Touch Me And Believed

Touch Me And Believed
#56



Andai hidup yang kita jalani sesuai dengan kinginan kita dan berjalan dengan mulus, mungkin kita tidak akan menjadi kuat dan tidak akan tahu betapa tuhan memberi semua sesuai dengan kebenarannya.


"kau mau berjalan denganku malam ini? " tanya james


"ok"


"baiklah,kita akan keluar nanti malam"


James meninggalkan lusi yang tengah duduk dihalaman belakang rumah jenny sambil membawa secangkir teh panas. Lusi sedang memandang jauh kedalam air yang mengalir disamping rumah jenny, suaranya begitu indah menenangkan dan terus mengalir tanpa peduli banyak batu yang menghadang, ia tetap menerjang hingga ke hulu sungai dan bermuara dilaut.


*nh*


"aku ingin kita mengakhiri semua yang kita lalui di new york" ucap james


"apa maksudmu? "


"aku tidak ingin berada ditempat dimana kau selalu mendapat hal buruk"


"kita punya takdir kita masing masing james" kau berada disisiku itu sudah cukup membuatku tenang menjalani hidup


"kau tidak tahu bagaimana aku selalu mencemaskanmu jika aku tidak berada disampingmu"


"I know".... aku pun begitu, selalu berharap melihat punggungmu... aku sangat merindukan itu


"kita pindah"


"maut tidak akan pernah berhenti mengejarmu meski berada diluar angkasa sekali pun james"


"lus".....


"jangan mengubah cintamu untukku james" jangan pernah pergi, menghindari, apalagi berlari dariku.. itu akan membuat aku putus asa, aku menginginkan apa pun yang ada pada dirimu... hanya kau... cukup kau...


James meleburkan bibirnya dalam bibir lusi dengan air mata yang mengalir dipipinya, yang terasa sangat sakit saat mendengar setiap ucapan lusi yang keluar dari mulutnya dengan suara seraknya dan terbata. James hampir tak memberi rongga nafas untuk lusi yang terus ingin berada di bibir itu dan terus berpaut. james memegang leher lusi dan sesekali menekan untuk lebih erat.


"kau merindukanku? " tanya lusi


"setiap saat, setiap detik" sambil menunduk seakan banyak kesalahan yang telah ia perbuat dan tak pernah membuat kekasihnya tersenyum bahagia


"apapun itu, tetap lah bersamaku james" aku hanya ingin kau... sambil menyentuh dada james dan merasakan detak jantungnya yang berdegup begitu kencang seiring dengan tangisan yang semakin keras.


Lusi memeluk james dengan erat, bahkan ia pun mulai menjatuhkan bulir air matanya, jika mengingat betapa ia sangat tertekan selama ini dengan kondisi dan lingkungan sekitarnya yang selalu mengancamnya.


Malam itu james dan lusi menghabiskan waktu berdua sambil berpelukan dengan mata yang mulai membengkak dan sembab. Betapa ia sangat ingin menghabiskan waktu hanya berdua tanpa ada masalah sedikit pun menghampiri.


James sudah mengetahui jika edward ditangkap oleh polisi namun tak memberi tahu lusi, ia membiarkan apa yang terjadi sehingga bisa berlalu dengan cepat, james menyembunyikan hal hal yang tidak seharusnya didengar oleh lusi.


*nh*


"good morning james? " ucap lusi, namun james tak menjawab dan tetap mendengkur hingga lusi mulai kesal dengan kelakuan suaminya yang tak pernah berubah. "hei"....aku katakan sekali lagi untuk bangun... namun lagin lagi james tak bergeming...


"apa yang sebenarnya yang diinginkan laki laki ini" aku harus membangunkannya seperti anak kecil untuk berangkat sekolah dan harus menyiapkan semua keperluannya lalu ia akan mengoceh lagi setelah semua selasai


"aku suka itu" ucap james


"what? "


"terus lah bernyanyi" itu sangat menghibur


"kau".... apa yang kau katakan barusan? aku bernyanyi? lalu aku apa lagi? hah?


"itu terdengar indah"


"james" teriak lusi, yang membuat isi rumah memandang keatas dan aaron tertawa di atas kursinya saat mendengar teriakan ibunya seolah memanggilnya...


"james"...ayo bangun....


"aku ingin menambah waktu tidurku sedikit lagi"


"baiklah" lanjutkan saja sesuka mu...


James menarik tangan lusi saat ia hendak beranjak dari ranjang nya dan menaikkannya di atas tubuhnya.


"apa yang kau lakukan? "


"aku memeluk istriku" apa perlu aku izin padamu


"ini tubuhku dan aku berhak"


"tidak" ayahmu sudah memberimu padaku, jadi akulah yang lebih berhak atas tubuhmu


"dari mana kau belajar tentang hak atas tubuh orang lain, lepaskan aku" lusi berusaha melepas pelukan james


"dari ayahmu"


"what" kau gila james kau mabuk dipagi hari


"lalu bangun aku untuk sadar lus"


"ok".... apa yang kau inginkan tuan penguasa tubuh orang lain


"tubuh istriku"


"terserah"


"kiss me"


"apa? "


"apa kau tuli? " nyonya tua


"apa?... tua?....apa aku sudah tua menurutmu


"ya"...hanya orang tua yang selalu mengomel dan terus bicara sepanjang hari...


"kau".....james kau membuat ku bersemangat dipagi ini


"baguslah" aku ingin lihat semangat mu yang lainnya, sambil senyum dengan kemenangannya


"james"..... teriak lusi kembali


"dia selalu mengganggu istrinya" ucap smith


"apa? "


"ya"... dia selalu membuat lusi marah dan kesal hampir setiap hari


"benarkah? " tanya jully sambil tertawa...aku suka itu..


"ya" kami sangat menyukai lusi terutama jenny yang amat mencintainya


"aku turut berduka untuk jenny"


"ya"...itu sudah sangat lama.....


*nh*


"aahhhh" james....


"sedikit lagi"....


"ok"....


"lusi"......aaaah


*nh*


"hai"..ucap lusi... yang turun dari kamarnya sambil mencium aaron yang asik dengan makanannya...


"apa dia sudah bangun? " tanya smith


"ya" lusi menjawab dengan wajah yang memerah dan rambut yang sedikit berantakan.


"hai dad" ucap james santai sambil mengecup pipi lusi yang masih mematung melihat suaminya turun dengan santai tanpa terjadi apa apa...


"hai" sarapanlah...


"aku rasa islandia terasa lebih manis pagi ini dan membuat ku lebih bersemangat"


Lusi memandang james dengan kesal


"benarkah? " tanya smith


"ya" smith melirik james sambil menggeleng kepalanya dan itu benar benar membuat lusi sangat malu terasa seperti ingin mencakar wajah james yang polos itu, atau hanya ia sedang mengganggunya lagi.


*nh*


"besok kami akan ke rumah karen"


"ya"...aku akan merasa kesepian lagi


"karna kau tak membuka hatimu" ucap james


"tidak ada yang menyukaiku"


"ya" hanya mesin pesawat yang menyukaimu, dan ia sangat merindukan mu setiap saat


"aku akan mencoba"


"itu kabar baik"


*nh*


James dan lusi berpindah dan sekarang munuju kerumah karen, dia telah menunggu disana begitu juga dengan swan.


"aku merindukan mu lus" ucap karen


"aku juga" mereka berpelukan dengan erat layaknya orang tak pernah bertemu


"bisa kami masuk? " ucap james


"tentu james" ayo masuklah... aku sudah menyiapkan semua untuk kalian...


"hai dad" ucap lusi memeluk ayahnya


"itu terdengar menyenangkan" ucap jully


Karen menggendong aaron dan menciumnya, anna datang berlari memeluk lusi dan menciumnya.


"anna" apa kau baik baik saja


"ya" aku merindukan mu lus


"ya, aku tahu"


*nh*


"apa kita saja yang menikmati hari hari yang melelahkan? " tanya karen


"tidak" jawab james sambil duduk di taman rumah karen


"tapi semua yang sudah ditetapkan" akan mendapat dan merasakan hal yang kita rasakan


"aku selalu suka dengan sikap mu yang dewasa dan optimis lus" ucap karen


"ada saatnya kita harus berhenti dan menyudahi semua ini" ucap lusi


"lus" ucap james sambil menggenggap tangan


lusi


swan sudah berada dikamar tidur bersama aaron dan anna, sedangkan jully menonton tivi diruang tengah.


Dari jauh, sebuah senapan laras panjang yang dipegang oleh salah seorang penambak jitu yang dibayar kelompok naze sedang berada jauh dari kediaman karen, namun terlihat sangat jelas di mata seorang penembak jitu. Mengarahkan mulut senapan tepat didada lusi dan lusi yang seakan melihat penembak itu juga dan siap dengan segala yang akan terjadi. Tanpa bergerak lusi seolah sudah mengetahui yang akan terjadi padanya.


Dalam hitungan detik, senapan itu bergerak....mengeluarkan suara....


💘