![The Sheen of Love [TSOL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-sheen-of-love--tsol-.webp)
"Ayah!..." ucap Lien di dalam nafas yang berat.
Airmata itu menetes kembali sambil menundukkan kepalanya.
Rasa rindu, haru, pilu serta bangga luar biasa menjadi satu tumpukan di dalam hatinya. Dan semua perasaan itu tidak bisa terlukiskan.
....
....
("Sungguh luar biasa kamu kawan, Jujur! jika itu terjadi kepadaku aku belum tentu bisa melakukan hal yang sama" gumam Aldo)
.....
.....
"Tapi mengapa aku tidak boleh melihat jasad ayahku yang terakhir kalinya,
Saat itu aku sangat mengidolakan Mr Vigo.
Paman tau! aku menangis berhari-hari hanya karena tidak bisa melihat jasad Mr Vigo untuk yang terakhir kalinya," Kata Lien dengan nada keras.
"Maafkan kami (menunduk) cukup tidak adil tapi itu lebih baik, disana ada banyak utusan orang-orang dari Tuan Rery...
Sebuah isi rekaman, mungkin bisa memperjelas pertanyaan putri Lien," jawab Jovial berjalan ke suatu tempat lalu bergegas membuka sebuah rekaman di layar visual yang lebar.
Tak berapa lama munculnya sosok pria bertubuh besar dan kekar, ia memakai pakain santai, Dia adalah Brest Albern.
((Semua percakapan sudah di versikan ke bahasa Indonesia yah guys,))
ππ
Isi Rekaman.
Oh! Gadisku, (Oh! My Girl)
Halo sayang! [melambaikan tangan]
Bagaimana kabarmu? tentu kamu gadis yang bisa menjaga kesehatan kan!
Anugerah terbesar bagiku, memiliki seorang gadis manis serta bijak seperti kamu, persis si Xin yang jutek.
Banyak sekali kenangan manis yang kami lalui bersama ibumu, tapi sayang! kebersamaan itu hanyalah sesaat, bagai mimpi di malam hari dan takdir tidak berpihak kepada kami.
Aku ini tampak hebat di arena pertandingan kungfu, tapi seorang pecundang yang tak bisa mengatakan
'I LOVE U'
kepada ibumu padahal cintaku membara untuknya. Hanya bisa menyalahkannya, marah-marah kepadanya dan yang paling meyedihkan tidak pernah ada di saat ibumu sangat membutuhkanku.
["*Ternyata Kau adalah pria baji*gan yang tidak bertanggung jawab*"]
Kata-kata itu adalah celotehan Xin yang masih terngiang jelas ditelingaku. Ucapan itu pula, layaknya sebuah pentungan besar yang memukul keras kepala ini hingga tersadar, bahwa aku memiiki tanggung jawab.
Ibumu itu cantik, bahkan sangat cantik di mataku, pendiam, meskipun jutek tapi hatinya suci, bersih dan lembut. Penampilannya sangat sederhana, padahal aku sudah memberikannya kemewahan, namun tetap saja ia berpenampilan biasa...
(Bicara Brest sambil senyum-senyum, geleng-geleng kecil mengingat pujaan hatinya)
Sampai aku tidak bisa lagi mencari wanita seperti dia, aku merasa dia satu-satunya wanita yg begitu di planet ini.
Ibumu juga bukan gadis penggoda, dia sama sekali tidak tertarik kepadaku, meskipun aku terus menggodanya, justru mengatakan aku ini adalah pria yang tidak waras.
Akulah! yang tergila-gila kepadanya dan mengejar cintanya. Namun saat cinta itu ada di genggamanku, aku dengan mudah menghempaskan nya.
Aku berusaha pergi jauh untuk melupakannya tapi cinta itu semakin membakar jiwa dan pikiranku, ku coba bersenang-senang dengan wanita lain, tapi aku tak bisa, aku merasa ibumu itu tengah berdiri menyaksikan tingkah bejadku dengan wajah yang sendu.
Sungguh aku tidak sanggup mengkhianatinya, wujud, tawa, senyum, pelukan dan ciuman hangat bahkan desahannya, terus menghantuiku sampai aku seperti orang gila, mungkin inilah yang dinamakan hukuman, karena telah menyianyiakan cinta yang suci.
Aku sangat merindukan ibumu. Andai semua hartaku bisa membangunkan ia kembali, maka hal itu akan aku lakukan dan mengulang kisah kami yang baru, yang lebih indah.
Aku hanya sibuk mengumpulkan harta, tahta padahal Xin tidak membutuhkannya, itulah kesalahan diriku yang sampai detik ini tidak bisa aku maafkan.
..
(Brest terdiam sejenak)
Lien Hua adalah nama yang manis dan terdengar sangat Indah, kau adalah alasan terkuat, mengapa sampai detik ini aku harus hidup. Dan hari ini, aku sudah membuktikan kepadamu juga Xin, bahwa aku adalah pria yang bertanggung jawab.
Oh! Gadisku, aku bukan hanya pria pecundang, baji*gan, tapi aku juga sangat kejam. Ada banyak jiwa-jiwa yang berontak dan sangat mengutukku, semua kejahatan telah aku lakukan demi untuk meraih kemilau cinta.
Semua keinginan yang tak bisa dimiliki orang lain aku bisa memilikinya, tapi aku tak bisa memiliki apa yang benar-benar aku inginkan.
Oh! Gadisku, raihlah apa yang bisa membuat dirimu bahagia, aku yakin kemilau cinta yang kau pancarkan hanya bisa dirasakan oleh pria yang tepat. Berbahagialah nak! Karena kau pantas untuk bahagia.
Tonton saja rekaman ini sampai habis.
Di kematianku nanti, tak perlu kau melihatku karena kepergianku tak layak di tangisi.
Aku juga tak layak disebut seorang ayah, namun jika kau tetap berkenan memanggilku dengan kata 'AYAH' itulah kebahagian yang terindah sepanjang hayatku.
Jaga dirimu baik-baik dan tetaplah bersama orang-orang yang mencintaimu.
Cukup aku saja yang merasakan kisah ini;
Mencinta tapi tidak bicara, Memeluk tapi tidak nyata, Bersama tapi tidak berkumpul.
I Love U, Forever......Ummuachhπππ (kiss by)
πππ
Brest Melampaikan tangannya dan rekaman itu otomatis berganti dengan tayangan video keceriaan dan kemesraan Brest dan Xin di kehidupan yang lampau....
.....
.....
"...Ayaaaaaah...Ayaaaaaah...Ayaaaaaah...."
(panggil Lien mendekati layar visual)
"Engkau layak di sebut ayah...engkau hebat...engkau pahlawanku...engkau idolaku, aku sayang kalian (Brest-Xin)" ucap Lien dengan tangis membasahi pipinya.
Hiroshi langsung memeluk istrinya itu...
dan menghapus airmata di pipi Lien.
"Aku merindukan mereka!" Ucap Lien dalam pelukan Hiroshi.
Pemuda yang sudah sah menjadi suaminya itu hanya bisa memeluk erat Lien Hua, memberikan sugesti kekuatan cinta agar ia tegar menerima kenyataan.
...
Setiap jiwa yang mendengar dan menyaksikan rekaman itu terlihat berkaca-kaca...
"Huuuufft, Sial...sedih banget!" gumam Andre.π’
....
....
"Putri Lien, mari ikuti saya, untuk yang terakhir kalinya saya akan menunjukkan sebuah ruangan khusus yang harus kamu saksikan," pinta Jovial.
Pria yang sudah tua itu menuntun mereka kepada sebuah ruangan khusus di dalam kamar Brest.
Sebuah ruangan yang di buka dengan sidik jari tertentu.
"Putri Lien, bukalah dengan sidik jarimu" pinta Jovial.
Lalu wanita itu meletakkan ibu jarinya di area pintu sebagai kunci masuk.
Otomatis pintu itu terbuka. Para pria-pria itu langsung mengikuti langkah sang ratu/putri.
Di dalam ruangan itu, terpampang nyata hamparan foto bingkai Brest, Xin dan Lien Hua yang hampir memenuhi dinding ruangan.
foto-foto Lien yang diambil saat berusia 10, 17, 20 tahun serta foto-foto kemesraan Xin dan Brest, langsung diambil oleh fotografer khusus. Di susun secara rapi dan berkelas.
Semua yang mememandangnya merasa takjub, terkhusus Lien Hua. Dia tidak menyangka jika ada banyak ekspresi wajah yang di foto tanpa sepengetahuannya.
Hingga mata Lien tertuju pada sebuah kain yang menutupi sesuatu.
Wanita itu berjalan mendekatinya.
"tak...tak...tak...tak"
Suara langkahnya perlahan demi perlahan.
Lalu Jovial langsung mengikuti....
....
....
to be continue.....
.
.
.
.
.
Guys! author mau kasih tau nih;
Pertama,
Novel itu adalah sebuah Maha karya dari seorang penulis, jadi π biarkan penulis itu meng-explore total semua imajinasinya, kalian cukup membaca dan menilainya saja.
Apabila kalian merasa bosan atau jenuh boleh tinggalkan tanpa jejak bully an.
kedua,
Kalian berkenan memberikan LIKE dari part 1- part akhir, Vote sebanyak-banyaknya sampai TSOL bisa masuk 20 besar dan bantu Share, itu sudah cukup keren banget dan amazing buat author....
karena,
Untuk bisa di film kan itu masih angan-angan yang terlalu jauh dan sangat jauh, ibarat Si Abang cendol mimpi jadi Milyarder....wkwkwkwkππ€£π€£π€£