tabrak oleh pengendara motor lain ketika hendak berbelok. Untung saja dengan cekatan tangan Ibra langsung menarik rem kanan.
Jantung Zodi sedang jumpalitan tidak karuan. Ia hampir saja kecelakaan dan itu membuatnya terkejut bukan main. Di tambah, tangan kanan Ibra yang menempel di tangannya. Dan tangan kiri Ibra menempel di dadanya mencegah dadanya menumbuk bagian depan motor.
“Hati-hati. Kamu gak apa-apa?” tanya Ibra ketika ia sudah kembali ke posisi semula.
Berkali-kali Zodi menarik nafas dalam. Tubuhnya masih meremang. Dia hanya memiliki satu jantung dan berdebar untuk dua hal yang berbeda. Hampir kecelakaan, dan sentuhan Ibra. Masih untung jantung itu tidak melompat keluar dari dadanya.
“Zo? Kamu gak apa-apa?” Ibra mengulangi pertanyaannya ketika melihat Zodi yang hanya mematung saja.
Merasa tidak sabar, pun karna motor mereka menghalangi pengendara lain, Ibra segera turun dan menepikan sepeda motor itu dengan Zodi yang masih nengkreng di atasnya.
“Zo?” panggilnya kemudian. Tiba-tiba raut wajahnya berubah khawatir.
“Eh, iya, Kak?”
“Malah ngelamun,” raut wajah Ibra berubah seperti semula. “jadi mau lanjut apa enggak?”
“Jadi, dong.” Zodi masih nampak kebingungan. Ia bahkan tidak tau kapan motornya menepi.
“Ya udah, ayo.”
Zodi menarik nafas sekali lagi. Berusaha memfokuskan diri.
Melihat Zodi sudah bersiap, Ibra lalu naik lagi ke boncengan. Perlahan, Zodi mulai melajukan motornya kembali. Kali ini, dengan fokus penuh.
Setelah satu kali mengelilingi ring-road, kini saatnya Zodi membaur di jalanan biasa. Dengan sangat hati-hati ia menyetir sepeda motornya. Dengan arahan Ibra tentu saja.
Mereka masih di jalan ketika ponsel Ibra berdering. Pria itu mengangkatnya. Berbicara sebentar dengan si penelfon, kemudian menutupnya.
“Depan belok kanan, Zo,” pinta Ibra tba-tiba.
Zodi fikir itu adalah instruksi untuk tetap di jalan raya. Namun tidak, Ibra sedang mengarahkannya menuju ke sebuah cafe. Dan setelah sampai Zodi baru menyadarinya.
‘Ringkel Cafe’
Begitulah nama cafe tersebut yang Zodi baca.
“Masuk bentar yuk,” ajak Ibra dengan suara datar.
Zodi hanya bisa menurut dan mengikuti pria itu.
“Ibra!” panggil seorang pria sambil melambaikan tangannya.
Ibra mendekat kepada mereka. Sementara Zodi kebingungan harus bagaimana. Jadi ia hanya megikuti pria itu saja.
“Sama siapa tuh?” tanya teman Ibra.
Ibra tidak menjawab. Ia hanya menoleh kepada Zodi dan menyadari raut wajah canggung Zodi. kemudian kembali mendekati gadis itu.
“Duduk di sana aja. Pesen apapun yang kamu mau. Nanti aku yang bayar.”
Belum sempat Zodi mengangguk dan Ibra sudah lebih dulu meninggalkannya. Kembali kepada teman-temannya.
Akhirnya, Zodi duduk sendirian di meja yang kosong. Ia memesan es teh sebagai temannya. Sesekali sibuk memperhatikan Ibra yang nampak serius membahas sesuatu dengan teman-temannya.
Tidak lama kemudian, datanglah Nilam dan dua orang temannya. Entah siapa namanya, Zodi tidak mengenalnya.
“Sorry telat. Macet.” Nilam beralasan dan langusng ikut bergabung bersama dengan Ibra dan yang lainnya.
Hampir satu jam mereka membahas sesuatu yang entah apa itu. Zodi tidak mengerti pembahasan mereka. Banyak istilah kedokteran yang tidak di mengerti oleh Zodi.
Zodi merasa sendiri. Merasa di abaikan. Merasa asing. Duduk sendirian seperti orang hilang. Rasa-rasanya ia sudah tidak sanggup lagi menunggu. Jadi setelah membayar minumannya, ia bertekad untuk pamit kepada Ibra. Ia ingin pulang saja. Lagipula ia tidak ingin terlihat bodoh lebih lama lagi.
“Ehm, permisi, Kak Ibra?” panggil Zodi pelan. Namun suara pelannya itu sudah cukup mengalihkan perhatian mereka semua dan menatapnya. “Aku mau pulang duluan.”
“lho? Zodi? Kamu disini juga?” Nilam langsung bertanya. Menatap antara Ibra dan Zodi bergantian.
“Ehm, i-iya mbak. Tadi aku minta tolong Kak Ibra buat ngajarin aku naik motor. Terus kesini,” terang Zodi sedikit berbohong.
Padahal ia tidak pernah meminta tolong kepada Ibra. Pria itulah yang dengan sukarela mengajarinya. Tapi ia harus menjaga dan mencegah Nilam salah faham.
“Ooh, gitu. Jadi dari tadi kamu disini? Kok aku gak ngelihat kamu? Maaf ya, Zo.” Nilam bersungguh-sungguh.
“Gak apa-apa, Mbak. santai aja. Ya udah kalau gitu. Maaf ganggu. Aku permisi dulu.” Zodi melemparkan senyuman kepada Nilam dan yang lainnya.
“Kok buru-buru? Gabung disini aja dulu.” Nilam kembali menawarkan.
“Makasih, Mbak. tapi banyak kerjaan di rumah. Barang-barang dari makrab tadi juga belum di bongkar.” Zodi beralasan. Tidak mungkin ia meng-iyakan ajakan Nilam untuk bergabung dengan mereka. Karna sepertinya mereka membahas sesuatu yang sangat penting.
“Oh, gitu. Ya udah deh. Hati-hati di jalan,” pesan Nilam kemudian.
Zodi mengangguk ramah untuk terkahir kali sebelum keluar dari cafe.
“Eh, tapi. Dia udah lancar kan bawa motornya?” tiba-tiba Nilam bertanya kepada Ibra.
“Belum seberapa.”
“Ya ampun, Ibra. Sana anterin dulu Zodi pulang. Nanti kalau kenapa-napa di jalan gimana?” Nilam nampak mengkhawatirkan Zodi. Bukan apa, Zodi kan saudara Ibra, jadi dia juga harus baik kepada Zodi.
“Iya. Lagian kita juga udah selesai diskusinya,” timpal teman Ibra yang lain.
Ibra hanya mengangguk. Kemudian menyambar ponselnya dari atas meja dan pamit kepada teman-temannya.
“Kamu kok biarin Ibra nganterin cewek itu?” tanya teman Nilam ketika Ibra telah pergi.
“Gak apa-apa. Zodi itu sepupunya Ibra,” terang Nilam. Teman-temannya ber-oh tanda mengerti.
Satu hal yang sampai saat ini Nilam belum tau, yaitu fakta bahwa Zodi tinggal di rumah Ibra.
Zodi sedang mengenakan helmnya ketika menyadari ada seseorang yang tiba-tiba nangkring di belakangnya. Seketika ia menoleh dan mendapati Ibra yang juga tengah mengancingkan pengait di helmnya.
“Kak Ibra ngapain?”
“Mau pulang.”
“Terus mbak Nilam, gimana?”
“Gimana apanya?”
“Kakak ninggalin Mbak Nilam gitu aja?”
“Kenapa memangnya? Udah buruan,” desak Ibra yang jawabannya sama sekali tidak memuaskan untuk Zodi.
Memilih untuk tidak banyak protes, Zodi segera malajukan motornya. Kali ini, ia sudah lebih lihai dari sebelumnya. Juga sudah lebih berani untuk menaikan gasnya dan menyalip-nyalip kendaraan lain.
“Kamu gak nyaman ya di sana?” tanya Ibra begitu mereka sudah sampai di rumah. Hari sudah gelap. Mobil Mia dan Ranu juga sudah terparkir di garasi.
“Kayak orang hilang, Kak. Hehehehhe.”
“Maaf. Aku terlalu fokus diskusi tadi.”
Apa itu? apa Ibra baru saja meminta maaf pada Zodi? Seorang Ibra? Zodi tidak salah dengar, kan?
“Gak apa-apa, Kak. Santai aja,” jawab Zodi pada akhirnya walaupun ia masih merasa heran. Ia merasa sikap Ibra berubah melunak padanya. Sampai minta maaf pula.
Ini pertanda baik. Pertanda bahwa perlahan Ibra mulai menerima kehadiran Zodi di rumahnya. Semoga saja begitu.
*
TBC...