
pagi di new york masih seperti biasanya. Akub disini dengan segala beban dipundakku, berjalan tanpa tujuan, berdiri memandang laut tak berujung, menatap langit tak berbicara, menyentuh angin tak berbisik.
James salah satu orang yang membuatku berdiri dan kuat sampai saat ini. Masih teringat jelas saat pertemuan yang tak kuduga, perkenalan yang tak kuingin, percintaan yang tak ku tolak. Wajah tampannya menghiasai kepalaku, senyumnya seperti darah yang mengalir dijantungku, aku masih berharap dapat merasakan hangatnya mentari esok pagi.
Kutulis kisah ini, dalam sebuah buku yang tak berjudul dan berharap jika suatu saat james bisa membacanya dengan jelas bahwa aku sangat mencintainya. Aku sangat ingin hidup lebih lama bersama disampingnya. James mewakili semua sisi kehidupanku, membawa warna tersendiri menutupi kelamnya hidupku, kami menciptakan dunia yang tak bisa dibuat oleh tangan manusia lainnya.
James, aku hanya ingin kau tahu, aku sangat mencintaimu...
***
"lusi" panggilan james memecah keheningan senja hari di kota yang penuh kesibukan itu.
"james" kau kesini menjemputku?
Lusi berjalan sendiri di sepanjang pantai kota new york, menutupi kebosanannya dirumah.
"ya" apa kau masih ingin berjalan nyonya?
"ya" aku sangat ingin
Lusi berhenti di sudut jalan dan berdiri menghadap laut
"ada apa? "
Lusi menarik tangan james seraya manyingkap bajunya, lalu memasukkan tangan james kedalam sela baju lusi, membawa tangan james kearah bekas luka kecil diperut lusi.
"apa ini? " tanya james heran
"inilah alasan aku tidak bisa bercinta dengan mu" aku tidak bisa melayanimu dalam waktu yang aku sendiri tidak tahu
"apa maksudmu? "
"rahimku sedang tidak baik baik saja james" dan itu harus diangkat, aku tidak bisa memberi tahumu karna aku takut kau tidak bisa menerima kenyataan jika kau tidak bisa memiliki keturunan dan itu membuat aku frustasi.
"kenapa? "
"aku tidak bisa menjaga nya" akibat benturan yang tepat mengenai rahimku saat aku keguguran dulu
"apa? "
"ya" maafkan aku james, aku sudah berusaha mempertahankannya tapi tidak bisa. aku harus menyerah jika rahim ini akan diambil dariku
James yang tidak percaya langsung meninggalkan lusi di sudut jalan ditepi pantai. Tinggal lusi yang menatap james pergi meninggalkannya dan seketika air matanya jatuh tanpa ia sadari, james tak bisa menerima jika akibat ulahnya lusi harus menderita, ia malu, ia kecewa, ia marah pada dirinya sendiri.
***
Sebuah bar tempat pelarian james, ia mabuk dan tertidur disana, lusi menunggunya pulang namun james tak kunjung pulang bahkan ponsel nya dalam keadaan mati.
"james" tolong angkatlah, aku ingin bicara padamu, aku minta maaf, pesan terkirim melalui mail box pada ponsel james.
James tak berani pulang dan tak bisa menatap lusi dengan kondisinya yang sangat kesakitan.
"lusi" apa yang harus aku lakukan untukmu? " ucap james dalam kesendiriannya yangb sangat kacau malam itu.
***
Dengan kaget james bangun dan melihat matahari. Ia kembali dalam kondisi buruknya dimasa lalu, melihat sekeliling dan mengucek matanya karna silau matahari. Ia bangkit dan melangkahkan kakinya dan memberanikan diri untuk pulang kerumahnya, meski ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"james" kau pulang, aku menunggumu semalam, kau tidak pulang! lusi memegang lengan james namun ditepis oleh james
"lepaskan aku"
"james" aku mohon maafkan aku, aku bersedia berbuat apapun agar aku bisa hamil tapi takdir berkata lain, plis maafkan aku...
James tak menghiraukannya, ia sangat malu bahkan untuk menatap lusi.
"james" berbaiklah padaku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku esok, entah aku masih bisa melihatmu atau tidak, aku mohon sambutlah tanganku meski aku salah padamu.
"kau tidak tahu aku sangat marah pada diriku sendiri, dan aku sangat malu untuk bertemu denganmu, aku yang membuat mu seperti ini kau tahu? aku tidak layak disampingmu bahkan aku tidak layak mencintaimu, aku hanya membuat kau menderita, jika kau tidak bersamaku mungkin kau tidak seperti ini, tidak sesakit ini.
"james" lusi mulai menangis dan terisak, aku...
"pergilah"... pinta james
"james" kau mengusirku... tidak james... jangan membuatku seperti ini
"aku tidak pantas untukmu"
"james" peluk aku... aku mohon, dengan terus terisak, james.... aku mohon kiss me..james... kembali padaku..
"pergilah lus" james berjalan naik kekamarnya dengan langkah gontai dengan kondisi putus asa
"james" kau tidak bisa seperti ini padaku, james kau tidak boleh mengusirku.. james... dengan tangis pecahnya yang mulai keras sesekali terdengar pekikan lusi meminta james untuk bersamanya...
***
Lusi melangkah keluar rumahnya dengan kecewa yang teramat, dia masih menyimpan harapan jika james akan datang dan menjemput nya, mungkin saat ini james butuh sendiri untuk menata hati dan pikirannya, lusi membiarkan james sendiri agar dia bisa menenangkan dirinya dari putus asa dan keterpurukannya
Lusi terus berjalan dengan air matab yang tak ingin berhenti, yang masih berderai seperti hujan hari itu yang mengguyur new york seakan tahu hatinya yang sedang terluka, hujan itu membersihkan luka yang terus mengeluarkan darah, hujan itu membersihkan jiwa yang gundah.
Akhirnya lusi berhenti di rumah sakit tempat ia harus memenuhi panggilan dokter untuk melakukan tindakan medis pengangkatan rahimnya. lusi memutuskan untuk pasrah atas dirinya. Pada akhirnya semua akan kembali ke bumi tempat semua merasa tenang dan tak ada rasa yang berkecamuk. Lusi terus menatap rumah sakit yang megah dan tinggi seakan sudah menantinya.
Dengan langkah berat lusi mulai masuk kedalam rumah sakit itu, dan terus berharap james menahannya dan memeluknya walau hanya sekejap dan sebentar saja. Itu sangat berharga untuk menguatkan lusi saat ini, ia butuh tangan yang merangkulnya dan memberi semangat untuknya agar bisa bertahan, lusi ingin james menjadi yang pertama dan terakhir baginya. Sampai maut memisahkan mereka, lusi ingin melihat james menatapnya dengan bahagia dan senyum agar ia bisa kuat dan pergi dengan tenang seandainya kemungkinan terburuk terjadi padanya.
"james" lusi melihat kebelakang, namun tak ada sosok yang dicarinya terlihat, bahkan bayangan pun tidak ada
James menangis dan berteriak dikamarnya, dia menghancurkan beberapa barang yang terlihat didepannya. James menjerit tak tahu harus berbuat apa apa pada wanita yang sangat dicintainya.
"aaahhhh" lusi.... teriak james, lusi....
Dengan sekencangnya james berlari mengejar lusi dijalan yang diguyur hujan, ia tak melihat lusi dimana pun dan berteriak memanggil lusi seperti orang gila yang kehilangan arah dan tujuannya.
"lusi"..... jerit james... aku mohon kembali.... lusi... kembali... aku mencintaimu lus.. teriakan james memecah suasana malam yang semakin dingin..
💘