The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 35



Perasaan Hiroshi sangat bergejolak malam itu. Banyak rasa kecewa di dalam hatinya yang tak terungkapkan. Salah satunya mengapa ia bisa menyukai gadis yang terjaring dengan dunia lawan dan semakin merasakan bahwa cinta sangatlah rumit. Matanya terlihat berkaca-kaca...


....


....


Tiba-tiba ponsel Hiroshi berbunyi, panggilan Ichiro dari Jepang.


"Halo kak?" suara berat plus galau.


"Bagaimana dengan kondisimu? (Tanya Aldo begitu khawatir) aku sudah mendengar semua ceritanya dari Akiyama.


"Baik kak," jawab Hiroshi lesu.


"Kerjamu sangat bagus."


"Terima kasih kak."


"Tidak perlu kecewa, kalah itu biasa! kamu hanya perlu jam terbang untuk melawan mereka, kita baru membentuk gangster selama 1 tahun, setidaknya diperlukan waktu 2-3 tahun, agar bisa menandingi kekuatan lawan dan aku juga belum maksimal memberikan guru kungfu, serta fasilitas pada kalian."


"Apa kakak sudah tau siapa mereka?"


"Pulihkan dulu kondisimu, pukul 10 pagi kita akan Live streaming bersama Eiji dan para intelijen (Jepang-Indonesia) untuk membahas konflik ini"


"baik kak"


"trup"


percakapan via telpon selesai.


.....


.....


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Membentuk gangster sekelas mafia menghabiskan dana yang sangat besar serta waktu latihan terus-menerus yang bersifat kontemporer, gangster Aldo kenz kalah bukan karena tidak mampu. Namun, Brest sudah membentuk pertahanan gangsternya bertahun-tahun lamanya dengan fasilitas modren dan guru terhebat. Sementara Aldo, sudah lama mundur dari dunia Mafia, waktu dan kekayaannya lebih fokus untuk kesembuhan Andre serta berjuang kembali merajut bisnis yang sudah jatuh dan hubungan kekeluargaan mereka yang sempat hancur.


Aldo kenz terpaksa membentuk gangster sekelas Mafia kembali lagi dengan tujuan pertahanan bisnis dan perlindungan keluarganya, tidak untuk perjudian seperti pernah terjadi di masa Rudi Wijaya (Hideaki).


Calon gangster juga harus melalui tahap panjang audisi, mulai dari bentuk fisik, kemampuan kungfu, kecerdasan (IQ), mengikuti pendidikan (sarjana), ketahanan tubuh, mental dan setiap peserta wajib melewati sensor medical seluruh tubuh, untuk mengetahui apakah kandidat memiliki riwayat penyakit dalam atau tidak. Gangster itu bisa menjadi the next Big Bos dengan persyaratan kekayaan yang memenuhi kualifikasi.


Pertarungan gangster juga tidak mengedepankan senjata berbau amunisi, melainkan kungfu, tinju, taekwondo, dll. Boleh di gunakan jika dalam kondisi sangat terdesak.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


intermizo penulis;


((Wow!😲keren! Jadi guys, gangster yang dimaksud dalam Novel ini adalah, kumpulan para lelaki pilihan yang di bentuk untuk pertahanan Big Bos Mafia termasuk perjudian yang sudah di jelaskan di novel TPOL. Dan misi mereka itu ter-struktur serta berpendidikan, bukan gangster abal-abal yang biasa kita lihat di negeri +62 dengan misi perampokan, penganiyaan, penculikan, pemerkosaan dll. so! Jangan sampai gagal paham yeah))


......


......


Lien pun masuk kedalam kamarnya.


Ia tampak gelisah sambil memperhatikan jarum jam menunjukkan pukul 04.30 waktu setempat.


....


Pikirannya terlihat rumit, tidak tidur serta gelisah diatas kasur.


Waktu terus berjalan hingga pukul 06.30 pagi.


"Aku harus membuatkan sup hangat untuknya, mengapa aku penasaran dengan apa yang terjadi yah?" Gumam Lien sambil bangkit dari kasur.


Gadis itu pun bergegas turun ke bawah, karena Lien Hua sendiri tidak terbiasa bangun kesiangan. Ia sudah biasa bangun pukul 3, 4 pagi hari. Seperti itulah Wee dan Mahia mendidik putri angkat mereka sambil berkata;


["Wanita harus bangun sebelum matahari terbit, karena kemilau sinarnya harus kau dapatkan sebagai kekuatan cinta yang akan kau pakai"]


....


....


Sesampai di dapur.


"Bi! Boleh kah Lien membuatkan sup hangat untuk Tuan Hiroshi?" pinta Lien pada sang pelayan.


"Silahkan Nona!"


Pelayan itu bergegas membantu Lien mempersiapkan bahan-bahan ramuan sup khas Tionghoa.


Tak berapa lama kemudian, sup hangat buatan Lien telah siap.


Waktu bergerak menuju 07.10 pagi.


"Kira-kira! kak Hiroshi sudah bangun tidak yah? Aku harus mengganti perbannya?" Ucap Lien dalam hati sambil membawa sup panas menuju kamar sang pria.


"Kreek" pintu terbuka dalam kondisi tidak terkunci dan lampu kamar terus menyala.


Gadis itu perlahan berjalan meletakkan sup hangat di atas meja.


Lien memperhatikan sosok pemuda bertubuh kekar sedang tidur dalam posisi terlentang, terlihat memar di wajah dan tubuhnya.


Entah apa yang menghipnotis Lien hingga bergerak melangkahkan kakinya mendekati Hiroshi, lalu menikmati pemandangan tubuh kekar sang pria, serta wajahnya yang menawan.


Kemudian ia duduk di pinggir kasur sambil memperhatikan luka-luka dalam balutan perban di tubuh lelaki itu.


"Mengapa aku sangat suka melihat pria yang sedang tidur ini? terpancar dari aura sosok pria yang sangat bertanggung jawab," ucap Lien dalam hatinya sampai bibirnya merekah tersenyum malu-malu (meooooong😻).


......


......


((Uuuuuuuh panas! Jiwa jomblo tolong jangan ngences, ntar muncrat ke wajah author😂 para emak, maafkan abah! Bentuk tubuh abah enggak kayak tertulis di novel-novel, di syukuri aja yah!))


.....


.....


Lien terus memperhatikan Hiroshi.


Tiba-tiba si ketua gangs pun terbangun.


Sontak gadis itu terkejut dan langsung bangkit-berdiri dari tempat duduknya.


"Eh! Maaf!" ucap Lien hendak melangkah pergi akibat kepergok dan menjadi salah tingkah.


Dengan cepat Hiroshi menangkap tangan halus Lien.


"Aw (terkejut)" jerit kecil Lien.


"Bagaimana dengan perban ini?" Tanya Hiroshi.


"I...iyah kak," jawab Lien dengan sedikit gugup.


Hiroshi pun melepas tangan wanita itu.


Dengan sigap Lien mengambil peralatan P3K yang sudah terletak di atas meja.


Hiroshi berusaha bangkit dari duduknya,


Dengan lembut si suster membuka perban lama dan membersihkan luka lalu mengolesi cairan pengering antiseptic di bagian wajah dan tubuh kekar Hiroshi.


Lien sudah terbiasa mengerjakan hal seperti itu, tapi entah mengapa ia sangat grogi saat melakukannya pada Hiroshi.


Sesekali 2 pasang mata bertemu tanpa sengaja dan mengalihkan wajah mereka dengan ekspresi yang manja..


Kemudian, Lien mengganti perban-perban Hiroshi yang sudah basah oleh cairan darah segar dengan perban yang baru.


....


....


Jika di dengarkan dengan alat stetoskop, suara detak Jantung Hiroshi berbunyi;


"Dak..dik..dueer........💥 meledak-ledak tak terkendalikan"


("Cinta ini memang sangat rumit, namun terlalu manis untuk di lewatkan" gumam Hiroshi dengan senyuman tertahan)


....


....


Setelah selesai.


Hiroshi menjatuhkan tubuh Lien diatas kasur dan menindih gadis itu.


"Tolong beritahu identitas dirimu dengan jujur, jika tidak aku akan memaksamu (sex) untukku," ucap Hiroshi dengan gaya badboynya.


Lien langsung gugup.


"Aaww" jerit hiroshi, tangannya terasa sakit.


"Eh" keduanya pun bangkit.


"Kakak, jangan banyak bergerak, tu kan perbannya terbuka lagi" tegur Lien kembali memperbaiki.


Hiroshi hanya bisa menunjukkan ekspresi wajah bodohnya🙎‍♂️


"Kak! itu ada Lien buatkan sup! Di makan yah!"


"Gimana mau makan tanganku sakit," jawab Hiroshi dengan wajah sendunya😳 (minta di kasihani)


"Oh! Iya sudah! Lien suapi yah," ucap gadis itu dengan ketulusan jiwanya.


Saat Lien balik badan Hiroshi pun senyum-senyum tertahan sambil berkata dalam hatinya;


("iyes, kalau di rawat sama suster begini, aggrh!! Luka ini rela tidak sembuh-sembuh🕺")


perasaan itu menghapus rasa kewaspadaannya kepada Lien Hua.


((Andai pun kau tembak aku! abang pasrah dek😂🤣 iyahahahaha, bg oci mukanya mupeng minta kawin 😜😜))


Kemudian Lien datang membawa semangkuk kecil sup hangat dan duduk di hadapan Hiroshi.


Perlahan gadis itu menyuapi Hiroshi dengan lembut.


Keduanya diam tanpa kata.


(Musik romantis pun mengiringi suasana mereka🎶🎶🎵😂🤣)


.......


.......


LIKE + VOTE + SHARE + FAVORIT+ FOLLOW