Touch Me And Believed

Touch Me And Believed
#44



Lusi melihat dirinya dicermin, dengan perut yang sudah membuncit, kaki yang sedikit bengkak dan *********** yang mulai padat, tidak ada lagi keindahan dari tubuh itu, terkadang ia merasa mulai risih dan membenci dirinya sendiri, terkadang ia menangis tanpa sebab. James sering meninggalkan nya dirumah karna ia sering melakukan syuting diluar kota dan terkadang harus pulang larut malam. Membuat lusi semakin frustasi dan membenci dirinya sendiri. Kejadian seperti ini terus berulang hampir setiap harinya, namun james tak mengetahui yang terjadi pada istrinya.


"aku bosan dengan diriku sendiri" keluh lusi, aku sudah tidak bisa seperti dulu, aku ingin melakukan banyak hal, tapi tubuhku memberatkanku.


*nh*


James sering memantau istrinya dari kamera pemantau dirumahnya, namun ia menemukan lusi dalam kondisi baik baik saja. Hari ini sama seperti kemarin, james melihat setiap sudut rumah dari ponselnya, namun aneh lusi tak terlihat dari pantauan.


"kemana dia? " ucap james, ia mencoba menelpon namun lusi tak menjawab.


Akhirnya james pulang lebih awal, karna ia merasa cemas pada lusi yang tidak seperti biasanya.


"lusi"...panggil james


"kau sudah pulang? " tanya lusi


"apa kau baik baik saja? " james memeluk lusi dan mencium pipinya.


"ya" seolah tak terjadi apa apa padanya


"aku tak melihatmu dari ponsel, aku pikir kau keluar rumah"


"tidak" aku hanya dirumah dan menulis


"kau masih menulis"


"ya" aku menulis cerita baru, mungkin aku akan menyelesaikan sebelum aku melahirkan


"baiklah" apa kita bisa makan malam diluar malam ini?


"kau ada acara?"


"tidak" hanya ingin


"tidak aku ingin dirumah saja"


Hampir setiap hari james memantau istrinya, james mulai merasakan ada yang berbeda dari lusi, dia tak pernah ingin diajak keluar dan berbelanja, padahal ia sangat suka keluar dan belanja, lusi juga tampak sering murung. Akhirnya james mencoba menelpon karen menanyakan apa yang sedang terjadi pada lusi, kenapa ia bisa berubah seperti itu.


*nh*


"hallo? " karen..


"hai james" ada apa kau menelponku?


"aku ingin menanyakan sesuatu padamu" ucap james dari lokasi syutingnya setelah melakukan beberapa pengambilan gambar.


"ok" katakan apa itu?


"aku berpikir jika lusi tidak baik baik saja saat ini"


"apa yang terjadi padanya? "


"hei" tenanglah! dia baik baik saja, hanya saja aku merasa ia tidak seperti dulu


"james" dia sedang hamil, wajar dia berubah


"aku bisa menerima tubuhnya berubah" tapi tidak dengan moodnya, dia sering murung dan tidak pernah mau saat aku ajak keluar rumah, dan aku selalu melihat matanya sembab setiap pulang kerumah, dia menjadi tertutup dan selalu memakai baju berwarna hitam dengan ukuran besar. Asal kau tahu aku pernah melihat nya memukul perutnya dari pantauan kamera, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padanya.


"ok" james bawa istrimu konsul ke dokter kandungan dan psikologi, aku rasa dia terkena baby blues syindrome, itu sangat berbahaya jika kau membiarkan nya sendiri terus menerus, sangat tidak aman bagi bayi dan ibunya


"apa? " apa itu, aku tidak mengerti


"james" aku jelaskan padamu, baby blues merupakan sindrom yang menyebabkan seorang wanita mengalami perasaan sedih, depresi, panik, tetapi sulit untuk mengungkapkannya. Seluruh perasaan tersebut muncul saat seorang wanita baru memiliki bayi atau tengah menjalani kehamilan. Perubahan hormon menjadi penyebab utama wanita bisa mengalami kondisi ini.


"ok" I'm confuse


"tidak apa" saran ku temui saja dokter dan pastikan kau jangan sering meninggalkannya sendirian.


"karen, aku merasa takut"


"semua akan baik baik saja"


*nh*


James mulai mengatur waktunya untuk tidak pulang sangat larut, ia sangat berusaha agar lusi tidak selalu kesepian dirumah.


"hai lus" ucap alice


"hai" ada apa denganmu? kau terlihat pucat


"aku hanya letih"


"ok" kau mau sesuatu?


"berikan ia nacco tacco dan jus apel yang segar" ucap edward


"edward" kau disini? tanya lusi


"seperti yang kau tahu, aku selalu kesini"


"aku senang kau disini"


"benarkah"


"ya" hari ini setelah menangis, lusi pergi keluar rumahnya dan ingin membeli makanan kesukaannya dan pulang setelah membeli, namun ia bertemu edward disana, bahkan lusi lupa membawa kunci rumahnya dan juga ponselnya.


"kau terlihat sexy sekarang" ucap edward


"benarkah? "


"ya" kau terlihat lebih cantik dari sebelumnya


"apa kau merayunya? " tanya alice yang datang membawa pesanan lusi dan edward


"aku hanya melihat dari sisi mataku" ucap edward santai


"thanks"


"apa kau tidak sibuk? " tanya lusi pada edward


"tidak" aku punya waktu lebih untukmu


"kau membuat ku tersanjung ed" lusi tersenyum sangat manis karna senyum ini sudah lama hilang sejak ia mengalami baby blues


"aku yakin anakmu akan seperti ibunya" sangat manis dan juga ramah


"benarkah? "


"ya" aku berharap demikian


"lusi, apa james sedang bekerja?" tanya alice


"mmm" seperti biasa


"aku sangat ingin mengajakmu berjalan"


"ed" ucap alice


"jalan kemana? " tanya lusi


"hanya ditaman kota" aku rasa itu bagus untuk wanita hamil, agar mereka tidak bosan dan jenuh juga agar kakinya tidak bengkak


"kau tahu kaki ku bengkak? "


"aku sering membaca artikel tentang ibu hamil"


"kau berencana akan menikah? " tanya alice


"ya" suatu saat


"jangan lupakan undanganku" ucap alice


"pasti" so, nyonya james, kau mau berjalan sore ini


"ya" mungkin bukan ide buruk


"ok" kau bertanggung jawab pada lusi ed, ucap alice


"pasti"


Setelah menghabiskan makanannya lusi dan edward benar benar berjalan di taman kota sore itu, dan ternyata tidak hanya ia sendiri, ada beberap wanita hamil yang juga sedang berjalan di taman dengan suami mereka masing masing. Lusi melihat mereka dan berpikir jika saja james memiliki waktu untuknya.....


*nh*


"jadi sudah berapa bulan usia kandunganmu? "


"ouh" sudah tujuh bulan


"tidak terasa" sebentar lagi, aku akan mengirimmu hadiah


"thanks"


Sambil berjalan lusi tidak sengaja di tabrak oleh seorang pemuda yang sedang berlari namun kurang fokus. Edward sigap langsung memeluknya.


"hei bung"... hati hatilah...


"maafkan aku" aku tidak sengaja, ucap pria yang menabraknya


"tidak apa" ucap lusi


"kau serius tidak apa apa"


"ya" aku baik baik saja


"ok" kita bisa duduk dulu untuk istirahat sejenak


"ya"


*nh*


"apa kau sangat bahagia lus"


"kenapa kau bertanya seperti itu? "


"aku hanya masih menaruh harapan padamu"


"aku pikir kau sudah berhenti"


"lus"... tak semudah itu


*nh*


James pulang kerumah pukul lima sore, ia melihat pintu terkunci tidak seperti biasanya, ia lalu membuka dengan kunci cadangan, karna pintu rumahnya akan terkunci otomatis dan hanya bisa dibuka dengan menggunakan kartu khusus. James memanggil lusi namun tak ada jawaban, ia mencari kekamar dan dapur bahkan disemua sudut rumahnya, namun tak ia temukan istrinya. Lalu james mencoba menelpon namun ponsel lusi berada diatas meja diruang tamu.


"kemana dia? " james mulai panik, dan berpikir negatif, james mencoba menelpon alice karna dikota ini hanya alice yang dekat dengannya.


"ya" tadi dia kesini namun ia sedang berjalan di ditaman


"sendiri? "


"tidak, kebetulan edward datang kesini"... lalu mereka pergi bersama, mungkin masih ada ditaman


James terdiam dan mematikan ponselnya, ada rasa marah hinggap dikepalanya dan juga cemburu yang membabi buta.


"lusi"....ucap james..


💘