
"aku akan menemui mr. patel" ucap james pagi itu
"ok" hati hati lah
"mmm" sambil mengecup kening lusi lalu pergi dengan mobilnya
*nh*
"jully".... aku akan keluar menemui alice sebentar, aku minta jaga aaron untuk ku sebentar
"baiklah" kau juga berhati hatilah
"iya"
Lusi menemui alice di tempat ia bekerja, food center yang penuh kenangan indah bersama alice. Tempat dimana ia pernah berlari dari wajah suaminya dari kenyataan pahit yang harus ia terima dan disana juga ia mulai berhubungan dengan edward.
"hai al"...
"lusi"... aku sangat merindukanmu lus, kau tahu aku seperti kehilangan banyak tenaga tanpa mu...
"aku juga merindukanmu" sambil berpelukan seperti menguatkan satu sama lain
"aku benar benar frustasi dengan keadaan yang kita alami saat ini", kenapa bisa seperti ini
"tidak ada yang tahu bagaimana kisah kita kedepannya al"...
"bagaimana kondisi anna? "
"dia baik" masih dalam perawatan karen dan ayahku
"james? "
"dia cukup tegar dan kuat menghadapi masalah ini".... aku pikir aku tidak bisa berdiri tanpa dia disampingku... aku hanya berharap dia baik baik saja
"dan aaron? "
"dia baik" semakin hari dia semakin tumbuh besar dan sangat menggemaskan, ia jantungku al...
"aku senang mendengarnya" ucap alice
"apa kau mendapat kabar tentang edward? "
"ya"....pria gila itu... aku tidak menyangka akan seburuk ini, aku benar benar kecewa padanya, aku pikir aku benar benar tertipu dengan wajah dan bicaranya, dia benar benar payah
"apa dia masih dipenjara? "
"ya"... bahkan kelompoknya hampir lenyap semuanya... kau tahu ia dipindahkan ke penjara bastille...
"what? " bastille?
"ya" penjara yang hanya dihuni oleh penjahat kelas kakap..
"ia pantas menerimanya" mungkin ia akan sadar akan kesalahannya selama ini
"aku harap begitu" sesalnya hanya ia gunakan untuk menunggu kematiannya... ia sedang berhadapan dengan mautnya sendiri...
"apa kau pernah menjenguknya? "
"untuk apa? " bahkan melihat wajahnya saja aku sudah muak...
"aku akan pindah"
"what? "
"ya" swiss adalah pilihan james, kami akan memulai kehidupan baru disana, dia ingin meninggalkan semuanya di sini, mungkin dia lelah dan tak ingin aku terluka kembali...
"lusi"...aku akan sangat merindukanmu.. nomor telpon mu jangan diganti, jika kau ingin mengganti maka hubungi aku dahulu..
"baiklah"
"lusi"...kau satu satunya teman baikku dan sekarang kita akan terpisah..
"aku hanya pindah, tidak meninggalkan mu"
"aku akan merasa kesepian lus" alice akhirnya mengeluarkan bulir air matanya, mengetahui sahabat nya akan pergi jauh
"kau akan mengunjungi ku al"...
"ya"..pasti.. aku akan berkunjung kerumahmu saat natal nanti...
"ya"...aku akan sangat menantikan hari itu
"love you lus" ucap alice sambil memeluk sahabat sekaligus saudaranya itu yang akan berpisah dalam jarak dan waktu cukup lama
*nh*
Akhirnya dengan kaki yang gemetar lusi pergi ke bastille tempat edward di tahan, terdengar sedikit menyeramkan karna penjara itu sangat jarang dikunjungi oleh tamu napi. Hanya polisi yang hilir mudik yang ramai disekitar kawasan bastille.
Lusi masuk dan bertanya kepada salah satu penjaga tahanan tempat dimana ia bertemu dengan salah satu napi bastille.
"silahkan masuk ke ruang tunggu, anda akan diperiksa terlebih dahulu"
"baiklah" terimakasih
Lusi diperiksa dengan metal detektor bahkan seluruh tubuhnya diperiksa jika ia membawa barang atau benda berbahaya dan mencurigakan. Hingga akhirnya ia dipersilahkan untuk menunggu di ruang tunggu.
"kenapa kau ingin menemuinya? " tanya salah satu penjaga, bahkan ia tak pernah dikunjungi selama ini
"aku tidak pernah menganggap dia musuhku" aku hanya ingin mendengar semua darinya...
"apa kau tidak takut? "
"ya"...aku sangat takut, aku hanya ingin memastikan saja, sebelum semua terlambat
"apa hubungan mu dengannya? "
"just friend"
"teman? "
"ya"...
"ok baiklah"...kau yang pertama,...orang yang mengunjunginya
Lusi hanya diam dan memandang petugas wanita tahanan itu lalu pergi meninggalkan lusi dalam cemas dan gugup. Apa yang ingin ia tanyakan sekarang seperti hilang, hanya tinggal rasa khawatirnya.
Beberapa saat lusi menunggu edward sebelum edward keluar dari ruang yang kokoh itu dan melihat lusi sedang berdiri melihatnya dengan gugup.
"waktu kalian dua puluh menit" ucap petugas
"terimakasih" ucap lusi
"hai" ucap lusi menggunakan telpon khusus untuk mendengar suara edward dibalik kaca anti peluru tersebut
"untuk apa kau datang? " tanya edward
"kau marah padaku? "
"kenapa aku harus padamu? " kau tidak bersalah
"apa kita masih berteman? " tanya lusi dengan wajah edward yang menunduk
"aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini" dan aku hanya ingin sendiri menikmati hariku menjelang kematianku...
"kau mau aku melakukan sesuatu untukmu terakhir kalinya? "
"ayolah lusi"... kau bukan siapa siapa, kau tidak penting bagiku...
"aku pernah menyukaimu ed" dan sampai sekarang aku masih menganggap kau sahabat terbaikku... ucap lusi dan edward menatap lusi dengan tatapan yang penuh rasa bersalah dan jika bisa ia bahkan ingin sekali memeluk lusi untuk terakhir kalinya...
"kita akan tetap bersahabat siapapun kau" meski kau dalam keburukan mu..., kau akan bahagia setelah ini ed.. kau tidak akan lagi merasa tertekan dan merasa sakit... aku ingin kau selalu tersenyum dan buang rasa kesalmu juga rasa bersalah mu... tidak ada yang luput dari kesalahan ed... cobalah menerima harapan disetiap detikmu... aku senang kita bertemu dan bersahabat... kau teman terbaikku... aku akan menyimpan memori saat bertemu denganmu... aku bahkan akan menceritakan bagaimana hubunganku padamu pada aaron...
"lus"....
"aku akan pindah ke swiss" james mengajak kami semua kesana, dan kita tidak akan bertemu lagi... namun aku akan membawa kenangan bersamamu ed... kau yang terbaik...
"maafkan aku lus"...
Lusi menggelang kepalanya lalu tersenyum melihat edward yang sudah mulai melunak dan diselimuti rasa bersalah dan dosanya selama ini..
"kau masih punya kesempatan untuk memaafkan dirimu sendiri" aku meminta mu untuk meninggalkan kenangan untukku... aku membawa bunga untukmu juga makanan kesukaanmu... aku menitipkannya dengan petugas... sambil melihat petugas tempat ia diperiksa.. dengan senyum petugas tersebut menundukkan kepalanya dengan edward sambil melihatkan hadiah kecil dari lusi.
"sampaikan maafku pada james, anna, karen, alice"
"tentu"
"aku harap jika aku terlahir kembali aku ingin menjadi kakakmu"
"aku harap itu".....
Lusi meninggalkan edward dengan rasa bahagia dan juga puas, tidak ada yang ingin ia tanyakan lagi, lusi senang tidak ada lagi rasa penasaran dan tekanan pada edward... ia sangat ingin memulai hidup baru dengan james juga aaron...
Lusi meninggalkan nomor telponnya pada petugas tahanan jika edward ingin menghubunginya... meski itu tidak mungkin...
💘