
“Mau makan apa?” tanya Ibra di atas motor yang sedang melaju.
“Apa aja, Kak. Yang penting makan.”
“Bakmi godok?”
“Boleh.”
Dan Ibra segera melajukan motornya menuju ke warung langganannya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di lapak sederhana yang terletak tak jauh dari kampus. Warung sederhana namun nampak sangat ramai oleh pembeli. Untungnya masih ada kursi yang kosong dan mereka segera mengamankannya.
Mereka memesan bakmi godok seperti yang sudah di rencanakan. Karna saking banyaknya pembeli, mereka harus menunggu lumayan lama sampai pesanan mereka jadi.
Sambil menunggu, Ibra sedang sibuk berbalas pesan di ponselnya. Sementara Zodi mengedarkan pandangan mencari hal-hal menarik yang bisa ia lihat.
Dan benar, tatapannya terhenti kepada seorang pria yang mengenakan masker berwarna hitam. Dari matanya, pria itu pasti sangat tampan. Apalagi potongan rambutnya yang menutupi sebagian kening membuat penampilannya seperti artis korea yang menjadi idaman kaum hawa. Termasuk dirinya.
Zodi bahkan tidak berkedip demi menikmati pemandangan indah itu. Bukan hanya dia saja yang terpesona. Tapi para gadis yang ada di sana kompak memperhatikan pria tampan itu. Hingga sesuatu tiba-tiba menutupi pandangan Zodi.
Itu adalah telapak tangan Ibra yang menutupi pandangannya. Seketika Zodi menoleh kepada Ibra yang duduk di sampingnya dengan tatapan heran.
“Jangan ngeliatin dia terus,” kata Ibra. Pandangan mereka bertemu. Ada sesuatu yang tersirat dari tatapan mata pria itu. Tatapan tidak suka.
Deg.
Lagi-lagi, jantung Zodi kembali berdebar tak terkendali. Ingin rasanya ia bertanya tentang maksud pria itu bersikap demikian. Agar semuanya menjadi jelas dan tidak menimbulkan kesalah fahaman nantinya.
Zodi sedang kesulitan untuk mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bisa saja roboh jika Ibra terus bersikap manis seperti ini. Sepertinya ia harus memaksa memberi batasan untuk mereka. Mengurangi jeda pertemuan dan kedekatan di antara dirinya dan juga Ibra.
Perlahan, Zodi menurunkan tangan Ibra. Dia sedang menguatkan diri untuk membahas sesuatu yang harus di bahas secepatnya.
“Kak, aku tuh bingung sama Kakak.”
“Bingung kenapa?”
“Kadang-kadang Kak Ibra tuh sikapnya hangat. Kadang-kadang cuek, dingin banget sama aku. Aku jadi bingung sebenernya sikap asli Kak Ibra tuh yang mana sih? Aku sampai berfikir kalau Kak Ibra tuh gak suka aku tinggal sama kalian. Soalnya terlalu cuek.”
Ibra hanya meresponnya dengan mengernyitkan dahi. Ia tidak mengerti apa maksud ucapan Zodi. Apa memang dia bersikap begitu dingin kepada Zodi sampai gadis itu berfikir seperti itu? padahal ia merasa bersikap biasa saja. Dengan teman-teman yang lain juga dia seperti itu.
“Coba jelasin. Aku gak ngerti. Yang mana yang hangat, yang mana yang dingin?”
“Kayak sekarang ini nih, Kak Ibra banyak keluar suara, ngobrol enak. Jadi kesannya Kak Ibra tuh bersikap hangat. Biasanya kan Kak Ibra lebih banyak diamnya. Cuek. Gak peduli. Seklias kayak Kakak tuh lagi marah sama aku.”
“Siapa yang marah? Aku biasa aja. Ya udah, mulai sekarang aku bakalan sering ngobrol sama kamu.”
Zodi hampir saja terpedaya dengan situasi. Untungnya dia cepat sadar diri kalau ini merupakan situasi yang tepat untuk memperjelas batasan antara mereka.
“Gak perlu, Kak. Lebih baik Kakak tetep bersikap dingin sama aku. Supaya aku gak salah faham nantinya.”
“Salah faham?”
Terjebak. Zodi benar-benar terjebak dan ia tidak menemukan alasan untuk menjawab pertanyaan Ibra. Selain mengakui tentang perasaannya. Dan ia masih sadar untuk bisa menahan diri agar kalimat mengerikan itu tidak keluar dari mulutnya.
“Memangnya sikapku bikin kamu salah faham?”
Untung saja pesanan mereka sudah datang sehingga membuat pembicaraan itu sempat terjeda beberapa saat. Zodi sibuk mengaduk bakminya agar cepat dingin. Sementara Ibra diam saja sambil masih terus menatapi Zodi lekat-lekat.
“Maaf, kalau sikap dinginku bikin kamu salah faham. Aku bukan gak suka kamu tinggal di rumahku. Sama sekali enggak. Udah bawaanku kayak gini. Jadi harap maklum aja.”
Bukan hanya itu yang membuat Zodi salah faham. Sikap hangat Ibra juga membuat Zodi salah faham sehingga perasaan itu perlahan tumbuh di hatinya.
Menyukai diam-diam. Rasa itu sungguh tidak nyaman. Terlebih orang yang di sukai sudah memiliki kekasih. Bagaimana Zodi tidak merasa menjadi wanita yang jahat karna punya perasaan yang tidak seharusnya ada? Sebenarnya Zodi benar-benar tersiksa dengan perasaannya sendiri.
Zodi berusaha untuk tidak terlalu mendengarkan ucapan Ibra. Ia tidak mau hanyut dalam situasi. Ia memilih untuk fokus menikmati makanannya saja daripada harus menanggapi ucapan Ibra.
Terdengar Ibra menghela nafas kemudian pria itupun ikut menyantap makanannya.
Selama makan, sudah berkali-kali Zodi menyeka keringat dengan tisu. Tadi ia terlalu banyak membubuhkan sambal ke makanannya sehingga lidahnya jadi seperti terbakar. Ibra hanya memperhatikan sesekali.
Selesai makan, Ibra segera membayar dan merekapun kembali pulang.
Bahkan sesampainya di rumahpun, Zodi masih merasa kepedasan. Ia merutuki kebodohannya sendiri.
“Aku janji gak akan bersikap dingin lagi sama kamu,” kata Ibra ketika Zodi selesai membuka helm dan meletakkannya di atas rak. Gadis itu sedang mematung.
Bagaimana tidak, saat ini Ibra sedang mengacak puncak kepalanya dengan sangat manis. Seperti seorang kekasih. Zodi benar-benar hampir tidak bisa mengendalikan diri.
Ketika kesadarannya kembali, ia segera menggeser kepalanya menjauh dari tangan Ibra.
“Tolong jangan begini, Kak. Lebih baik Kak Ibra tetep cuek sama aku. Itu lebih baik daripada Kakak bersikap begini. Aku jadi salah faham sama sikap Kak Ibra. Aku gak mau berfikir kalau Kakak suka sama aku. Dan aku gak mau jadi perusak hubungan orang.”
Setelah berkata begitu, Zodi langsung pergi begitu saja meninggalkan Ibra yang masih terdiam mencerna kalimat panjang Zodi barusan.
“Perusak hubungan orang?” gumam Ibra seorang diri.
Sementara Zodi berjalan cepat dan masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintunya rapat kemudian melemparkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi tengkurap.
Astaga, apa dia baru saja menyatakan perasaannya? Ya walaupun secara tidak langsung.
“Semoga Kak Ibra gak ngeh sama ucapanku. Ya ampun, Zo. Goblok banget sih, kamu. Pakai ngomong kayak gitu segala,” rutuk Zodi pada dirinya sendiri.
Sepertinya setelah malam ini hubungan mereka akan berbeda.
Tapi itu baik. Setidaknya Zodi punya pembenaran untuk menjauh dari Ibra. Pembenaran kalau ia malu telah bicara omong kosong kepada Ibra. Ya walupun pria itu entah mengerti atau tidak dengan maksud Zodi yang sebenarnya.
Sepertinya Zodi memang harus tegas pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin lembek dan lemah terhadap perasaan yang bertepuk sebelah tangan ini. Karna rasanya begitu menyakitkan. Apalagi ketika melihat Ibra dan Nilam yang terlihat mesra di beberapa kesempatan.
Apa hak dia merasa seperti itu? merasa sakit melihat mereka? Lucu sekali.
*
TBC...