Touch Me And Believed

Touch Me And Believed
#34



sebuah keputusan harus dilakukan jika suatu masalah sudah tidak bisa diselesaikan. Sebuah keputusan tidak lah selalu buruk, ia dibutuhkan untuk memecahkan masalah satu dan menyelamatkan masalah yang lain.


***


"selamat jas" ucap lusi dan james yang hadir diacara pernikahan jasmin dan carol


"terima kasih lus" sambil memeluk lusi


"aku sudah menduga jika ini akan terjadi suatu saat


"ya" dugaan mu tidak meleset


"hahahaha" mereka tertawa menikmati hari bahagia untuk pasangan baru, yang akan membuka lembaran baru dan mengisinya dengan penuh suka


"selamat jas" ucap karen


"terimakasih karen" aku senang kau hadir disini, kalian sangat berarti bagiku


"ya" kau beruntung jas


"aku penasaran kenapa ibu mu memberi nama carol" tanya karen pada carol


"ya" mungkin mereka menyukai nama itu


"aku pikir dulu kau... "


"ya.. ya.." aku tahu maksudmu, ucap carol


"hahahaha" aku hanya bercanda, ucap karen yang menambah suasana riuh dipesta itu


***


Jasmin menempatkan diri dengan posisi membelakangi para tamu undangan untuk melempar bunganya, dengan penuh semangat tamu wanita ingin mendapatkan bunga itu agar segera menikah menyusul yang lain.


"1..2..3" ucap tamu


Jasmin melempar bunga itu dan tak disangka bunga itu jatuh di tangan lusi, dengan kaget lusi memberikan bunga itu pada karen yang memang sudah sendiri sejak perceraiannya dengan brown.


"terimakasih lus" karen menerima bunga itu dan melambaikan tangannya yang memegang bunga pada jasmin


***


Lusi pulang kerumahnya bersama james. Dengan memasang wajah sedikit cemas james memegang tangan lusi dan menggendongnya masuk kerumah lalu meletakkan istrinya diatas sofa.


"james"


"aku baik baik saja"


"kau serius? "


"tidak" aku gelisah dan cemas


"karna bunga itu? "


"lusi" apa kau tidak merasa itu aneh?


"aku tidak akan meninggalkanmu hanya karna bunga itu james" lusi melihat james dengan santai sambil duduk disofa dan melepas sepatunya dan sweaternya.


"ya" itu karna kau tidak di posisi ku lus


"lalu apa yang harus aku lakukan? " bunga itu jatuh tanpa aku minta


"ok" buat aku melupakan itu


Lusi mencium kening james, pipinya, lalu turun kebibirnya. James melihat lusi dengan tatapan ragu lalu memberi ciuman balik kelusi namun lusi menahan james agar tak lebih jauh, karna ia masih ingat pesan dokter yang memintanya untuk tidak berhubungan dengan suaminya itu sampai dilakukan tindakan lebih lanjut.


Lusi juga sebenar nya ingin menutupi bekas luka diperutnya karna setelah dua minggu lusi kembali lagi ke rumah sakit dan dilakukan tindakan endoskopi. Semoga james tidak mengetahuinya.


"kau tidak mau? "


"aku lelah james"


"kau benar menerima bunga itu? "


"ayolah james" aku lelah, kau harus mengerti aku, aku juga baru sembuh


"ok" baiklah, ayo kita naik dan mandi lalu tidur


"ya" baiklah


***


Pagi menjelang, matahari terbit dan menampakkan wajah hangatnya..


"james" apa kau tidak akan bekerja? tanya lusi melihat james masih tertidur dan tak bergerak. James.... ayolah kau akan terlambat..


"apa aku boleh libur hari ini? " sambil membuka matanya


"ya" kau boleh libur dan kau akan dipecat!


"lalu? "


"kau tidak menerima gajimu dan kita tidak bisa hidup" sambil membuka tirai jendela


"kau akan meninggalkan ku jika tidak punya uang? "


"james" apa kau mau bercinta denganku pagi ini?


James melihat lusi dengan heran, apa yang sedang dinegosiasikan lusi padanya. ia merubah mood nya dengan begitu cepat.


"kau mau atau... "


James tak menunggu kalimat lusi lebih lanjut, dan langsung manarik lusi kedalam selimutnya.


"james" hei.... apa kau bisa pelan, kau menendangku


"benarkah? " dimana


"hei... " apa yang kau lalukan, kau bisa lembut


"aku tidak melihat apapun disini" diamlah...


"james".... kau...


***


"aku pergi".... sambil memeluk dan mengecup kening lusi, lalu pergi dengan buru buru


Lusi yang melihat james berangkat dengan berlari kecil hanya tersenyum dan melipat tangannya didada dengan mengenakan piyama miliknya. Semua kekhawatiran lusi akan dampak yang terjadi padanya dibiarkannya, dan tak ingin mengambil pusing. Ia sudah pasrah dengan apapun yang terjadi padanya.


***


James pulang dari kantornya dan berhenti dilampu merah, james melihat swan berjalan hendak pulang, lalu memutar mobilnya menghampiri swan.


"kau butuh tumpangan? " panggil james


"ya" jika tidak keberatan


"masuklah"


"kau pulang bekerja? " tanya tuan swan


"ya"


"apa lusi baik? "


"tentu"


"ya" seharusnya dia sudah jauh lebih baik dari kemarin, kau bawa pulang roti ini, aku membawa banyak. Hari ini tempatku bekerja sedang mengadakan acara jadi kami membawa banyak roti.


"ok" lusi pasti suka


"ya" dia pasti suka, sampaikan salam cintaku untuknya


"ok" bye tuan swan, ucap james setelah mengantar tuan swan dan kembali pulang kerumahnya.


***


"lusi" panggil james


"hei" kau membawa sesuatu untukku


"dari ayahmu"


"kau bertemu dengannya? "


"ya" dia menitip salam cinta untukmu


"ok" aku akan mengambil ini dan membuatnya jadi lebih menarik


"aku akan mandi"


***


Ponsel james bergetar


"james" panggil smith melalui sambungan telpon


"yah" kau menelponku, apa terjadi sesuatu padamu


"jenny sekarang sedang berada dirumah sakit" kondisinya memburuk


"apa? "


"dia ingin bertemu dengan mu dan lusi"


"aku akan datang"


***


James akhirnya berangkat ke islandia bersama lusi, tak ada percakapan antara lusi dan james selama perjalanan ke islandia. Pesawat yang terbang seakan tak bergerak, james sangat gelisah dan cemas, lusi mencoba memegang lengannya dan menatap james..


"hei" semua akan baik baik saja


"ya" semua pasti baik baik saja, aku yakin


"ya"


Pesawat turun dengan sangat cepat secepat langkah james seraya menarik lusi untuk cepat bertemu dengan jenny.


***


"jenny" panggil james


"hei" kau disini


"ya" aku disini


"aku sudah sangat tua untuk berdiri james"


"tidak" kau masih seperti yang dulu, aku ada disini bersamamu, kau tahu kami akan pindah ke islandia dan tinggal bersamamu


Lusi hanya menatap dan mendengar james berbicara dengan jenny, bahkan ayahnya tak memberi komentar apa pun hanya sesekali menundukkan wajahnya seraya menyapu sudut matanya. Akhirnya smith memilih keluar ruangan membiarkan james bersama jenny, lalu lusi pun ikut menyusul.


"jenny mengalami gagal jantung dan ginjalnya sedang tidak baik baik saja"... usianya sudah delapan puluh satu, sejak suaminya meninggalkan nya saat james masih kecil. Dia bertahan untuk melihat james tumbuh dengan baik.


"aku turut berduka"


"jenny merasa james sudah bisa melanjutkan hidupnya bersamamu" dia banyak berharap padamu.


Smith memberi sebuah kotak kecil yang sudah tua pada lusi yang berisi berupa sebuah gelang perak dengan batu red diamond menghiasi gelang itu.


"itu adalah warisan dikeluarga kami" dulu jenny pernah ingin memberinya pada trish, namun sebelum gelang itu diserahkan, kau tahu....


"ya" aku tahu..


"simpanlah"


"kau yakin ingin memberinya padaku? "


"aku dan jenny berharap padamu" jaga lah cinta kami.


"aku".....


***


Sudah empat hari jenny dirawat dan kondisinya tidak menunjukkan kemajuan, namun ia terus berjuang. Sampai dokter mengatakan jika jenny sudah tidak bisa melanjutkan perjuangannya. Di antara kami yang hadir hanya james yang tidak bisa menerima kabar buruk tersebut, smith sudah mengetahui sejak kondisinya drop, namun james menolak untuk menerima semua itu. Ia terus menangis dan memeluk jenny. Kabar kepergian jenny sampai ditelinga trish mantan menantunya. Trish datang diacara pemakaman jenny, trish pun tak bisa menahan kesedihannya, namun ia tak banyak berbuat apa apa.


Setelah pemakaman selesai, semua kembali kerumah, begitu juga lusi dan james, namun bryan datang dari jauh menuju makam ibunya. Menangis diatas pusara sang ibu sambil meletakkan bunga diatasnya. Bryan yang memilih pergi dari rumah setelah kejadian ia berselingkuh dengan trish dan tak pernah menampakkan wajahnya hingga ibunya pergi selamanya meninggalkan dirinya tanpa sepatah katapun....


💘