
Tak semua kehidupan menjanjjikan kecukupan, namun sebagian dari itu menawarkan kebahagiaan, dak kebahagiaan tak kan mampu dibeli oleh siapapun. Itulah yang saat ini diciptakan oleh lusi. Menciptakan kebahagiaan untuk anna, untuk james, untuk ayahnya, untuk karen, untuk semua yang dia sayangi, bahkan untuk dirinya sendiri. Dia sendiri tidak yakin dengan kemampuan itu, namun tak ada salahnya mencoba, mencoba, dan mencoba lagi.
"ok, james apa kau siap pulang? "
"sepertinya begitu"
"ok" ayo!
Lusi membantu james untuk berjalan, sebagian barang sudah dimasukkan kedalam bagasi mobilnya hingga memudahkan lusi memapah james menuju mobilnya.
"selamat tuan james, semoga lekas pulih seperti biasanya! " ucap perawat
"terimakasih suster" jawab james dan lusi sambil tersenyum
"tinggal disini membuatku berpikir, begitu besar arti kehidupan bagi seseorang" ucap james sambil berjalan
"aku suka kalimat mu" berpikirlah dua kali hingga berkali kali agar kau selalu ingat keluarga dan orang yang mencintaimu.
James dan lusi akhirnya sampai di lantai pertama rumah sakit, hal yang tak terduga terjadi didepan james. Dian melihat ibunya berada dirumah sakit tempat ia dirawat dan tanpa sengaja ia melewatinya. Ibunya benar benar ingin bermaksud menjenguknya mencoba yang kedua kalinya, tapi james harus pulang karna sudah diizinkan pulang. Lusi yang telah mengetahui dari awal hanya diam tak memberi komentar apapun.
"james" panggil ibunya
"kau tidak berhak memanggil namaku"
"james, aku hanya ingin menjengukmu"
"untuk apa? "
"james, aku mohon" akub tahu kesalahan ku sangat besar padamu! dan aku tahu kau sulit memaafkanku, tapi aku mohon padamu berin aku kesempatan!
"bukan sulit memaafkan, tapi tidak bisa"
James pergi meninggalkannya begitu juga lusi yang sedari tadi memboyongnya. Ibunya hanya memandang james dengan mengusap air matanya.
"james, kau tak ingin membuka pintu maafmu untuk ibumu? " tanya lusi sambil menyetir mobil
James tak menjawab hanya memandang keluar jendela mobil.
"kau mau makan roti? "
"ya"
"ok, kita akan ke tempat ayahku"
Lusi melajukan mobil yang dibawanya ke toko roti tempat ayahnya bekerja.
"lusi"
"yah" aku ingin membeli beberapa roti!
"tentu saja" kau akan dapat roti paling enak yang ayah buat!
"terimakasih"
"hei james" kau sudah baik?
"ya" terimakasih
"aku senang mendengarnya" semoga dengan rotiku kau akan tambah sehat!
"hahaha" tawa mereka memecah suasana menjadi hangat
"aku memberikan ini untuk kalian" dan kalian tidak perlu membayar!
"ayah" ucap lusi
"anggap ini sebagai hadiah kepulangan mu james"
"aku terima ini"
"baiklah, kami akan pulang" lain kali kami akan berkunjung lagi. Ucap lusi
"baiklah" hati hati
"ok"
***
"ok, rumah yang hangat aku datang" ucap lusi
"hah"
Lusi membantu james turun dari mobil dan membawanya masuk kedalam rumah, lalu kembali keluar, mengambil barang barang dari bagasi mobilnya.
***
"jasmin, apa james sudah membaik? " tanya prof. ken
"iya prof" sepertinya dia sudah kembali kerumah
"itu kabar bagus" apa kau ada kuliah?
"tidak, hari ini aku hanya menemui dosen pembimbingku prof.
"ok" silahkan. Ucap prof ken lalu pergi.
Disisi lain leah mendengar pembicaraan jasmin dan prof ken. Leah pernah menyukai james, namun tak mendapat balasan dari james. Leah teman yang baik walau dia sedikit liar.
"aku akan berkunjung" batin leah
***
Dirumah lusi, karen datang berkunjung karna tak sempat berkunjung ke rumah sakit
"lusi" panggil karen
"oh, hai karen" sambil memeluk karen dan menyerahkan bunga dan beberapa barang
"hai james"
"hai"
"bagaimana kondisimu? " maaf aku tidak bisa berkunjung ke rumah sakit
"jauh lebih baik" tidak apa apa
"bagaimana persidanganmu?"
"bagus" kami menang kali ini
"apa maksudmu? "
"mungkin kalian sudah tahu hubungan ku dengan brown tak seindah yang dilihat, kami memiliki masalah yang pelik. Aku tidak tahu bagaimana hubunganku kedepan dengan brown. Sambil memasang wajah lesu
"aku tahu karen, dan aku prihatin"
"ya"
"aku akan menjadi wanita hebat jika berpisah dengannya"
"itu baik" kau tidak datang bersama anna?
"ya" dia sudah berusia empat tahun lusi, dia sudah besar, sekarang dia sedang belajar bersama guru privatnya. Aku juga ingin dia menjadi wanita hebat. Kau tahu kita bertiga ditakdirkan dengan masalah masing masing. Kita berjuang dengan kehidupan kita yang berbeda dengan jalan cerita yang unik. Aku pikir kita mungkin harus menjadi three angel.
"ya, aku suka itu" kita juga bisa menjadi wonder women!
"hahahahaha" lusi dan karen tertawa terbahak bahak hingga mengabaikan james di tengah mereka
"kalian lebih seperti saudara jika seperti ini" ucap james
"oh, maaf james" kami mengabaikanmu!
"tidak tidak" aku suka itu, kalian bisa melanjutkannya, aku akan keatas dan beristirahat.
"kau perlu bantuanku? "
"tidak usah, aku bisa sendiri"
"ok"
***
"jadi lus, kau akan menikah dengannya? "
"ya, aku rasa begitu" aku mencintainya
"ya, itu perlu dalam sebuah hubungan" dan jangan ikuti jejak ku yang tidak berhasil dalam cinta.
"karen"....
Lusi dan karen berjalan diluar rumah sambil melihat pemandangan diluar rumah yang sangat asri dengan banyak pepohonan dan suara burung.
"disini cukup tenang" ucap karen
"ya, aku suka disini"
"tapi kau akan tinggal di islandia? "
"ya"
"kau akan meninggalkan pekerjaanmu? "
"ya, sepertinya begitu"
"apa disana kau akan menjadi penulis lagi? "
"mungkin tidak" aku akan menjadi wanita islandia yang berada di rumah dengan uphtur.
"apa itu uphthur?"
"pakaian khas islandia yang unik dan cantik"
"kau akan membunuh impianmu? "
Lusi terdiam dan memandang jauh lalu menarik nafas.
"bukankah kau bilang hidup itu punya banyak pilihan? " kita harus menjadi yang terbaik untuk diri kita sendiri. Nikmati saja, bukan begitu?
"ya" hidup begitu sulit dan penuh misteri lus. Aku harap kita bertiga menjadi yang terbaik.
James mendengar semua pembicaraan dua saudara yang saling menguatkan dan bercerita tentang masa depan mereka yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana menghadapinya. saling mendukung adalah jalan terakhir saat semua terasa beku seperi udara di kota ini yang selalu dingin...
***
"karen, apa kau dari rumah lusi? " tanya anna
"ya gadis kecil"
"kenapa kau tidak membawaku? "
"kau sedang belajar, aku tidak ingin mengganggumu nona"
"aku merindukannya"
"aku akan membawam lain kali sayang"
"ok, baiklah"
"kau sudah selesai dengan belajarmu? "
"ya" aku akan menjadi gadis hebat nantinya berkat kau
"aku senang mendengar semangatmu" kau memang harus menjadi wanita hebat bahkan dikenal diseluruh dunia.
"terima kasih karen"
"aku mencintaimu anna"
"aku juga mencintaimu dan lusi"
"peluk aku" pinta karen
Merri melihat dua saudara yang tidak memiliki hubungan darah tersebut begitu hangat seperti saudara kandung, bahkan Mereka sudah memiliki wajah yang mirip. Merri tersenyum sambil menyeka air mata disudut matanya.
Inilah hidup yang sesungguhnya, bersama dengan orang terkasih adalah tujuan hidup yang sesungguhnya, melukis kebahagiaan dengan tawa dan senyuman.
💘