
Saat kesalahan itu terus berulang, maka kata maaf tiada lagi berguna. Cemburu menandakan rasa cinta dan kasihb sayang namun ada kalanya cemburu membuat kita kehilangan segalanya.
"aku hanya berusaha menata hatiku lus" tak mungkin hilang begitun saja. Tapi dengan seperti ini aku akan membiasakan diri.
"ok" apa kita masih berteman?
"kau ingat, pria dan wanita tak bisa selamanya berteman" pria ingin lebih dari itu, mereka punya rasa yang berbeda dari wanita.
"tapi aku ingin kita tetap berteman"
"ya" untuk saat ini tentu, kita akan menjadi sahabat yang saling mendukung
"ok" lusi tertawa senang mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut edward, tutur bahasanya membuat suasaan hati menjadi tenang. Ia orang yang pandai dalam merebut hati seseorang.
*nh*
Dari jauh james melihat keakraban lusi dan james, ia cemburu, marah dan iri. James melihat dari dalam mobilnya sampai akhirnya ia keluar dari mobil dan menghampiri lusi dan edward yang asyik mengobrol.
Esward melihat james dan diam sesaat membuat lusi juga ikut diam dan melihat kebelakangnya. Lusi sedikit terkejut karna james berada tepat dibelakangnya.
"james" ucap lusi
"bisa kita pulang? "
"ok"
"lain kali kita akan berjalan lagi"
"tidak akan" ucap james
"james" ucap lusi
"kami berteman" tambah edward
"tidak lagi"
"kau tidak bisa melarang seseorang untuk berteman"
"dia istriku"
"istri yang kau abaikan"
Sebuah pukulan keras mendarat diwajah edward dan membuatnya sedikit mundur dan hampir jatuh.
"james" apa yang kau lakukan
"aku memberi peringatan padanya"
"kau benar benar tidak bisa berteman"
"aku tidak ingin berteman dengan orang yang tidak tahu malu"
"kau yang tidak tahu malu".... kau sibuk dengan urusanmu dan mengabaikanku, kau tidak peduli dengan apa yang kau alami.
"lusi" aku memcobanya, aku bahkan menelpon karen untuk mencari tahu
"kau tidak bertanya padaku" kau tidak mau mencari tahu sendiri, itu artinya kau butuh orang lain. sama seperti ku, butuh teman untuk sekedar mengobrol dan menghilangkan jenuh ku dirumah.
"lusi"
"aku membencimu"
"lusi"
Lusi meninggalkan james dan edward ditaman kota, lusi pulang dengan taxi yang di stopnya dipinggir jalan. Ia sangat kesal dan marah dan kembali mulai menangis, james mengikuti taxi yang ditumpangi lusi dari belakang. Sedangkan edward duduk kembali di taman sendirian. Entah mengapa edward sangat puas dengan ucapan lusi yang ingin berteman dan merasa kesepian.
Lusi membayar taxinya dan hendak masuk kedalam rumah, namun ia lupa tidak membawa kunci, diwaktu yang sama james datang dan membuka kan kuci pintu rumahnya, lusi masuk dengan wajah kesal menuju kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya.
James duduk disofa dan termenung, dia semakin kacau, dann tanpa ia sadari ia mengambil botol minumannya yang masih ia simpan dilemari dapur dan meminum habis satu botol. Ia tak sadar lagi sampai ia terbangun dipagi hari dengan kepala yang berat dan pusing. James melihat lusi tengah asyik sarapan dan meminum susu. Ia terlihat tidak peduli dengan james yang tertidur disofa bahkan tidak meliriknya sedikitpun.
"kau sudah bangun? " tanya james, namun lusi tak menjawabnya dan kembali asyik mengupas buah apel di tangannya. James pergi kekamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang bau alkohol. Segera setelah ia selesai dan menghampiri lusi didapur.
"aku minta maaf" aku bukan pria baik dan dewasa tapi asal kau tahu cintaku lebih besar dari apapun. Lusi tak bergeming dari penjelasan james.
"lus" kau mau kita berlibur?
"aku tidak dizinkan bepergian jauh oleh dokter"
"ok" atau kita bisa belanja?
"aku tidak ingin membuatmu bangkrut"
Semua kalimat yang keluar dari mulut lusi seolah menampar james dengan sangat keras, ia membalikkan kalimat yang pernah diucapkan james dulu saat mereka masih baik baik saja. James terdiam dan tak bertanya lagi. Ia memilih mundur dan pergi kekamar dan mengambil pakaiannya dan pergi kekantor.
"aku akan kekantor karna hari ini ada pengambilan gambar" aku akan pulang cepat sebelum jam empat. Aku akan membawakan mu makanan kesukaanmu, ucap james yang tak dijawab oleh lusi. James melajukan mobilnya dengan rasa sakit yang teramat. Dia hanya bisa melukai hati lusi dan selalu membuatnya menangis.
*nh*
James tepat janji, ia pulang sebelum jam empat, james membawa seikat bunga, nacco tacco makanan kesukaan lusi. Namun lusi tak ia temukan dirumah. James menemukan sepucuk surat diatas laptopnya yang berisi, "istrimu sedang dirumah sakit", james terkejut dan menjatuhkan bunga dan makanan kesukaan lusi dilantai dan langsung menuju rumah sakit. Disana ia melihat edward.
"kenapa kau disini"
"dia menelponku" sebelum ia pingsan tak sadarkan diri
"apa yang terjadi padanya? " james memegang kerah baju edward
"kita akan segera tahu"
*nh*
"Nyonya lusi mengalami stres berat"...
"apa? " tanya james
"ia perlu pendampingan dan perhatian lebih, ini kehamilan pertamanya dan beresiko, ada baiknya ia mendapatkan dampingan yang lebih banyak.
"sekarang bagaimana keadaannya? "
"dia baik"... dia akan segera pulih, ucap dokter lalu meninggalkan james dan edward diluar ruang rawat lusi.
"aku pergi" ucap edward
James tak menjawab, hanya diam dan melihat pintu kamar lusi, untuk saat ini james sangat egois dan tidak tahu cara berterima kasih, hatinya masih keras.
"lusi"..panggil james sambil berjalan mendekati lusi
"untuk apa kau datang kesini? "
"lusi".. aku mohon maafkan aku
"kaun pria yang sangat egois james, kau tidak layak menjadi seorang ayah"
"lus"...
Sebuah ketukan dari pintu terdengar, dan alice datang menjenguk lusi
"lusi, maafkan aku" aku tidak mendengar panggilan telponmu
"tidak apa apa"... aku baik baik saja
"ok" aku senang mendengarnya..
Alice melihat james dalam keadaan kacau, alice mengerti sebaiknya dia pergi dari ruangan itu, lagi pula hari sudah malam dan sebaiknya ia membiarkan lusi istirahat.
"baiklah, aku akan berkunjung esok lagi".. kau istirahat lah
"ok" thanks...
Alice mengecup kening lusi dan pergi meninggalkan lusi dan james yang masih diam mematung.
"aku lelah dan aku harus banyak istirahat" ucap lusi, sambil memiringkan tubuhnya membelakangi james
"ya" istirahatlah... aku akan keluar sebentar membeli kopi dan makanan, kau tunggu sebentar
James pergi keluar dengan langkah gontai dan lusi masih berbaring diposisi nyamannya sambil mengelus perut nya, dokter mengatakan jika anak yang dikandung nya berjenis kelamin laki laki, dan dia dalam keadaan sehat. Lusi sangat bahagia mendengarnya, paling tidak ia masih punya harapan untuk memiliki anak yang sehat. Malam semakin larut lusi telah tertidur lelap, sebelum sesuatu mengusik tidurnya, james kembali ke ruang inap lusi sambil membawa beberapa makanan, jamesn tak sengaja melihat sesuatu melintas seperti seseorang yang sedang mengintainya, james menatap beberapa saat namun ia tak kembali, lalu james melanjutkan jalannya menuju ruang lusi. Dalam waktu bersamaan lusi pun merasakan hal yang sama, pintu ruangannya seperti ada yang membuka namun tidak ada orang, lusi bangun melihat sekeliling namun james belum kembali.
"siapa disana? " ucap lusi, tak berapa lama james masuk, ada rasa lega dibatin lusi
"kau butuh sesuatu? tanya james
"tidak"...
"aku ingin ke toilet"
"baiklah" ayo aku bantu..
"jangan menutup pintunya dan kau berdiri didepan pintu toilet, perintah lusi
"ok" ucap james dengan heran, setelah selesai lusi mencuci tangannya dan kembali keranjang
"kau tidur disampingku dan jangan keluar tanpa sepengetahuanku"
"ok".... james semakin heran, ada apa dengan istrinya yang selalu merubah mood nya dalam hitungan detik.
Malam itu lusi terlelap disamping james dan james memeluk lusi sambil mengelus perutnya, nyaman sekali, lusi merasakan kehangatan sesaat bersama suaminya..
💘