
Kita ditakdirkan dengan pilihan yang pas, tidak lebih tidak kurang. Pikiran bisa berubah tapi hati akan jujur, bibir bisa berdusta tapi mata akan akan menceritakan kenyataannya dan taknakan berbohong. Terkadang ingin menolak tapi tubuh ingin menerima, Kau.... yang aku mau...
Akhirnya james berdamai dengan hatinya, memberi rasa yang dalam kepada kekasih hatinya.
Ciuman hangat itu kinib terasa jauh lebih berarti dan manis dari egoisnya hati. Lusi perlahan mencoba mengambil kendali.
"kiss me" pinta lusi
James tak menunggu dan mencium bibir lusi, memeluknya dengan balutan kerinduan yang tertahan selama ini, melepas asa dengan tatapan antara cinta dan nafsu
"please, cum** aku"
"katakan jika aku yang kau mau" pinta james
"kau yang aku mau"
"james"...
"lusi"....
"I want"... ucap lusi
Gairah itu kini terbakar lagi, hasrat itu kini mulai meledak memenuhi kepala dua insan yang terpisah waktu dan egois. Cinta mereka berasal dari negri yang tak tahu asalnya, bola mata itu mengingatkan hal yang indah dan rasa sakit yang pernah hinggap. Genggaman tangan itu membawa kedamaian yang abadi...
"james, aah"
*nh*
Dalam pelukan itu lusi merebahkan beban dan rindunya, disamping james semua terasa damai, ditubuh itulah seharusnya lusi tinggal dan berlari melenyapkan gelisahnya. Tangan inilah yang membawanya bangkit dan mengangakatnya.
"kau masih mau tidur? " ucap james
"mmmm" aku mengantuk, aku lelah
"apa aku melukaimu? "
"terasa ada luka tapi tidak ada bekasnya" lusi tersenyum
"ok" kita akan melanjutkan sebentar saja
Pukul sembilan pagi terlihat lusi memaksa matanya terbuka, dan james masih tertidur disampingnya, lusi melihat wajah itu, wajah yang ia cari jika sedang gundah. Lusi menarik selimutnya dan berjalan mencari pakaiannya lalu pergi mandi. Terdengar percikan air yang mengguyur tubuh mungil lusi yang tak menutup pintu kamar mandinya.
"james" apa kau masih tidur? aku akan pergi keluar membeli sesuatu, apa ada yang ingin kau inginkan
"mm" kopi...
"ok" tunggulah
Lusi keluar kamar hotel menuju sebuah restoran membeli beberapa makanan dan juga kopi pesanan james. tanpa sengaja dia melihat edward ternyata ada di hotel tempat ia menginap.
"edward" panggil lusi
"hai" apa kau baik baik saja?
"ya" aku minta maaf atas kejadian kemarin, apa kau baik baik saja?
"entah aku baik atau tidak tapi terasa sedikit menyakitkan"
"ed"...
"aku kurang beruntung kali ini" padahal aku sudah ingin....
"ed, please"..
"akun baik jika kau baik" jadi kau akan kembali padanya?
"dia suamiku ed" aku harus kembali padanya
"kau mencintainya? "
"ed" lusi terdiam sesaat mendengar pertanyaan edward lalu memberi pernyataan jika ia benar. "ya" aku mencintainya
"kau yakin? "
"ya"
"apa dia tidak menyakitimu? "
"kau pikir aku apa, menyakiti istriku sendiri? " jawab james tiba tiba muncul entah sejak kapan
"james" ucap lusi
"apa kemarin belum cukup?"
"james" please...
"kau tidak berhak mengaturku karna kau tidak hidup dengannya"
"aku tidak apa jika kau pukul, asal lusi tidak kau sakiti, jangan biarkan dia menderita dan menangis lagi, jika tidak...
"jika apa? "
"aku akan merebutnya kapan pun" edward pergi meninggalkan lusi dan james yang merasa kesal dengan edward dan ingin memukulnya kembali
"james" ayo kita pergi... ajak lusi sambil menarik tanganya
*nh*
"pria itu membuat aku gusar" ucap james
"james" kita sudah memulai kehidupan kita lagi, jangan ungkit itu lagi
"dia tidak aman"
"james" lusi berdiri memeluk james dari belakang, karna james sedang berdiri menghadap jendela dengan amarah yang tertahan.
"dokter richard sedikit memberiku harapan"
"ya" aku harus menjalani perawatan dan tetap mengkonsumsi obat setiap hari, terima kasih kau pedulin padaku
"tentu aku peduli, kaun masih istriku", aku minta maaf ini semua karna salahku
"salah kita berdua" yang tidak bisa menahan emosi, mungkin kita harus sedikit belajar untuk mengalah
"aku lah yang seharusnya mengalah"
"kau mau mencobanya lagi denganku"
"apa maksudmu? "
"kau tahu maksudku" sambil membawa tangan james turun dari punggungnya
"kau yakin" kau tidak apa apa melakukan nya setiap hari?
"asalkan denganmu"... kenapa tidak
"lusi" jangan memancingku" aku tidak ingin menyakitimu
"kau tidak mau? "
"kau tahu aku sangat menginginkan ini" tapi aku tidak ingin kau sakit lagi..
"lakukanlah" kita akan mencoba nya mulai sekarang
James memandang lusi beberapa saat, dan lusi pun menatap james dengan harapan penuh cinta.
"kau yakin? "
"ya"
James merebahkan lusi di atas ranjang, dan membuka semua benang yang melekat ditubuhnya. Tidak ingin menyakiti istrinya, namun lusi mencoba untuk mengalah dan melunakkan hati james yang terbakar api cemburu. Dalam lubuk hati terdalamnya, lusi sudah sangat ingin memiliki seorang anak.
Keluarga lusi sampai saat ini hidup bahagia, karen dan juga ayahnya, sesekali mereka saling menelpon dan memberi kabar, awalnya terasa sangat menyedihkan namun, lusi bisa menerima kenyataan jika dia hanya perlu berusaha lebih keras dalam menggapai hidupnya.
"aahh"
"kau baik baik saja" tanya james
"ya" kau perlu melakukan nya dengan pelan
"demi apa pun, aku tak ingin meninggalkanmu"
"maka jangan pernah tinggalkan aku" ucap lusi
Pandangan james mengalahkan semua nya, mata itu terlalu indah dan wajah itu sangat sayang untuk tidak disentuh, lusi hampir menangis karna ia tak menyangka jika akan bertemu lagi dengan suaminya dengan cara seperti ini, sangat tidak terduga, seperti awal pertemuannya.
"lusi" james mulai mengambil nafas cepat dan akhirnya berhenti dan rebah diatas tubuh lusi. Melepas kelelahan yang sangat nikmat. Dengan mesra lusi memeluknya, mencium bahu lelakinya, dan menarik pelan rambut suaminya
"kau ok? " tanya lusi
"aku tidak ok sekarang"
"hahahaha" lusi tertawa dengan sangat bahagia mendengar kalimat yang meluncur bebas dari mulut prianya itu.
"apa semua terlihat lucu? "
"kau sudah lama tidak membuat ku tertawa"
"apa aku membuat mu bahagia"
James melihat lusi dan masih berada diatas tubuh lusi, dengan membelai rambut lusi james mengecup kening itu.
"bagaimana dengan kopinya? " tanya lusi
"apa? oh.... ****....
James melepas pelukannya dan berdiri sambil melihat kopinya yang telah dingin.
"ok" kopi ku sekarang berubah rasa
"apa"
"rasanya lebih nikmat sekarang dan terasa lebih panas"
"hei" pakai pakaianmu
"haruskah? "
"kau tidak mau? " tanya lusi
"ok"
"Sarapan siang" ucap lusi
"ya" sarapan siang yang nikmat, ucap james
"berhentilah bicara seperti itu" kau membuat aku.....
"apa? " tanya james
"tidak ada"
*nh*
James dan lusi kembali bersama, memulai kembali lagi dan lagi semua dari awal. Melanjutkan hidup nya yang tertunda, membuat kebahagiaan yang hampir lepas. Disana ada hati yang terluka, namun ada hati yang bahagia.
"aku akan menunggumu sampai kapan pun" kalimat yang dikirim oleh edward diponsel lusi, namun lusi tak ingin membalasnya, ia hanya menatap ponselnya dan lalu mematikan ponsel itu. Ia hanya tak ingin berdebat lagi saat ini dan nanti, ia tak ingin kembali membuat james marah dan gundah. Dia sudah sangat lelah, ia hanya butuh bahu yang membuatnya kuat dan mendapatkan apa yang ia inginkan.
James adalah saat ini dan tempat yang ingin ia datangi dan tempat ia berteduh. Dan smoga saat ini rahimnya dapat melakukan tugasnya dengan baik, agar ada warna lain dalam hidupnya....
💘