Touch Me And Believed

Touch Me And Believed
#39



Meet and greet yang diselenggarakan pihak art corp berlangsung sukses dan cukup antusias oleh para pengunjung mall dan juga fans lusi. Semua sangat menikmati acara itu, terutama lusi walau sebenarnya ada masalah dengan jari nya yang mulai menunjukkan kelemahannya.


Acara meet and greet juga mendapat antusias beberapa rumah production. Pengunjung terakhir, itu pikir lusi, dia akan istirahat dan melakukan refleksi pada jarinya. Hanya satu fans lagi...


"tanda tangan disini" ucap salah satu pengunjung membuat lusi berhenti menulis dan terdiam sesaat. Suara itu tidak asing baginya, suara itu sangat akrab ditelinganya.


Pria berbaju warna gelap menggunakan sweater dengan penutup kepala dan masker, serta kaca mata hitamnya, berdiri dihadapan lusi sambil membawa buku yang akan dimintai tanda tangan, sesaat waktu berhenti berputar. Melihat lusi dengan tajam dan lusi tak bergeming, perlahan lusi menaikkkan kepalanya, dan melihat pria yang ada dihadapannya.


"james" ucap lusi dengan suara pelan dan seperti lehernya tercekik, ingin lusi melompat dalam pelukannya, namun itu tidak mungkin.


"hai" sapa james


"kau"...


"ya" aku disini, aku merindukanmu.... james melepas kacamatanya dan juga maskernya.


Masih dengan ketidak percayaannya dengan apa yang dilihatnya, lusi berusaha tenang dan tidak gugup


"hai james"


James memegang tangan lusi dan ingin menciumnya, namun edward menghalangi james dengan menepis tangan james.


"hei" maaf, sepertinya anda sudah berlebihan, ucap edward


"maaf siapa kau" tanya james


"aku temannya"


"teman?" piss off...


"hei.. hei... " ucap edward kembali


James yang tidak sabar langsung memukul edward yang dari tadi berusaha menghalanginya, james memukul wajah edward hingga edward terjatuh.


"james" cukup, hentikan teriak lusi


Melihat kejadian itu jack dan dakota segera melerai begitu juga alice.


"james" tahan jack


"lepaskan aku" aku akan menyingkirkannya... dasar b*en*s*k


"james" ucap dakota... tenang lah..


"edward" bangun lah, ayo... kau tidak apa apa? tanya lusi, james melihat lusi membantu edward dan membuat james geram lalu kembali memukulnya


"james" hentikan


"kenapa kau peduli padanya" kenapa kau membantunya?


"james"


"kau memiliki hubungan dengannya? " hah..


"james" aku mohon tenanglah..


"lusi" kau tidak tahu siapa dia


"aku tahu" aku perlu bicara denganmu, lusi berjalan menjauh dari kerumunan dan menuju sebuah hotel tempat ia menginap yang disediakan oleh art corp, berada disebelah mall tempat ia mengadakan meet and greet.


***


Lusi membuka pintu kamarnya, dan meletakkan tasnya disofa begitu juga james yang menaruh sweaternya.


"james" kau tidak bisa berbuat seperti itu


"lusi, kita sudah lama terpisah, ini bukan pertemuan yang aku ingin kan


"ya" kau benar, dan aku tidak ingin ini terjadi. Kenapa kau kemari dan menemui ku, kita sudah berpisah setahun yang lalu


"kau pikir aku melupakanmu? "


"ya" kau tidak mencariku, kau tidak menghubungiku, jawab lusi emosi


"aku bukan tidak mencarimu" tapi aku berusaha mencari tahu bagaimana kondisimu dan juga rahimmu, aku meminta bantuan dokter ricard untuk mengobatimu dan aku pikir kau butuh sendiri agar kau bisa tenang


"dokter ricard?" jadi dokter yang merawatku temanmu?


"ya"


"aku tidak hanya butuh dokter james, aku membutuhkanmu, aku butuh kau disampingku, kau tidak menemuiku, kau tidak tahu bagaimana perasaanku" teriak lusi dengan nada marah


"ya" aku tahu, tapi ini semua demi kabaikanmu tambah james mulai emosi


"aku membencimu"


"apa hubunganmu dengan edward? "


"dia teman ku"


"james" berhenti menyudutkan ku


"kau berkencan dengannya? "


"plaak" sebuah tamparan keras mendarat dipipi james dan membuat james terdiam


Lusi terdiam dan melihat tangannya sendiri yang baru saja menampar suaminya.


"kau menamparku demi pria itu? " kaub begitu menyukainya? jadi cinta mu sudah hilang untukku?


"james"..


"apa aku harus pergi? " dan tak muncul lagi?


"james" aku mohon jangan memperburuk kondisiku


"kondisi mu?" lalu bagaimana dengan kondisiku? apa kau peduli padaku? kau tahu aku bagaimana sejak kau pergi, lusi kau sudah berubah, ini bukan lusi ku, kau bukan lusiku


"james" aku minta maaf..


"maaf untuk apa? " karna kau bersalah telah mencintai orang lain?


"james" aku mohon.... lusi mulai menangis dan duduk dilantai dengan kedua tanganya menahan tubuhnya yang menunduk seraya terisak


"aku kecewa padamu"


"aku tahu aku salah, aku pikir kau tidak peduli lagi denganku? " kau tidak mencariku dan menghubungiku, kau tidak menjelaskan apapun,


"kau mencintainya? "


"james"


"jawab aku? " teriak james dengan sudah sangat marah


"ya" aku mencintainya....


***


Edward duduk di sebuah kedai minum masih di mall, ditemani alice. Alice menceritakan semua tentang lusi dan hubungan lusi dengan james, dengan seksama alice menceritakan apa yang terjadi pada lusi. Membuat edward sedikit terkejut namun ia tak pernah ingin mundur. Edward berpikir selalu ada hasil jika ingin berusaha. Edward berdiri ingin menemui lusi, namun ditahan oleh alice.


"jangan" tahan alice menarik lengan edward, tidak sekarang ed! sekarang tidak baik, kau tahu james bagaimana, tunggulah...


"aku tidak ingin lusi kembali terluka oleh james al"


"kita semua tidak ingin dia terluka ed" tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat, bersabar lah, jika lusi baik untukmu maka dia akan memilihmu...


"aku tidak mungkin diam saja"


"ed"...please... biarkan kondisi ini tenang dulu..


"ok" aku akan bersabar hari ini, sambil sesekali menyentuh bibirnya yang berdarah akibat pukulan james yang keras.


***


Sementara lusi masih duduk dilantai manangis, karna tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.


"apa kau mau berpisah denganku? "


"james" tidak....aku tidak mau... james please... aku salah aku mohon maafkan aku.. james..


"kau tidak mencintaiku"


"tidak, itu hanya pelarian sesaat" aku tidak mencintainya dengan hatiku


"kau akan menyesal jika berbohong" akub tidak apa jika kau ingin berpisah, aku tidak ingin kau memaksa mencintaiku lagi, aku juga bukan pria baik untukmu


"james, jangan lepaskan aku lagi" kau sudah menemukanku, aku mohon jangan lepaskan aku lagi.... james.. Lusi mulai memandang james dan berdiri dari tempatnya, melihat james dan ingin sekali memeluknya.


lusi tidak pernah berharap namun selalu mencintai james selama ini, ia tahu kehadiran edward sempat membuat dirinya goyah, karna perhatian yang diberikan edward padanya. Namun lusi tidak menghilangkan james dihatinya. Tidak mungkin semudah itu lusi mencintai pria lain, sementara hidupnya sudah dipenuhi james bahkan ia rela membari hidupnya untuk james.


"lus, tidak ada lelaki yang tidak menyukaimu" bohong jika mereka hanya ingin berteman. Aku contohnya, aku tidak bisa berteman denganmu


"kau sudah mendapatkan ku" jadi jangan lepaskan..


"lus"


Lusi memeluk james dengan erat, tak ingin melepaskan, entah james menyukai hal itu atau tidak, lusi tetap memeluknya berharap tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulutnya, mulut suami yang masih tersimpan dihatinya.


Lusi menatap james dengan tatapan penuh harap, dan dengan percaya diri, lusi mencium bibir james, tanpa ada balasan dari james, lusi tetap melakukannya. James membiarkan lusi melakukan apa yang dia inginkan, james hanya diam mematung, hingga lusi berhenti menciumnya.


"kau tidak inginkan aku? " tanya lusi dengan suara yang mulai serak...


"aku" tidak ingin ada kebohongan lus...


James melepas pelukan lusi, dan duduk disofa kamar hotel itu dengan tatapan kosong. Lusi mencoba mendekati james dan duduk dilantai menghadap james seraya menaruh tanganya di lutut james. Lusi melihat wajah james yang gusar, wajah yang marah dan wajah yang lelah, james tak seperti dulu, tubuhnya sedikit kurus. Sekarang james dan lusi saling menatap...


💘