Touch Me And Believed

Touch Me And Believed
#1



Dunia adalah tempat dimana manusia bisa memilih kehidupannya dan juga kematiannya secara teori. Namun pada kenyataannya semua itu hanyalah sebuah fiksi. Bahkan rencana yang sudah kau susun bisa berubah tanpa bertanya.


Aku menjalani kehidupanku dengan terpaksa demi sebuah kehidupan baru. Yang aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Kenyataan jika aku harus menjadi seorang ibu diusia mudaku dan sekaligus menjadi seorang ayah dari seorang bayi mungil yang ada di pangkuanku saat ini.


Aku ingin egois, namun sebagai manusia aku tidak ingin kalah dari seekor rubah, yang bahkan tidak rela jika bayinya disentuh oleh siapapun yang menyakitinya.


Secara biologis, aku tidak memiliki hubungan darah dengan bayi ini, namun ibu tiriku melahirkan bayi ini dari hubungan gelap dengan pria selingkuhannya. Menghianati ayahku lalu bunuh diri karna takn ingin melihat aibnya sendiri.


Aku lusi, kakakku karen. Kami saudara kandung. Ibu kandungku meninggal karna penyakit jantungnya, dan ayahku memutuskan untuk menikah lagi. Tiga tahun kami menjalani kehidupan keluarga yang tidak begitun harmonis, ayahku bekerja sebagai tukang bangunan dan ibu tiriku bekerja di sebuah bar. Bisa kalian tebak bagaimana kehidupan ibuku.


Entah bagaimana caranya ibuku melahirkan bayi ini dan meninggalkannya dirumah dengan sepucuk surat disamping bayi mungil ini, dan ibuku ditemukan meninggal dunia di pinggir jalan karna over dosis. Ayahku memilih pergi dari rumah dan menjalani kehidupan yang sulit sebagai pemabuk. Kakakku juga memilih keluar dari rumah dan hidup dengan kekasihnya. Aku...


Anna... nama bayi mungil ini kuberikan atas kesukaan ku pada nama itu. tidak ada alasan khusus. Aku dan anna tinggal dirumah ini bersama. Aku masih sma saat menjalani kehidupan baru ku bersama anna. Memilih bekerja tambahan sebagai penulis untuk memenuhi kebutuhan kami agar bisa bertahan hidup. Dan aku masih menggantung cita cita ku untuk kuliah, aku tidak mau hanya sebatas menjadi seorang ibu, siapa yang akan mau denganku jika aku tidak mapan.


Ini adalah Newyork, kota dengan segala kesibukan dan kebisingannya. Satu yang aku suka dari kota ini, adalah tidak begitu mempedulikan siapa aku dan bayiku. Sehingga aku tidak terlalu mendapat tekanan menjalani hidup disini.


Aku menjalani hari ku seperti biasa, saat sekolah dan bekerja aku menitip anna dengan seorang pengasuh yang aku bayar setiap bulannya, beruntung dia tidak menuntut bayaran yang sangat tinggi. hingga aku menamatkan sekolahku dan mencoba mendaftar disalah satu universitas dikota ini. Senangnya aku karna diterima disini dengan beasiswa. Sastra adalah jurusan yang ku pilih.


"hei lusi, apa hari ini kau akan kekampus? "


"iya bibi gema" aku akan berangkat sebentar lagi


"hari ini aku akan ke pasar, apa kau bisa berangkat sedikit terlambat kekampus? "


"oh, baiklah bi" aku akan menunggu mu!


"ok, akan cepat"


"trimakasih bibi gema"


*nh*


"Hei anna, apa kau mau main dulu bersamaku?" bibi gema sedang kepasar membeli makanan untukmu agar kau cepat besar!


Setiap hari aku bermain dengan anna, bayi kesayanganku yang senantiasa menjadi pendengar dan sahabatku setiap malam. Ayahku tak pernah mengirim uang untuk kami bahkan kakakku tak pernah datang berkunjung sekedar melihat kami disini. Terdengar menyedihkan, tapi aku berusaha menyemangati diriku sendiri.


"oh, lusi maafkan aku sedikit terlambat"


"tidak apa bibi, baiklah aku pergi dulu"


"iya baiklah, hati hati sayang"


"bye anna"


*nh*


Aku sedikit berlari mengejar bus yang harus aku tumpangi, jika tak ingin terlambat lebih lama lagi. Untuk menghemat pengeluaran aku harus mengejar bis setiap harinya. Biaya susu saja sudah membuatku frustasi belum lagi biaya kuliah dan lainnya.


***


"apa kau mau duduk? "


"mmm" ah, tidak usah terimakasih!


"aku memaksamu" aku lihat kau sangat lelah! ucap seorang pria yang menawarinya duduk dibangku bis yang terlihat sangat sesak.


"baiklah, terimakasih"


Aku melihat pria yang menawariku duduk, dia terlihat sangat cuek tapi peduli dengan orang lain. Dengan headphone ditelinganya, dia tampak sangat serius mendengar entah apa itu. Aku tak pernah melihatnya sebelum ini. Padahal aku setiap hari menaiki bus kekampus. Apa dia orang baru disini atau aku yang tidak pernah peduli dengan orang disekitarku. Terkadang aku memang egois tidak melihat dunia sekelilingku.


Aku sedikit menguap, rasa kantuk dan lelah hampir menyerangku setiap harinya. Jika bisa, aku ingin melepas lelah sehari saja dengan tidur, tidur, dan tidur.


Aku akhirnya mengalah dengan mataku, aku tertidur sebentar sebelum bus berhenti didekat kampusku.


"apa kau mau tidur disini atau turun? " tanya pria tadi


Aku bahkan tidak bergeming sedikitpun


"hei" teriak pria tadi


"apa? " kenapa? ah.. aku tertidur... maaf!


Aku turun dari bus yang membawaku masuk kedalam mimpi sesaat sebelum setumpuk tugas dan pekerjaan mulai menyapa ku.


"ah, dimana pria tadi yang menawari aku duduk? " pikir lusi sambil mencari cari pria tadi namun dia seperti menghilang


akhirnya aku masuk kekelas dan duduk di bangku kuliahku seperti biasa. Tanpa sengaja aku melihat pria yang menawari ku duduk masuk kedalam kelas yang sama dengan ku. Aku memandangnya tanpa berkedip, hingga diab tersenyum padaku dan duduk disebelah leah.


"ah, aku? " tidak apa apa!


"sepertinya kau sangat lelah hari ini"


"aku memang lelah dan mengantuk" aku hampir tidak punya waktu istirahat


"bersantailah sejenak" bagaimana jika kau ikut dengan ku malam ini? "


"aku tidak bisa"


"kenapa? "


"aku tidak bisa meninggalkan anna"


"ah, ayolah lusi, dia bisa bersama dengan bibi gema, hanya sebentar! "


"aku akan pikirkan nanti"


"baiklah"


Jasmin sahabatku, dia teman sekolah sma ku dan juga tetanggaku. Dia banyak mengetahui tentang keluargaku yang berantakan dan juga anna, bayi mungilku.


Tidak lama seorang dosen masuk, sedikit berumur namun sangat ramah. Pak ken dosen sastra yang sangat terkenal. Dia juga seorang penulis yang populer dikalangan anak muda. Karyanya bahkan sudah ada yang difilmkan. Aku ingin sepertinya


"selamat pagi lovers"


"pagi pak! "


"tema pagi ini sangatuar biasa"


"uuuhhhhh" sorak mahasiswa berbarengan


"apa kalian tahu letak cinta ada dimana? " yang jawabannya memukau akan mendapat hati emas ini! tanya pak ken


"pak" jawab leah


"ya leah silahkan"


"di pikiran dan hati"


"waw, jawabanmu bagus, namun sangat umum"


"ouh.. " keluh leah


"james" silahkan jawab!


Oh, namanya james. Pria yang menawari ku duduk di bus tadi pagi. Tanpa perkenalan aku tahu sekarang siapa namanya. cukup mudah diingat untuk sebuah nama. James...


"cinta".. "tak ada yang tahu pasti dimana letak cinta. Namun jika kau sudah menemukannya, kau bisa merasakan disetiap sentuhan, setiap nafas, pandangan yang bisa menghentikan langkahmu bahkan menghentikan detak jantungmu"!


"wah" luar biasa! ucap pak ken


"ouh... james, kau sangat puitis" teriak siswi lainnya


"james, apa kau sudah menemukan cinta? " tanya pak ken


Semua mata tertuju kearah james, bahkan mataku mencuri perhatian pada james, menantikan jawaban yang mampu membius semua orang yang hadir dikelas pagi itu


"ada apa dengan ku? " kenapa kalian melihatku seperti itu? "


"karna jawaban itu ditunggu banyak penonton james" jawab leah


"aku? " cinta?


"ayolah james, kau hanya perlu menjawab pertanyaan pak ken! "


"apa kau belum menemukannya james? " tanya teman yang lain


Aku masih menanti jawaban james, menunggu siapa orang yang beruntung itu, siapa orang yang menjadi pelabuhan cinta james....


Tanpa sadar, mata james bertemu dengan mataku, sorot matanya sangat tajam. Seperti heroin yang bisa menjadi candu bagi siapa saja yang menyentuhnya. Aku gugup melihat matanya, seolah dia ingin mengatakan sesuatu pada ku. James tersenyum... Entah apa artinya...


💘